Rabu, 05 Agustus 2015

Mengenal Para Muallaf Lokal dan Perkembangan Islam di Papua

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ketika orang menyebut Papua, yang terbayang dalam benak adalah kehidupan serba primitif, koteka, dan non-Islam. Faktanya Papua kental dengan Islam
Papua adalah sebuah fenomena. Selain kondisi alamnya yang asli dengan flora dan faunanya yang memikat, juga kandungan kekayaan alamnya melimpah ruah dengan kehidupan sosial masyarakatnya yang dinamis.
Hingga hari ini, Propinsi Papua masih menyimpan sejumlah misteri.  Banyak orang mengira Papua primitif atau jauh dari Islam.
Padahal, ini kekeliruan fatal. Sebab, sejarawan Barat maupun Islam menjelaskan, agama yang dibawa Nabi Muhammad  Shalallahu 'alaihi wa sallam ini telah hadir di Papua tiga abad lebih dahulu dibandingkan masuknya para misionaris Kristen.

1. Masuknya Islam dan Kristen Di Papua

Bila secara resmi Kristen masuk Papua pada tanggal 5 Februari 1855 di pulau Mansinam, Manokwari, maka Islam sudah hadir di Papua pada tahun 1520 sebagai pengaruh dari kekuasaan empat kerajaan terkenal di kawasan Indonesia timur saat itu, yakni Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Nama empat kerajaan ini terdokumentasi dalam penyebutan Pulau Raja Ampat, yang dikenal sampai sekarang.
Uniknya, kedatangan tokoh misionaris bernama CW. Ottow dan GJ.Geissler ke pulau Mansinam justru difasilitasi oleh kerajaan Islam. Kedua misionaris itu diantar langsung oleh tokoh-tokoh Muslim empat kerajaan tersebut. Sayang, maksud baik nan bersahabat ini dibalas dengan pengkhianatan. Sesampai di Papua, tokoh-tokoh Muslim ini justru dibuang ke Maros hingga dibiarkan wafat di sana.
Muslim di Papua saat ini capai 40% dari total Jumlah penduduk

2. Tiga kesalahan dalam memandang Papua. 

1-2. Papua identik dengan koteka dan Primitif.
Untuk poin pertama dan kedua boleh jadi benar, bahwa di kawasan-kawasan tertentu di pedalaman bumi cenderawasih ini, hingga hari ini masih diketemukan masyarakat dengan pola hidup primitif,  sebagian masih mengenakan koteka, serta menjalani hidup secara kanibal. 
Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti terbatasnya akses informasi (atau bahkan ketiadaan informasi yang mereka terima) serta luasnya kawasan tersebut yang hampir 4 kali luas pulau Jawa. Bahkan, Papua, termasuk pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland di Denmark.
3. Papua Identik dengan Kristen
Padahal, itu keliru Fakta lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah populasi Muslim di kawasan ini.  Banyak orang yang bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas muslim pribumi (penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka?
Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa yang lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen. Opini negative seperti ini kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam.
Bahkan saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900.000 jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau mencapai 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% sisanya merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Animisme, dan mayoritas dari 60% ini adalah animisme di pedalaman.
Ditengah imej yang tidak kondusif seperti itu, ditambah lagi “tekanan psikologis” suasana lingkungan yang serba Kristen, dimana setiap mata memandang banyak gereja sebagai hasil kerja para missionaris. 
Pelan tapi pasti komunitas Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih 

3. Beberapa Muallaf Asli Papua

  1. Ismail Saul Yenu (67) adalah mantan pendeta sekaligus kepala suku besar serui di Yapen Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail mengatakan "Misionaris kristen tidak melakukan perubahan kearah kemajuan, peradaban primitif mereka biarkan dianggap sebagai peninggalan budaya" Setelah masuk Islam Ismail nyantri beberapa waktu di pesantren Ust. Fadzlan di bekasi, setelah itu kembali kekampungnya untuk mendakwahkan Islam, banyak anggota suku yang bersyahadat. Ismail yang juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2002. 
  2. Seorang pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah masuk Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. 
  3. Wilhelmus Waros Gebse Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anaknya. Kini Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung halamannya di Merauke.
  4. Saat ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam. Berkali-kali keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi pihak MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu. "Inilah tantangan bagi kita, tidak sedikit penduduk asli yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai.” tutur H.Burhanuddin Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun tinggal di Lembah Baliem. 
  5. Sebelum itu, tetua adat di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam. 
  6. Berita yang sempat meramaikan media massa adalah masuk Islamnya “kepala suku perang” H. Aipon Asso pada tahun 1974. Keislaman Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H. Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem. Ia adalah sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan di kawasan ini. Bahkan ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada. Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang dilakukannya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut. Saat kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah tersebut H. Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara permanen di kawasan ini dan itu disetujui.

3. Sebaran Islam Di Papua

Di ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika, Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah, kegiatan pengajian juga tumbuh subur. Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai, pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh. 
Secara keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. 
Dalam catatan yang dikeluarkan oleh LP3ES Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong Kristen di seluruh Papua yang semakin menyusut, Jumlah penduduk Muslim semakin tumbuh. Secara historis, ummat Islam adalah pendatang awal di Tanah Papua sebelum misionaris tahun 1855. Adalah sultan Ternate Tidore yang yang sebelum misionaris tiba di papua telah bolak balik Tidore - Papua pada abad ke 15. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan oleh Pemerintah Papua. 
Dalam disertasi DR Toni Vm Wanggai yang adalah Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus. 
Hal itu perlu dilakukan agar ummat Islam di Papua mengetahui jati diri mereka, sekaligus menginformasikan kepada pihak lain yang belum faham, untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai ‘tamu di Papua’. 
Islam hadir di Papua abad ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari 1855). 

4. Tantangan Dan Ancaman Muslim Di Papua

Pada saat ini ada kecemburuan / dengki kelompok misionaris dengan pesatnya pertumbuhan Islam di Tanah Papua. 
Karena pengaruh mereka lambat laun akan berkurang dan kepentingan mereka akan terusik. Salah satu buktinya adalah upaya dari kelompok Kristen yang ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan Raja Ampat Di mana nama “Raja Ampat” akan dihilangkan dan diganti dengan nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua sendiri.
“Nama Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaan-kerajaan Islam yang berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.” tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang ‘Rekontruksi Sejarah Islam Papua’.
GIDI adalah gereja yang diketuai pendeta Nayus Wenda yang agak rada provokatif dan radikal. Pihak gereja selain GIDI juga mengungkapkan ketidak senangan mereka terhadap GIDI.
Tidak mustahil juga ada pihak lain di belakang GIDI yang memprovokasi.
Penduduk Asli Papua sekali lagi bukan tipe yang memiliki sentimen keagamaan bahkan mereka antusias terhadap Islam seperti telah ditulis diawal tulisan ini. Lagipula kebanyakan penduduk asli dipedalaman masih belum beragama (animisme). 
Bila Umat Islam nanti menjadi mayoritas di Papua maka pihak pihak yang ingin pisah dari NKRI akan kehilangan banyak pendukung bilapun dilakukan referendum. Umat Islam Papua memang rentan menjadi ‘kambing hitam politik’ oleh kelompok kepentingan yang sudah lama ingin menguasai Papua dan ingin memisah kan diri dari NKRI.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ               
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
sumber : 
komunitas muslim papua
http://kristolog.blogspot.com/2009/05/islam-di-papua-fenomena-mempesona.html

3 komentar:

  1. Papua sesungguhnya terbuka namun nampak tertutup bukan karena krakter budaya yang sifatnya tertutup namun ada beberapa hal yang harus dicermati oleh masyarakat indonesia secara umum antara lain;

    1. Papua dalam prefektif sejarah, dimana diera suharto telah terjadi pembungkaman terhadap masyarakat papua sehingga ruang kebebasan berekspresi sullit dipapua.
    2 Masyarakat papua termarjinalissasi dalam kehidupan berbangsa hanya karena pembunuhan kragter hitaam,bau dan juga bodoh dllnya.

    Maka berbicara tentang muslim papua dipapua bukan seperti yang dikemukan oleh semua orang bahwa muslim papua ditutupi dan lain sebagainya. Dan perlu untuk diketahui bahwa agama dipapua diatur secara adat istiadat`

    BalasHapus
  2. terima kasih atas tambahan informasinya.

    BalasHapus
  3. Fakta: islam agama pertama di papua. Islam mengajar kan bersih dan berpakaian supaya bermartabat, sedang misionaris mengajar kan tetap telanjang dan tidak mandi dengan alasan menjaga ato mempertahankan kan budaya lokal dan tujuan utama nya menyebar kan faham anti NKRI.

    BalasHapus