Senin, 24 Agustus 2015

Bagian Waris Untuk Saudara Kandung, Sebapak Dan Seibu Menurut Faraidh

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Yang dimaksud saudara di sini adalah orang yang memiliki pertalian darah; meliputi pertalian se-ayah dan se-ibu (saudara kandung), pertalian se-ayah saja (saudara sebapak) dan pertalian si-ibu saja (saudra se-ibu). Mereka bisa terdiri dari jenis kelamin laki-laki dan atau perempuan, bisa berjumlah satu orang atau lebih. Dalam kaitannya dengan perolehan hak bagian waris, kita sering mendengar terjadinya keributan antar saudara karena berebut warisan, yang terkadang menjadi sengketa warisan yang memutuskan hubungan keluarga, bahkan tak jarang saling gugat di pengadilan. Artikel ini akan menjelaskan kedudukan status mereka dan ada tidaknya bagian warisan mereka manakala ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Bagian waris menurut hukum Islam yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya disertai contoh kasus.


1. Bagian Waris Saudara Laki-laki Sekandung

  1. Mendapat semua bagian; jika si mati tidak meninggalkan ahli waris, kecuali saudara laki-laki kandung. Jika jumlah saudara laki-laki kandung lebih dari satu orang, maka harta dibagi rata untuk mereka.
  2. 2:1; Jika si mati tidak meninggalkan ahli waris, kecuali saudara laki-laki dan perempuan sekandung, tiap saudara laki-laki sekandung mendapat dua kali bagian saudara perempuan sekandung.
  3. Mendapat sisa; Jika si mati ada meninggalkan ahli waris.
  4. Mendapat 1/3; Jika si mati ada meninggalkan: suami, ibu saudara se-ibu dan saudara kandung. (Ada perselisihan metode, silakan baca "Al-Musytarikah" di bagian bawah).

Hajib dan Mahjub:

A. Yang terhalang mendapat waris kalau ada saudara laki-laki kandung adalah:
1. Saudara sebapak.
2. Keponakan (anak saudara kandung).
3. Keponakan (anak saudara sebapak).
4. Paman sekandung.
5. Paman sebapak.
6. Sepupu (anak paman sekandung).
7. Sepupu (anak paman sebapak)
B. Yang menghalangi saudara laki-laki sekandung mendapat warisan adalah:
1. Bapak
2. Anak laki-laki.
3. Cucu laki-laki (dari anak laki-laki).

2. Bagian Waris Saudara Perempuan Sekandung

  1. 1/2; Jika si mati tidak meninggalkan ahli waris kecuali seorang saudara perempuan sekandung. 
  2. 2/3; Jika si mati hanya meninggalkan dua orang saudara perempuan sekandung atau lebih.
  3. 1/2 bagian saudara laki-laki kandung; Jika si mati hanya meninggalkan saudara laki-laki kandung dan saudara perempuan kandung.
  4. Mengambil sisa; Jika si mati hanya meninggalkan seorang anak atau cucu perempuan (dari anak laki-laki). Kalau saudara perempuan kandung jumlahnya lebih dari satu, maka sisa tersebut dibagi rata.
  5. 1/3; Jika si mati tidak meninggalkan kecuali 2 orang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung, maka sisa yang 1/3 buat saudara perempuan, seorang atau lebih.
  6. 1/2; Jika si mati hanya meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak, dimana saudara perempuan sekandung mendapat 1/2 dan saudara prempuan sebapak mendapat 1/6.
Hajib dan Mahjub.
A. Yang terhalang mendapat warisan kalau ada saudara perempuan sekandung:
1. Saudara laki-laki sebapak.
2. Keponakan (anak saudara laki-laki sekandung).
3. Keponakan (anak saudara laki-laki sebapak).
4. Paman Sekandung (Saudara bapak sekandung).
5. Paman  sebapak (Saudara bapak satu bapak).
6. Sepupu sekandung (anak paman sekandung).
7. Saudara perempuan sebapak (jika ada saudara perempuan sekandung 2 orang atau lebih).
B. Yang menghalangi saudara perempuan sekandung mendapat warisan adalah:
1. Bapak.
2. Anak laki-laki.
3. Cucu laki-laki (dari anak laki-laki).

3. Bagian Waris Saudara Laki-Laki Sebapak.

  1. Mengambil semua harta; Jika si mati tidak meninggalkan siapapun kecuali dia.
  2. Dibagi rata; Jika si mati tidak meninggalkan ahli waris siapapun kecuali dua orang saudara laki-laki sebapak atau lebih.
  3. 2x bagian saudara perempuan; Jika si mati hanya meninggalkan saudara sebapak-laki-laki dan perempuan.
  4. Mendapat sisa; Jika si mati tidak meninggalkan anak laki-laki, tidak cucu laki-laki, tidak bapak dan tidak saudara laki-laki sekandung, tetapi ada lain-lain ahli waris, maka sesudah dibagikan kepada ahli waris itu diberikan kepada saudara laki-laki sebapak, kalau ada sisa.
Hajib dan Mahjub.
A. Yang terhalang mendapat warisan kalau ada saudara laki-laki sebapak adalah:
1. Keponakan sekandung (anak saudara sekandung).
2. keponakan sebapak (anak saudara satu bapak).
3. Paman sekandung (saudara sekandung bapak).
4. Paman sebapak (saudara satu bapaknya bapak).
5. Sepupu kandung (anak paman sekandung).
6. Sepupu sebapak (Anak paman satu bapak).
B. Yang menghalangi Saudara laki-laki sebapak mendapatkan warisan adalah:
1. Saudara laki-laki sekandung.
2. Bapak.
3. Anak laki-laki.
4. Cucu laki-laki.
5. Saudara perempuan sekandung+anak perempuan/cucu perempuan (dari anak laki-laki).

4. Bagian Waris Saudara Perempuan Sebapak.

  1. 1/2; Jika si mati tidak meningglakan ahli waris lain kecuali seorang saudara perempuan sebapak.
  2. 2/3; Jika si mati hanya meninggalkan 2 orang saudara perempuan sebapak atau lebih.
  3. Mendapat sisa; Jika si mati ada meninggalkan ahli waris selain anak laki-laki, bapak, cucu laki-laki, saudara laki-laki kandung; dan saudara perempuan sebapak ini bersama saudara laki-laki sebapak.
  4. 1/6Jika si mati ada meninggalkan ahli waris selain Saudar sekandung/sebapak, anak laki-laki, bapak, cucu laki-laki; dan ada bersama saudara perempuan sebapak ini seorang saudara perempuan sekandung.
  5. Mendapat sisa; Jika dia bersama anak perempuan/cucu perempuan seorang atau lebih, tetapi ada anak laki-laki, cucu laki-laki, bapak dan saudara kandung.
Hajib dan Mahjub.
A. Saudara perempuan sebapak tidak menghalangi siapa-siapa dari dapat bagian waris, kecuali jika saudara perempuan sebapak ini bersama ada seorang anak perempuan, maka mereka berdua jadi 'ashabah menghalangi:
1. Keponakan kandung.
2. Keponakan sebapak.
3. Paman sekandung.
4. Paman sebapak.
5. Sepupu sekandung.
6. Sepupu sebapak.
B Yang menghalangi Saudara perempuan sebapak mendapatkan warisan adalah:
1. Anak laki-laki.
2. Cucu laki-laki.
3. Bapak.
4. Saudara laki-laki sekandung, atau.
5. 2 Saudara perempuan sekandung.

5. Bagian Waris Saudara se-ibu

  1. 1/6; Jika saudara ibu cuma seorang dan si mati tidak meningglkan anak, cucu, bapak, atau kakek.
  2. 1/3Jika saudara ibu jumlahnya 2 orang atau lebih dan si mati tidak meningglkan anak, cucu, bapak, atau kakek.
Hajib dan Mahjub.
A. Saudara seibu (baik laki-laki maupun perempuan) tidak dapat menghalangi siapapun mendapatkan warisan.
B. Saudara seibu terhalang mendapatkan warisan jika ada:
1. Anak.
2. Cucu (dari anak laki-laki).
3. Bapak.
4. Kakek.

Al-Musytarakah
(Menyekutukan saudara sekandung dengan saudara seibu).
Masalah ini dinamakan jug Himariyah, hajariyah dan Yammiyah, karena menurut riwayat, seseorang telah mati meninggalkan suami, ibu, saudara seibu dan saudara sekandung, maka tuan kadi (hakim) yang memutuskan masalah faraaidh itu berkata kepada saudara sekandung;"Kamu tidak dapat bagian, karena kamu saudara sekandung. Yang dapat ialah saudara-sudara seibu saja." Maka saudara-saudara sekandung itu berkata kepada tuan qadli:"Katakanlah bapak kami himar (keledai) atau hajarummulqan filyammi (batu yang dicampakkan ke laut). Bukankah ibu kami satu ? Mengapakah saudara seibu dapat pusaka, padahal kami juga seibu dengan mereka, tapi tidak dapat ?"
Atas kejadian semacam ini, para ulama terbagi menjadi 2 golongan pendapat:
  1. Sebagian golongan shahabat; bahwa saudara sekandung tidak dapat bagian yang tertentu, karena ia 'ashabah- terkadang dapat semua harta, terkadang dapat sisa dan terkadang tidak dapat apa-apa-, sementara saudara seibu haknya telah dijamin dalam surat An-Nisa ayat 12 bahwa mereka beroleh bagian 1/6 atau 1/3.
  2. Pendapat Umar, Utsman, Zaid dan imam-imam Tsauri dan Syafi'i memasukkan saudara sekandung dalam golongan saudara seibu. Jadi bagian yang 1/3 dibagi rata diantara saudara sekandung dan seibu; laki dan perempuan mendapat bagian yang sama. Alasannya ialah bahwa saudara seibu dapat bagian tersebut, karena ada perhubungan ibu. Kalau demikian, maka saudara sekandung pun patut atau lebih patut mendapat dari 1/3 tadi, karena ia juga seibu, malah ada tambahannya, yaitu sebagapk pula. Wallaahu a'alam.
Dalil jaminan hak saudara seibu dalam surat An-Nisa: 12.
 وَإِن كَانَ رَجُلٌ۬ يُورَثُ ڪَلَـٰلَةً أَوِ ٱمۡرَأَةٌ۬ وَلَهُ ۥۤ أَخٌ أَوۡ أُخۡتٌ۬ فَلِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُ‌ۚ فَإِن ڪَانُوٓاْ أَڪۡثَرَ مِن ذَٲلِكَ فَهُمۡ شُرَڪَآءُ فِى ٱلثُّلُثِ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصَىٰ بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ غَيۡرَ مُضَآرٍّ۬‌ۚ وَصِيَّةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ۬ 
... Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki [seibu saja] atau seorang saudara perempuan [seibu saja], maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat [kepada ahli waris]. [Allah menetapkan yang demikian itu sebagai] syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (12).



2. Contoh-Contoh Kasus penyelesaian waris

1. Warisan Orang Yang Tidak Memiliki Anak
Pertanyaan:
Assalamualaikum.wr.wb.
saya mau tanya... Apabila kedua orang tuanya meninggal tanpa memiliki anak dan mereka memiliki harta yang banyak, pertanyaan saya, siapa yang menjadi pewaris dari harta mereka ????
Tolong di jelaskan,,, Terima kasih
Jawaban:
'Alaikum salam wr. wb.
Jika kasusnya seperti pertanyaan Anda, maka sistimatika penyelesaiannya berurutan sbb.:
Untuk ahli waris selain anak (kalau ada). misalnya: bapak, ibu, saudara, kakek, nenek, keponakan (dari saudara laki-laki), paman...dari almarhum.
Jika nomor 1 tidak ada, maka hartanya untuk "Ulul Arham" atau kerabat yang bukan ahli waris. tata urutannya, sbb.:
Kakek dari garis ibu (bapaknya ibu).
Neneknya ibu (ibu punya bapak punya ibu).
Cucu dari anak perempuan; baik jenisnya cucu laki-laki ataupun perempuan.
Keponakan perempuan (anak saudara laki-laki sekandung, sebapak ataupun se-ibu).
Keponakan perempuan (anak saudara perempuan sekandung atau se-ibu).
Paman se-ibu (saudaranya bapak satu ibu lain bapak).
Saudaranya kakek se-ibu.
Sepupu perempuan (anak dari paman: sekandung, sebapak/se-ibu).
Bibi / tante (saudara perempuannya bapak, bibinya bapak, bibinya kakek, seterusnya ke atas.)
Mamak dan mami (saudara laki-laki dan perempuan dari ibu; baik sekandung, sebapak, atau se-ibu).
Mamak dan mami-nya bapak, mamak dan mami-nya kakek.
Anaknya paman se-ibu, sampai ke bawah.
Anaknya bibi walaupun jauh.
Anaknya mamak dan mami walaupun jauh.
 3. Jika nomor 2 juga tidak ada, maka Anda bisa lihat pembahasannya di artikel berikut http://www.jadipintar.com/2013/08/cara-membagi-harta-orang-yang-tidak-memiliki-ahli-waris.html
Keterangan: jika almarhum tidak meninggalkan anak juga bapak, dalam Al-Qur'an disebut: Kalalah.

2. Pembagian warisan jika orang tua angkat telah meninggal
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh. 
Orang tua angkat saya yg mengurusi saya sejak saya umur 6 bulan tidak mempunyai anak. Ibu angkat saya meninggal pada tahun 2003, dan ayah angkat saya saat ini masih hidup namun terkena serangan stroke. Ibu angkat saya yg sudah meninggal dunia tsb masih mempunyai ibu yg masih hidup sampai sekarang, punya keponakan-keponakan dari adik laki-lakinya yg sudah meninggal dan saudara-saudaranya yg seibu. Sedangkan bapak angkat saya masih mempunyai 1 kakak kandung laki-laki yg masih hidup juga 2 adik perempuan yg masih hidup. Pertanyaan saya bagaimanakah pembagian warisannya nanti seandainya bapak saya tidak panjang umur lagi atau meninggal dunia? Mohon penjelasannya dari pengasuh forum konsultasi ini. Jazakulloh khoiron katsiron, wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatu. 
Dahrinto
Di Jakarta Utara
Jawaban:
'Alaikum salam wr.wb.
Sdr. Dahrinto Seno yang dirahmati Allah, pertama-tama bagilah dulu harta pusaka ibu angkat anda karena alm. juga punya ahli waris yang punya hak bagian, sbb.:
1. KETIKA IBU ANGKAT MENINGGAL, ahli waris dan bagiannya:
[1]. Suami:........................................... 3/6 (50 %)
[2]. Ibu............................................... 1/6 (16,66 %)
[3]. 2 Saudara (laki&perempuan) se-ibu: 2/6 (33,33 %) dibagi rata, laki dan prmpuan sama.
[4]. Keponakan laki-laki.......................: 0 (sudah tidak ada sisa)

2. JIKA BAPAK ANGKAT MENINGGAL ahli warisnya:
[1]. Saudara laki-laki........: 1/2
[2]. Saudara perempuan..: 1/4
[3]. Saudara perempuan,: 1/4
Dalilnya Q.S.an-Nisa: 176 (bab kalalah)
Semoga bermanfaat, wa iyyaakum.

3. Pembagian Waris Abang Yang Meninggal.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saya anak terakhir dari lima bersaudara. Saya seorang perempuan dan memiliki 1 abang kandung, 1 abang tiri dan 2 kakak perempuan tiri. Masalah warisnya adalah abang kandung saya meninggal dan tidak mempunyai anak, akan tetapi meninggalkan seorang istri dan 2 anak dari pernikahan dengan laki-laki sebelumnya. Kakak-kakak perempuan dan abang tiri saya juga telah meninggal terlebih dahulu dari pada abang kandung saya dan meninggalkan anak-anak bahkan cucu mereka. Saya sendiri memiliki anak semata wayang yang juga seorang perempuan serta 5 cucu yang terdiri 3 laki-laki dan 2 perempuan. Nah, inti masalah warisnya anak-anak dan cucu-cucu dari saudara dan saudari tiri saya menyatakan bahwa sebidang tanah dan sebuah bangunan rumah diatasnya sepeninggalan abang kandung saya adalah milik mereka. Bahkan tanpa ada pembicaraan mereka telah menguasainya, padahal dirumah tersebut masih ada istri almarhum abang kandung saya dan seorang anak perempuannya.
Pertanyaan saya :
1. Siapa sajakah yang dapat warisan dari harta peninggalan abang kandung saya tersebut dan berapa besar bagiannya ?
2. Pada saat saya menulis ini, istri dari abang kandung saya juga telah meninggal. Dengan demikian siapa saja dan berapa besar bagiannya bagi para ahli waris atas harta tersebut ?
3. Mohon penjelasan dan saran dari pak ustad atas masalah waris keluarga saya ini, terlebih mengenai hal 'Ashabah. Karena saudara dan saudari tiri saya merasa mutlak mewarisi itu semua karena adanya 'Ashabah. Kalau bisa diterangkan juga dalil al quran dan hadist-hadist sohihnya.
Catatan tambahan :
Urutan-urutan orang tua dan saudara/i saya yang meninggal.
1. Istri pertama bapak (Ibu tiri)
2. Bapak
3. Ibu Kandung
4. Anak perempuan pertama (Saudari tiri nomor 1)
5. Anak perempuan kedua (Saudari tiri nomor 2)
6. Anak laki-laki ketiga (Saudara tiri nomor 3)
7. Anak laki-laki keempat (Saudara kandung)
8. Istri saudara kandung
Itu saja dari saya, terima kasih atas kesempatan dan jawabannya.
Wasalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jawaban:
'Alaikum salam wr. wb.
Bahwa yang disebut ahli waris menurut kaidah islam adalah orang yang MASIH HIDUP ketika pewaris meninggal dunia, maka ahli waris abang anda (abang anda disebut KALALAH: orang yang meninggal tidak memiliki anak dan ayah), adalah: isteri, saudara perempuan (anda sendiri) dan 'ashabah (sisa) dengan perincian sbb.:
- Isteri : 1/4 (Q.S.an-Nisa: 12).
- Saudara perempuan (anda): 1/2 (Q.S.an-Nisa: 176)
- Adapun sisanya, harus meneliti daftar yang masih hidup dan menimbang kedekatan hubungannya dengan si mayit, urut-urutannya (secara prioritas):
1.Keponakan laki-laki (dari saudara laki-laki alm.)/anak laki-laki saudara ke-3.
2. Paman alm. (saudara laki-lakinya bapak alm.)
3.Sepupu laki-laki (anak dari paman/anak dari saudara laki-lakinya bapak).
Bagian waris isteri abang yang menyusul meninggal, diberikan kepada ahli warisnya (2 anak+ orang tuanya (kalau masih ada) atau saudaranya sebagai ashabah).
Butuh solusi pembagian waris keluarga online dan cepat ? klik Konsultasi
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                                ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                      
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Al-Faraidh hal. 55-67, A.Hassan, Penerbit: Pustaka Progresif
Fikih Sunnah 14 hal. 272-274, Sayyid Saabiq, penerbit: PT. Al-Ma'arif-Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar