Selasa, 08 September 2015

Arti Al-Fatihah, Nama-Nama Lainnya Dan Keutamaan Membacanya Berdasarkan Hadits

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Istilah Kata
jadipintar.com.Depok--Kata fatih merupakan akar kata, nama ini berarti "menyingkirkan sesuatu yang terdapat pada satu tempat yang akan dimasuki. " Penamaannya dengan al-Fatihah karena ia terletak pada awal al-Qur'an, dan karena biasanya yang pertama memasuki sesuatu adalah yang membukanya, maka kata fatihah di sini berarti awal al-Qur'an. Surat ini adalah "Mahkota tuntunan Ilahi", Dia adalah "Ummul Qur'an" atau induk al-Qur'an. Banyak nama yang disandangkan kepada awal surat al-Qur'an itu, tidak kurang dari 20-an nama. Dan dari sejumlah itu, hanya 3 atau 4 yang diperkenalkan oleh Rasulullah saw. atau dikenal pada masa beliau, yaitu: al-Fatihah, Ummul Kitab atau Ummul Qur'an dan as-sab'ul-Matsani. Dari nama-namanya dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat diperoleh pembacanya. Tak heran jika dianjurkan untuk menutup do'a dengan alhamdu lillaahi rabbil 'alamin atau bahkan ditutup dengan surah ini.


1. Nama Yang Diperkenalkan Rasulullah saw.

1. Al-Fatihah; Banyak hadits Nabi saw. yang menyebut nama ini, antara lain: 
لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ
"Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al-Kitab." (H.R. Bukhari, Muslim, dll.).
2. Ummul Kitab; Penamaannya dengan istilah ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. yang berbunyi:Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
كُلُّ صَلَاةٍ ا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
Setiap shalat yang tidak dibacakan didalamnya Ummul kitab (surat al fatihah) maka ia kurang, ia kurang dan tidak sempurna.”(Shåhiih, HR. Ahmad dan lainnya). didukung juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
كلُّ صلاةٍ لا يُقرَأُ فيها بأمِّ الكتابِ ، فَهيَ خِداجٌ ، فَهيَ خِداجٌ
setiap shalat yang di dalamnya tidak dibaca Faatihatul Kitab, maka ia cacat, maka ia cacat” (HR. Ibnu Majah 693, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah). Imam Bukhari juga meriwayatkan yang kesimpulannya adalah bahwa Abu Said al-Khudri, salah seorang sahabat Nabi saw. melaporkan kepada beliau bahwa ia membacakan seorang yang digigit ular dengan ummul kitab, dan ternyata pulih kesehatannya. Kata um dari segi bahasa berarti induk. Penamaan surah ini dengan Induk al-Qur'an boleh jadi karena ia terdapat pada awal mushaf sehingga ia bagaikan asal dan sumber, serupa dengan ibu yang datang mendahului anaknya serta sumber kelahirannya.
3. As-Sab'ul-Matsani. Adapun penamaan dengan istilah ini juga bersumber dari banyak hadits, antara lain yang diriwayatkan oleh Turmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil maupun Zabur dan al-Qur'an suatu surat seperti as-sab'ul-matsani. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]. Dari segi bahasa as-sab'u berarti tujuh. Ini karena surah tersebut terdiri dari tujuh ayat, sedang kata matsani merupakan bentuk jamak dari kata mutsanna atau matsna yang secara harfiah bermakna: dua-dua" Yang dimaksud dua-dua adalah ia dibaca dua kali setiap rakaat shalat, atau karena ia turun dua kali; sekali di Makkah dan sekali di Madinah. Bisa juga kata tersebut dipahami dalam arti berulang-ulang dalam shalat atau di luar shalat, atau karena  kandungan pesan setiap ayatnya terulang-ulang dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain.


2. Nama-nama lain al-fatihah : 

- Ummul Kitab (Induk Kitab), 
‎ كُلُّ صَلَاةٍ ا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
“Setiap shalat yang tidak dibacakan didalamnya Ummul kitab (surat al fatihah) maka ia kurang, ia kurang dan tidak sempurna.”
- al-Asas (Asas segala sesuatu), 
- al-Matsani (yang diulang-ulang), 
‎وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
(yang artinya), “Sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh yang diulang-ulang dan sebuah al-Qur’an/bacaan yang sangat agung.(QS. al-Hijr : 87).
- al-Kanz (Perbendaharaan), 
- asy-Syafiyah (Penyembuhan), 
- al-Kafiyah (Yang mencukupi) 
- al-Waqiyah (Yang melindungi), 
- al-Ruqyah (Mantera), 
" فَاتِحَةُ الْكِتَابِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سُمٍّ"
Fatihatul kitab (surat Al-Fatihah) merupakan obat penawar bagi segala jenis racun.
- al-Hamd (Pujian), 
- asy-Syukr (Syukur), 
- Ad-Du'a (Do'a) dan 
- as-Shalat.
 قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي
Aku bagikan shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua ba-gian. Apabila seorang hamba mengucapkan, "Alhamdu lilldhi rabbil 'dlamlna" (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), maka Allah berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." (Hadis). 

Tema Pokok Surat al-Fatihah:
1.Menetapkan kewajaran Allah swt untuk dihadapkan kepada-Nya segala pujian dan sifat-sifat kesempurnaan
2. Meyakini kepemilikan-Nya atas dunia dan akhirat, dan kewajaran-Nya untuk disembah dan bermohon kepada-Nya pertolongan.
3. Nikmat menempuh jalan yang lurus sambil bermohon agar terhindar dari jalan orang yang binasa.


3. Keutamaan (Keistimewaan)  Surat Al-Fatihah

1. Surat yang paling agung.
Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Musnadnya dari Abu Said bin al-Mu'alla, ia berkata:
كُنْتُ أُصَلِّيْ فَدَعَانِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ كُنْتُ أُصَلِّيْ, قَالَ: أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: (اسْتَجِيْبُوْا لِلّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ), ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ؟. فَأَخَذَ بِيَدِيْ, فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّكَ قُلْتَ: لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ. قَالَ: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ), هِيَ السَّبعُ الْمَثَانِيْ وَاْلقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتَهُ
Dulu aku pernah shalat. Lalu Nabi SAW memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan: “Wahai Rasulullah, tadi aku shalat“. Beliau bersabda: “Bukankah Allah berfirman:“Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu“. (QS. Al-Anfaal: 24). Kemudian beliau bersabda: “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid?” Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku kataka: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda: “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda: “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Dia ( Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku”. [HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya (4720), Abu Daud dalam Sunannya (1458), dan An-Nasa’i dalam Sunannya (913)].
Berdasarkan hadits Abu Sa'id, ketika ia menjampi (ruqyah) seseorang yang sakit, Rasulullah saw. bersabda:"Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah."
2. Surat Peruqyah.
Ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Fadhailul-Qur'an dari Abu sa'id Al-Khudri, ia menceritakan, "Ketika berada dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat, tiba-tiba seorang budak wanita datang dan berujar, "Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, sementara orang-orang kami sedang tidak berada di tempat, apakah diantara  kalian ada yang bisa membaca mantera ?" Ketika itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Kemudian orang itu membacakan mantra, maka kepala suku itu pun sembuh. Selanjutknya kepala suku itu menyuruh budaknya agar memberikan tiga puluh kambing serta memberi kami minum susu. Setelah kami pulang, kami tanyakan kepada laki-laki itu. "Apakah engkau mengangap mantra itu baik ataukah engkau menggunakan mantra?" Ia pun menjawab, "Aku tidak menggunakan mantra kecuali dengan Ummul Qur'an (Al-Fatihah)." Lalu kami berkata, "Jangan bicara apapun sehingga kita datang kepada Rasulullah saw." Sesampai di Madinah kami menceritakan hal ini kepad Nabi saw, maka beliau pun bertutur, "Apa yang menyebabkan ia tidak menganggap hali itu sebagai ruqyah? Berikan dari bagiannya kepadaku" Demikianlah hadits yang diriwayatkn Imam Muslim dan Abu Daud.[2].
3. Asy-Syifa (Penyembuh)
Sebagaimana diriwayatkan Abu Syaikh, dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah r.a., keduanya menceritakan, Rasulullah saw. bersabda:
"Fatihatul Kitab merupakan syifa' (penyembuh) segala racun.
4. Keutamaan Pahala Membacanya.
بَيْنَمَا جِبْرِيْلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيْضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى اْلأَرْضِ لَمْ يَنْزِلُ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمَ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيْتَهُ
“Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi SAW, maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini.” Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini.” Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi“. [HR. Muslim dalam Shahihnya (806), dan An-Nasa’i (912)].

5. Turut menentukan Sah atau tidaknya shalat
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ
“Barangsiapa yang melakukan shalat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya: “Bagaimana kalau kami di belakang imam?” Beliau berkata: “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah membagi Shalat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta.” [HR. Muslim (395), Abu Daud (821), At-Tirmidzi (2953), An-Nasa’i (909), dan Ibnu Majah (838)].
6. Dll.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, hal. 4-42, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar