Minggu, 16 Agustus 2015

Mengenal Asal-Usul Penciptaan Jin dan Hakikatnya Menurut Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Siapakah Jin Itu? Mengapa Banyak Manusia Takut Kepadanya, Padahal Jin juga Takut Manusia. Sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, jin dianggap sesuatu yang menakutkan, bahkan sudah sejak kecil anak-anak ditakut-takuti dengan membawa-bawa nama setan. Maka sudah barang tentu di tengah masyarakat timbul persepsi yang salah mengenai eksistensi makhluk ghaib yang ada di sekeliling kita, yang terkadang kesalahan itu diikuti dengan langkah kemusyrikan seperti meng-agungkan jin, menghormatinya bahkan melayaninya dengan aneka sesajen, naudzubillaahi min dzaalik.

1. Al-Qur'an Adalah Hidayah Bagi yang Mau Menerimanya

Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, plus ketidak-tahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah satu diantaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian itu cukup sudah sebagai jaminan bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan terjadinya dekadensi.
Itu sebabnya, maka diturunkanlah akidah Islam yang komprehensif, memenuhi tuntunan emosi  dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan, lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barangsiapa mengikuti apa yang diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh  Al-Qur’an, berarti dia telah memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Dan barangsiapa menyimpang darinya, berarti dia telah disesatkan setan. Firman Allah Ta'ala: Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula], di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, [dan] barangsiapa yang tiada diberi cahaya [petunjuk] oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun(Q.S. An-Nur: 40).


2. Jin dan Manusia Sama-Sama Menghuni Bumi.

Sepanjang jin merupakan makhluk yang bersama-sama kita menghuni planet bumi ini, atau dengan ungkapan yang lebih tegas “Kami (Allah) telah menempatkan mereka di bumi.” Dan dia lebih dulu ada dibanding manusia, lalu dalam banyak hal dia juga bergaul dengan manusia, memiliki keinginan dan kemempuan memilih antara baik dan buruk, untuk kemudian melaksanakan salah satu diantara keduanya, dan sepanjang jin juga merupakan makhluk yang dikenai kewajiban beribadah oleh syariat, dan manusia – baik yang mukmin maupun yang kafir – mengetahui adanya makhluk ini, maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam ghaib ini dari pandangan kita, sekalipun kadang-kadang kita bisa merasakan kehadirannya. Sementara itu sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam ghaib tersebut, sehingga kita tidak tersesat dari jalan yang benar.
Dan jika orang-orang kafir menisbatkan kepada jin berbagai kemampuan yang sebenarnya mereka tidak miliki, seperti pengetahuan tentang yang ghaib, maka yang demikian itu disebabkan karena kebodohan mereka. Akan tetapi bila hal seperti itu terjadi pada sementara kaum Muslim, maka ia merupakan sejenis syirik dan bukan karena kebodohan mereka. Sebab, bertanya adalah kunci pengetahuan, dan Al-Qur’an yang dibaca dan didengar pun telah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui yang ghaib kecuali Allah: Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan), melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga (Q.S. Yunus: 66).


3. Iblis Bukan Dari Golongan Malaikat

Ada sebagian orang beranggapan bahwa Iblis (bangsa jin) berasal dari golongan Malaikat, mereka menyandarkan pemaknaan tersebut kala mengartikan firman Allah kala menyuruh para Malaikat sujud kepada Adam: Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ... (Q.S.Al-Baqarah: 34). Penafsiran semacam ini adalah aqliyah alias tafsir yang hanya berdasarkan akal atau ra'yu yang bertentangan dengan penjelasan Allah di ayat lain dan dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah saw. Indikator kengawuran ini sangat mudah dipatahkan jika kita menelusuri dari unsur apa kedua makhluk (antara Malaikat dan dan iblis ) diciptakan, jika unsurnya berbeda, jelas keduanya bukan jenis yang sama.
Beberapa Dalil Bahwa Iblis Bukan Golongan Malaikat
  1. Allah swt. Berfirman: وَٱلۡجَآنَّ خَلَقۡنَـٰهُ مِن قَبۡلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ Dan Kami telah menciptakan jin sebelum [Adam] dari api yang sangat panas. (Q.S. Al-Hijr: 27).
  2. وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ۬ مِّن نَّارٍ۬ dan Dia menciptakan jin dari nyala api.  (Q.S. Ar-Rahman: 15). 
  3. Ketika mengisahkan perkataan Iblis, Allah swt. Berfirman:  قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَ‌ۖ قَالَ أَنَا۟ خَيۡرٌ۬ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ۬  Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam] di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".(Q.S.Al-A’raf: 12).
  4. وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin,(Q.S. Al-Kahfi: 50) .
  5. Imam Muslim dalam shahihnya mencatumkan sebuah hadits yang diterima dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah  yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin andiciptakan dari nyala (maarij) api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kalian.”[1]. Dengan demikian, baik Al-Qur’an maupun hadits telah menegaskan tentang materi asal penciptaan jin, yaitu api, sekalipun Al-Qur’an maupun As-Sunnah sesekali mengungkapnya dengan “nyala api” dan pada kali lain dengan “api yang sangat panas.”
Arti Makna Al-Maarij.
  1. Imam an-Nawawi mengatakakan: “Yaitu jilatan api (al-lahab) yang bercampur dengan hitamnya api.”  
  2. Ath-Thabari mengatakan, al-maarij ialah sesuatu yang bercampur satu sama lain, antara merah, kuning dan biru, berdasar ucapan orang-orang Arab yang mengatakan marija ‘amral-qauum yang berarti “urusan kaum itu bercampur aduk”. Juga berdasar ucapan Nabi saw. Kepada Abdullah bin ‘Amr ibn Al-‘Ash yang berbunyi: “Bagaimana halmu jika kamu berada di tengah-tengah suatu kaum yang perjanjian dan amanah mereka sudah bercampur baur...” [2]. Dengan demikian, arti maarij adalah nyala api dan lidah api. [3].
  3. Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan: “Al-Maarij adalah al-lahab (nyala api) dari Ibnu Abbas. Atau inti api, atau lidah api yang berada di puncak manakala api tersebut menyala.”  
  4. Al-Laits mengatakan:: “Al=Maarij ialah api yang sangat terang yang memiliki nyala (panas) yang sangat kuat.” 
  5. Ibnu Abbas mengatakan: “ Al-Maarij adalah nyala api yang berada di bagian atas, yang saling bercampur warnanya antara merah, kuning, dan biru.” 
  6. Abu ‘Ubaidah dan Al-Hasan mengatakan: “Al-Maarij adalah campuran api . Ia berasal dari marija yang  artinya bercampur-baur.” 
  7. Al-Jauhari dalam Al-Shihah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Maarij min naar adalah api yang tidak berasap, yang dari itu jin diciptkan.”[4].
Makna Kata as-Samuum
  1. Imam An-Nasa’I dalam tafsirnya mengatakan: “ ... as-samuum ialah api yang sangat panas yang digunakan di tempat peleburan.” [5]
  2. Dalam Tafsir Al-Qurthuby dikatakan, “Diriwayatkan bahwa Allah swt. Menciptakan dua jenis api, yang satu sama lain bercampur, dan saling telan menelan, itulah naar as-samuum (api yang sangat panas).[6]. Masih dalam tafsir yang sama, Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan: “Naar as-samuum yang darinya jin diciptakan adalah satu bagian daari tujuh bagian api Jahannam.” 
  3. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa as-samuum ialah angin yang sangat panas dan mematikan. Di bagian lain Ibnu Abbas mengatakan bahwa as-samuum adalah api tanpa asap, dan halilintar terbuat darinya.” 
  4. Qusyairi mengatakan bahwa “Angin panas disebut as-samuum karena ia masuk misaam tubuh (toxit).[7].

4. Kesimpulan:

  1. Berdasarkan uraian di atas, maka tidak ada perbedaan antara al-maarij dan as-samuum. As-Samuum adalah sifat yang ditambahkan dan penjelas bagi karakter al-maarij
  2. Dengan seluruh penghormatan kita pada pendapat-pendapat para pendahulu kita, maka cukuplah di sini kita ketahui bahwa api ini mengandung ether yang menyebabkan ia begitu ringan, dan terdiri dari campuran berbagai warna yang menyebabkan makhluk yang terbuat darinya pun memiliki warna yang bermacam-macam, serta kemampuan memanjang dan meninggi yang menyebabkan makhluk-makhluk yang terbuat darinya pun mempunyai kecenderungan pada dua sifat ini. Allaahu a’lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Buku Dialaog denganJin Muslim, Muhammad Isa Daud, hal.  9 – 10, 22-24. Penerbit:Pustaka Hidayah.
***
[1].Ditahrij oleh Muslim dalam shahihnya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaaq, juz XVI, hal. 123.
[2].Ditakhrij oleh Abu Daud dalam Sunan-nya Kitab al-Malaahim, Bab Al-‘Amr bil Ma’ruf wa An_Nahy an Al-Munkar. Hadits yang sama ditakhrij oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, dan Ibn Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitaan.
[3].Lihat Tafsir Ath-Thabary, Al-Babiy Al-Halabiy 1373 H, juz XVII hal. 126.
[4].Lihat Tafsir Al-Qurthubi, Dar Al-Sya’b  juz VII hal. 6331, dengan sedikit perubahan.
[5].Tafsir An-Nasafiy, juz II. Hal. 272.
[6].Tafsir Al-Qurthuby, hal 6331.
[7]. Ibid, hal. 3639.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar