Jumat, 24 Juli 2015

Biografi Bilal; Muadzdzin Rasul yang Pertama Mengumandangkan Adzan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Disiksa Karena Masuk Islam

Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat. Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah saw. dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.
Menyebut nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah swt.

2. Adzan pertama Di Madinah

Saat Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum Muslim lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah saw. mensyariatkan adzan. Rasulullah saw. kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan adzan karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan adzan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan ia menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. 
Setelah sekian lama tinggal di Madinah, Bilal senantiasa menjadi pengumandang adzan. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah saw. seraya berseru, "Hayya 'alashshalaati hayya 'alashshalaati (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan)." Lalu, ketika Rasulullah saw. keluar dari rumah dan Bilal melihatnya, ia segera melantunkan iqamat sebagai tanda shalat berjamaah akan segera dimulai.

3. Adzan Pertama di Makkah

Ketika menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah saw. berjalan di depan pasukan Muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka'bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. Tak lama kemudian, waktu shalat Dzuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah saw. termasuk orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah saw. memanggil Bilal agar naik ke atap Ka'bah untuk mengumandangkan adzan. Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Adzan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan adzan pertama di Makkah. Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat adzan yang dikumandangkannya. Saat sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)." Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, "Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi." Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Sejak saat itu, Bilal pun terkenal sebagai muadzin Rasul. Bahkan, ia menjadi muadzin tetap saat Rasul masih hidup. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal. Yang lain pun tak keberatan Bilal melakukannya.

4. Mengajukan Pensiun Sebagai Muadzin

Namun, saat Rasul saw. wafat dan ketika shalat akan dikumandangkan, Bilal pun segera berdiri untuk melaksanakan kewajibannya. Saat itu, jasad Rasulullah saw. masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.
Maka, ketika Bilal sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)," tiba-tiba suaranya terhenti. Bilal menangis. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh manusia yang paling dicintainya. Tak hanya kaum Muslim, Allah pun mencintai Rasulullah saw. Seperti dikomando, tangisan Bilal itu diiringi oleh kaum Muslim yang hadir. Mereka semua menangis karena ditinggal pergi sang kekasih.
Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra'fat Basya, dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah saw., Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi," ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslim yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Kemudian, Bilal mendatangi Abu Bakar as-Sidiq, yang menggantikan posisi Rasulullah saw. sebagai pemimpin umat Islam, agar dia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan adzan lagi. Ia seakan tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal tak pernah lagi menjadi muadzin bagi seseorang. Pernah Bilal melakukannya ketika KhalifahUmar mengunjunginya di Damaskus. Namun, itu pun hanya sampai kalimat, "Asyhadu anna Muhammadar Rasuluullaahi." Ia lagi-lagi menangis mengingat Rasulullah saw.. Bahkan, Umar pun turut menangis. Adzan yang dikumandangkan Bilal mengingatkan Umar ketika bersama-sama dengan Rasulullah saw, orang yang paling dicintainya.
Kini, sang muadzin Rasulullah saw. ini sudah berpulang sejak 14 abad silam, tepatnya tahun ke-20 H. Namun, namanya masih harum hingga kini. Bahkan, di sejumlah masjid di Indonesia, mungkin juga di negara lainnya, nama muadzin selalu tercantum dengan tulisan bilal. Ini menunjukkan sebagai penghormatan kepada sang muadzin Rasulullah, pengumandang adzan pertama di dunia. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya

5. Langkah Sandalnya di Surga Sudah Terdengar Nabi

Nama Bilal memang kerap dikaitkan dengan adzan. Sebab, dia adalah orang pertama yang menjadi muadzin pada zaman Rasul saw.. Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena adzannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah saw. di dalam surga. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi bagi setiap orang yang beriman. Suatu hari, pada waktu Shubuh, Rasulullah saw. berbincang-bincang dengan Bilal bin Rabah. Rasul berkata, "Wahai, Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya, yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara telapak langkah (jalan)-mu di hadapanku di surga.Bilal menjawab, "Wahai, Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya."
Jadi, setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat, yakni shalat sunat wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara (dawam) wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu.
Semasa hidupnya, Bilal tercatat meriwayatkan 44 hadits dari Rasulullah saw, Di antaranya, Rasulullah bersabda, "Hendaklah kalian menunaikan shalat malam (tahajud) karena shalat malam adalah tradisi (kebiasaan) orang-orang shaleh sebelum kalian. Sesungguhnya, shalat malam adalah amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dapat mencegah dari perbuatan dosa, mengampuni dosa-dosa kecil, dan menghilangkan penyakit dari badan.[1].
Selain sebagai mudazin, Bilal juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di baitul mal. Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Tentang Bilal, Rasulullah saw. mengatakan, "Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah." [2]. 
Bilal meninggal dunia di Damaskus pada 20 H. Jasadnya dimakamkan di sana. Namun, ada riwayat yang menyebutkan bahwa jasad Bilal dimakamkan di wilayah Halb.
Semoga bermanfaat.
                         ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                        
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
www.republika.co.id
***
[1]. (HR Tirmidzi).
[2]. (HR Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar