Sabtu, 27 Juni 2015

Sunnah-Sunah dalam Shalat Fajar dan Witir Beserta Bacaannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Sunnah-Sunnah Shalat

Salah satu dari amalan (baca:perbuatan) dan bacaan dalam shalat adalah sunnah-sunnah shalat, yaitu selain apa-apa yang telah disebutkan dalam rukun maupun wajib shalat. Sunnah shalat ada dua jenis, ucapan maupun perbuatan.
Pertama, sunnah berupa perkataan, bentuknya banyak sekali. Diantaranya: membaca do’a iftiftah, ta’awudz, membaca basmalah, membaca surat setelah al Fatihah, membaca bacaan rukuk, sujud, do’a antara dua sujud lebih dari sekali, do’a setelah tasyahud akhir dan lainnya.
Kedua, sunnah berupa perbuatan, bentuknya juga banyak. Diantaranya: mengangkat tangan saat takbiratul ihram serta ketika akan dan setelah ruku', meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan meletakkannya di atas dada saat berdiri, melihat tempat sujud, meletakkan tangan diatas lutut saat ruku', menjauhkan antara perut dan paha, paha dan betis saat sujud, dan lainnya.
Sunah-sunah ini tidak harus dikerjakan, tetapi barang siapa melakukannya maka ada tambahan pahala atasnya, adapun jika ditinggalkannya maka tidak ada dosa baginya.

2. Sunnah-Sunnah dalam Shalat Witir.

Shalat Witir adalah shalat sunnah yang bilangan rakaatnya ganjil. Mengenai bilangan rakaatnya, paling sedikit adalah satu rakaat dan paling banyak adalah sebelas rakaat. Jumlah sebelas rakaat itu telah cukup dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dinyatakan oleh A’isyah ra “Tidaklah pernah Nabi SAW shalat malam (witir) melebihi sebelas rakaat”.
Shalat sunnah Witir termasuk sunnah muakkadah. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
Sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/214 no. 6410)], Shahiih Muslim (IV/2062 no. 2677)].
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya shalat witir itu tidak wajib. Dan tidak sebagaimana shalat kalian yang wajib. Namun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Witir kemudian berkata:
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا، فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
Wahai ahlul Qur-an, shalat witirlah. Karena sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 959)], Sunan Ibni Majah (I/370 no. 1169), Sunan at-Tirmidzi (I/282 no. 452), Sunan an-Nasa-i (III/229, 228), dalam dua hadits. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/291 no. 1403) secara marfu'].


Sunnah-sunnahnya adalah sebagai berikut:
1. membaca surat Al-a'la pada raka'at pertama, al-Kafirun di raka'at kedua dan al-Ikhlas di raka'at ketiga.
Yaitu bagi orang yang mengerjakan shalat witir sebanyak 3 raka'at. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. [1].
2. Membaca tasbih setelah selesai shalat.
Yaitu mengucapkan: 
سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدًُّوس
"Mahasuci Allah, Raja Yang Mahasuci." dibaca 3 kali.
Dan pada ucapan ketiga terdapat lafadz tambahan menurut ad-Daruquthni: "Rasulullah saw. mempertegas bacaan dan memanjangkan suaranya sambil mengucapkan:
رَبُّ المْلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
"Rabb para Malaikat dan Jibril."[2].

3. Sunnah Sunnah Dalam Shalat Fajar.

Yang dimaksud shalat Fajar adalah dua rakaat shalat sunnah qobliyah fajar atau sunnah qobliyah shubuh yang termasuk didalam dua belas rakaat shalat rawatib selain 4 rakaat sebelum zhuhur, 2 rakaat setelah zhuhur, 2 rakaat setelah maghrib dan 2 rakaat setelah isya.
Adapun dua rakaat fajar itu dilakukan sejak masuknya waktu fajar hingga dilaksanakannya shalat fajar (shubuh) yaitu antara adzan shubuh yang kedua—bagi masjid yang melaksanakan dua kali adzan shubuh—hingga iqomat.
Dari Aisyah berkata,”Rasulullah saw bersabda,’
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Makna “Lebih baik dari dunia” yaitu lebih baik daripada diberikan seluruh dunia di jalan Allah swt atau keyakinan mereka bahwa isi dunia adalah kebaikan dan tidaklah seberat atom dari (kenikmatan) akherat bisa disamai dengan dunia dan seisinya. (Syarh Sunan an Nasai juz III hal 127).

Adapun sunnah-sunnahnya yaitu:
1.Ringan pelaksanaannya.
Dari 'Aisyah r.a., ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ
"Nabi saw. shalat dua raka'at ringan/ringkas antara adzan dan iqamat dari shalat shubuh." (Muttafaq 'alaih)[3].
2. Membaca ayat yang dulu dibaca oleh Rasulullah saw.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ
"Rasulullah saw. membaca pada shalat Fajar, pada raka'at pertama membaca 'Quuluu aaman-naa billaahi wamaaa unzila ilainaa.... (Q.S. Al-Baqarah: 136).
Dalam riwayat lain, pada rakaat terakhir membaca:
وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (Q.S. Ali-Imran: 52) [H.R. Muslim (727)].
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau membaca akhir surat Ali-Imran, dan pada riwayat yang lainnya beliau membaca:  تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ  (Q.S. Ali-Imran: 64). [H.R. Muslim].[4].
Di dalam riwayat lain, Rasulullah saw. ketika shalat sunnah Fajar membaca:     قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ  Pada raka'at pertama dan   قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد  pada raka'at kedua. [5].
3. Berbaring dengan memiringkan badan dan bertumpu pada lambung sebelah kanan (selesai shalat).
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ اْلفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ
"Apabila muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh.” [6].
Wahai saudaraku, ketika engkau shalat sunnah dua raka'at Fajar di rumahmu, maka berusahalah untuk berbaring di atas lambung sebelah kanan setelah selesai melakukan shalat sunnah Fajar, walaupun hanya beberapa menit. Hal ini semata-mata untuk mengikuti sunnah.

3. Duduk-Duduk Setelah Shalat Shubuh.

"Bahwa Nabi saw. selesai shalat Shubuh, beliau duduk berdzikir di tempat shalatnya sampai matahari terbit sedikit tinggi." [7].
Imam Nawawi berkata: "Makna "  " yaitu terbit yang bagus atau mulai meninggi."
Betapa besar nikmat Allah, sesungguhnya Allah telah menugaskan para Malaikat untuk berdo'a, beristighfar bagi orang-orang yang duduk-duduk berdzikir di masjid, baik sebelum shalat maupun setelahnya. Para Malaikat berdo'a untuk mereka - sebagaimana yang diterangkan dalam hadits - dengan ucapan:
اللهم اغفرله, اللهم وارحمه
"Ya Allah, ampunilah dosanya. Ya Allah, sayangilah dia."[8].
Wahai saudaraku, lihatlah kedudukanmu di sisi Allah ketika engkau mentaatinya. Allah telah menugaskan para Malaikat untuk mendo'akanmu.
Sebarkan !!! semoga bermanfaat.
                       ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Sehari Semalam hal. 44-47, Khalid l-Husainan, Pustaka Imam Syafi'i.
https://www.facebook.com/notes/abu-zakariya-sutrisno/rukun-wajib-dan-sunnah-sunnah-shalat/10150161657673544
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html
***
[1]. H.R. Abu Daud (1424), Tirmidzi (462), dan Ibnu Majah (1171) dam (1172). (Disahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahiih an-Nasa'i (I/372), Shahih Ibnu Majah (I/193), Shahih at-Tirmidzi (I/144).
[2]. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih an-Nasa'i (I/272).
[3]. H.R. Bukhari (619) dan Muslim (724(91).
[4]. Muslim (727).
[5]. H.R. Muslim (726).
[6]. (HR Bukhari 590)
[7]. H.R. Muslim (670). Lafadz dalam riwayat Muslim adalah dengan menggunakan kata "  " di akhir hadits, sedangkan afadz di atas adalah riwayat Ahmad (21093) dan Abu Daud (4850).
[8]. Hadits yang lengkap adalah: "Rasulullah saw. bersabda: 'Malaikat mendo'akan kepada seseorang yang tetap berada di mushala (masjid), di mana ia shalat di masjid tersebut selama belum batal (berhadats).'Malaikat tersebut berdo'a: 'Ya Allah, ampunilah dosanya, Ya Allah, sayangilah dia." [H.R. Bukhari (659)].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar