Rabu, 19 Agustus 2015

Sejarah, Pengertian Dukun, Mantra, Mistik, Jimat Dan Hukumnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
1. Pengertian Dukun dan Mantra

Syekh Abdurrahman bin Hasan Ali mengatakan : "Dukun (Al-Kahin) ialah orang yang mengambil berita dari setan yang menyadap pendengaran dan memberikan perkara ghaib.[1]. Menurut Ibnu Taimiyah, "Al-Kahin, Al-'Arraf, dan Al-Munajjim adalah tiga kata yang sama artinya, yaitu orang-orang yang memberitakan hal ghaib untuk memberikan sesuatu yang akan terjadi atau menunjukkan barang yang dicari.[2]. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, Dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantera, guna-guna, dsb.). Mantra adalah ucapan atau lafal yang dianggap mengandung kekuatan ghaib, sering digunakan oleh dukun untuk mengobati pasiennya yang sakit, atau membuat celaka orang lain. Mantra itu asalnya dari ajaran Hindu tetapi mempunyai pengaruh terhadap umat Islam di Indonesia yang semula memang penganut Hindu, sebelum datangnya Islam. Pengaruhnya bukan hanya pada jaman dahulu saja, tetapi juga bisa disaksikan terus berlangsung sampai sekarang.
Ada Umat Islam yang memilih mantra sebagai do'a dengan tujuan khusus dan aneh, misalnya ingin bisa terbang atau menghilang (Ilmu Halimun). Terlebih mantra ilmu asihan (Pemikat Cinta/Pelet), ilmu yang disebut daun cinta ini banyak peminatnya, terutama kalangan muda. Mereka menganggap dengan dengan ilmu tersebut orang menjadi terpikat atau tergila-gila.

2. Peranan dan Metode Dukun Dalam Masyarakat 

Dalam masyarakat animisme, peranan dukun dianggap begitu penting disamping kepercayaan mereka terhadap zat ruh dan benda-benda. namun tidaklah tepat jika kita menempatkan terminologi dukun hanya pada konteks masyarakat animisme. Sebab kini banyak kepercayaan orang terhadap dukun yang bukan berasal dari faham animisme. Bahkan tidak sedikit dalam masyarakat Islam, seperti santri atau kyai, yang secara khusus membuka praktik perdukunan, yang oleh orang awam disebut "Ahli Hikmah."
Praktik klenik para dukun affakin atsim itu memang telah mewabah di negeri ini, dan pengaruhnya telah merasuk dalam masyarakat Islam. Akibatnya banyak penyelewengan yang dialakukan umat Islam, seperti mereka berduyun-duyun mendatangi dukun sekedar meminta ramalan, jodoh, nomor undian (buntut), dll. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka tertipu oleh kedustaan dukun. Tidak ada niat baik seorang wakil setan, kecuali menyesatkan orang. Tujuan pokok mereka jelas-jelas komersil, yang hanya mengeruk keuntungan material ketimbang memikirkan kerugian moral. Untuk menjerat mangsanya, para dukun menggunakan berbagai metode dan nama berbeda . Bahkan tak sedikit yang meminjam identitas islam. Ada yang mengaku dirinya ahli hikmah, ahli petunjuk ghaib, ahli pengobatan mujarab, dan sebagainya. astaghfirullaahal 'adziim.
Sejak jaman dulu hingga jaman modern ini, praktek dukun masih banyak dilakukan orang, termasuk oleh umat Islam. Yang paling banyak dilakukan umat Islam sekarang ini  ialah praktek dukun yang mengambil berita dari jin (setan). Berita ghaib tersebut diterima si dukun dan kemudian disampaikan kepada si pasien. Orang awam (bodoh) umumnya beranggapan bahwa berita tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa, sedangkan dukun yang membawa kabar mereka dianggap sebagai orang suci atau lebih populer dengan istilah "Orang Pintar". Bahkan ada yang menganggap dukun itu wakil Allah. Padahal sebenarnya mereka itu tertipu, sebab dukun digambarkan dalam al-Qur'an sebagai teman setan yang akan menyesatkan manusia. Allah Ta'al berfirman:
وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعً۬ا يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِ‌ۖ 
Dan [ingatlah] hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, [dan Allah berfirman]: "Hai golongan jin [syaitan], sesungguhnya kamu telah banyak [menyesatkan]  manusia", ... (Q.S. Al-An'am:128).
Dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 222, dukun itu disebut sebagai affakin atsim yaitu manusia pendusta, karena mereka selalu menerima bisikan setan yang menyuruhnya berbuat bohong. 


3. Cara Setan Mencuri Berita

Adapun cara setan membawa berita bohong dikemukakan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:
"Setan itu mendengar kata-kata yang benar dari langit yang datang dari Allah swt., tapi kemudian mereka menambahkan kata-kata bohongnya yang disampaikan kepada dukun.Maka itulah sebabnya mengapa dukun berbuat bohong di bumi ini." [3].
Mengenai kebohongan dukun juga diceritakan oleh seorang sahabat Nabi seperti tertera dalam hadits: Sahabat Nabi bertanya kepada Nabi saw. tentang dukun (peramal). Nabi saw. menjawab: 'Sesungguhnya mereka tidak mempunyai (pengetahuan) apa-apa.'  Sahabat tadi bertanya lagi, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka mengatakan sesuatu itu benar.' Jawab Nabi saw., 'kata-kata itu datangnya dari Yang Haq (Allah swt.) yang disampaikan oleh setan kepada telinga wakil-wakil nya (dukun) seperti suara ayam jago berkokok, dan setan mencampurkan berita itu dengan kata-kata bohong lebih seratus macam." [4].

4. Larangan Islam Terhadap Jimat dan Mantra, Jampi, Rajah

Jimat merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita, karena tersebar beragam jenisnya. Bahkan, jimat tersebut sudah menjadi “komoditi dagang” yang laris diperjualbelikan seperti halnya mantra-mantra, rajah-rajah, batu akik pelancar rezki, sabuk bertuah, liontin ajaib, kain dan semacamnya. Kini benda-benda itu bukan lagi sekedar benda mati, tapi telah “naik kelas”, karena diyakini bisa memberikan perlindungan atau kekebalan, mendatangkan rezeki, ataukah pemikat lawan jenis. Namun yang jadi pertanyaan, bagaimana hal ini jika ditimbang oleh syari’at, adakah ia dalam islam?
  1. Agama Islam sudah sempurnaالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا. “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmatKu kepada kalian dan telah Kurhidhoi Islam sebagai agama bagi kalian.(QS. Al-Maidah: 3)Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah -Ta’ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama yang lain dan tidak kepada nabi yang lain selain Nabi mereka -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia syariatkan.[5].
  2. Ikutilah apa yang sudah dijelaskan Syari'ahNabi -Saw. bersabda ;     مَا بَقِيَ شَيْئٌ يُقََرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ Tiada suatu perkara yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” [6]. Jadi, segala perkara kebaikan yang bisa mengantarkan seseorang meraih surga telah dijelaskan dan dituntunkan dalam syari’at. Demikian pula sebaliknya, segala perkara yang jelek bila menjerumuskan seseorang ke dalam neraka, telah dijelaskan dalam syari’at. Seandainya jimat ini adalah perkara disyari’atkan, tentunya kita akan mendapatkan tuntunannya dalam syari’at dan pastilah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, dan imam-imam setelahnya adalah orang yang pertama kali mengejakannya. Namun, jika kita tidak dapatkan hal tersebut dikerjakan oleh mereka, maka hal tersebut bukanlah perkara yang baik, bahkan termasuk kepada hal-hal yang diada-adakan di dalam syari’at yang telah sempurna ini, yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dan Rasul-Nya berlepas diri dari hal-hal tersebut.
  3. Hadits Larangan Menggunakan Jimat, jampi, dan guna-gunaDari Ibnu Mas’ud r.a., Rasulullah saw. mangisyaratkan tentang jimat dan hukumnya,  إِنَّ الرُّقَى وَالتَمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ  Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.” [7].  Syaikh Muhammad Al-Wushobiy Al-Yamaniy berkata dalam mengomentari hadits ini, “Bisa dipetik hukum dari hadits ini tentang haramnya menggantungkan jimat, baik pada manusia, hewan, kendaraan, rumah, toko, pohon, atau selainnya. Apakah sesuatu yang dgantungkan itu berupa tulang, tanduk, sandal, rambut, benang-benang, batu-batu, besi, kuningan, atau yang lainnya, karena perkara tersebut, di dalamnya ada bentuk penyandaran sesuatu kepada selain Allah, (yang ia itu adalah kesyirikan )”. [8]Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga pernah bersabda, مَنْ عَلَّقَ تمَِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ Siapa yang menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.” [9]. 


5. Islam Punya Bacaan Yang Syar'i

Mereka tidak menyadari bahwa Islam punya ayat-ayat al-Qur'an atau do'a-do'a yang telah diajarkan Rasulullah saw. Bacaan-bacaan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik keperluan dunia maupun keperluan akhirat. Sehubungan dengan ini, Ibnu Abbas r.a. mengatakan (dalam kitab tafsirnya) bahwa dari jumlah ayat-ayat al-Qur'an yang 6666 ayat terdapat sejumlah ayat yang berisi dzikir, doa tasbih, tahmid dan istighfar. 
Rincian jelasnya sebagi berikut:
- Ayat yang menunjukkan perintah ada 1000 ayat, 
- Larangan 1000 ayat, 
- Ancaman 1000 ayat, 
- Janji 1000 ayat, 
- Proses kejadian masa lampau dan mendatang 1000 ayat, 
- Contoh-contoh 1000 ayat, 
- Halal-haram 500 ayat, 
- Nasikh-mansukh 100 ayat, 
- Dzikir, doa' tasbih dan tahmid dan istighfar 66 ayat. 
Selain ayat-ayat al-Qur'an dan do'a-do'a Rasul, juga banyak do'a yang ditulis oleh ulama Salafus Saleh. Do'a-do'a mereka itu bisa dijadikan standarisasi bacaan wirid bagi setiap Muslim karena pada dasarnya sumber acuan yang mereka ikuti juga al-Qur'an dan As-Sunnah. Umat Islam tidak seharusnya menggunakan mantra sebagai doa, sebab mantra adalah bacaan yang dilarang Islam, sementara pelakunya termasuk Syirik.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                        
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Bid'ah-Bid'ah di Indonesia hal.97-100,  136-137; Drs. KH.Badruddin Hsubky, Penerbit: Gema Insani Pers.
Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
***
[1]. Syekh Abdurrahman bin Hasan Ali, Fathul Majid, hal. 235, Riyadh 1983, juga Bey Arifin, Bersihkan tauhid anda dari Noda Syirik, hal 92-93.
[2]. Al-Jamil'ul Farid hal. 124.
[3]. Syek Ismail Abil Fida, Ibnu Katsir op.cit. hal. 354.
[4]. H.R. Bukhari-Muslim dari 'Aisyah)
[5]. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/14) cet. Darul Ma'rifah].
[6]. (HR. Ath-Thabranydalam Al-Kabir (1647), di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1803), dan Syaikh Ali bin Hasan Al-Atsariy dalam ‘Ilmu Ushul Al-Bida’ (hal.19)].
[7]. [HR. Abu Dawud (3883). Hadits ini di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Shohih Al-Jami' (1632), dan di-hasan-kan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'iy dalam Al-Jami' Ash-Shohih (3/499)].
[8].[Lihat Al-Qaulul Mufid Fiadilati At-Tauhid (145 jilid 7)].
[9].  [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/56), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/291). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohih (629), dan di-hasan-kan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami' Ash-Shohih (6/294)]

1 komentar:

  1. Tugas para wali adalah meluruskan syariat peninggalan para leluhur yang salah.... tetapi di zaman sekarang tidak ada yang berani melarang praktek syariat yang salah sehingga banyak umat yang terjerumus. Sebagian hanya sibuk menolong diri sendiri.

    BalasHapus