Minggu, 24 Mei 2015

Adab Sunnah, Tatacara Dan Bacaan Do'a Wudhu

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Pengertian Wudhu

Thaharah (bersuci) adalah salah satu ibadah yang Allah perintahkan kepada kita semua. Ibadah ini sangat penting karena menjadi syarat keabsahan ibadah shalat kita. Secara istilah syariat, thaharah adalah menghilangkan hadats dan najis dengan sarana tertentu dan dengan tata cara tertentu. Thaharah hukumnya wajib. Wudhu hukumnya wajib bagi setiap orang yang berhadats kecil yang hendak mengerjakan shalat.
Wudhu (الوضوء) menurut bahasa diambil dari kata Wadhuah artinya “bagus”. Sedangkan menurut istilah adalah artinya “menggunakan air pada anggota badan tertentu seraya dimulai dengan niat”.
Mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar adalah sebuah perkara yang sangat penting dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung yang merupakan syarat sah ibadah shalat seseorang. Disamping itu wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak dan diantara keutamaan wudhu yang datang penyebutannya didalam sebuah hadist yaitu dimana Rasulullah shallallahu alaihiwasallam bersabda : 
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُأَوْ فَيُسْبِغُالْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “ Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”
Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim).

2. Sunnah-Sunnah Dalam Berwudhu

1. Mengucapkan بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِ " Dengan menyebut Nama Allah."
Hal ini berdasarkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لاصلاة لمن لا وضوء له, ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله – تعالى – عليه
Tidak ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu (tidak sah) wudhunya seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” [1].
2. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Humran –bekas budaknya Ustman Bin Affan- pernah melihat Ustman meminta air untuk wudhu, “ lalu beliau (Ustman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali, beliau lantas mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya). Kemudian beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya sampai sikunya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh (mencuci) setiap kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [2].
3. Mendahulukan madhmadhah (berkumur-kumur) dan istinsyaq sebelum membasuh muka. Dalam sebuah hadits diantaranya Yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilakukan oleh Utsman Bin Affan sampai pada perktaan
ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ
…..Beliau lantas mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan iar kedalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya)…” [3].
4. Setelah istinsyaq lalu istintsar (dengan telapak tangan kiri) berdasarkan hadits: 
" ... Lalu Nabi mencuci kedua telapak tangan tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq, lalu istintsar, lalu membasuh wajahnya tiga kali..." [Muttafaq 'aliah]. [4].
5. Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq kecuali bagi orang yang sedang berpuasa. Berdasarkan hadits: 
وَبَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
" ... Bersungguh-sungguhlah dalam berkumur-kumur dan istinsyaq, kecuali kalau kamu sedang berpuas." [5].
Makna bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur ialah menggerakkan air ke seluruh bagian mulut, sedangkan makan bersungguh-sunnguh dalam istinsyaq adalah menghirup air sampai ke bagian hidung yang paling dalam.
6. Menyatukan antara berkumur-kumur dan istinsyaq dengan sekali cidukan tangan kanan, tanpa pemisahan keduanya.
Berdasarkan hadits:
" ... Kemudian Nabi saw. memasukkan tangannya (ke dalam bejana) lalu ia berkumur dan ber-istinsyaq dari satu cidukan telapak tangan." [Muttafaq 'alaih).
7. Bersiwak.
Waktu pelaksanaannya adalah ketika akan berkumur-kumur, dengan dasar hadits Rasulullah saw.: 
" Kalaulah tidak khawatir akan memberatkan ummatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu!"[6].
8. Menyela-nyela jenggot yang lebat ketika membasuh muka.
Berdasarkan hadits Rasulullah saw.
"Nabi saw. menyela-nyela jenggotnya." [7].
9. Mengusap kepala.
Cara mengusap kepala yaitu memulai bagian depan kepala kemudian menggerakkan kedua tangan hingga ke belakang (tengkuk) lalu mengembalikan ke tempat semula. Adapun yang wajib adalah membasuh seluruh bagian kepala dengan cara apapun juga. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw.:
ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »
" ... Kemudian Rasulullah saw. mengusap kepalanya, lalu menjalankan kedua tangannya ke belakang dan mengembalikannya... " (Mutaffaq 'alaih). [8].
10. Menyela-Nyela jari-jari kedua tangan dan kaki
Berdasarkan hadits:
أَسْبِغِ الوُضُوءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ
"Sempurnakanlah wudhu dan basuhlah sela-sela jari jemari..."[9].
11. At-Tayammun (Memulai dari sebelah kanan).
At-Tayammun (dalam wudhu) artinya mendahulukan membasuh tangan dan kaki yang sebelah kanan kemudian yang kiri. Rasulullah saw. bersabda: 
"Adalah Rasulullah saw. menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya." (muttafaq 'alaih) [10].
12. Menambah bilangan basuhan dari sekali menjadi tiga kali.
Tambahan ini berlaku dalam membasuh muka, kedua tangan dan kedua kaki.
13. Mengucapkan dua kalimat syahadat selesai berwudhu.
 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
"Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Manfaatnya disebutkan dalam sebuah riwayat: "Niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga dan ia bisa masuk dari pintu mana saja yang ia sukai. [H.R. Muslim].[11].
14. Berwudhu di rumah.
Rasulullah saw. bersabda: 
"Barangsiapa yang berwudhu' di rumahnya, kemudian berjalan ke masjid untuk melaksanakan kewajiban dari Allah (shalat), maka langkah kaki yang satu menghapus dosa dan langkah yang lain mengangkat derajat." (H.R. Muslim).[12].
15. Ad-Dalk
Yaitu, menggosokkan telapak tangan pada anggota wudhu bersama air atau setelahnya.
16. Berhemat dalam menggunakan air
dalam sebuah hadits Anas Bin Malik berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَغْسِلُ ، أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ – بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan berwudhu dengan satu mud.(HR. Mutafaqun alaihi).  [13].
1 shaa’ = 4 mud
1 mud = gabungan telapak tangan orang dewasa yang sedang (tidak besar dan kecil)
17. Melewati batasan yang diwajibkan dalam membasuh empat anggota wudhu' (kedua tangan dan kedua kaki).
Dalam sebuah riwayat disebutkan: 
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ العَضُدِ، وَرِجْلَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ السَّاقِ، ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُلَ اللهِ يَتَوَضَّأُ
" ... Ketika Abu Hurairah r.a berwudhu, ia membasuh tangan hingga mengenai bagian lengan atasnya, dan membasuh kakinya sampai betis. Kemudian ia berkata: "Demikian aku pernah melihat Rasulullah saw. berwudhu." (H.R. Muslim). [14].
18. Shalat dua raka'at setelah wudhu
Rasulullah saw. bersabda:
 مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa berwudhu' seperti wudhu'ku ini, kemudian ia mengerjakan shalat dua raka'at pada yang keduanya ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri, maka akan diampuni dosanya yang lebih dahulu." [15]
Pada riwayat Muslim, ada tambahan pada hadits 'Uqbah bin 'Amir, yaitu:... Melainkan pasti ia mendapat surga."
19. Menyempurnakan wudhu'
Yaitu, memberikan hak kepada setiap anggota wudhu' dengan membasuhnya secara sempurna dan menyeluruh. Seorang Muslim dalam kesehariannya berwudhu berkali-kali, paling tidak lima kali, dan yang lainnya terkadang lebih dari lima kali ketika dia hendak melakukan shalat-shalat sunnah seperti shalat dhuha dan shalat lail (malam). Jika setiap kali berwudhu seorang Muslim mengamalkan sunnah-sunnah tersebut, tentu ia akan mendapatkan pahala yang sangat banyak.


2. Faedah Mengikuti Sunnah Rasul Dalam Berwudhu

"Barang siapa di antara kalian berwudhu' kemudian membaguskan wudhunya lalu ia bangkit untuk shalat dua rakaat dengan hati yang khusu' dan wajah yang khudu' (tunduk), maka ia pasti akan mendapat surga dan dosa-dosanya di ampuni."[16].
Imam Nawawi berkata: "Sesungguhnya derajat yang didapatkan oleh orang yang membaguskan wudhu'nya adalah, ia mampu berjuang membela dirinya dari kejahatan-kejahatan syaitan dan menghilangkannya dari dirinya, serta menjaga dirinya agar tidak diganggu oleh syaitan walaupun hanya sekejap mata. Dia selamat dari syaitan dengan perjuangannya (untuk melakukan sunnah-sunnah wudhu) dan ia mendapatkan kelapangan hati."
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
1000 Amalan Sunnah Sehari Semalam hal. 8-15, Khalid l-Husainan, Pustaka Imam Syafi'i.
***
[1]. Tidak sah (sempurna) wudhu bagi siapa yang tidak menyebutkan nama Allah padanya." [H.R. Thirmidzi (no. 25-26) Abu Daud (101) dan selain mereka. Menurut Syaikh Al-Bani hadits ini shahih, lihat Ahahiih al-Jaami'ish Shghur no. 7444.
[2]. H.R. Bukhari-Fathul Baari (1/255) dan Muslim (no. 226) Syarah Muslim(3/100).(HR. Bukhari: 159 dan Muslim : 423)
[3]. Memasukkan air ke dalam lubang hidung, lalu menghirupnya dengan sekali nafas sampai rongga hidung yang paling ujung.(HR. Bukhari dan Muslim).
[4]. H.R. Bukhari (no. 159) dan Muslim (226).
[5]. H.R. Abu Daud (142), at-Tirmidzi (788), Nasa'i (87), Ibnu Majah (407) dan selain mereka.
[6]. H.R. Ahmad (4/116) Tirmidzi (22), Malik (123), Abu Daud (46), dan selain mereka.
[7]. H.R. Tirmidzi (31), ia berkata: "Hadits ini hasah shahih" dan Ibnu Majah (430), Lihat Shahih Sunan Abu Daud (I/248).
[8]. H.R. Bukhari (185) dan Muslim (235).
[9]. H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).
[10]. H.R. Bukhari (168), Muslim (268) dan selain keduanya.
[11]. H.R. Muslim (234), Abu Daud (169), Tirmidzi (55), Nasa'i (148) dan Ibnu Majah (470).
[12]. H.R. Muslim (666).
[13]. Ukuran 1 1/3 liter, dinamakan demikian karena air yang diambil sepenuh kedua telapak tangan manusia.
[14]. H.R. Muslim (246).
[15]. H.R. Bukhari (159), Muslim (226) dan Nasa'i (84 dan 116).
[16]. H.R.Muslim (245).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar