Selasa, 09 Juni 2015

Adab Sunnah Saat Adzan, Iqamah dan Bacaan Bagi Pendengarnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam. 
Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:
Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu. Hukum Adzan. Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum adzan adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan hukum adzan adalah fardu kifayah. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin” [H.RAbu Dawud (1203), At Tirmidzi (207), dan Ahmad (II/283-419)].

1. Sunnah-Sunnah Dalam Adzan

Sunnah-sunah yang berkaitan dengan adzan ada lima, seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad.
1. Bagi pendengar. Bagi orang yang mendengar adzan agar mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. kecuali dalam lafadz:
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ  - حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Ketika mendengar lafadz itu, hendaknya mengucapkan lafadz;
 لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ إِلَّاْ  بِالله
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."[1].
Faedah dari sunnah tersebut yakni akan menjadi sebab engkau masuk surga, seperti dalil yang tercantum dalam shahih Muslim (no. 385).
2. Setelah adzan selesai. Setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan, maka yang mendengarnya mengucapkan [2]
"Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul -Nya, Aku ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama(ku) dan Muhammad sebagai Rasul."[3].
Faedahnya: dosa-dosa akan diampuni sebagaimana yang terkandung dalam makna hadits itu sendiri.
3. Bershalawat kepada Rasulullah saw.[4]
Yaitu setelah selesai menjawab adzan dari muadzin dan menyempurnakan shalawatnya dengan membaca shalawat Ibrahimiyah dan tidak ada shalawat yang lebih lengkap dari shalawat tersebut. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw.: 
 إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
"Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya lalu bershalawatlah untukku karena sesungguhnya orang yang bershalawat untukku saatu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali."[5].
Faedahnya: Sesungguhnya Allah bershalawat untuk hamba-Nya sebanyak 10 kali. Makna bahwasanya Allah bershalawat untuk hamba-Nya adalah Allah memuji hamba-Nya di hadapan para Malaikat.
Sedangkan lafadz shalawat Ibrahimiyyah adalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
"Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia." [6].
4. Berdo'a setelah bershalawat Nabi:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
"Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini, dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-washilah (derajat di surga), dan al-Fadhilah (keutamaan) kepada Muhammad saw. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati kedudukan yang terpuji yang Engkau janjikan."[7].
Faedah dari do'a tersebut: Barang siapa mengamalkannya, maka dia akan memperoleh syafa'at Nabi saw.
5. Berdo'a untuk dirinya sendiri, dan meminta karunia Allah karena Allah pasti akan mengabulkan permintaanya.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw.:
 قُلْ كَمَا يَقُوْلُوْنَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ
"Ucapkanlah seperti apa yang mereka (para Muadzin) ucapkan dan jika engkau telah selesai, mohonlah kepada-Nya, niscaya permohonanmu akan diberikan." [8].
Apabila amalan-amalan sunnah ketika mendengar adzan dikumpulkan, maka seorang Muslim telah melaksanakannya sebanyak 25 sunnah.

2. Sunnah-Sunnah Dalam Iqamat

Sunnah-sunnah saat iqamat sama dengan sunnah-sunnah pada adzan, yaitu pada empat poin pertama. hal ini sesuai dengan Fatwa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-'Ilmiyyah wal Iftaa' (Komite tetap Kajian Ilmiah dan Pemberian Fatwa). Apabila dijumlahkan secara keseluruhan, terdapat 20 sunnah iqamat pada setiap shalat wajib.
Merupakan sunnah bagi yang mendengar iqamat untuk menirukan lafadz iqamat, kecuali pada lafadz:
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ  - حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Maka dijawabnya dengan lafadz:
 لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ إِلَّاْ  بِالله
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."[9].
Kemudian ketika ucapan:
 قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
Hendaknya menirukannya dan tidak boleh mengucapkan:
أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا
Karena ucapan itu berdasarkan hadits dha'if (Al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-'Ilmiyyah wal Iftaa').
Pendha'ifan ini berdasarkan penjelasan beberapa ulama, diantaranya:
Penulis Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri mengatakan,
لَكِنَّ الْحَدِيثَ فِي إِسْنَادِهِ رَجُلٌ مَجْهُولٌ وَشَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرُ وَاحِدٍ وَوَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ
“Hadits ini dalam sanadnya terdapat perowi majhul (tidak dikenal) yaitu Syahr bin Hawsyab. Ia dikritik oleh lebih dari satu ulama. Namun Yahya bin Ma’in dan Imam Ahmad mentsiqohkannya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 1/525, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah).
Ibnu Hajar Al Asqolani dalam At Talkhis mengatakan,
وَهُوَ ضَعِيفٌ وَالزِّيَادَةُ فِيهِ لَا أَصْلَ لَهَا
“Hadits ini dho’if,  tambahan di dalamnya tidak ada asal usulnya.” (At Talkhish, 1/211).
Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (1/105) mengatakan bahwa hadits ini tidak tsabit (tidak shahih). Asy Syaukani dalam Tuhfatudz Dzakiriin (hal. 166) mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Syahr bin Hawsyab yang sudah banyak dikritik. Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya (3/457) mengatakan bahwa sanad hadits ini dhoif.

Kesimpulannya, banyak ulama yang melemahkan (mendho’ifkan) hadits ini. Sudah kita ketahui bersama bahwa hadits dhoif adalah hadits yang tidak boleh diamalkan kecuali punya asal hukum dari hadits yang shahih.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
        ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sumber:
1000 Amalan Sunnah dalm Sehari Semalam, hal.27-32, Khalid al-Husainan, Pustaka Imam Syafi'i.
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-adzan-dan-iqomah.html
***
[1]. H.R. Muslim (385).
[2]. Ada yang berpendapat, dibaca sesudah muadzin membaca syahadat, Lihat Tsamarul Mustathaah fii Fiqhi Sunnah wal Kitaab hal. 172-185 oleh Syaikh Albani.
[3]. H.R. Muslim (I/242, no. 386).
[4]. Shalawat yang disunnahkan untuk dibaca oleh setiap individu adalah dengan perlahan, tidak memakai pengeras suara dan tidak dinyanyikan.
[5]. H.R.Muslim (I/288, no. 384).
[6]. H.R. Bukhar (6/408, 4/118 dan 6/27-Fathul Baari), Muslim (2/16), Ibnu Majah (904), Ahmad (4/243-244) dan selain mereka dari Ka'ab bin 'Ujrah.
[7]. H.R> Bukhari (614), Abu Daud (529), Tirmidzi (211), Nasa'i (2/26-27) dan ibnu Majah (722). Adapun tambahan   "Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji" Tidak boleh diamalkan karena sanadnya lemah. Lihat Irwaa-ul Ghalill (i/260-261).
[8]. H.R. Abu Daud, Ibnu Hajar menghasankannya, sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya.
[9]. H.R. Muslim (385).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar