Rabu, 29 Juli 2015

Pengertian Jin, Bentuk Aslinya, Serta Cara dan Sebab Menampakkan Wujudnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Artikel ini berisi tentang asal kata jin, asal-usulnya, wujud asli, syarat dan cara jin menampakkan diri di depan manusia. Jin adalah nama jenis, bentuk tunggalnya adalah jinny, yang artinya  "yang tersembunyi", atau "yang tertutup", atau "yang tak terlihat." Hal itulah yang memungkinkan kita untuk mengaitkannya dengan sifat yang umum "alam tersembunyi", sekalipun akidah Islam memaksudkannya dengan makhluk-makhluk berakal, berkehendak, sadar dan punya kewajiban, berjasad halus, dan hidup bersama-sama kita di planet bumi ini.

1. Asal Kata Jin

Dari segi bahasa, Al-jinn adalah lawan kata Al-Ins (manusia). Disebut-sebut bahwa jika dikatakan, aanastu asy-syai'a berarti "saya melihat sesuatu". Allah swt. berfirman: "Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah [di sini], sesungguhnya aku melihat api, (aanastu naaran)...." [1].
Kosa kata dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf jin dan Nun, dengan berbagai bentuknya, memiliki pengertian "benda" atau "makhluk" yang tersembunyi.
1. Al-Janin (janin) disebut demikian karena ketersembunyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah swt. yang berbunyi, .... dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu;.. [2].
2. Junnat Al-Lail, artinya ketersembunyian oleh kegelapan malam dan tertutup tabir hitamnya, seperti firman Allah yang berbunyi,"Ketika malam telah menjadi gelap (janna) , dia melihat sebuah bintang ..." [3].
Kata Al-Jinny yang diucapakan orang-orang Arab dahulu dan juga dipergunakan oleh Al-Qur'an, adalah makhluk berakal yang tersembunyi (tidak terlihat mata), yang hidup bersam-sama kita. Bahasa-bahasa Eropa mengadopsinya dari bahasa Arab, lalu melafalkannya dengan genie (inggris). Sekalipun kamus-kamus mereka memaksudkannya dengan "roh setan", namun dalam film-film modern istilah ini mereka maksudkan dengan makhluk berakal, khususnya yang berbuat baik atau membantu manusia dalam melakukan kebaikan.
Semoga bermanfaat


2. Penampakkan Jin dan Wujudnya                    

Pada umumnya jin tidak menampakkan diri kepada manusia karena kemauannya sendiri, kecuali ketika setan hendak menakut-nakuti manusia, hendak mencelakakannya, atau karena situasi dan kondisi yang memancing setan untuk menampakkan diri atau memperdengarkan suaranya.
Kemampuan jin untuk menampakkan diri selalu disertai syarat tersedianya kondisi-kondisi yang mendukung dan memudahkan ulahnya itu.
Jika ada orang mengaku pernah melihat makhluk halus dalam rupa seperti: seorang kakek tua, anak kecil, pocong, kuntilanak, genderuwo, atau bahkan menyerupai manusia, sebenarnya itu hanyalah wujud penampakannya saja, 
sementara wujud asli jin tidaklah bisa dilihat oleh manusia. Sebagaimana halnya dengan jasad kita yang tidak lagi berbentuk tanah yang bila dicampur dengan air menjadi luluh, maka seperti itu pula halnya dengan jin. Ia tidak saja sudah tidak berada dalam bentuk asalnya sebagai api, tetapi juga sudah dibentuk oleh Allah SWT. Menjadi wujud benda, lalu dikembangkan menjadi bentuk dan organ-oragan tubuh. Kemudian ditiupkan roh agar dia menjadi makhluk cerdas, berakal, dan memiliki kebebasan memilih, persis seperti ketika Allah  mengembangkan Adam dari tanah, kemudian menjadi tanah  liat yang lebih dikenal dengan  ath-thin,  selanjutnya dari tanah liat menjadi hama’ masnuun (tanah liat hitam yang sudah berubah baunya karena lama terendam dalam air). Kemudian tanah liat hitam dan basah itu berubah menjadi tanah liat kering (shalshal) dan keras yang , kalau diketuk, dapat mengeluarkan bunyi. Sesudah itu ditiupkan roh sehingga jadilah Adam.
Sementara makhluk jin, dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Berubahlah nyala api menjadi benda yang terkumpul di dalamnya sifat basah dan kering, lalu ditiupkan roh, sehingga berubahlah ia menjadi benda ether yang berbentuk dan bersosok, ringan dan lembut.

3. Ciri Anatomis Anggota Tubuh Jin

Penjabaran berikut didapat dari keterangan jin Muslim yang diwawancarai Muhammad Isa Daud, saya rangkumkan dalam bentuk kesimpulan agar lebih simple dan praktis.
Bentuk;Bentuk kami tidak berbeda dengan bentuk manusia, kecuali perbedaan kecil di sana-sini.
Kepala kami sedikit lebih besar dalam bandingannya dengan tubuh kami, bila dibandingkan dengan perbandingan kepala dan tubuh kalian. 
Mata kami memanjang dan tidak bulan seperti mata manusia, diantara kami ada yang mempunyai mata memanjang ke arah atas, dan ada pula yang sedikit miring ke arah dahi, mata kami tidak sipit seperti mata manusia, tetapi lazimnya besar dan lebar seperti mata rusa, namun dengan bentuk yang memanjang. Mata kami bermacam-macam, ada mata yang berwarna hitam, kuning, cokelat tua, persis seperti mata manusia, sekalipun hitamnya berbeda dengan hitamnya mata manusia. Mata kami hitam cenderung keputih-putihan. Anggapan bahwa mata kami selalu berwarna merah, bisa jadi karena adanya sinar-sianr halus yang memancar dari mata kami, yaitu sinar yang selamanya cenderung berwarna merah.
Telinga kami; dua-duanya mirip telinga kuda, bentuknya runcing. Adapula diantara kami yang telinganya mirip telinga kucing, itulah mengapa kami paling menyukai mernyerupai kucing, kuda atau harimau.
Soal hidung, milik kami terletak di tengah-tengah wajah kami, sama seperti punya manusia, hanya saja tidak mancung seperti punya manusia, hidung kami lazimnya pesek atau bulat.
Jin Muslim juga memanjangkan jenggotnya, karena mengakui petunjuk Nabi Muhammad saw. Yang tidak berjenggot dari golongan kami disebut “wajah gentong.”
Adapun tentang rambut, milik kami sangat tebal, rambut wanita lebih tebal lagi. Tapi rambut kami kasar, dan kebanyakan botak. Rambut kaum wanita kami sangat panjang, dan itu merupakan lambang kecantikan, sampai-sampai ada yang rambutnya terseret di tanah saking panjangnya.
Tentang tangan kami; Lengan kami dibanding tubuh, terbilang sangat panjang (proporsinya-red). Jari-jari kami juga panjang, sedang kaki kami berbeda dengan kaki manusia dalam hal letak tumit dan keruncingan jari-jarinya.
Tulang kami terbilang besar. Kami memiliki kelenturan yang mungkin bisa manusia bayangkan. Organ-organ kami selebihnya terbilang kecil-kecil, semuanya berfungsi seperti tubuh manusia.  Alat-alat pencernaan dan pembuangan sisa-sisa pencernaan kami  sama seperti manusia, tapi kotoran kami tidak berbentuk kasar, melainkan lebih mirip uap yang sangat pekat. Air kencing kami berbentukk gas yang sangat kuat tekanannya, tetapi sangat ringan dan mirip aliran air mancur, itu sebabnya, maka ada setan yang bisa mengencingi telinga seorang Muslim yang ketika tidur tidak menyebut asma Allah.
Alat Kelamin. Milik kami persis seperti kepunyaan manusia, hanya saja terbilang lebih kecil dibanding punya manusia.

4. Situasi dan Kondisi yang Mendukung Jin Menampakkan Diri :

  • Orang yang jauh dari dzikir kepada Allah.
  • Lalai meminta perlindungan-Nya.
  • Tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban.
  • Tidak bersuci.
  • Berjalan di tempat sepi dan di kuburan pada malam hari tanpa kawan. Diriwayatkan dari IbnuUmar r.a.: Bahwasanya Rasulullah saw. Berkata: “Sekiranya manusia mengetahui satu saja dari apa yang aku ketahui, niscaya mereka tidak akan berani berjalan sendirian di malam hari. [4].
  • Tidak dalam keadaan suci. Dari Ali bin AbiThalib; bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Malaikat tidak mau masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar, terdapat anjing, dan orang yang junub. [5]. Dari al-Bazaar dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas, katanya: “Ada tiga hal yang tidak akan didatangi Malaikat,: orang yang junub, mabuk, memakai minyak za’faran.” Sebab minyak za’faran adalah wewangian yang biasa digunakan untuk wanita.
  • Lupa berdzikir kepada AllahAkhmad dan Tirmidzimeriwayatkan dari al-Harits al-Asy’ari r.a bahwa Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya Allah SWT.memerintahkan kepada Yahya bin Zakaria lima hal yang harus beliau laksanakan, dan agar beliau memerintahkan kepada Bani Israil untuk melaksanakannya pula....” Salah satu diantara kelima hal tersebut adalah: “... Dan Dia memerintahkanmu untuk berdzikir kepada Allah. Sebab orang yang berdzikir kepada Allah laksana orang yang berangkat perang dengan membawa perisai. Maka dia menggunakan perisai itu untuk pelindung dirinya dari serangan musuh. Demikian pula halnya bahwa, seorang hamba tidak akan bisa melindungi diri dari gangguan setan kecuali dengan berdzikir kepada Allah.
  • Tidur dalam keadaan junub tanpa berwudhu lebih dulu. Dalam shahihal-Bukhari juga diriwayatkan sebuah hadits dariAisyah, katanya, “Apabila Nabi bermaksud tidur, padahal beliau dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kemaluan beliau, lalu berwudhu’ seperti untuk shalat.
Pada dasarnya kondisi manusia itu sendirilah yang mendorong jin untuk bisa memperlihatkan diri, khususya kalau orang itu lemah iman, penakut dan memperturutkan hawa nafsunya. Allaahu a’lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Buku Dialog dengan Jin Muslim, hal. 19-21, hal. 25-33 dan hal. 51-55 , Muhammad Isa Daud, Penerbit: Pustaka Hidayah.
Keterangan:  
Tulisan dengan warna huruf pink adalah pengakuan dari jin Muslim; untuk membedakannya dengan keterangan dari Al-qur'an, Sunnah atau penjelasan ulama dan yang lain-lain. Harapannya agar pegakuan itu diteliti dan ditimbang-timbang tingkat kebenarannya.
***
[1].  فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى ٱلۡأَجَلَ وَسَارَ بِأَهۡلِهِۦۤ ءَانَسَ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ نَارً۬ا قَالَ لِأَهۡلِهِ ٱمۡكُثُوٓاْ إِنِّىٓ ءَانَسۡتُ نَارً۬  (Q.S. Al-Qashash: 29).
[2].  وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٌ۬ فِى بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ‌ۖ  (Q.S.An-Najm: 32)
[3]. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبً۬    (Q.S. Al-An'am: 76) 
[4]. H.R. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya.
[5]. H.R. Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Hiban dalam kitab Shahihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar