Senin, 14 September 2015

Pengertian Takdir Dan Sunnatullah Menurut Al-Qur'an dan Hadits

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok) -Ketika Mu'awiyah ibn Abi Sufyan  menggantikan  Khalifah  IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah  ibn  Syu'bah  menanyakan, "Apakah  doa  yang  dibaca  Nabi  setiap selesai shalat?" Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah,
"Tiada Tuhan selain  Allah,  tiada  sekutu  bagi-Nya.  Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang  Engkau  halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari).
Doa ini dipopulerkannya untuk  memberi  kesan  bahwa  segala sesuatu  telah  ditentukan  Allah,  dan  tiada usaha manusia sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini,  dinilai  oleh banyak  pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah  melegitimasi  kesewenangan pemerintahan  mereka,  sebagai  kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203).

1. Perdebatan Mengenai Hakikat Takdir

Tentu   saja,   pandangan   tersebut   tidak  diterima  oleh kebanyakan ulama.  Ada  yang  demikian  menggebu  menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir).  Manusia  bebas  melakukan  apa saja,  bukankah  Allah  telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau  dia  tidak  memiliki  kebebasan  itu?  Bukankah Allah sendiri menegaskan,
وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡ‌ۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ‌ۚ
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka Barangsiapa yang ingin [beriman] hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin [kafir] biarlah ia kafir". (QS Al-Kahf [18]: 29).
Masing-masing    bertanggung    jawab   pada   perbuatannya sendiri-sendiri. Namun   demikian,   pandangan   ini   juga disanggah.  Ini  mengurangi kebesaran  dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah "Allah menciptakan kamu  dan apa  yang kamu lakukan"  (QS Al-Shaffat [37]: 96).
Tidakkah  ayat  ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian  mereka  berargumentasi.  Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, "Apa  yang  kamu  kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" (QS Al-Insan [76]: 30).
Demikian sedikit dari banyak  perdebatan  yang  tak  kunjung habis   di  antara para  teolog. Masing-masing  menjadikan Al-Quran sebagai  pegangannya, seperti  banyak  orang  yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka.
Kemudian  didukung  oleh  penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam berbagai bidang, meluaslah paham takdir dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya. 
Yang jelas, Nabi dan  sahabat-sahabat  utama  beliau,  tidak pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para teolog itu. Mereka sepenuhnya  yakin  tentang  takdir  Allah yang   menyentuh  semua  makhluk termasuk  manusia,  tetapi sedikit  pun  keyakinan   ini   tidak   menghalangi   mereka menyingsingkan   lengan  baju,  berjuang,  dan  kalau  kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada  Allah. Sikap  Nabi  dan  para sahabat tersebut lahir, karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat  demi ayat,   atau  sepotong-sepotong  terlepas  dari konteksnya, tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana  diajarkan  oleh Rasulullah Saw.

2. Takdir dalam Bahasa Al-Quran

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal  dari akar  kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah  telah menakdirkan   demikian,"  maka  itu  berarti,  "Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat,  atau kemampuan maksimal makhluk-Nya."
Dari  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  dipahami  bahwa  semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka  tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah  yang seharusnya  mereka  tuju.
Begitu  dipahami  antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la (Sabihisma),
سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى (١) ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ (٢) وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,  yang  menciptakan (semua  mahluk)  dan  menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).
Karena itu ditegaskannya bahwa:
وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِى لِمُسۡتَقَرٍّ۬ لَّهَا‌ۚ ذَٲلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 
"Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah takdir  yang  ditentukan  oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui" (QS Ya Sin [36]: 38).
Demikian pula bulan,  seperti  firman-Nya  sesudah  ayat  di atas:
وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ
"Dan    telah    Kami    takdirkan/tetapkan    bagi    bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke  manzilah yang  terakhir)  kembalilah  dia  sebagai bentuk tandan yang tua" (QS Ya Sin [36]: 39)
Bahkan  segala  sesuatu  ada  takdir  atau  ketetapan  Tuhan atasnya,
 وَخَلَقَ ڪُلَّ شَىۡءٍ۬ فَقَدَّرَهُ ۥ تَقۡدِيرً۬ا 
"Dia  (Allah)  Yang  menciptakan  segala  sesuatu,  lalu Dia menetapkan     atasnya     qadar     (ketetapan)      dengan sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2).
وَإِن مِّن شَىۡءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَآٮِٕنُهُ ۥ وَمَا نُنَزِّلُهُ ۥۤ إِلَّا بِقَدَرٍ۬ مَّعۡلُومٍ۬
"Dan  tidak  ada  sesuatu  pun  kecuali  pada  sisi  Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak  menurunkannya  kecuali dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21).
Makhluk-Nya  yang  kecil  dan  remeh  pun diberi-Nya takdir. Lanjutan  ayat  Sabihisma  yang  dikutip  di  atas  menyebut contoh, yakni rerumputan.
وَٱلَّذِىٓ أَخۡرَجَ ٱلۡمَرۡعَىٰ (٤) فَجَعَلَهُ ۥ غُثَآءً أَحۡوَىٰ
"Dia    Allah    yang   menjadikan   rumput-rumputan,   lalu dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman" (QS Sabihisma [87]: 4-5).
Mengapa  rerumputan  itu  tumbuh  subur, dan mengapa pula ia layu dan kering. Berapa kadar kesuburan  dan  kekeringannya, kesemuanya   telah   ditetapkan  oleh  Allah  Swt.,  melalui hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika   Anda  ingin  melihat  rumput  subur  menghijau,  maka siramilah   ia, dan bila   Anda   membiarkannya    tanpa pemeliharaan,  diterpa panas matahari yang terik, maka pasti ia  akan  mati  kering  kehitam-hitaman  atau  ghutsan  bahwa seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil,قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا  "Allah telah menetapkan bagi segala  sesuatu  kadarnya"  (QS Al-Thalaq [65]: 3).
Peristiwa-peristiwa  yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu,  pada  tempat dan  waktu  tertentu,  dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi  tanpa  takdir,  termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa  tersebut  berada  dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam  istilah  sunnatullah,  atau  yang sering secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."
Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah dengan takdir.  Karena  sunnatullah  yang  digunakan  oleh Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang  pasti  berlaku bagi   masyarakat,   sedang   takdir mencakup  hukum-hukum kemasyarakatan  dan   hukum-hukum   alam.   Dalam   Al-Quran "sunnatullah"  terulang  sebanyak  delapan kali, "sunnatina" sekali, "sunnatul awwalin" terulang  tiga  kali;  kesemuanya mengacu   kepada hukum-hukum   Tuhan   yang  berlaku  pada masyarakat. Baca misalnya QS  Al-Ahzab  (33):  38,  62  atau Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.
Matahari,  bulan,  dan  seluruh  jagat raya telah ditetapkan oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar, "Datanglah (hai langit dan bumi) menurut perintah-Ku,  suka atau  tidak  suka!"  Keduanya  berkata,  "Kami datang dengar penuh ketaatan." Demikian  surat   Fushshilat   (41)   ayat   11 melukiskan "keniscayaan takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya."
Apakah  demikian  juga  yang berlaku bagi manusia? Tampaknya tidak sepenuhnya sama.

3. Takdir Manusia

Manusia mempunyai kemampuan terbatas  sesuai  dengan  ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah  satu  ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya,  kecuali  jika ia menggunakan akalnya untuk  menciptakan  satu  alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui.  Di  sisi  lain,  manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun  tidak terlepas dari hukum-hukum  yang  telah  mempunyai  kadar  dan  ukuran tertentu.  Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita  dapat memilih  yang  mana  di  antara takdir   yang ditetapkan   Tuhan   terhadap alam  yang  kita  pilih.  Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan  atau  dingin;  itu  takdir Tuhan - manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan  dan  perlunya  ilham  atau  petunjuk Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:
"Wahai Allah, jangan  engkau  biarkan  aku  sendiri  (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."
Ketika  di  Syam  (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar  ibn  Al-Khaththab  yang  ketika  itu  bermaksud berkunjung  ke  sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya: "Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?" 
Umar r.a. menjawab, "Saya lari/menghindar dari  takdir  Tuhan  kepada  takdir-Nya yang lain." Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh,  beliau  pindah  ke  tempat lain.  Beberapa orang  di sekelilingnya  bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali  ibn Thalib, sama  intinya dengan   jawaban   Khalifah   Umar r.a. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan  hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat  yang  menimpanya  itu juga adalah  takdir,  tetapi  bila  ia menghindar dan luput dari marabahaya maka  itu pun takdir.  Bukankah Tuhan telah menganugerahkan  manusia  kemampuan memilah  dan memilih? Kemampuan ini  pun  antara  lain  merupakan  ketetapan  atau takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari  takdir, yang baik  maupun  buruk.  Tidak bijaksana  jika  hanya  yang  merugikan  saja yang disebut takdir,  karena  yang  positif  pun takdir.  Yang  demikian merupakan sikap 'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,'  "...  dan  kamu  harus  percaya kepada  takdir-Nya  yang  baik maupun  yang buruk." Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.  
Wallaahu a'lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                            ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar