Selasa, 22 September 2015

Nama-Nama Para Mufashir Terkenal di Masa Tabi'in

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com.Depok--Sesudah Rasulullah wafat, sekelompok shahabat menekuni penafsiran Al-Quran. Mereka adalah Ubay bin Ka'b, Abdullah bin Mas'ud, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa'id al-Khudri, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Musa al-Asy'ari, dan yang paling terkenal adalah Abdullah bin Abbas. Dalam menafsirkan Al-Quran, mereka menggunakan metode mengutip apa yang mereka dengar dari Rasulullah s.a.w. tentang makna ayat-ayat, yaitu dalam bentuk hadits-hadits yang ber-sanad. 
Para mufasir dari kalangan sahabat ini dipandang sebagai kelompok-pertama mufasir. Adapun kelompok kedua adalah dari generasi tabi'in. Mereka adalah murid-murid para shahabat 
Di kalangan Tabi’in terdapat beberapa ahli tafsir terkenal, di antaranya:
A. Dari Ahli Mekkah: mereka adalah para pengikut Ibn Abbas seperti Mujahid, Ikrimah, Thawus dan Atha` bin Rabah.
B. Dari Ahli Madinah: mereka adalah para pengikut Ubay bin Ka’ab seperti Zaid bin Aslam, Abu al-Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhy.
C. Dari Ahli Kufah/Irak: mereka adalah para pengikut Ibn Mas’ud seperti Qatadah, Al-qamah dan asy-Sya’bi.

A. Ahli Tafsir Golongan Makkah

1. Mujahid
Dia adalah Mujahid bin Jabr al-Makky, Mawla as-Sa`ib bin Abi as-Sa`ib al-Makhzumy, lahir pada tahun 21 H. Beliau mentransfer tafsir al-Qur’an dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu anhu. 
Ibn Ishaq meriwayatkan darinya, bahwa ia pernah berkata, “Aku telah menyodorkan Mushaf kepada Ibn ‘Abbas sebanyak tiga kali, dari permulaannya hingga penghujungnya. Aku minta ia berhenti pada setiap ayat dan menanyakan tentangnya kepadanya.” 
Sufyan at-Tsaury pernah berkata, “Bila tafsir itu datang kepadamu melalui Mujahid, maka itu sudah cukup bagimu.” 
Asy-Syafi’i dan al-Bukhary sangat mengandalkan tafsirnya. Al-Bukhary banyak sekali menukil darinya di dalam kitab Shahih-nya. 
Adz-Dzahaby berkata di akhir biografi tentangnya, “Umat bersepakat atas keimaman Mujahid dan berhujjah dengannya.” 
Beliau wafat pada tahunn 104 H di Mekkah saat sedang sujud dalam usia 83 tahun. 

2. Atha bin Aby Rabbah
Ia dilahirkan pada tahun 27 Hijrah dan wafat pada tahun 114 Hijrah. Ia hidup di Makkah sebagai ahli fatwa dan ahli hadits bagi penduduknya. Ia seorang Tabi'in yang tergolong tokoh-tokoh ahli fiqh. Ia sangat percaya dan mantap kepada riwayat Ibnu Abbas.
Imam besar Abu Hanifah An-Nu'man berkata: "Aku belum pernah jumpa dengan seorang yang lebih utama daripada Imam 'Atha' bin Aby Rabbah". Qatadah mengatakan: "Tabi'in yang paling pandai itu ada empat, yaitu: 'Atha' bin Aby Rabbah seorang yang paling pandai tentang manasik, Sa'id bin Jubair orang yang paling pandai tentang tafsir dan seterusnya", Ia meninggal dunia di kota Makkah dan dikebumikan juga di kota itu dalam usia 47 tahun.

3. Ikrimah Maula Ibnu Abbas
Ia lahir pada tahun 25 Hijrah dan wafat pada tahun 105 Hijrah. Imam Syafi'i pernah mengatakan tentang dia: "Tidak ada seorang pun yang lebih pintar perihal Kitabullah daripada Ikrimah", ia adalah maula (hamba) Ibnu Abbas r.a. ia menerima ilmunya langsung dari Ibnu Abbas, begitu juga Al-Qur'an dan Sunnah", ia mengatakan: "Aku telah menafsirkan isi lembaran-lembaran mushhaf dan segala sesuatu yang aku bicarakan tentang Al-Qur'an, semuanya dari Ibnu Abbas".
Tentang otobiografinya dalam kitab Al-I'lam disebutkan sebagai berikut: "Ikrimah bin Abdullah Al-Barbary Al-Madany, Abu Abdillah seorang hamba Abdul1ah bin Abbas, adalah Tabi'in yang paling pandai tentang tafsir dan kisah-kisah peperangan, ia sering merantau ke negara-negara luar. Diantara tiga ratus orang yang meriwayatkan tafsir daripadanya tujuh puluh lebih adalah golongan tabi'in. Ia pernah juga ke Maghrib untuk mengambil ilmu dari penduduknya kemudian ia kembali ke Madinah Al-Munawwarah. Setelab ia kembali di Madinah ia dicari Amirnya, tetapi ia menghilang sampai mati.
Kewafatannya di kota Madinah bersamaan dengan kewafatan seorang penyair tenar Kutsayyir Azzah dalam hari yang sama, sehingga dikatakan orang: "Seorang ilmiawan dan seorang penyair meninggal dunia".

4. Thawus bin Kaisan Al-Yamany
Ia dilahirkan pada tahun 33 Hijrah dan wafat pada tahun 106 Hijrah, ia terkenal sebagai penafsir Al-Qur'an. Kemahirannya menunjukkan tentang hafalan, kecerdasan, dan ketakwaannya serta jauh dari keduniawian, dan ahli islah, ia menjumpai sekitar lima puluh orang sahabat. Banyak orang-orang yang menerima ilmu pengetahuan daripadanya, ia seorang ahli ibadah serta tidak terpengaruh pada dunia. Dituturkan orang ia menunaikan ibadah haji di tanah haram sebanyak empat puluh kali. Kalau ia berdo'a selalu dikabul, sehingga Ibnu Abbas pernah berkata: "Aku menduga Thawus adalah ahli surga".
Dalam kitab Al-I'lam disebutkan tentang otobiografinya sebagai berikut: "Thawus bin Kaisan Al-Khulany Al-Hamdany Abu Abdirrahman adalah tergolong Tabi'in yang sangat besar tentang pengetahuan agamanya, riwayat haditsnya, kesederhanaan hidupnya dan keberaniannya memberi nasihat kepada khalifah-khalifah dan raja-raja. Beliau berasal dari Persia sedang tempat kelahiran dan kedewasannya adalah Yaman. Ia wafat pada waktu menjalankan ibadah haji di Muzdalifah, yang ketika itu seorang hhalifah Hisyam bin Abdul  
Malik sedang menunaikan haji juga, lalu beliau menyembahyangkannya.
Ia enggan mendekati Raja-raja dan Amir-amir, Ibnu Taimiyah mengatakan: "Orang yang selalu menjauhi Sultan itu ada tiga yaitu, Abu Dzar, Thawus dan Ats-Tsaury".1)

B. Ahli Tafsir Golongan Madinah

1. Zaid bin Aslam (w. 136 H)
Nama lengkapnya adalah Zaid bin Aslam al-Qarasyi al-‘Adwi. Nama kuniyahnya adalah Abu Usamah. Beliau budak dari Umar Abu Abdullah. Beliau merupakan thabaqat yang ketiga yakni golongan pertengahan tabi’in. Abu Ja’far berkata beliau wafat pada tahun 136 H pada bulan Dzulhijjah. Beliau seorang ahli fiqh.
Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya (Aslam), Ibnu Umar, Abi Hurairah, Aisyah, Jabir, Rabi’ah bin ‘Ibad al-Dili, Salamah bin al-Akwa, Basir bin Sa’id,Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Aslam (saudaranya), Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdullah bin Abi Qatadah, Atha’ bin Yasir, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, dll.
Dan yang meriwayatkan darinya yakni ketiga anaknya (Usamah, Abdullah, Abdurrahman), Malik, Ibnu ‘Ajlan, Ibnu Jarij, Sulaiman bin Bilal, Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir, Ma’mar, Hasyim bin Sa’id.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Muhammad bin Sa’ad, dan An-Nasa’i, mereka berkata beliau tsiqah. Ya’qub bin Syaibah berkata beliau tsiqah, ahli fiqh dan ilmu. Yahya bin Ma’in berkata beliau shaduq. Al-‘Ajali berkata beliau orang Kuffah tsiqah.

2. Abul 'Aliyah.
Rufai bin Mihraan yang dijuluki Abu al-Aliyah termasuk ulama di antara ulama kaum muslimin, tokoh di antara tokoh-tokoh penghafal Alquran dan muhadditsin (ahli hadis). Beliau termasuk tabi’in yang paling tahu tentang Kitabullah, paling paham terhadap hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, paling banyak kadar pemahamannya terhadap Alquran al-Aziz dan paling mendalami maksud dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Maka marilah kita menelusuri sejarah hidupnya dari awal.
Sejarah hidupnya penuh dengan sikap teladan dan kemuliaan, melimpah dengan nasihat dan pelajaran yang berharga.
Rufai bin Mihraan lahir di Persia. Di negeri itu pula beliau tumbuh besar. Ketika kaum muslimin masuk ke negeri Persia untuk mengeluarkan penduduknya dari kegelapan menuju cahaya. Rufai termasuk salah satu pemuda yang jatuh ke tangan kaum muslimin yang penyayang, lalu dibawa ke pangkuan mereka yang sarat dengan kebaikan dan kemuliaan.
Kemudian beberapa saat dia dan juga yang lain memperhatikan keluhuran Islam, lalu membandingkan dengan apa yang mereka anut sebagai penyembah berhala, akhirnya mereka masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Kemudian mereka mulai mempelajari Kitabullah, mereka pun haus akan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semenjak dimerdekakan sebagai budak seorang wanita Bani Tamim, Rufai bin Mihraan sering bolak-balik ke Madinah al-Munawarah. Beliau sempat bertemu dengan ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu beberapa saat sebelum wafatnya. Beliau juga beruntung dapat bertemu dengan amirul mukminin (Umar bin Khaththab), belajar Alquran kepadanya dan shalat di belakangnya.
Di samping berkutat dengan Kitabullah, Rufai yang julukannya adalah Abu al-Aliyah ini juga akrab dengan hadis-hadis Rasulullah. Sehingga beliau berusaha mendengarkan riwayat hadis dari para tabi’in yang beliau temui di Bashrah. Akan tetapi muncul keinginan kuat dalam jiwanya untuk lebih dari itu. Maka seringkali beliau meluangkan waktu untuk pergi ke Madinah untuk mendengar hadis langsung dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tiada pembatas antara dirinya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan satu orang atau dua orang saja.
Beliau meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Mas’ud, Ubai bin Ka’ab, Abu Ayyub al-Anshari, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan para sahabat yang lain.
Abu al-Aliyah tidak hanya mencukupkan diri mengambil hadis di Madinah al-Munawarah saja. Namun beliau tidak segan-segan memburu hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di manapun ia berada. Jika dikatakan kepada beliau ada seseorang yang berilmu, maka beliau tarik kekang kendaraannya kendati jauh jaraknya, walaupun membutuhkan waktu yang lama. Jika beliau telah sampai, beliau shalat di belakang orang yang dituju. Jika beliau mendapatkan shalat tidak sungguh-sungguh dan tidak konsisten dengan sunah, tidak memperhatikan hak-hak shalat, maka beliau berpaling sambil bergumam, “Sesungguhnya orang yang meremehkan shalat tentulah untuk urusan yang selainnya lebih meremehkan. Lalu beliau mengambil perbekalannya dan kembali pulang.

3. Muhammad bin Ka'ab al-Quradhi
Beliau adalah Muhammad bin Ka’ab bin Salim Al-Quradhi Al-Madani. Beliau dinisbatkan kepada suku Quraidhah sebuah suku yang terkenal dari Yahudi. Ahli sejarah memasukan beliau kedalam tingkatan kedua dari tabi’in. Beliau tinggal di Kufah, kemudian berpindah ke Madinah. 
Beliau adalah seorang yang terpercaya, yang banyak hafalan haditsnya, dan seorang yang wara’. Ibu beliau pernah berkata kepadanya: “Wahai anakku, kalaulah aku tidak mengenalmu semenjak kecil dan di waktu besarmu maka tentu aku akan menyangka bahwa engkau telah berbuat dosa yang membinasakanmu (dosa besar), ini disebabkan apa yang engkau lakukan di malam dan di siang harimu (beribadah)”. 
Muhammad bin Ka’ab: “Wahai ibuku apakah yang bisa menjamin keamananku, jika Allah memperhatikanku sedangkan aku dalam perbuatan dosa, kemudian Dia memurkaiku dan berkata kepadaku: “Pergilah engkau, aku tidak akan mengampuniku”... 
‘Aun bin Abdillah berkata: “Aku belum pernah melihat seorangpun yang lebih mengetahui takwil (tafsir) Al-Qur an dari Al-Quradhi” 
Beliau wafat pada tahun 108 H, adapun tentang sebab wafatnya beliau maka Adz-Dzahabi berkata di dalam Kitabnya سير أعلام النبلاء : “Muhammad bn Ka’ab mempunyai majelis Ahli tafsir, yang mana mereka berkumpul di masjid Ar-badzah, kemudian terjadi gempa maka runtuhlah masjid itu dan menimpa mereka semua, dan mereka meninggal di bawah reruntuhan tersebut”. 

C. Ahli Tafsir Dari Golongan Kufah

1. Qatadah
Beliau adalah Qatadah bin Di’amah as-Sadusy al-Bashary, terlahir dalam keadaan buta pada tahun 61 H. Beliau giat menuntut ilmu dan memiliki hafalan yang kuat. Karena itu, beliau pernah berkisah tentang dirinya, “Aku tidak pernah mengatakan kepada orang yang bicara kepadaku, ‘Ulangi lagi.!’ Dan tidaklah kedua telingaku ini mendengar sesuatu apa pun melainkan langsung ditangkap oleh hatiku (langsung dapat menangkap dan mencernanya dengan baik-red.,).” 
Imam Ahmad pernah menyinggung tentang dirinya lalu membicarakannya secara panjang lebar. Ia lalu menyiarkan mengenai keilmuan, kefiqihan dan pengetahuannya tentang berbagai perbedaan dan tafsir. Ia juga menyebutnya sebagai seorang yang kuat hafalan dan ahli fiqih. Imam Ahmad berkata, “Amat jarang anda temukan orang yang dapat mengunggulinya. Tapi kalau dikatakan ‘ada yang seperti dia’ maka ini bisa saja terjadi.” 
Ia juga mengatakan, “Beliau (Qatadah) adalah seorang yang paling hafal dari kalangan penduduk Bashrah, tidak lah ia mendengarkan sesuatu melainkan langsung hafal.” 
Beliau wafat di suatu tempat bernama Wasith, pada tahun 117 H dalam usia 56 tahun. 

2. al-Qamah bin Qais
Dia adalah Abu Syibil Al-qamah bin Qais bin Abdullah An-Nakha’I Al-Kufi. Dia adalah paman dari Al-Aswad bin Yazid, saudara Abdurrahman, paman dari ahli fiqh dari Irak, Ibrahim An-Nakha’i. 
Dia dikenal sebagai ahli fiqh, ulama, qari’ Kufah, imam yang hafizh, dermawan, mujtahid dan terpandang. 
Al-qamah dilahirkan pada masa kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan termasuk seorang Mukhadhram. Lalu dia pindah dari Kufah untuk mencari ilmu dan berjihad. Setelah itu ia menetap di Kufah, berguru kepada Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, sehingga dia menguasai ilmu dan amal sampai para ulama belajar fiqh darinya dan ia pun menjadi tokoh terkenal. 
Dia belajar al-Qur’an dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Selain itu banyak para imam yang belajar darinya, diantaranya Ibrahim dan Asy-Sya’bi. Dia di tawari untuk menjadi imam dan mufti setelah Ali dan Ibnu Mas’ud. Dia juga disejajarkan dengan Ibnu Mas’ud dalam memberikan petunjuk, bimbingan, penjelasan, dan kepribadiannya. Murid-muridnya dan beberapa orang sahabat sering bertanya kepadanya dan belajar fiqh darinya. 
Diriwayatkan dari Ibrahim, bahwa dia berkata, “Abdullah bin Mas’ud diberi gelar Al-Qamah Abu Syibil, dan Al-qamah pria mandul dan sehingga tidak mempunyai keturunan”. 
Diriwayatkan dari Alqamah, bahwa dia pernah berwasiat seraya berkata, “Jika ajal menjemputku maka duduklah satu orang disisiku untuk menuntunku membaca laa ilaaha illallah dan bawalah mayatku dengan segera kedalam lubang kuburku, serta jangan beritakan kematianku kepada orang-orang, karena aku takut hal itu akan menimbulkan tangisan seperti tangisan jahiliyah.” 

Alqamah meninggal dunia pada tahun 62 Hijriah. 

3. Asy-Sya'bi
Amir bin Syurahbil atau yang lebih dikenal dengan Asy Sya’bi, merupakan seorang ulama tabi’in yang terkemuka, seorang imam ilmu, penghapal hadits, dan ahli dalam bidang fiqh. Ia meriwayatkan hadits dari Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, Ibnu abbas, Aisyah, Ibnu Umar dan lain lainnya.
Ia mengendalikan pengadilan Kufah beberapa lama masanya, fatwa fatwanya telah berkembang di masa sahabat sendiri , hal ini menunjukan bahwasanya beliau mempunyai ilmu yang luas dalam bidang hadits dan fiqh.
Para ulama sepakat bahwa asy Sya’by adalah seorang imam dan seorang yang tsiqah dan semua ulama memujinya karena keluasan ilmu dan keutamaannya.
Ibnu Sirin berkata kepada Abu Bakar al-Huzaly:,” Tetaplah engkau bersama asy Sya’by, aku melihat bahwa beliau telah berfatwa di masa sahabat masih banyak jumlahnya”.
Ibnu Abi Laila berkata:,” Asy Sya’by adalah seorang ulama hadits sedangkan Ibrahim Nakha’iy seorang ahli qiyas”.
Dan Asy Sya’by sendiri pernah berkata, “Kami bukan fuqaha, kami hanya meriwayatkan hadits.”.
Biografi
Amir bin Syurahbil asy-Sya’bi lahir dari keluarga muslim, enam tahun setelah masa khilafah al-Farruq radhiyallahu ‘anhu. Tubuhnya begitu kurus dan mungil. Karena saudara kembarnya lebih banyak mendapatkan jatah di Rahim ibunya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan tubuhnya. Namun, kelak tak ada yang mampu menyamainya baik saudara kembarnya maupun orang lain dalam hal ilmu. Dialah Amir bin Syurahbil al-Humairi yang lebih dikenal dengan panggilan asy-Sya’bi, seorang tokoh muslimin pada zamannya.
Beliau lahir dan dibesarkan di kota Kufah pada pemirintahan Khalifah Umar bin Khaththab yaitu pada tahun 17 H. Dalam mencari ilmu beliau sering mondar-mandir ke kota Madinah al-Munawarah dari para sahabat Rasulullah, sebagaimana para sahabat juga sering bepergian ke Kufah yang menjadi pangkalan untuk jihad fii sabilillah maupun tempat untuk bermukim.
Beliau mendapat kesempatan untuk bertemu sebanyak kurang lebih 500 sahabat yang mulia. Beliau meriwayatkan dari sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Tsabit, Ubadah bin Shamit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Sa’id al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan lain-lain.
Asy-Sya’bi dikenal sebagai pemuda yang cerdas, lembut hatinya, tajam analisanya, bagus pemahamannya dan kuat daya hafal dan ingatannya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Tiada aku menulis di lembaran putih atau aku dengan hadis dari seorang melainkan aku mampu menghafalnya, dan tiada pernah aku mendengar perkataan dari orang melainkan aku tak ingin dia mengulangi ucapannya.”
Usia asy-Sya’bi mencapai lebih dari 80 tahun, Ia wafat pada tahun 104 H. Ketika berita tentang wafatnya sampai kepada Hasan al-Bashri, ulama Bashrah, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati beliau, sungguh beliau memiliki ilmu yang luas, lapang dada, dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.”
                       ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
SUMBER: 
Ushuul Fii ‘Ilm at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal.37-38)
http://ibnuustmanalie.blogspot.com/2013/01/para-ahli-tafsir-terkenal-dari-kalangan.html
http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/ilmu-tafsir/allsub/28/ahli-tafsir-golongan-tabiin.html
http://kisahmuslim.com/tabiin-rufai-bin-mihran-abu-al-aliyah/
http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/09/amir-bin-syurahbil-asy-syabi-tabiinyang-Luas-Ilmunya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar