Kamis, 20 Agustus 2015

Pengertian kalalah; Bagian Waris Untuk Saudara Menurut Tafsir Al-Qur'an, Hadits Dan Asbabun Nuzul

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir istilah kata surat An-Nisa 12 dan 176
Al-Kalalah diambil dari kata al-ikliil yakni sesuatu yang melingkup seluruh kepala, ada juga yang berpendapat dari kata kata al-kalla yang bermakna lemah, kata ini misalnya digunakan dalam “Kalla ar-rajulu” yang artinya apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya. Sedangkan yang dimaksud di sini ialah orang yang hanya memiliki ahli waris dari kaum kerabatnya saja, tidak ada ahli waris pokok (ayah dan seterusnya) atau ahli waris cabang (anak dan seterusnya). 
Kata "Kalalah" dalam Al-Qur'an merupakan salah satu ayat paling banyak diperselisihkan oleh para pakar tafsir, sampai-sampai diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab r.a. berkata, "Tiga hal yang jika diperjelas keterangannya oleh Rasul, akan menjadi hal-hal yang lebih kusenangi dari kenikmatan duniawi: kalalah, riba dan kekhalifahan." Dalam riwayat lain juga dinyatakan bahwa Umar seringkali bertanya dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah saw. tentang masalah kalalah ini, sampai-sampai beliau mendorong dada Umar sambil bersabda: "Cukup sudah bagimu ayat kalalah musim panas yang disebut pada akhir An-Nisa." (Ayat ke-12 disebut ayat kalalah musim dingin, dan ayat 176 musim panas). Perbedaan pendapat dimulai dari akar katanya, selanjutnya makna kata itu sendiri dan terakhir, maksud penggalan ayat itu. Mayoritas pakar bahasa memahami kata kalalah dengan arti yang mati tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak; ada juga yang memahami dalam arti yang mati tanpa meninggalkan ayah saja, ada lagi yang berpendapat yang mati tanpa meninggalkan anak saja, dan masih banyak pendapat lain. Dan ada juga yang berpendapat bahwa kalalah menunjuk kepada ahli waris, selain kedua ibu bapak dan anak, wallaahu a'lam


1. Pendapat Para Shahabat

  • Asy-Sya'rabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar r.a ditanya tentang kalalah, maka ia berkata: "Aku menjawab berdasarkan pendapatku. Jika benar maka itu dari Allah dan jika salah maka itu dariku dan dari syaitan. Dan Allah serta Rasul-Nya terlepas darinya. Al-Kalalah adalah orang yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki orang tua." Di saat Umar diangkat menjadi khalifah, beliau berkata: "Sesungguhnya aku malu untuk berbeda pendapat dengan Abu Bakar."[1]
  • Di dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Aku adalah orang terakhir yang menjumpai Umar. Sesungguhnya aku mendengarnya berkata: 'Pendapat yang kuat adalah pendapat (saat ini).' Aku bertanya: 'Apa pendapatmu?' Beliau berkata: 'Al-Kalalah adalah orang yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki orang tua (sama dengan pendapat Abu Bakar).[2].
  • Begitulah pendapat yang dikemukakan oleh Ali dan Ibnu Mas'ud. Telah shahihi pula (pendapat ini) bukan hanya dari satu orang ulama, diantaranya ibnu 'Abbas dan Zaid bin Tsabit. Dan merupakan pendapat asy-Sya'rabi, Ibrahim an-Nakha'i, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Jabir bin Zaid dan al-Hakam.[3]. 
  • Begitu pula pendapat penduduk Madinah, Kufah dan Bashrah. Demikian pula yang dikemukakan oleh tujuh orang fuqaha, imam empat madzhab serta jumhur ulama salaf dan khalaf, bahkan seluruhnya, intinya telah ijma' mengenai definisinya.

2. Redaksi Ayat Dan Maksudnya

 وَإِن كَانَ رَجُلٌ۬ يُورَثُ ڪَلَـٰلَةً أَوِ ٱمۡرَأَةٌ۬ وَلَهُ ۥۤ أَخٌ أَوۡ أُخۡتٌ۬ فَلِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُ‌ۚ فَإِن ڪَانُوٓاْ أَڪۡثَرَ مِن ذَٲلِكَ فَهُمۡ شُرَڪَآءُ فِى ٱلثُّلُثِ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصَىٰ بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ غَيۡرَ مُضَآرٍّ۬‌ۚ وَصِيَّةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ۬ 

... Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki [seibu saja] atau seorang saudara perempuan [seibu saja], maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat [kepada ahli waris]. [Allah menetapkan yang demikian itu sebagai] syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (12)

يَسۡتَفۡتُونَكَ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيڪُمۡ فِى ٱلۡكَلَـٰلَةِ‌ۚ إِنِ ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُ ۥ وَلَدٌ۬ وَلَهُ ۥۤ أُخۡتٌ۬ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَ‌ۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن كَانَتَا ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ‌ۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةً۬ رِّجَالاً۬ وَنِسَآءً۬ فَلِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۗ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَڪُمۡ أَن تَضِلُّواْ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمُۢ

Mereka meminta fatwa kepadamu [tentang kalalah. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah [yaitu]: jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai [seluruh harta saudara perempuan], jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka [ahli waris itu terdiri dari] saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan [hukum ini] kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (176).

Pembagian waris Kalalah:

A. Ketentuan Hak Waris Saudara se-ibu (Q.S. An-Nisa:12):
1. Mereka mendapatkan warisan bersamaan dengan orang yang lebih dekat kepada si mayit, yaitu ibu.
2. (Dalam hal besarnya bagian warisan), maka laki-laki dan perempuan dari kalangan mereka (saudara seibu) adalah sama, bukan 2:1.
3. Mereka tidak mendapatkan waris kecuali dalm masalah kalalah. Artinya mereka tidak mendapatkannya jika ada bapak, kakek, anak atau cucu dari anak laki-laki.
4. Mereka tidak mendapat lebih dari 1/3, sekalipun laki-laki dan perempuan dari mereka berjumlah banyak.
B. Ketentuan Hak Waris Saudara (Kandung dan sebapak) (Q.S. An-Nisa: 176):
1. Satu orang saudara perempuan mewarisi 1/2 harta si mati.
2. Dua orang saudara perempuan mewarisi 2/3 harta si mati.
3. Satu orang saudara lelaki sendirian, ia mewarisi seluruh harta si mati.
4. Jika ahli waris ada saudara laki-laki dan saudara perempuan, maka laki-laki mendapat 2x bagian perempuan.
Untuk contoh-contoh soal waris kalalah, silakan klik


3. Sebab Turunnya Ayat

Surat An-Nisa Ayat 11-12:
Diriwayatkan bahwa isteri Sa'id bin ar-Rabi' menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah, kedua puteri ini anak Sa'id bin Ar-Rabi' yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan ia telah gugur sebagai syahid. Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya, dan tidak meninggalkan sedikit pun, sedang kedua anak ini sukar mendapatkan jodoh kalau tidak berharta." Rasulullah saw. bersabda: "Allah akan memutuskan persoalan tersebut" Maka turunlah ayat hukum pembagian waris seperti tersebut di ayat .[4].
Surat An-Nisa: 176:
Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa ayat ini turun ketika sahabat Nabi saw, Jabir bin Abdillah, sedang sakit dan dikunjungi Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Jabir menceritakan bahwa "Ketika itu aku sedang tidak sadar, maka Rasul saw. berwudhu' lalu menuangkan air wudhunya kepadaku, hingga aku sadar dan bertanya: Bagaimana dengan harta peninggalanku, karena yang mewarisi aku (bila aku wafat) adalah kalalah. Maka turunlah ayat ini." 
Dari riwayat ini dan yang menjadi penyebab turunnya ayat adalah kasus bila seorang yang meninggal ayahnya, sehingga bila ayat ini tidak menyebutkan ayah, tetapi hanya anak - maka itu wajar, karena dari asbabun nuzulnya telah jelas bahwa ketetapan hukum yang ditanyakan di sini adalah dalam kasus bila ayah meninggal dunia.
Pada surat An-Nisa ayat 176 redaksi teks ayat hanya menyebutkan tidak mempunyai anak, tetapi pemahaman mayoritas ulama menambahkan pula ayah. Seandainya salah seorang dari orang tua masih hidup, tentu saja bagiannya disebut dalam rangkaian ayat, tetap ternyata tidak sedikit pun. Maka dengan demikian, kalalah adalah yang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak. Ini dikuatkan pula oleh sebab turunnya ayat
Butuh Konsultasi Waris Pribadi / Online ? Klik Konsultasi
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir 2 hal. 446-447, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarkfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
Asbabun Nuzul, hal. 130, KH. Sholeh dan KH. Dahlan, Penerbit CV.Diponegoro, Bandung.
Ket:
[1]. At-Thabari (VIII/53).
[2]. At-Thabari (VIII/59).
[3]. At-Thabari (VIII/55=57).
[4]. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim yang bersumber dari Jabir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar