Senin, 04 Januari 2016

Arti Surat An-Nazi'at; Urutannya, Pokok Isinya Dan Hubungannya Dengan 'Abasa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok)- Surat An-Nazi'at adalah urutan ke-79 dalam mushaf, terdiri dari 46 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An-Naba'. Dinamakan An-Nazi'at (Malaikat-Malaikat yang mencabut) diambil dari perkataan "An-Naaziaat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Dinamai pula As-Saahirah yang diambil dari ayat 14, dan dinamai juga Ath-Thammah diambil dari ayat 34.
Kata (النازعات) An-Nazi'at terambil dari kata (نزع) naza'a yang berarti mencabut. Biasanya ini menggambarkan kuatnya sesuatu sehingga terpaksa untuk mengeluarkannya dilakukan pencabutan. Kalau ayat di atas dipahami sebagai berbicara tentang pencabutan ruh manusia kafir, maka itu mengisyaratkan bahwa orang kafir sangat mempertahankan nyawanya. Ini karena saat-saat sakarat, dipertunjukkan kepadanya tempatnya di neraka sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., berbeda dengan orang mukmin yang justru sangat senang meninggalkan dunia ini karena saat-saat itu diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga. Kata (غرقا) Gharqan terambil dari kata (غرق) ghariqa yang berarti masuk ke dalam sesuatu, atau menarik sesuatu sampai batas akhirnya. Dari sini ghariqa juga diartikan tenggelam karena seseorang dikatakan demikian, ketika ia tertarik masuk -boleh jadi- sampai ke dasarnya yang terdalam. Jika an-Nazi'at dipahami sebagai malaikat-malaikat pencabut roh manusia kafir, gharqan menggambarkan keadaan pencabutan nyawa mereka sampai ke dasar jiwanya yang terdalam. 


1. Redaksi Surat Dan Terjemahannya

Terjemahan
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Demi [malaikat-malaikat] yang mencabut [nyawa] dengan keras, (1) dan [malaikat-malaikat] yang mencabut [nyawa] dengan lemah-lembut, (2) dan [malaikat-malaikat] yang turun dari langit dengan cepat, (3) dan [malaikat-malaikat] yang mendahului dengan kencang, (4) dan [malaikat-malaikat] yang mengatur urusan [dunia]. (5) [Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan] pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, (6) tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. (7) Hati manusia pada waktu itu sangat takut, (8) pandangannya tunduk. (9) [Orang-orang kafir] berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? (10) Apakah [akan dibangkitkan juga] apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?" (11) Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan". (12) Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, (13) maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (14) Sudahkah sampai kepadamu [ya Muhammad] kisah Musa. (15) Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa; (16) "Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, (17) dan katakanlah [kepada Fir’aun]: ’Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri [dari kesesatan]’ (18) Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" (19) Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. (20) Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. (21) Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang [Musa]. (22) Maka dia mengumpulkan [pembesar-pembesarnya] lalu berseru memanggil kaumnya. (23) [Seraya] berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (24) Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (25) Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut [kepada Tuhannya]. (26) Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, (27) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, (28) dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. (29) Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (30) Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan [menumbuhkan] tumbuh-tumbuhannya. (31) Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (32) [semua itu] untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (33) Maka apabila malapetaka yang sangat besar [ hari kiamat] telah datang. (34) Pada hari [ketika] manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, (35) dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (36) Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal [nya]. (39) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal [nya]. (41) [Orang-orang kafir] bertanya kepadamu [Muhammad] tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? (42) Siapakah kamu [sehingga] dapat menyebutkan [waktunya]? (43) Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya [ketentuan waktunya]. (44) Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya [ hari berbangkit]. (45) Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal [di dunia] melainkan [sebentar saja] di waktu sore atau pagi hari. (46).
Redaksi Surat
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَٱلنَّـٰزِعَـٰتِ غَرۡقً۬ا (١) وَٱلنَّـٰشِطَـٰتِ نَشۡطً۬ا (٢) وَٱلسَّـٰبِحَـٰتِ سَبۡحً۬ا (٣) فَٱلسَّـٰبِقَـٰتِ سَبۡقً۬ا (٤) فَٱلۡمُدَبِّرَٲتِ أَمۡرً۬ا (٥) يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ (٦) تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ (٧) قُلُوبٌ۬ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ وَاجِفَةٌ (٨) أَبۡصَـٰرُهَا خَـٰشِعَةٌ۬ (٩) يَقُولُونَ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِى ٱلۡحَافِرَةِ (١٠) أَءِذَا كُنَّا عِظَـٰمً۬ا نَّخِرَةً۬ (١١) قَالُواْ تِلۡكَ إِذً۬ا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ۬ (١٢) فَإِنَّمَا هِىَ زَجۡرَةٌ۬ وَٲحِدَةٌ۬ (١٣) فَإِذَا هُم بِٱلسَّاهِرَةِ (١٤) هَلۡ أَتَٮٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ (١٥) إِذۡ نَادَٮٰهُ رَبُّهُ ۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى (١٦) ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُ ۥ طَغَىٰ (١٧) فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ (١٨) وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ (١٩) فَأَرَٮٰهُ ٱلۡأَيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ (٢٠) فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ (٢١) ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ (٢٢) فَحَشَرَ فَنَادَىٰ (٢٣) فَقَالَ أَنَا۟ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ (٢٤) فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأَخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ (٢٥) إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَعِبۡرَةً۬ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ (٢٦) ءَأَنتُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُ‌ۚ بَنَٮٰهَا (٢٧) رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّٮٰهَا (٢٨) وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا وَأَخۡرَجَ ضُحَٮٰهَا (٢٩) وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ دَحَٮٰهَآ (٣٠) أَخۡرَجَ مِنۡہَا مَآءَهَا وَمَرۡعَٮٰهَا (٣١) وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَٮٰهَا (٣٢) مَتَـٰعً۬ا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَـٰمِكُمۡ (٣٣) فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلۡكُبۡرَىٰ (٣٤) يَوۡمَ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ مَا سَعَىٰ (٣٥) وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ (٣٦) فَأَمَّا مَن طَغَىٰ (٣٧) وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (٣٨) فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ (٣٩) وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ (٤٠) فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ (٤١) يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَٮٰهَا (٤٢) فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَٮٰهَآ (٤٣) إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَہَٮٰهَآ (٤٤) إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَٮٰهَا (٤٥) كَأَنَّہُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَہَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَٮٰهَا (٤٦


2. Pokok-Pokok Isinya:

1. Penegasan Allah tentang adanya hari Kiamat dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya.
2. Manusia dibagi 2 golongan di akhirat.
3. Manusia tidak mengetahui kapan terjadinya saat Kiamat.
4. Kisah Musa a.s. dengan Fir'aun.

3. Asbaabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya)


  • Imam Sa'id ibnu Mansur telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Muhammad Ibnu Ka'b r.a. yang telah menceritakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firmanNya: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?" (Q.S. An-Nazi'at: 10). Maka orang-orang kafir Quraisy berkata:"Sesungguhnya jika benar-benar kami akan dihidupkan kembali sesudah mati, niscaya kami benar-benar merugi." Lalu turunlah ayat berikutnya, yakni firmanNya: "Mereka berkata: 'Kalau demikian itu adalah suatu pengembalian yang merugikan' (Q.S. An-Naziat: 12).
  • Imam Hakim dan Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Siti 'Aisyah r.a. yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. ditanya mengenai waktu hari Kiamat, sehingga turunlah kepadanya ayat ini, yaitu firmanNya: "(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, kapankah terjadinya ? Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah, dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)" (Q.S. An-Nazi'at: 42-44). Akhirnya terputuslah pertanyaan itu.
  • Imam Ibnu Abi Hatim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui jalur Juwaibir yang ia terima dari Ad-Dahhak, bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa orang-orang musyrik mekkah bertanya kepada Nabi saw. seraya mengatakan: "Kapankah terjadinya kiamat itu?" Pertanyaan ini mengandung nada sinis dari mereka yang ditujukan kepada Nabi saw. Maka Allah segera menurunkan firmanNya: "(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, kapankah terjadinya?" (Q.S. An-Nazi'at: 42 hingga akhir surat).
  • Imam Tabrani dan Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melelui Tarik ibnu Syihab yang telah menceritakan bahwa Rasulullah saw. banyak sekali menyebut tentang hari kiamat, sehingga turunlah ayat ini, yaitu firmanNya: "Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah, dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)(Q.S. An-Nazi'at: 43-44).
  • Imam Ibnu Hatim telah mengetengahkan pula hadits yang serupa, hanya kali ini ia mengetengahkannya melalui 'Urwah.


3. Penutup

Surat An-Naziat mengutarakan sumpah Allah dengan menyebut malaikat yang bermacam-macam tugasnya, bahwa hari KIamat pasti terjadi, dan membangkitkan manusia itu adalah mudah bagi Allah, serta mengancam orang-orang musyrik yang mengingkari kebangkitan dengan siksaan yang telah dialami Fir'aun dan pengikut-pengikutnya. Selanjutnya surat ini menerangkan keadaan  orang-orang musyrik pada hari Kiamat dan bagiamana kedahsyatan hari Kiamat itu.
Hubungan surat An-Nazi'at dengan Surat 'Abasa.
Pada Akhir surat an-Nazi'at diterangkan bahwa Nabi  Muhammad saw. hanyalah pemberi peringatan kepada orang-orang yang takut kepada hari Kiamat, sedangkan pada permulaan surat 'Abasa dibayangkan bahwa dalam memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Tafsir Jalalain 2, hal. 1262, Penerbit: Sinar Baru Algensindo
Tafsir sepersepuluh dari Al-Qur'anil Karim hal.44-46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar