Rabu, 20 Januari 2016

Arti Dan Asal kata Al-Muthaffifin Disertai Redaksi Ayat Dan Terjemahannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok)- Al-Muthaffifin adalah surat ke-83 dalam urutan mushaf Al-Qur'an yang terdiri atas 36 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ankabut dan merupakan surat terakhir diturunkan di Mekkah sebelum hijrah. Al-Muthaffifin yang dijadikan nama bagi sruat ini diambil dari kata "Al-Muthaffifin" yang terdapat pada ayat pertama.


1. Asal Kata

Kata (وَيۡلٌ۬) wail pada mulanya digunakan oleh pemakai bahas Arab sebagai doa jatuhnya siksa. Tetapi Al-Qur'an menggunakannya dalam arti ancaman jatuhnya siksa, atau dalam arti lembah yang sangat curam di neraka.
Kata (لۡمُطَفِّفِيi) al-muthaffifin terambil dari kata (طف) thafa atau meloncati - seperti meloncati pagar atau mendekati atau hampir seperti gelas yang tidak penuh tetap mendekati dan hampir penuh. Seseorang yang meloncati pagar misalnya, adalah orang yang tidak melakukan cara yang wajar. Demikian juga yang tidak memenuhkan gelas yang mestinya penuh. Bisa juga kata tersebut terambil dari kata (الطفف) ath-thafaf yakni bertengkar dalam penakaran dan penimbangan akibat adanya kecurangan atau dari kata (طفف) thafif yaitu sesuatu yang remeh, guna mengisyaratkan bahwa apa yang diambilnya secara tidak hak itu adalah sesuatu yang kadarnya sedikit - jika dilihat dari kuantitasnya dalam kehidupan dunia ini.


2. Redaksi Surat Dan Terjemahannya

Terjemah
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang [1], (1) [yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (4) pada suatu hari yang besar, (5) [yaitu] hari [ketika] manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (6) Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin [1]. (7) Tahukah kamu apakah sijjin itu? (8) [Ialah] kitab yang bertulis. (9) Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (10) [yaitu] orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. (11) Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, (12) yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". (13) Sekali-kali tidak [demikian], sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (14) Sekali-kali tidak [2], sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari [melihat] Tuhan mereka. (15) Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. (16) Kemudian, dikatakan [kepada mereka]: "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan". (17) Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu [tersimpan] dalam `Illiyyin [3]. (18) Tahukah kamu apakah `Illiyyin itu? (19) [Yaitu] kitab yang bertulis, (20) yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan [kepada Allah]. (21) Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar [surga], (22) mereka [duduk] di atas dipan-dipan sambil memandang. (23) Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh keni’matan. (24) Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak [tempatnya], (25) laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (26) Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (27) [yaitu] mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah. (28) Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya [di dunia] menertawakan orang-orang yang beriman. (29) Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. (30) Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. (31) Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", (32) padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. (33) Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, (34) mereka [duduk] di atas dipan-dipan sambil memandang. (35) Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (36)
Surah Al-Muthaffifin
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَيۡلٌ۬ لِّلۡمُطَفِّفِينَ (١) ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ (٣) أَلَا يَظُنُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَنَّہُم مَّبۡعُوثُونَ (٤) لِيَوۡمٍ عَظِيمٍ۬ (٥) يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٦) كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلۡفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ۬ (٧) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا سِجِّينٌ۬ (٨) كِتَـٰبٌ۬ مَّرۡقُومٌ۬ (٩) وَيۡلٌ۬ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ لِّلۡمُكَذِّبِينَ (١٠) ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (١١) وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦۤ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَـٰتُنَا قَالَ أَسَـٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ (١٣) كَلَّا‌ۖ بَلۡۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِہِم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (١٤) كَلَّآ إِنَّہُمۡ عَن رَّبِّہِمۡ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ لَّمَحۡجُوبُونَ (١٥) ثُمَّ إِنَّہُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ (١٦) ثُمَّ يُقَالُ هَـٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ (١٧) كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلۡأَبۡرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ (١٨) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا عِلِّيُّونَ (١٩) كِتَـٰبٌ۬ مَّرۡقُومٌ۬ (٢٠) يَشۡہَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ (٢١) إِنَّ ٱلۡأَبۡرَارَ لَفِى نَعِيمٍ (٢٢) عَلَى ٱلۡأَرَآٮِٕكِ يَنظُرُونَ (٢٣) تَعۡرِفُ فِى وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ (٢٤) يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٍ۬ مَّخۡتُومٍ (٢٥) خِتَـٰمُهُ ۥ مِسۡكٌ۬‌ۚ وَفِى ذَٲلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَـٰفِسُونَ (٢٦) وَمِزَاجُهُ ۥ مِن تَسۡنِيمٍ (٢٧) عَيۡنً۬ا يَشۡرَبُ بِہَا ٱلۡمُقَرَّبُونَ (٢٨) إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ (٢٩) وَإِذَا مَرُّواْ بِہِمۡ يَتَغَامَزُونَ (٣٠) وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ (٣١) وَإِذَا رَأَوۡهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ (٣٢) وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡہِمۡ حَـٰفِظِينَ (٣٣) فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ (٣٤) عَلَى ٱلۡأَرَآٮِٕكِ يَنظُرُونَ (٣٥) هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ (٣٦)


3. Pokok-Pokok Isinya

1.Ancaman Allah swt. terhadap orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam timbangan, ukuran dan takaran.
2.Catatan kejahatan manusia dicantumkan dalam sijjiin sedang catatan kebajikan manusia dicantumkan dalam 'illiyyiin.
3.Balasan dan macam-macam kenikmatan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.
4.Sikap dan pandangan orang-orang Kafir di dunia terhadap orang-orang yang beriman.
5.Sikap orang-orang yang beriman di akhirat terhadap orang-orang kafir. 


4. Asbaabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya)

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah telah mengetengahkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih bersumber dari Ibnu Abbas r.a.
Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan bahwa ketika Nabi saw. datang di Madinah, orang-orang Madinah terkenal sebagai orang-orang yang paling sering mengurangi takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan firmanNya:
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang" [Q.S. Al-Muthaffifin: 1].
Setelah ayat ini diturunkan, mereka berhenti dari kecurangannya itu, lalu berbuat baik dalam menakar atau menimbang sesuatu.


5. Penutup

Surat Al-Muthaffifin mengandung ancaman-ancaman terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kecurangan, disamping itu memberikan janji yang baik kepada mereka yang beriman dan melakukan kebajikan.
Hubungan Surat ini Dengan Surat Al-Insyiqaq
1.Dalam surat Al-Muthaffifin Allah swt. menerangkan bahwa segala amal perbuatan manusia, yang baik, maupun yang buruk tercatat dalam suatu buku yang terpelihara. Dalam surat Al-Insyiqaq Allah swt. menjelaskan bahwa buku-buku catatan ini akan diberikan kepada manusia pada hari Kiamat. dan cara bagaimana pemberiannya.
2.Dalam kedua surah ini, Allah swt. juga menggambarkan ancaman bagi orang yang kafir dan ganjaran yang tak terhingga bagi orang-orang yang beriman.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Tafsir Jalalain 2, hal. 1292, Penerbit: Sinar Baru Algensindo
Tafsir sepersepuluh dari Al-Qur'anil Karim hal.50-51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar