Sabtu, 04 Juli 2015

Biografi Imam Bukhari dan Muslim, Penyusun Kitab Hadits Paling Shahih

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian Kitab Shahih Bukhari-Muslim
Orang pertama yang memiliki perhatian untuk mengumpulkan hadits-hadits shahih secara khusus adalah Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari (Imam Al Bukhari) dan diikuti oleh sahabat sekaligus muridnya, Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi (Imam Muslim). Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadits yang paling shahih, namun Shahih Bukhari lebih utama. Pasalnya, Imam Bukhari hanya memasukan hadits-hadits dalam kitab Shahih-nya yang memiliki syarat sebagai berikut:
1. Perawi hadits sezaman dengan guru yang menyampaikan hadits kepadanya.
2. Informasi bahwa si perawi benar-benar mendengar hadits dari gurunya harus valid.
Sedangkan Imam Muslim tidak mensyaratkan syarat yang kedua, yang penting perawi dan gurunya sezaman, itu sudah dianggap cukup.
Namun demikian, bukan berarti Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengumpulkan semua hadits shahih yang ada pada kedua kitab tersebut. Buktinya, beliau berdua kadang meriwayatkan hadits shahih di kitab yang lain. Misalnya Imam At Tirmidzi dan sebagian yang lain, dalam Kitab Sunan atau kitab lain, kadang meriwayatkan hadits dari shahih Al Bukhari yang tidak terdapat dalam kitab Shahih-nya.
Berikut akan dijelaskan biografi kedua imam hadits tersebut, insyaallah.


1. Imam Bukhari

1.1. Latar belakang Kehidupan Beliau
Beliau lahir tahun 809 m/194 H di Bukhara, sedangkan nama aslinya ialah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizhah al-Ju'fi al-Bukhari. Bapaknya meninggal dunia semasa ia masih kanak-kanak, dan ibunya membesarkan beliau bersendirian. Ibunya memelihara dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang serta berkorban apa saja untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada beliau.
Semasa kecil lagi, nilai intelek Imam Bukhari telah terlihat. Beliau amat wara' dan mempunyai daya ingatan yang luar biasa serta mempunyai kesungguhan dalam pelajarannya. Ia mulai menghafal hadits-hadits Nabi sejak umur 10 tahun, dan pada umur 16 tahun sudah banyak hadits-hadits yang ia hafalkan. Diriwayatkan bahwa ketika di dalam belasan tahun, beliau sudah menghafal 70,000 hadis Rasulullah s.a.w.
Ketika berumur 16 tahun, Imam Bukhari pergi ke Makkah bersama ibunya untuk menunaikan Haji. Imam Bukhari terlalu senang berada di Makkah sehingga dia memperpanjang masa kunjungan di Makkah untuk memungkinkan ia berguru dengan cendekiawan di Makkah. Pada umur 18 tahun, Imam Bukhari menerbitkan bukunya yang pertama tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw, dan setelah itu buku sejarah berjudul "Al-Tanggal-al-Kabir". 

1.2. Perjalanan Pencarian Ilmu 
Imam Bukhari sangat meminati sejarah dan hadis-hadis Rasulullah saw. dan mencurahkan banyak energi bertemu dan belajar dengan cendekiawan terkemuka untuk mempelajari dan membahas hadits Rasulullah. Imam Bukhari mengunjungi Damaskus, Kairo, Baghdad, Basra, Madinah dan lain-lain tempat untuk belajar dan membahas hadis-hadis yang dipelajari. Selama di Baghdad, Imam Bukhari selalu berbicara dengan Imam Ahmed Hanbal, pendiri paham (madzhab) HambaliDalam menyelidiki hadits Nabi itu ia berkelana menuju Baghdad, Basrah, Kufah, mekkah, Madinah, syam, Homs, Askalan, Baghdad, Naisabur dan Mesir. Bukhari telah menemui guru-guru yang membantunya dalam berbagai ilmu, sehingga kemudian ia bergelar Amirul Mu'lminin dalam Hadits
Selama perjalanannya, Imam Bukhari hanya memiliki satu tujuan - mengumpulkan sebanyak ilmu yang mungkin bisa dikumpulkan untuk memungkinkan dia membuat pengumpulan yang terbesar sunnah hadis Rasulullah saw. Beliau begitu giat menulis, dan pada satu ketika berkata "Saya sudah menulis tentang 1800 orang, masing-masing meriwayatkan hadis Rasulullah saw, dan saya hanya menulis tentang mereka yang lulus tes yang ditetapkan. "
Imam Bukhari memiliki ingatan yang mengagumkan, dan kontribusinya terhadap sains pengumpulan hadits tak tertandingi. Dia mencatat hadis Rasulullah s.a.w. dalam buku "Al-Jami-al-Shahih". Dia membuat penelitian selama 16 tahun dan meneliti 600.000 buah hadis sebelum memilih 7,525 buah hadis yang beliau puas menepati definisi legalitas yang ia tetapkan. 

1.3. Masa Tua Beliau
Kepopuleran Imam Bukhari menimbulkan perasaan iri di kalangan beberapa orang ulama, Ketika pulang ke negerinya ia difitnah orang tentang keagamaan yang akhirnya mengakibatkan dia diusir dari bumi Bukhara oleh gubernurnya. Beliau wafat dalam pengasingan pada malam idul Fitri dalam tahun 256 Hijrah di Khartank dekat Samarkand, usia beliau saat itu 62 tahun dan tidak meninggalkan seorang anak pun.  Makam Imam Al-Bukhari terletak 12 kilometer di utara Samarkand. 

1.4. Karya-Karya Beliau
1.Shahihul Bukhari / Aljamiush-Shahih
2. 20 buku yang antara lain ialah "Attarikhul Kabir" (Sejarah Besar), yang pada akhir hayatnya buku itu diperluas dua kalinya.
Karya tulisnya yang bernama 'Aljamiush-Shahih" telah menyita waktunya selama 16 tahun, dan setiap kali akan menulis hadits-hadits itu ia bershalat dua rakaat dan beristikharah kepada Allah. Buku tersebut merupakan buku hadits yang paling shahih diantara buku-buku hadits (sunnah), paling shahih sesudah al-Qur'an, dan para imam ahli hadits mengakuinya untuk diterima umat Islam. 
Imam Bukhari terkenal sebagai seorang shaleh, banyak beribadah, dan ahli pengetahuan, sehingga Imam Muslim menyatakan padanya: "Seseorang tidak akan membenci tuan, kecuali yang membenci itu adalah orang dengki, dan saya yakin bahwa di dunia tidak ada yang seperti tuan." yang maksudnya dalam hal kehliannya dalam ilmu hadits. 
Hadits Shahih Bukhari telah diterima oleh ulama salaf dan Khalaf, yang sebelumnya tidak pernah muncul sebuah buku hadits yang bisa melepaskan diri dari hadits-hadits yang tidak shahih. Dan menurut Dzahabi:"Shahihul Bukhari adalah sebuah buku Islam yang paling agung sesudah al-Qur'an." Kata Syaikhul Islam Ibn Hajar: "Para ulama sepakat menyatakan bahwa Shahih Bukhari lebih istimewa dari Shahih Muslim." Kata Daruquthni: "Tanpa shahih Bukhari maka Shahih Muslim tidak akan muncul."
Sedangkan Imam Muslim menyebutnya sebagai Doktor ahli hadits dan kepala para ahli-ahli hadits. Ia berhasil membedakan antara hadits yang shahih dengan yang tidak shahih walaupun dibalik sanadnya dan matannya karena keahliannya. 


2. Imam Muslim

Imam Muslim bin Hajjaj menurut Ibnu Shalah lahir tahun 202 H. Dia berasal dari suku Qusyairi (Bani qusyair) yang merupakan golongan suku Arab di Nishapur (Iran), pada wilayah kota Khurasan. Abul Hussein Muslim yang terkenal sebagi ahli hadits ini wafanya pada hari Ahad di Nishapur pada 261 H, dengan berusia selama 55 tahun, dan dimakamkan di Nashar Abad (Nishapur).
Beliau adalah penulis Kitab Hadits Shahih (Al-Jami'ush-Shahih), juga tergolong seorang hafidz (penghafal hadits) terkenal, dan sebagai muhaddits (ahli hadits) yang menonjol. Hal ini terbukti setelah mengadakan penelitian-penelitian hadits Nabi, baik di Hijaz, Irak, Syam dan Mesir. Muslim telah mendengarkan hadits-hadits tersebut dari Imam Bukhari, Yahya bin Yahya an-Naisaburi, Ahmad bin Hanbal, Qutaibah bin Said, Ishak bin Rahawaih, Abdullah bin Maslamah al-Qa'nabi dan mereka yang lain. didatanginya ahli-ahli hadits di Baghdad dengan berulang kali, sedangkan akhir kunjungannya yaitu pada tahun 259 Hijriyyah.
Bukunya al-Jamiush-Shahih atau al-Musnadus-Shahih itu setelah mendengarkannya ribuan hadits dari beberapa orang, hingga sejumlah 300.000 hadits.

2.1. Penilaian Para Ulama Tentang Hadits Muslim
  • Lebih shahih. Kata Hafiz Abu Ali an-Naisaburi, bahwa tidak ada di bawah kolong langit ini kitab hadits yang lebih shahih dari hadits shahih Muslim. Pandangan ini ternyata berbeda dengan pendapat ulama hadits yang menganggap dan menempatkan hadits shahih Bukhari yang lebih shahih setelah al-Qur'an. Ini dapat kita baca dalam kitab Kayfuz-Zhunun yang menyatakan bahwa Jamiush-Shahih Muslim  adalah kitab kedua sesudah hadits Bukhari. Dengan demikian sebagian ulama telah berbeda pendapat tentang kelebihan-kelebihan Imam Bukhari dan Imam Muslim. 
  • Tata letak dan susunan yang mudah. Selain Abu Ali yang sama-sama dari Nishapur dengan Muslim itu, ternyata Imam Nawawi dari Damaskus (wafar 667 H.) juga menyatakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada kitab yang lebih shahih dari Hadits shahih Muslim. Dan sebenarnya pandangan Nawawi ini telah diakui dalam hal yang sama oleh ulama hadits dari Maghrib (Maroko). Dan ternyata Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits Shahih Muslim mempunyai susunan yang mudah, dan setiap hadits telah ditempatkan pada tempat yang layak dan tepat, sanad-sanadnya lengkap atau tersambung, yang hal itu tidak dimiliki pada hadits Bukhari.
  • Kitab Resensi hadits. Ternyata kemudian hadits shahih Muslim telah diberi komentar oleh beberapa ulama hadits diantarnya yaitu yang ditulis Imam Nawawi Asy-Syafii, dengan judul "Al-Minhaj fi syarhi Muslim bin Hujaj," Qadhi Iyadh bin Musla Maliki dengan judul "Al-Ikmal fi Syarhi Muslim," juga karya Abdul Ghafir bin Ismail al-Farisi dengan judul "Al-Mafhum fi Syarhi Gharib Muslim," dan lain-lain.
    2.2. Metode Penomoran Hadits
    Shahih Muslim terbagi menjadi beberapa kitab dimana tiap kitab terdiri dari beberapa bab. Judul bab tersebut menunjukkan fiqih Imam Muslim terhadap hadits-hadits yang termuat di dalamnya. Shahih Bukhari bersama dengan kitab Shahih Muslim disebut sebagai ash-Shahihain (Dua Kitab Shahih rujukan utama). Dalam menyusun kitab Shahihnya, Imam Muslim tidak memberikan nomor. Di kemudian hari ditambahkan nomor pada Shahih Muslim untuk memudahkan perujukan hadits, sebagaimana dikemukakan berikut:
    1. Penomoran al-Alamiyah (5362). Perujukan hadits pada penomoran al-Alamiyah berdasarkan sanad hadits. Setiap sanad dihitung satu hadits.
    2. Penomoran Abdul Baqi (3033). Perujukan hadits berdasarkan penomoran yang diberikan oleh Abdul Baqi ketika mentahqiq (memeriksa, mengoreksi, menyunting, menomori hadits) Shahih Muslim. Penomoran beliau berdasarkan hadits yang serupa. Ia menghitung setiap hadits yang serupa sebagai satu hadits. Penomoran beliau banyak digunakan dalam penulisan kitab, buku, dan artikel keislaman.
    Penulisan: HR Muslim (nomor hadits), maksudnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya pada nomor yang disebutkan.
    Perbedaan penomoran menjadikan perbedaan perhitungan jumlah hadits dalam Shahih Muslim. Menurut penomoran al-Alamiyah, terdapat 5362 hadits dalam Shahih Muslim. Sedangkan menurut Abdul Baqi, ada 3033 hadits. Perbedaan ini timbul karena penomoran al-Alamiyah menghitung setiap sanad hadits sebagai satu hadits; sedangkan penomoran Abdul Baqi menghitung setiap hadits yang serupa sebagai satu hadits, walaupun hadits tersebut mempunyai beberapa sanad. Oleh sebab itu, jumlah hadits menurut penomoran al-Alamiyah menjadi lebih banyak daripada menurut Abdul Baqi.

    2.3. Karya-Karya Imam Muslim
    1. Al-Jami'ush-Shahih (Hadits Shahih Muslim).
    2. Al-Musnadul Kabir.
    3. Al-Jami'ul Kabir.
    4. Al-Illal.
    5. Ahwalul Muhadditsin.
    6. At-Tamyiz.
    7. Thabaqatut Tabi'in, dll.
    Walaupun demikian yang lebih menonjol dalam  dunia Islam adalah Himpunan Hadits Shahihnya yang terdiri dari 4000 hadits setelah dibuang yang berulang-ulang,dan jika hadits itu digabung antara yang berulang dan yang tidak, maka jumlahnya sebanyak 7.275 hadits shahih. Hadits tersebut dipiihnya dari 300.000 hadits yang telah didengarnya dari banyak orang.
    Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                      
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sumber: 
    Himpunan Hadits Shahih Bukhari, Hussein Bahreisj, Penerbit: Al-Ikhlas-Surabaya.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Shahih_Muslim

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar