Rabu, 16 Desember 2015

Arti Al-Qur'an Diturunkan Dengan Tujuh Huruf Dan Perbedaan Qira'ah Sab'ah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tanya:
Dalam berapa huruf (dialek) Al-Qur'an itu diturunkan ?
Jawab:
Dalam tujuh huruf. Hal ini berdasarkan pada beberapa hadits berikut ini:
1. Rasulullah saw. bersabda:
"Jibril telah membacakan kepadaku Al-Qur'an dengan satu huruf, lalu aku merujuknya kembali, dan terus meminta tambahan, lalu Jibril pun memberi tambahan untukku hingga sampai tujuh huruf."
2. Dari Ibnu Syihab ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bahwa Abdullah bin Abbas radliallahu ‘anhuma telah menceritakan kepadanya bahwa; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
“Jibril telah membacakan padaku dengan satu huruf, maka aku pun kembali kepadanya untuk meminta agar ditambahkan, begitu berulang-ulang hingga berakhirlah dengan Tujuh huruf  yang berbeda).” (H.R. Bukhari/391/15).
3. Beliau juga bersabda:
"Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf. Bagaimana pun kalian membacanya, maka benar adanya, dan janganlah kalian saling mencela tentangnya, karena celaan tentangnya adalah kufur." 
4. Juga Rasulullah saw. bersabda:
"Aku diperintahkan untuk membaca Al-Qur'an dengan tujuh huruf, masing-masing huruf memberikan kecukupan dan kesembuhan."
5. Dan beliau juga bersabda:
"Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf."[1].
Demikian pula dengan sabda Rasulullah saw. :
"Kitab pertama turun dari satu pintu dengan satu  huruf. Dan Al-Qur'an turun dari tujuh pintu dengan tujuh huruf: Zajr (larangan), Amr (perintah), halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan permisalan.


1. Arti Turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf

“Al-Ahruf” adalah bentuk jamak dari lafal “harf”. Lafal “harf” ini mempunyai makna yang banyak. Salah seorang pengarang kamus mengatakan, “harf” dari segala sesuatu berarti ujungnya atau tepinya, sedangkan “harf” gunung berarti puncaknya. Pengertian harf  ialah salah satu bentuk huruf hijaiyah. Sebagian orang ada yang mengabdi kepada Allah secara “harf” dalam arti hanya dari satu segi saja, yaitu mengabdi kepada Allah ketika dalam keadaan suka, tidak dalam keadaan duka, ragu, dan tidak tenang. Dengan arti lain, ia memasuki agama tidak secara mantap. Dengan demikian: وَنُزِلَ الْقُرْاَنُ عَلَى سَبْعَةِ اَحْرُفٍ Al-Qur’an diturunkan atas maknanya, “Dari tujuh bahasa orang-orang Arab”, bukanlah pengertiannya bahwa setiap huruf mempunyai tujuh pengertian. Meskipun Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf atau sepuluh atau lebih dari itu, pengertiannya bahwa tujuh bahasa ini berbeda-beda dalam Al-Qur’an”.Berdasarkan uraian di atas maka dapatlah kami simpulkan bahwa “Al-Harfu” itu dari pengertian “lafal” yang mempunyai beberapa pengertian. Dan yang dimaksud dengan “lafal” adalah salah satu arti yang ditentukan oleh alasan-alasan dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dengan demikian, yang dimaksud dengan lafal “Al-Harf” adalah “wajah” (segi), dengan alasan sabda Rasul SAW:
اُنْزِلَ الْقُرْاَنُ عَلَى سَبْعَةِ اَحْرُفٍ
Artinya: “Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk tujuh huruf”.
عَلَى ialah menunjukkan bahwa syarat di sini untuk memperluas dan mempermudah dalam arti Al-Qur’an diturunkan dengan keluasan bagi pembacanya untuk membaca dengan bentuk tujuh wajah (bacaan). Ia boleh dibaca dengan wajah yang dikehendaki si pembaca sebagai ganti dari pemiliknya. Seolah-olah Rasul bersabda bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan syarat dan keluasan semacam ini.

2. Perbedaan Pendapat Para Ulama tentang Pengertian Kata “Al-Ahruf” yang Terdapat dalam Hadits

Di sini banyak sekali pertentangan dan perselisihan pendapat. Berikut ini akan kami kemukakan sebagiannya dan akan kami tarjih pendapat yang kami anggap mendekati kebenaran:
  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dari kalangan orang Arab dalam pengertian yang sama. Dengan pengertian bahwa dialek orang-orang Arab dalam mengungkapkan suatu maksud itu berbeda-beda, sedangkan Al-Qur’an datang dengan menggunakan lafal-lafal menurut dialek tersebut. Kalau saja tidak terdapat perbedaan, niscaya Al-Qur’an akan diturunkan dalam satu lafal saja. Dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh bahasa tersebut adalah: Quraisy, Tsaqif, Hawazan, Kinanah, Tamim, Yaman, dan Hudzail.
  2. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dari orang-orang Arab yang menjadi tempat Al-Qur’an diturunkan, dengan pengertian bahwa Al-Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh bahasa tadi, yaitu yang paling baik di kalangan Arab. Kebanyakan yang dipakai adalah bahasa Quraisy, ada pula yang merupakan bahasa Hudzail, Tsaqif, Kinanah, Tamim, dan Yaman. Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat inilah yang paling benar karena didukung oleh Al-Baihaqi dan dipilih oleh Al-Bukhari serta pengarang kitab kamus.
  3. Yang dimaksud dengan Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf adalah tujuh macam (bagian) di dalam Al-Qur’an. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan macam (bagian) dan uslub pengungkapannya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah: amar, nahi, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amsal. Sementara itu, ulama lainnya mengatakan wa’ad, wa’id, halal, haram, mawaid, amsal, dan ihtijaj. Pendapat lainnya lagi mengatakan: muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, khusus, umum, dan qasas.
  4. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah beberapa segi lafal yang berbeda dalam satu kalimat dan satu arti seperti lafal: halumma, aqbil, ta’al, ajjil, isra’, qasdi, dan nahwi. Lafal yang tujuh memiliki satu pengertian, yaitu perintah untuk menghadap. Pendapat ini dikemukakan oleh kebanyakan ahli fikih dan ahli hadits, antara lain Ibnu Jarir, At-Tabari, dan At-Tahawi.
  5. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah mengenai perbedaan dalam tujuh hal:
1. Perbedaan nama-nama dalam bentuk mufrad, mudzakkar, dan cabang-cabangnya. Contoh firman Allah SWT:
وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَـٰنَـٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٲعُونَ
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”. (Al-Mu’minun: 8). اَمَانَتِهِمْ dibaca dalam bentuk jamak (اَمَانَاتٍ dan ifrad اَمَانَةِ)
2. Perbedaan dalam tashrif fi’il dari bentuk madhi, mudhari’, dan amar. Contoh firman Allah SWT:
فَقَالُواْ رَبَّنَا بَـٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَـٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّكُلِّ صَبَّارٍ۬ شَكُورٍ۬ 
Maka mereka berkata: "Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami", dan mereka Menganiaya diri mereka sendiri; Maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi Setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’: 19). Yang dimaksud dengan permintaan ini ialah supaya kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga Keuntungan lebih besar.
Dibaca dengan dinasalkan pada lafal رَبَّنَا karena menjadi munada dan dibaca dengan بَاعِدْ sebagai fi’il amar. Dan dibaca رَبُّنَا بَعَّدَ dengan merafa’kan lafal رَبُّ karena menjadi mubtada’ dan بَعَّدَ dengan mentasydidkan huruf ‘ain sebagai fi’il madhi yang kedudukannya menjadi khabar (sebutan).
3. Perbedaan dalam bidal (penggantian), baik berupa bidal huruf dengan huruf. Sebagaimana firman Allah SWT:
أَوۡ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرۡيَةٍ۬ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحۡىِۦ هَـٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَا‌ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِاْئَةَ عَامٍ۬ ثُمَّ بَعَثَهُ ۥ‌ۖ قَالَ ڪَمۡ لَبِثۡتَ‌ۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٍ۬‌ۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٍ۬ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡ‌ۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَايَةً۬ لِّلنَّاسِ‌ۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ ڪَيۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمً۬ا‌ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ ۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ 
“Atau Apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 259)
Dibaca dengan نُنْشِزُهَا atau نَنْشِزُهَا dengan memfathahkan huruf nun. Contoh lain adalah firman Allah SWT:
وَطَلۡحٍ۬ مَّنضُودٍ۬ 
“Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)”. (Al-Waqi’ah: 29).
Dibaca طَلْحٍ di sini tidak ada perbedaan antara isim dengan fi’il, atau bidal lafal dengan lafal, seperti firman Allah كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْسِ Ibnu Mas’ud membacanya كَالصُّوْفِ الْمَنْفُوْسِ
4. Perbedaan dalam takdim (mendahulukan) dan ta’khir (mengakhirkan) yang ada kalanya dalam bentuk huruf seperti firman Allah اَفَلَمْ يَيْأَسِ dibaca اَفَلَمْ يَأْيَسِ atau dalam bentuk kalimat seperti firman Allah:, وَيَقْتُلُوْنَ dalam bentuk aktif dan وَيُقْتَلُوْنَ  dibaca dalam bentuk pasif, atau sebaliknya. Contoh lain firman Allah:
وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّ‌ۖ ذَٲلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (Qaaf: 19) Dibaca وَجَاءَتْ سَكَرَتُ الْحَقِّ بِالْمَوْتِ .
5. Perbedaan dari segi i’rab (harakat akhir kata)
Contoh firman Allah:
فَلَمَّا سَمِعَتۡ بِمَكۡرِهِنَّ أَرۡسَلَتۡ إِلَيۡہِنَّ وَأَعۡتَدَتۡ لَهُنَّ مُتَّكَـًٔ۬ا وَءَاتَتۡ كُلَّ وَٲحِدَةٍ۬ مِّنۡہُنَّ سِكِّينً۬ا وَقَالَتِ ٱخۡرُجۡ عَلَيۡہِنَّ‌ۖ فَلَمَّا رَأَيۡنَهُ ۥۤ أَكۡبَرۡنَهُ ۥ وَقَطَّعۡنَ أَيۡدِيَہُنَّ وَقُلۡنَ حَـٰشَ لِلَّهِ مَا هَـٰذَا بَشَرًا إِنۡ هَـٰذَآ إِلَّا مَلَكٌ۬ كَرِيمٌ۬
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia." (Q.S. Yusuf: 31).
Ibnu Mas’ud membacanya dengan rafa’ مَا هَذَا بَشَرٌ , firman Allah SWT:
ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ 
Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia”. (Q.S. Al-Buruj: 15).
Dengan merafa’kan lafal اَلْمَجِيْدُ sebagai sifat lafal ذُوْ dan mengkasrahkan اَلْمَجِيْدِ karena menjadi sifat lafal اَلْعَرْشِ
6. Perbedaan dari segi penambahan dan pengurangan.
Seperti firman Allah:
وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ
Dan penciptaan laki-laki dan perempuan”. (Q.S. Al-Lail: 3) Dibaca وَالذَّكَرَ وَالاُنْثَى dengan membuang lafal مَا خَلَقَ
7. Perbedaan lahjah tentang tafkhim (tebal) dan tarqiq (tipis), imalah, izhar (jelas), dan idhgam (dengung). Perbedaan semacam ini banyak sekali, di antaranya imalah dan tidak imalah, seperti firman Allah:
هَلۡ أَتَٮٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 
“Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa”. (An-Nazi’at: 15)
Pendapat yang terakhir ini dikemukakan oleh Imam Ar-Razi dan didukung oleh Ibnu Qutaibah, Ibnu Jazari, dan Ibnu Thayib yang dinukil oleh Al-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan yang diperkuatnya dengan beberapa dalil.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Ayo bergabung menjadi PENGHAFAL AL-QUR'AN dalam grup whatsapp. Info dan pendaftaran untuk ikhwan klik MUSHAF 1 dan untuk akhawat klik MUSHAFAH 1
Sumber:
1001 Tanya-Jawab Tentang Al-Qur'an, hal. 138-140,Qasim Asyur, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar.
http://kajad-alhikmahkajen.blogspot.com/2012/06/turunnya-al-quran-dengan-tujuh-huruf.html
[1]. Lihat Shahih Al-Jami'ush Shafhir wa Ziyadatuh, Al-Albani 1162, 1163, 1374 dan 1495.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar