Kamis, 01 Oktober 2015

Pengertian, Asal-Usul dan Hukum Ilmu Ghaib Menurut Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok)-Ilmu Ghaib (Ilmu Kesucian) berasal dari ajaran Hindu yang muncul pada peradaban Weda 3500-3000 SM. Menurut penganutnya, ilmu ini dapat diperoleh bila seseorang memusatkan pandangan batinnya pada yang ghaib. Setiap orang yang memiliki dan mengamalkannya, akan mudah menghadapi segala masalah batin. Menurut Moh. Rifa'i, "Sebagian dari ajaran Hindu ialah adanya jalan yang terbaik untuk memperoleh kebahagiaan jiwa, yaitu dengan pandangan yang dalam dan ditempuh dengan jalan berpangkal kepada Brahmana dan doa-doa kurban yang selalu mendukung tenaga ghaib." Sementara Prof. Dr. Bleeker mengatakan, "Kekuatan ghaib dapat juga bersumber pada manusia itu sendiri. Sebab itu, di India selalu ada pribadi-pribadi istimewa yang dipuji mereka, seperti guru atau pemimpin agama yang mengajarkan pengetahuan kepada muridnya."


1. Keyakinan yang Telah Mengkontaminasi Orang Islam.

Kepercayaan Hindu tersebut ternyata telah mempengaruhi kehidupan umat Islam. Terbukti banyak umat Islam yang mencari kekuatan ghaib demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka ada yang secara langsung mempraktekkan ilmu tersebut, tapi ada pula yang melalui dukun. Jadi dukunlah yang melayani keperluan mereka untuk disampaikannya kepada yang ghaib. 
Setiap pasien yang bertanya tentang kesulitan hidupnya atau meminta obat, si dukun akan menjawab, "Tunggu dulu, aku akan bertanya kepada yang ghaib," lalu ia memejamkan matanya sambil memegang kunci dan berbicara bagaikan orang kesurupan (suaranya berbeda dari yang aslinya). Di saat itulah ia membuka hajat pasiennya. Setelah selesai, si dukun kembali membuka matanya dan berkata,"Yang saya katakan tadi semuanya dari yang ghaib."
Banyak hal yang bukan saja aneh, tapi juga mengaburkan ajaran Islam. Diantaranya uang penebus dosa (kifarat). Maksudnya, bila ada yang berbuat dosa, maka tobatnya cukup membayar kifarat kepada si dukun, yaitu menyerahkan uang yang nilainya sesuai permintaan mbah dukun tadi. Tujuan mereka mengunakan ilmu ghaib, semata-mata mendapat kekuatan ghaib dengan cara memanggil makhluk halus atau ruh leluhur, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang kebatinan.


2. Sumber Kekuatan Umat Muslim

Kita ketahui dari sejarah bahwa tokoh-tokoh Islam pada zaman dulu memang terkenal kuat, baik fisik maupun jiwanya. Seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, para sahabat Nabi, ulama atau para wali Allah. Namun kekuatan yang mereka miliki itu bukan dari pengalaman batin seperti yang dilakukan umat Hindu atau kejawen sekarang. Kekuatan mereka itu merupakan realisasi dari kekuatan dan keteguhan iman mereka kepada Allah swt. sehingga mereka senantiasa mendapatkan pertolongan-Nya. Sebab itu mereka dalam setiap menghadapi musuh, sedikitpun tidak merasa gentar atau takut. Kemenangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya di perang Badar, misalnya, bukan dari hasil lmu ghaib, tapi semata-mata adalah berkat pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡ‌ۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ‌ۚ وَلِيُبۡلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬
Maka [yang sebenarnya] bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. [Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka] dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Anfal: 17) .
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةً۬ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ ڪَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan [musuh], maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah [nama] Allah sebanyak-banyaknya [8] agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Anfal: 45).
Makna yang terkandung dari 2 ayat di atas menunjukkan bagaimana kekuatan yang dimiliki para mujahid ketika mereka menghadapi musuh, kekuatan mereka adalah kekuatan iman, dan kemenangan mereka adalah perkenan ridha dari Allah swt. Kekuatan dalam ilmu Allah yang di dalam al-Qur'an di sebut ghaib yang bersifat mukhalafah (berbeda dengan makhluk-Nya). Dengan demikian istilah ghaib dalam Islam berbeda dengan pengertian dalam agama Hindu atau animisme, Mereka mengacu pada dewa atau ruh halus, sedangkan Islam pada Allah swt.


3. Pengertian Ghaib Menurut Islam dan Kewajiban Mengimaninya

  1. Zaid bin Aslam: Ghaib ialah percaya keapda gadha dan qadar.
  2. Abu Ja'far ar-Razi: Ghaib ialah mengimani dan meyakini adanya Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari Kiamat, surga , neraka, bertemu dengan Allah di surga, hidup setelah mati, bangkit dari kubur (ba'ats), dan beriman kepda segala hal yang berkaitan dengan alam ma'ad (pembalikan di akhirat).
  3. Imam Qatadah bin Diammah dan Imam Duday dari Abi Malik dan ibnu Mas'ud dari Nabi saw.: Ghaib ialah setiap yang tak terlihat oleh mata indrawi, yakni urusan surga, neraka dan segala isi kandungan al-Qur'an.
  4. Muhammad bin Ishaq dari Ibnu Abbas r.a.: Ghaib ialah setiap sesuatu yang datang dari Allah untuk diimani dan diamalkan.
  5. Sufyan ats-Tsauri dari Atsim bin Dzar,: Ghaib ialah al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam untuk dibaca, diimani, dan diamalkan segala isi kandungannya.
  6. Atha bin Rabah: Ghaib ialah barangsiapa iman kepada Allah, maka berarti ia iman kepda yang ghaib.
ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ 
 وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ 
أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 
[yaitu] mereka yang beriman  kepada yang ghaib  yang mendirikan shalat  dan menafkahkan sebahagian rezki  yang Kami anugerahkan kepada mereka, (3) dan mereka yang beriman kepada Kitab [Al Qur’an] yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya [kehidupan] akhirat  (4) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Q.S. Al-baqarah:3-5).
Sebarkan !!! insyaallah  bermanfaat.
                ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”                  
Sumber: 
Bid'ah-Bid'ah di Indonesia, hal.137-141, Drs. KH.Badruddin HSubky, Penerbit: Gema Insai Pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar