Kamis, 09 April 2015

Pengertian Kejawen; Jenis Dan Pengaruhnya Terhadap Aqidah Umat Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kejawen berasal dari bahasa daerah Jawa (dialek Jawa Tengah) yakni dari kata "Jawi" Kata ini kemudian mendapat imbuhan ke-an menjadi kejawen. Dalam proses pembentukan selanjutnya kata tersebut mengalami monoftongisasi-sandi (proses perubahan dua bunyi menjadi satu, dari bunyi "ia" menjadi "e" dari kejawian menjadi kejawen (sama seperti dari sesajian ke sesajen, kabupatian ke kabupaten, dan sebagainya.).
Sesuai dengan asal kelahirannya, kejawen mengandung pengertian luas tentang adat istiadat, yakni segala unsur naluri (tradisi kepercayaan) leluhur orang-orang Jawa Tengah di masa lampau. Kejawen dalam arti kepercayaan, bertujuan untuk melepaskan diri dari segala ajaran luar jawa seperti: Islam, Hindu, Budha, dan ajaran-ajaran empiris (kepercayaan yang berdasarkan pengalaman). Namun, ada juga yang mengambil sumber ajarannya dari Hindu-Budha yang disebut Yoga Trantisme Hindu-Budha.[1]. Bahkan, ada pula yang mengambil ajarannya dari Islam, atau sebaliknya, umat Islam yang terpengaruh kejawen. Di satu segi, mereka melakukan syari'at islam, tapi di segi lain mereka melakukan ajaran Kejawen. Seperti membakar kemenyan pada saat melakukan acara keagamaan, selamatan, atau kenduri, memberi saji-sajian, selamatan untuk Nyi Roro Kidul (seorang Dewi yang dianggap sebagai  penjaga Laut Selatan).
Dalam kepercayaan, kejawen termasuk dalam aliran kebatinan. Menurut Kamil Kartapraja, ada 16 aliran kebatinan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

1. Sebaran Aliran Kebatinan di Indonesia

  1. Sapta Darma
  2. Paguyuban Sumerah
  3. Ngelmu Sejati Cirebon.
  4. Ilmu Sejati
  5. Agama Yakin Pancasila.
  6. Ngelmu Beja
  7. Paguyuban pembuka dan Sanga.
  8. Perkumpulan Kemanusiaan.
  9. Madrais-isme.
  10. Aliran Samin.
  11. Kawula Waga Naluri.
  12. Agama Suci (Jember).
  13. Buda Wisnu.
  14. ADAI.
  15. Suci Rahayu.
  16. Pangestu [2].

2. Pembagian Aliran Kebatinan Berdasarkan Kelompok [3]

  1. Kelompok yang ajarannya mengambil intisari dari ajaran-ajaran yang telah ada seperti Pangestu.
  2. Kelompok yang ajarannya semacam doktrin (dogma) yang mengharuskan setiap pengikut untuk mengakui sesepuh mereka sebagai nabi,, wali atau ratu adil seperti orang suci di akhir zaman Sapto Darmo.
  3. kelompok yang ajarannya berdasar kepada adat seperti masyarakat Baduy.
  4. Kelompok yang bertendensi politik.
  5. Kelompok perorangan yang berlatar belakang kekecewaan, perasaan tidak puas, kesulitan ekonomi, bahkan ada yang sampai mendiskreditkan agama. [4].
Adapun Djayadiguno dan H.H. Rasyidi mengelompokkan aliran kebatinan itu ke dalam 4 kelompok, yakni:
  1. Akultis, aliran yang mengutamakan daya-daya ghaib untuk mengatasi berbagai kebutuhan manusia.
  2. Mistik, aliran yang berusaha mempersatukan jiwa dan ruh sewaktu manusia masih hidup.
  3. Teosofis, aliran yang berusaha untuk menembus sesuatu yang sifatnya rahasia. sangkan paraning dumadi  (darimana dan akan kemana tujuan makhluk).
  4. Etis, aliran yang berusaha menghubungkan budi luhur serta membangun manusia yang dijiwai nilai-nilai etika tinggi.
Dari sekian banyak aliran di atas, aliran Pangestu adalah yang paling banyak mempengaruhi kehidupan umat Islam (terutama Jawa). Penganut aliran ini melakukan ibadah-ibadah islam yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Seperti shalat, mereka hanya melakukannya dua kali sehari-semalam, yaitu di waktu senja dan waktu fajar, sedangkan rukunnya ada 10, yaitu:
  1. Menghadap ke barat, 
  2. Berdiri tegak, 
  3. Mengangkat tangan, 
  4. Bersedekap, 
  5. Membungkukkan badan, 
  6. Bersujud, 
  7. Duduk bersimpuh, 
  8. Berdzikir, 
  9. Berpaling ke kanan 
  10. Berpaling ke kiri.
Aliran Pangestu mengajarkan tentang Tuhan Tripurusa tiga oknum (Sukma kawekas, Sukma Sejati, dan Roh Suci). Tuhan Tripurusa menurut mereka bersemayam dalam hati yang suci, atau dalam ilmu kejawen dikenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti. Pandangan ini termasuk Panteisme, yakni faham yang menganggap bahwa Tuhan beremanasi (manunggal) dengan alam - termasuk manusia.  Islam menolak faham ini sebab Allah bersifat Qiyam binafsih (berdiri sendiri) yang berarti Allah tidak memerlukan tempat (ruang) atau tidak punya ketergantungan kepada makhluk-Nya. Faham ini dalam Islam terdapat dalam aliran Tasawuf yang dianut oleh Abu Yazid al Bustami yang kemudian diikuti Al-Hallaj, atau jika di Indonesia Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar. Abu Yazid membuat rumusan bahwa tubuh kasar manusia dinyatakan hancur (fana). sedangkan yang ada hanyalah Allah. Dari Al-Fana wal Baqa (kehancuran perasaan dalam jiwa), manusia menjadi sakar (trans). dan dari sini akhirnya manusia dapat menyatu dengan Allah (ittihad). Di saat itulah Yazid mengeluarkan kata-kata ganjilnya: "Tidak ada apa-apa di dalam jubah ini, kecuali Allah."

3. Ajaran kejawen lain yang telah mempengaruhi  umat islam:

  1. Ilmu Kesunyatan, ajaran yang menghkhususkan seseorang agar menjadi manusi paraning dumadi (manusia kuat).
  2. Ilmu Setia Budi, ajaran tentang asihan (upaya agar orang menjadi terpikat) atau guna-guna. Di antara syarat-syaratnya, si murid harus pantang dari beberapa jenis makanan. Sedangkan lama waktu pantangnya paling sedikit satu minggu.
  3. Ilmu Hakikat, ialah ilmu ajaran yang mementingkan isi (batin), sebab itu mereka meninggalkan syari'at (seperti melarang shalat) karena syari'at dianggap bagian luar (kulit), bukan isi. Menurut mereka, shalat cukup dengan niat, dan manusia sudah menjadi shaleh meskipun tidak mengamalkan ajaran syari'at. Yang penting manusia itu tidak sombong, tidak hasud, dll.
  4. Ilmu Mistik, ialah ajaran tentang kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa dipraktekkan lewat gerak fisik manusia. 
  5. dan sebagainya.
Ajaran-ajaran kejawen atau kebatinan tersebut pada dasarnya telah menyimpang dari ajaran Islam meskipun penganutnya mengatakan bahwa mereka adalah Islam. Lihatlah munculnya praktek-praktek perdukunan dan tukang ramal, menjadikan sebagian orang Islam mencari kepuasan di luar jalur Islam tersebut, naudzu billaahi min dzaalik.
kehidupan manusia yang mengikuti ajaran nenek moyangnya dengan mengabaikan ajaran Islam, telah digambarkan dalam al-Qur'an, dengan Firman Allah Ta'ala:
 وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "[Tidak], tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami". "[Apakah mereka akan mengikuti juga], walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Q.S. Al-Baqrah: 170).
Juga firman Allah Ta'ala:
وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ نَصِيبً۬ا فَقَالُواْ هَـٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَـٰذَا لِشُرَكَآٮِٕنَا‌ۖ فَمَا ڪَانَ لِشُرَڪَآٮِٕهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَا ڪَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَڪَآٮِٕهِمۡ‌ۗ سَآءَ مَا يَحۡڪُمُونَ
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (Q.S. Al-An'am: 136).
Juga firman-Nya:
سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَڪۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَىۡءٍ۬‌ۚ ڪَذَٲلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَا‌ۗ قُلۡ هَلۡ عِندَڪُم مِّنۡ عِلۡمٍ۬ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآ‌ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ
Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak [pula] kami mengharamkan barang sesuatu apa pun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan [para rasul] sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. (Q.S. Al-An'am: 148).
Dll.
Semoga bermanfaat.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ 
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”                   
Sumber: 
Bid'ah-Bid'ah di Indonesia, hal. 89-96, Drs. K.H. Badruddin H.Subky.
***
[1]. H.M.Rasyidi, op.cit.hlm. 73-87
[2]. Kamil Kartapraja, op. cit. hlm. 75-77
[3]. E.D. Kartoharjo.
[4]. RED Kartoharjo, Materi Aliran-Aliran Kebatinan di Indonesia, hlm. 39-49, Departemen Agama RI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar