Jumat, 09 Oktober 2015

Kisah Ubay bin Ka'ab; Pandai Baca Tulis dan Qari Terbesar Umat

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok)-Ubay bin Kaab (bahasa Arab: أبي بن كعب) yang juga dikenal sebagai Abu Mundhir ("ayah Mundhir"), adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal dan terpandang di antara komunitas kaum Muslim awal.
Ubay adalah kaum Anshar yang berasal dari Bani Khazraj dan merupakan salah seorang dari Yathrib (Madinah) yang pertama-tama menerima Islam dan melakukan bai'at kepada Nabi Muhammad di Aqabah, sebelum terjadinya peristiwa hijrah. Ia turut mengambil bagian dalam pertempuran Badr dan peperangan lain sesudahnya.
Ia seorang sahabat nabi yang sangat terkenal akan kepandaiannya ia juga seorang qari yang terkenal diantara para sahabat. Bahkan ubay bin ka’ab sebelum memeluk agama islam ia dikenal sebagai orang yang pandai membaca dan menulis. Padahal umumnya orang-orang Arab pada waktu itu tidak mempunyai kepandaian yang demikian. Dan ketika masuk islam Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al Qur'an ke dalam bentuk tulisan, karena Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri, dan ia termasuk di antara para sahabat yang merupakan penghapal Al Qur'an (hafidz).

1. Cerdas Dan Diangkat Sebagai Penasehat

Ubay juga adalah anggota kelompok penasihat (mushawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakr sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasihat dari kelompok yang sama. Secara spesifik, ia meminta nasihat mengenai fatwa-fatwa kepada Utsman, Ubay and Zaid bin Tsabit.
Ubay bin ka’ab menjadi sosok orang yang selalu haus ilmu hari-harinya ia habiskan untuk terus menerus belajar. Pantaslah jika ketika beliau menjadi sahabat Rasulullah saw. Rasulullah memberikannya tugas yang mulia yaitu menjadi pencatat wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Ia juga dikenal sebagai sahabat yang mampu menghapal al Qur’an dengan baik.

2. Qari' Yang Teruji

Kepandaian Ubay bin Ka’ab ra. dalam membaca maupun memahami al Qur’an pernah di uji oleh Rasulullah saw. Suatu hari Rasulullah pernah bertanya kepad a Ubay bin Ka’ab ra. “Manakah bacaan Al Qur’an yang paling panjang ayatnya dan mempunyai berkah serta keutamaan yang luar biasa?” Lalu Ubay bin ka’ab menjawabnya
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” lalau Rasulullah mengulangi pertanyaan tersebut dan demi menjaga adab terhadap Rasulullah Ubay bin ka’ab menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” Rasulullah kembali bertanya untuk yang ketiga kalinya dengan pertanyaan yang sama. Lalau Ubay bin ka’ab menjawabnya “Ayatul Kursy”. Sekita terpancar wajah gembira Rasulullah dan berkata “Mudah-mudahan Allah SWT. Memberi berkah ilmu kepada dirimu.
Karena kepandaiannya seorang Ubay bin Ka’ab ra. Rasulullah saw. Bersabda, “Ubay bin ka’ab ra. adalah qari terbesar dari umatku” Ubay bin Ka’ab biasa menghatamkan Al Qur’an setiap delapan malam dalam shalat tahajudnya. Pernah Rasullah saw. Bersabda kepada Ubay bin Ka’ab ra., “ Allah swt. Telah menyuruhku untuk mendengarkan bacaan Qur’an-mu.” Lalu dengan perasaan yang senang Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, Apakah Allah swt. Menyebut namaku?” Rasulullah menjawab, “Ya Allah swt menyebut namamu” mendengar jawaban rasulullah seketika Ubay bin Ka’ab menangis dan terdiam karena betapa gembira dan bangganya Ubay bin Ka’ab telah diberi penghargaan yang utama oleh Allah swt dalam pertemuan itu.

3. Kesederhaan Hidupnya

Kepandaian dan kedudukan tinggi yang menjadi buah dari kecerdasannya tidak menjadikan Ubay bin Ka’ab bersombong terhadap orang-orang di sekitarnya, justru semakin dalam keilmuannya Ubay bin Ka’ab semakin menjalani hidup dengan wara', tidak berlebihan sehingga hidup dijalani dengan penuh kesederhanaan jauh dari kemewahan. Hingga Jundub ra. berkata, “ketika saya datang ke Madinah Munawarah untuk menuntut ilmu, dan banyak sekali alim ulama yang mengajarkan hadist-hadist Rasulullah saw. Di masjid Nabawi, tiap-tiap murid duduk menghadap gurunya dalam kelompok yang berbeda. Lalu saya duduk di antara salah satu kelompok tersebut dan saya melihat seorang pengajarnya seperti seorang musafir ia mengajar dengan hanya memakai dua helai kain yang menempel di tubuhnya. Ia duduk sambil mengajarkan hadist-hadist kepada murid-muridnya. Kemudian saya bertanya kepada seorang yang hadir ditempat itu, ‘siapakah dia?’ orang itu menjawab ‘dia adalah pemimpin orang-orang islam, Yaitu Ubay bin Ka’ab ra.’ setelah mendengar jawaban tersebut, saya pun duduk dalam majelisnya. Setelah selesai mengajarkan hadist, ia pulang ke rumahnya dan saya ikuti dari belakang. Di sana, saya menjumpai sebuah rumah tua yang keadaannya sangat sederhana sekali. Ia menjalani hidup dengan sangat wara’nya”.
Ubay meninggal dunia pada tahun 29 H atau 639 M, yaitu pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
             ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Ubay_bin_Ka'ab
http://mfajar15.blogspot.com/2012/06/kisah-ubay-bin-kaab-ra-dan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar