Minggu, 23 Agustus 2015

Godaan Setan Saat Sakaratul Maut dan Kisah Detik-Detik Wafatnya Para Shalihin

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sakaratul maut merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap. Sakaratul maut dan kematian merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta merupakan suatu fenomena tersendiri. kematian lebih ke arah suatu proses, sedangkan sakaratul maut merupakan akhir dari hidup.


1. Sakitnya Sakaratul Maut

  1. Kita tidak bisa membayangkan, betapa dahsyatnya pertarungan iman seorang mukmin melawan syetan. Padahal kondisi orang yang sedang sakaratul maut adalah kondisi yang menyakitkan dan melelahkan. Rasa sakitnya melebihi sayatan pisau dan pedang, karena ruh dicabut dari segenap penjuru anggota tubuh.
  2. Fase sakaratul maut seringkali di sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan. .
  3. Sakaratul maut juga dapat dikatakan sebagai warming up (pemanasan) kematian. Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka diperlukan pemanasan.
  4. “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi).
  5. “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari).
  6. “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”. (Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw).
  7. “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
  8. “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”. ( Imam Ghozali).
  9. ‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada anaknya saat sakaratul maut, “Wahai annakku! Demi Allah, seolah-olah ranting berduri dicabut dari kakiku sampai ke kepala.”
  10. Imam Ghazali berkata, “Sakaratul maut lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya, yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya, dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419).

2. 7 Macam Gangguan Setan Saat Sakaratul Maut

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian ucapan laa ilah illallah,” [1]Dalam banyak sumber dan kajian, disebutkan bahwa saat-saat sakaratul maut adalah saat yang genting. Saat di mana Setan mengganggu manusia pada akhir hayat menjadi sesuatu paling dahsyat.
Setan mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan.
  1. Akan datang Setan dengan berbagai rupa yang rumit dan aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. Ini disebabkan orang yang tengah berada dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut.
  2. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut menyerupai binatang yang ditakuti seperti harimau, singa, ular dan kalajengking yang berbisa.
  3. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut menyerupai binatang yang menjadi kesukaan orang yang hendak mati itu. Jika orang tersebut suka sekali kepada burung, maka serupa dengan burung, dan jika dia suka terhadap ayam sabung untuk berjudi, maka dirupakan pula dengan ayam sabung judi, dan begitu seterusnya.
  4. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut menyerupai sesuatu  yang paling dibenci oleh orang yang akan mati tersebut. Misalnya musuhnya sewaktu masih hidup.
  5. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut menyerupai sanak-saudara yang hendak mati itu, seperti ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman.
  6. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut menyerupai ulama-ulama yang membawa banyak kitab.
  7. Setan datang kepada orang yang tengah berada dalam sakaratul maut terdiri dari 72 barisan.
Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia kalimat  talkin “Laa Ilaaha Illallah” untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan itu. 


3. Kisah Sakaratul Maut-nya Orang-Orang Shalih

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ
Setiap yang bernyawa pasti akan mati
Demikian janji Allah swt. Mati itu pasti, namun bagaimana kita mati, itu pilihan. Berikut ini beberapa kisah orang-orang shalih ketika ajal menjemput mereka:
  1. Abu Sufyan bin al-Hârits. Beliau adalah anak paman Nabi SAW., (sepupu beliau saw). Tatkala ajal menjemputnya, dia berkata kepada keluarganya, “Janganlah kalian menangisiku sebab aku tidak pernah sekalipun menyentuh dosa semenjak masuk Islam.”
  2. Umar bin Abi Rabi’ahTatkala ajal menjemputnya, saudaranya, al-Hârits menangis, lalu dia berkata kepada saudaranya tersebut, “Wahai saudaraku, jika yang kau permasalahkan terhadap diriku adalah untaian sya’ir yang pernah kau dengar dari ucapanku berbunyi, Aku katakan kepadanya (wanita) dan dia berkata kepadaku, Semua budakku adalah bebas. Sungguh! Aku tidak pernah menyingkap sekalipun jua sesuatu yang haram.” Maka berkatalah al-Hârits, ‘Segala puji bagi Allah, Engkau telah membuat hatiku tenang.’”
  3. Abu Yûsuf. Bisyr al-Walîd berkata, “Aku pernah mendengar Abu Yusuf berkata pada saat sakit yang membawa ajalnya, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah sekalipun menyentuh farji (melakukan hubungan badan) secara haram saat aku menyadarinya. Dan aku juga tidak pernah sekalipun memakai satu dirham dari yang haram saat aku menyadarinya.”
  4. Abu Bakar bin ‘AyyasyIbrahim bin Abu Bakar ‘Ayyasyberkata, “Ketika menjelang ajal, aku menyaksikan ayahandaku, lalu aku menangis karenanya. Maka dia berkata kepadaku, ‘Nak, Ayahandamu ini tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan keji.’ ”
  5. Hafsh bin GhayyâtsUmar bin Hafsh bin Ghayyâtsberkata, “Tatkala ajal menjemput ayahandaku, dia sempat pingsan, lalu aku menangis di samping kepalanya. Maka, dia berkata kepadaku saat tersadar, ‘Kenapa gerangan kamu menangis?.’ Aku menjawab, ‘Karena akan berpisah denganmu.’ Dan tatkala aku masuk pada pembicaraan seputar qadla (kematian), dia berkata, ‘Janganlah kamu menangis, sesungguhnya aku tidak pernah sekalipun menggunakan celanaku ini untuk sesuatu yang haram. Dan tidak pernah pula ada dua orang yang bersengketa di hadapanku duduk, lalu aku telanjangi (permalukan) salah seorang dari mereka yang terkena vonis.”
  6. al-Haytsam bin Jamil. Sufyan bin Ahmad al-Mashîshyberkata, “Tatkala sedang sekarat, aku menyaksikan al-Haytsam bin Jamil telah diarahkan ke kiblat dan budak wanitanya menutupi kedua kakinya, lalu dia sempat berkata, ‘Tutuplah keduanya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui bahwa keduanya tidak pernah sekalipun berjalan untuk hal-hal yang haram.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ               
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
http://www.islampos.com/kisah-sakaratul-maut-para-shalihin-8183/ 
***
[1]. (Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram no 501 mengatakan, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dan kitab hadits yang empat [Nasai, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar