Senin, 11 April 2016

Fikih Sunnah Karya Sayyid Sabiq; Materi, Gaya Penyajian Dan Kelebihannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tatacara peribadatan kaum Muslimin Indonesia, dilakukan berdasarkan perundangan (hukum fikih) yang kitab-kitabnya banyak beredar di tanah air kita dan dalam prakteknya ada kita temukan perbedaan-perbedaan satu sama lain dan karenanya adakalanya terjadi perselisihan pengertian dan pendapat di kalangan umat Islam sendiri dan adakalanya pula merupakan sumber perpecahan di kalangan umat yang dapat melemahkan hubungan ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat. Buku "Fikih Sunnah" adalah terjemahan dari kitab aslinya yang berjudul "Fiqhussunnah". karangan Sayyid Sabiq dari kitabnya juz pertama (cetakan ketujuh), diterjemahkan dalam bahas Indonesia oleh saudara Mahyuddin Syaf. Buku ini cocok sekali untuk dapat dijadikan sebagai buku pegangan bagi kaum Muslimin dalam mempelajari hukum fikih dalam bahasa Indonesia.

1. Kitab Fikih Sunnah

Adalah buku yang membahas masalah-masalah fikih Islam disertai dalil-dalil keterangan bersumberkan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang sah., begitu pun ijma' (persetujuan, konsensus) dari umat Islam. Disajikan secara mudah dan gampang dengan mengupasnya panjang-lebar disebabkan banyaknya dibutuhkan kaum Muslimin, disamping menjauhkan diri dari mengemukakan pertikaian, kecuali bila ada hal-hal yang mengharuskannya, dimana akan dinyatakan dengan selintas pandang. Dengan demikian, kitab ini akan memberikan bentuk sebenarnya dari fikih Islam dengan mana Nabi Muhammad saw. diutus oleh Tuhan, dan akan membukakan pintu pengertian manusia terhadap Allah dan Rasul-Nya, menghimpun mereka dalam berpegang kepada kitab dan sunnah, serta melenyapkan pertikaian dan fanatik madzhab suatu barang bid'ah, sebagaimana ia akan menghapuskan pula takhayul yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

2. Biografi Sayyid Sabiq

Syeikh Sayyid Sabiq lahirkan tahun 1915 H. di Mesir dan meninggal dunia tahun 2000 M. Ia merupakan salah seorang ulama al-Azhar yang menyelesaikan kuliahnya di fakultas syari’ah. 
Almarhum memulai menekuni dunia tulis-menulis melalui beberapa majalah termasuk majalah mingguan milik gerakan al-Ikhwan al-Muslimun. Di majalah ini, ia menulis artikel ringkas mengenai Fiqih Thaharah. Dalam penyajiannya beliau berpedoman pada buku-buku fiqih hadits yang menitikberatkan pada masalah hukum seperti kitab Subulussalam karya ash-Shan’ani, Syarah Bulughul Maram karya Ibn Hajar dan Nailul Awthar karya asy-Syaukani.
Juz pertama Fikih Sunnah diterbitkan pada tahun 40-an dan pada muqaddimah nya diberi sambutan oleh pemimpin al Ikhwan al Muslimun, Syeikh Hasan al-Banna.  Mulanya, Fikih Sunnah sebagai buku panduan kader al Ikhwan al Muslimun saja. Namun, hingga kini kitab itu banyak dicetak dan dibaca orang di seluruh dunia.
Pada 1948, beliau bersama-sama al-Ikhwan al-Muslimun menyertai perang di Palestina guna melawan penjajah Israel. Akibatnya, beliau dipenjarakan di bawah tanah pada tahun 1949-1950. Semenjak aktif di gerakan Ikhwan, beliau pernah menjadi orang kepercayaan Hasan al-Banna, Mursyidul ‘Am al-Ikhwan al-Muslimun.
Tahun 1951, beliau memulai kerja di Kementrian Awqaf Mesir. Beliau dinaikkan pangkat menjadi Wakil Kementrian Awqaf Mesir. Pada 1964, beliau pindah ke Yaman dan kemudiannya di Arab Saudi untuk menjadi pengajar di Kuliah Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul-Qura selama lebih 20 tahun. Salah satu muridnya yang kini menjadi ulama dan banyak dikenal orang adalah Dr. Syeikh Yusuf Qaradhawi
Syaikh Sayyid Sabiq merupakan sosok yang selalu mengajak agar umat bersatu dan merapatkan barisan. Beliau mengingatkan agar tidak berpecah belah yang dapat menyebabkan umat menjadi lemah. Beliau juga mengajak agar membentengi para pemudi dan pemuda Islam dari upaya-upaya musuh Allah dengan membiasakan mereka beramal islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini agar mereka terhindar dari perangkap musuh-musuh Islam.
Beliau juga pernah mengingatkan bahwa Israel adalah musuh bebuyutan umat ini yang selalu memusuhi kita secara berkesinambungan. Beliau pernah bertemu dengan salah seorang pengajar asal Palestina yang bercerita kepada beliau, “Suatu kali saya pernah melihat seorang Yahudi sangat serius duduk menghafal Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah. Lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Kenapa kamu melakukan ini.?’ Ia menjawab, ‘Agar kami dapat membantah kalian dengan argumentasi. Kalian adalah orang-orang yang reaktif dan sangat sensitif, karena itu kami ingin mengendalikan lewat sensitifitas kalian itu. Jika kami berdebat dengan kalian, kami akan menggunakan ayat-ayat dan hadits Nabi kalian. Kami juga akan menyebutkan sebagian permisalan dalam bahasa Arab yang mendukung permasalahan kami sehingga kalian bertekuk lutut terhadap seruan kami dan mempercayai kebenarannya.”


3. Komentar Tentang Kitab Fikih Sunnah

  • Gabungan Fikih & Sunnah. Menurut Muhammad, putera Sayyid Sabiq [1], almarhum Syeikh Sayyid Sabiq memilih judul Fikih Sunnah untuk karya beliau justru untuk menggabungkan antara fikih dan sunnah. ”Sayyid Sabiq ingin menggabungkan antara fikih dan sunnah, dan mengambil kesimpulan hukum merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah,”.
  • Direkomendasi Al-Bani. Sebagaian orang menganggap ada perselisihan antara almarhum Syeikh Sayyid Sabiq dengan almarhum Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyangkut Kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq. Namun pendapat itu tidak dibenarkan oleh putranya. Sebab meski Syeikh Albani mengkritik, beliau juga merekomendasikan untuk membacanya, sebagaimana dikutip Syeikh Al bani dalam Muqadimah Kitab Tamaamul Minnah Bitta’liq ‘ala Fiqhissunnah.
  • Madzhab Sayyid Sabiq. Ketika para peserta mempertanyakan madzhab fikih yang dianut oleh almarhum Sayyid Sabiq dalam penyusunan Fikih Sunnah. Putranya Muhammad mengatakan, bahwa sang ayah memiliki kecenderungan terhadap madzhab Syafi’i. Meski demikian, beliau tak terlalu fanatik. “Akan tetapi beliau, tidak fanatik terhadap mazhab tersebut, sehingga Fikih Sunnah tidak hanya merujuk madzhab Syafi’i saja,” demikian ujar Muhammad.
  • Tidak Menyelisihi Madzhab 4. Menurut putranya yang juga lulusan Al Azhar ini, bahwa pendapat yang ada dalam Fikih Sunnah tidak menyelisihi madzhab empat. Beliau juga menjelasakan bahwa Fikih Sunnah memang disusun sesederhana mungkin, dan menghindari pembahasan yang amat terperinci dan mendetail, hingga tidak semua madzhab fikih dicantumkan pendapatnya, karena tujuan ditulisnya buku tersebut untuk membantu kaum awan, supaya lebih mudah memahami masalah hukum.
  • Disajikan Ringkas & Sederhana. Oleh sebab itulah, kata Muhammad, bahasa yang digunakan dalam buku itu adalah bahasa yang amat jelas dan sederhana. Sehingga beberapa ulama termasuk Syeikh Sya’rawi yang berasal dari Mesir menyebutkan bahwa buku ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Semoga bermanfaat
                           ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Muqadimah Kitab Fikih Sunnah
https://fuui.wordpress.com/2008/03/05/muhammad-sayyid-sabiq-al-albani-ikut-merekomendasi-fikih-sunnah/
***
[1]. Selasa (4/3), Muhammad, putra ulama Mesir, Syeikh Sayyid Sabiq, yang juga penulis kitab Fikih Sunnah, berkunjung ke Surabaya. Kedatangan Muhammad Sayyid Sabiq ke Surabaya di sela-sela kehadirannya di Islamic Book Fair di Jakarta. Dalam diskusi di toko buku Halim, Surabaya siang ini, Muhammad Sayyid Sabiq menjelaskan seputar Kitab Fikih Sunnah yang selama ini banyak disalah tafsirkan beberapa pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar