Kamis, 03 September 2015

Bagian Waris Untuk Kedua Orang Tua Kita; Bapak Dan Ibu Menurut Al-Qur'an

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
jadipintar.com (Depok)-Yang disebut kedua orang tua kita adalah ibu dan bapak, dari mereka berdualah kita hadir di dunia ini. Sebagai keluarga, mereka juga berhak mendapatkan bagian waris jika ada diantara anak-cucu mereka ada yang meninggal dunia. Bagian untuk keduanya sudah ditentukan Al-Qur'an dan surah An-Nisa ayat 11 sebagai berikut: 
 وَلِأَبَوَيۡهِ لِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡہُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ ۥ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن لَّمۡ يَكُن لَّهُ ۥ وَلَدٌ۬ وَوَرِثَهُ ۥۤ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُ‌ۚ فَإِن كَانَ لَهُ ۥۤ إِخۡوَةٌ۬ فَلِأُمِّهِ ٱلسُّدُسُ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصِى بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ‌ۗ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعً۬ا‌ۚ فَرِيضَةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمً۬ا
.. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya [saja], maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. [Pembagian-pembagian tersebut di atas] sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya. [Tentang] orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat [banyak] manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisa: 11).

1. Bagian Waris bapak

Bapak itu mempunyai tiga ketentuan:
1. Mewarisi dengan jalan fard (ketentuan).
2. 'Ashabah (mengambil sisa).
3. Mewarisi dengan jalan fardh dan 'ashabah secara berbarengan.
A. Ringkasan bagian waris bapak:
1. Mendapat bagian 1/6; Jika si mati meninggalkan anak laki-laki atau cucu laki-laki.
2. Mendapat 1/6 + sisa;jika si mati meninggalkan anak perempuan atau cucu perempuan (dari anak laki-laki), dan tidak ada anak laki-laki atau cucu laki-laki.
3. Mengambil semua jika si mati tidak meninggalkan siapa-siapa.
4. Mendapat 2/3 jika si mati hanya meninggalkan bapak dan ibu.
5. Mendapat 2/3 + sisa dalam masalah yang dinamakan gharawain atau Umariyatain.[1].
B. Hajib dan Mahjub.
Diantara ahli waris, jika ada bapak, maka yang bisa dapat pusaka ialah : anak, ibu, suami (isteri) dan nenek dari jalur ibu.
Adapun selain dari tersebut di atas, jika ada bapak, maka perolehan warisnya terdinding (mahjub) alias tidak dapat bagian.


2. Bagian Waris Ibu.

A. Ringkasan bagian ibu:
1. Mendapat 1/6; jika si mati meninggalkan anak, atau cucu dan ibu.
2. Mendapat 1/6; jika si mati meninggalkan saudara-saudara dan ibu.
3. Mendapat 1/3; jika si mati hanya meninggalkan ahli waris bapak dan ibu.
4. Dalam masalah Gharawain:
 a. 1/3 dari sisa sesudah diberikan kepada suami 1/2; jika si mati meninggalkan suami, ibu dan bapak.
 b. 1/3 dari sisa sesudah diberikan kepada isteri 1/4; jika si mati meninggalkan isteri, ibu dan bapak.
B. Hajib dan Mahjub
Diantara ahli waris si mati, jika ada ibu, maka ahli waris yang mahjub (terhalangi) tak dapat bagian adalah:
1. Nenek dari jalur ibu; yaitu ibu dari ibu terus ke atas.
2. Nenek dari jalur bapak; yaitu ibu dari bapak, terus ke atas.
Adapun lain-lain ahli waris, tidak dimahjubkan oleh ibu. Ibu tidak dimahjubkan oleh siapa pun; kecuali anak, cucu, atau beberapa saudara bisa mengurangi bagiannya menjadi 1/6.


3. Penjelasan Kasus Gharawiyah Atau Umariyatain.[1]

Gharraawain artinya sangat terang, sementara Ummariyatain itu dua masalah yang dibangsakan kepada Umar karena Umar yang memutuskannya, yakni pada keadaan:
A. Si mati meninggalkan suami, ibu dan bapak. Si suami dapat separoh, ibu dapat sepertiga dari sisa separoh, dan selebihnya buat bapak.
   - Suami: [3 bagian]: 3/6 
   - Ibu: [1 bagian]: 1/6
   - Bapak: [2 bagian]: 2/6.
B. Si mati meninggalkan isteri, ibu dan bapak. Si isteri dapat seperempat dan ibu dapat sepertiga dari sisa yang 3/4, sisanya buat bapak sebagai 'ashabah.
   - Isteri: [1 bagian]: 1/4.
   - Ibu: [1 bagian]: 1/4.
   - Bapak: [2 bagian]: 2/4.
Metode ini didigunakan oleh Umar bin Khattab, Ali dan Zaid bin Tsabit.
Sebaliknya, Ibnu Abbas dan beberapa thabi'in dan ulama memfatwakan tentang 2 masalah tersebut sebagai berikut:
   A. Suami: [3 bagian]: 1/2
       Ibu: [2 bagian]: 1/3 dari jumlah harta (bukan dari sisa).
       Bapak: [1 bagian]: Sisa ('Ashabah).
   B. Isteri: [3 bagian): 1/4
       Ibu:[4 bagian]:  1/3 dari jumlah harta (bukan sisa dari isteri).
       Bapak: [5 bagian]: sisa ('Ashabah).
 Lihat bagan
Alasan Ibnu Abbas:
- Ibnu Abbas dan yang sependapat dengannya menganggap bahwa sepertiga buat ibu itu ialah dari jumlah harta, bukan dari sisa suami atau isteri, dan selebihnya buat bapak sebagai 'ashabah.
- Dengan pembagian yang begini, maka si bapak kadang dapat lebih besar dari ibu dan terkadang dapat kurang.
- Dengan pembagian 'Umar selamanya bapak dapat lebih besar dari ibu. Tetapi pihak Ibnu 'Abbas r.a. menjawab bahwa orang yang dapat 'ashabah memang tidak tentu, terkadang dapat lebih dan terkadang kurang. Wallahu a'lam.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Ingin konsultasi waris Islam online dan cepat ? klik Konsultasi.
Sumber:
Al-Fara'idh, hal. 37-41, A.Hassan, Penerbit: Pustaka Progresif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar