Rabu, 29 April 2015

Definisi Istilah Mistik; Jampi, Rajah, Jimat, Wafaq, Hizib, Sihir; Dan Perbedaannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Bila seorang muslim percaya bahwa sihir itu mempunyai pengaruh seperti membuat sakit atau meninggal - pada seseorang, maka itikad itu termasuk syirik fil af'al (Syirik dalam  perbuatan) meskipun ia tidak mengamalkan sihir tersebut. Namun bila ia percaya bahwa yang punya pengaruh itu adalah Allah, sedangkan yang berkaitan dengan sihir berlaku secara 'adi (bisa terjadi, bisa tidak), maka kepercayaannya tersebut adalah benar.
Menurut pemahaman Ahlussunnah wal jama'ah, proses mempelajari, menagajarkan dan mengamalkan ilmu sihir - meski pun tidak diitikadkan halalnya - termasuk dosa besar. bahkan bila seseorang mengitikadkan halalnya ilmu sihir, maka ia dihukumi murtad atau kafir.


1. Beberapa Definisi Istilah Mistik

Ada beberapa istilah tentang mistik yang hampir identik tapi sebenarnya sangat berbeda, baik dalam isi maupun sumbernya. Diantaranya adalah: 
Jampi dengan Rajah';Jimat dengan Wafaq dan Hizib dengan Sihir.
Berikut kami jabarkan definis dari masing-masing kata di atasl
  1. Jampi (Mantra) berasal dari ajaran politeisme (Hindu-Budha), Ia berupa ucapan-ucapan yang dipergunakan untuk memanggil dewa atau ruh-ruh halus sebagai wakil Tuhan. Panggilan itu semula tidak secara langsung, tapi melalui benda-benda atau binatang seperti buaya, kera, ular dan babi. Kemudian berkembang dengan bentuk dan ucpan yang berbeda sesuai dengan tempat jampi itu dipergunakan. seperti dalam masyarakat Sunda dikenal istilah jangjaokan atau menem-menem. Dalam islam, pengamalan jampi termasuk syirik karena dianggap mencampur-adukkan ajaran.
  2. Rajah ialah do'a, ayat Qur'an, Asma'ul husna, atau Al Ismul A'zham, yang dibacakan untuk orang sakit atau ketika menghadapi musuh. Termasuk juga membaca mu'awidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas) ketika disihir orang, diganggu setan, atau di tempat-tempat seram. Cara rajah ini sering dilakukan Rasulullah saw. terutama saat beliau disihir orang atau sedang menjenguk orang sakit.
  3. Jimat, ialah benda yang dianggap (masyarakat animisme) mempunyai kekuatan magis, jimat yang dalam bahasa Arab disebut tamaim, merupakan benda kepercayaan orang jahiliyyah yang mempersekutukan Allah. Dalam masyarakat primitif, jimat juga disebut mana yang mempunyai dua arti: daya penarik dan daya penolak. Dengan demikian, jimat bisa membuat orang tertarik dan sebaliknya bisa membuat orang takut. Yang disebut jimat oleh masyarakat Indonesia, termasuk sebagian umat Islam, ialh benda yang berasal dari manusia yang dianggap sakti dan kharismatik, seperti: dukun, kyai atau ahli hikmah. Tradisi penghormatan jimat inipun masih sering dilakukan, terutama di daerah jawa. Upacara-upacara yang sangat populer antara lain mengarak jimat atau memandikannya pada bulan-bulan yang dianggap keramat seperti Maulud (Rabi'lul Awal). Menurut Islam, perbuatan ini termasuk bid'ah yang mengarah ke syirik.
  4. Wafaq, ialah ayat al-Quran yang ditulis oleh dukun atau kyai di atas benda tertentu, misalnya kain putih, kulit binatang, maupun kertas. Wafaq biasanya dibawa pergi ke mana-mana atau hanya digantungkan di atas pintu rumah, warung atau tempat-tempat tertentu dengan tujuan khusus untuk memperoleh keselamatan atau mendapat barakah dari benda tersebut (misalnya agar dapat rezeki besar, atau dagangannya laris, dll.) Mulanya wafaq ini adalah tradisi kepercayaan terhadap jimat yang sudah mengakar di masyarakat. Ketika Islam datang kepercayaan masyarakat terhadap jimat sudah melekat. Para wali (walisongo) berusaha menghilangkan keyakinan itu dengan mengubahnya/menggesernya melalui pengenalan nama Allah atau sifatnya. Nama tersebut ditulis (wifiq) oleh para wali, dan agar orang lebih mudah mengingat dan menghafalnya - atau selalu mengingat Allah dan menghapus nama dewa-dewa - para wali membiarkan orang menyelipkan atau membawa wifiq tersebut ke mana saja. namun sayangnya, kebiasaan ini terus berlanjut hingga terjadinya penyelewengan di masyarakat. Mereka mengkeramatkan benda tersebut karena dianggap dapat mendatangkan keselamatan dan keberuntungan.
  5. Hizib, ialah kumpulan do'a (wirid) dari Nabi saw., ayat-ayat al-Qur'an dan bacaan shalawat Nabi. Hizib seringkali dibacakan oleh para waliyullah atau pejuang Islam ketika mereka terdesak musuh, misalnya ketika Bung Tomo berjuang pada Perang Kemerdekaan selalu mengumandang takbir. Ikhwal hizib yang sering diamalkan para kyai dan santri memang benar adanya. Terbukti sampai sekarang masih banyak hizib dan asrar ismul a'zham yang diwiridkan di pesantren-pesantren. Bacaan hizib yang masyhur di dunia pesantren adalah Hizib Nashar (warisan syeh Abu Hasan Sadzali), Hizib Rifa'i (dari syeh Rifa'i), Hizib Nawawi (dari Imam Nawawi), Hizib Bahar, dll. Adapun hukum hizib menurut sebagian ulama, adalah halal asal subyek dan obyeknya tidak bertentangan dengan Islam. Maksudnya, pengamalnya orang Islam dan yang diamalkannya bersumber dari ajaran Islam.
  6. Sihir, ialah ilmu mistik yang bersumber dari setan. Illmu sihir memang ada seperti yang telah ditetapkan al-Qur'an (lihat Q.S. Al-Baqarah: 102). Sekurang-kurangnya terdapat 62 kata sihir yang disebut dalam al-Qur'an. Bahkan ayat "wamin syarrin naffaatsaati fil 'uqad" menurut Imam Mujahid, Ikrimah, dan imam Hasan mengandung arti " tiupan tukang sihir." Siapa yang pertama mangajarkan sihir ? Untuk menentukan jwaban ini, para mufassirin berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dua Malaikat , ada yang mengatakan dua raja di Babilonia, dan ada juga yang mengatakan Harut dan Marut, dua orang jahat yang berpura-pura shaleh seperti Malaikat,  Terlepas dari perbedaan pendapat yang ada, sihir tetaplahh merupakan ilmu setan yang menyesatkan. Meskipun jenisnya berbeda-beda, tapi pada hakikaatnya sama. Baik pemilik (dukun) maupun pelaku atau penganutnya sama-sama dianggap kufur.
 وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ۬ فَلَا تَكۡفُرۡ‌ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦ‌ۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۚ 
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat  di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan [sesuatu] kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan [bagimu], sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang [suami] dengan isterinya. Dan mereka itu [ahli sihir] tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah.(Q.S.Al-Baqarah: 102).

2. Taqdir Allah DI Atas Segala Sesuatu

    • Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dikemukakan pendapat beberapa ulama mengenai makna ayat di atas, diantaranya Hasan Basri yang mengatakan:"Benar, jika Allah menghendaki, maka Dia menguasakan (orang yang akan disihir) kepadanya (tukang sihir), dan jika Allah tidak menghendaki maka Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan mereka tidak akan mampu menyihirnya kecuali dengan izin Allah, sebagaimana firman-Nya: وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُ  "Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfa’at." Artinya, perbuatan itu membahayakan agamanya dan tidak mengandung manfaat yang sebanding dengan mudharatnya.[1]. 
    • Menurut Imam Shawy (dalam kitab tafsirnya) ayat di atas mengandung arti larangan kepada setiap muslim untuk mempelajari segala aspek ilmu sihir, termasuk praktiknya. Yang mempelajari ilmu sihir berarti kufur, sedangkan yang menjauhinya adalah mukmin.[2]. Penafsiran beliau dituangkan secara lengkap sebagai berikut: "Manusia mendapat ancaman keras dari Allah agar tidak belajar sihir, namun mereka memaksa juga belajar sihir itu dari Harut-Marut guna dapat menghancurkan rumah tangga orang lain.. Padahal ilmu itu sedikit pun tidak akan memberi manfaat kepada mereka yang mempelajari dan menggunakannya. Yang pasti, mereka akan mendapat mudharat besar. Tapi mengapa mereka tetap melakukan hal itu ? Padahal, mereka tahu bahwa orang yang mempelajari sihir akan mendapat siksa yang amat keras di akhirat kelak. Alangkah buruknya perbuatan mereka. Mereka tahu hal itu sesat, tapi tetap melakukannya. Memang tujuan mereka untuk mencari kelebihan diri, tapi sayang mereka melakukannya dengan cara yang salah, bahkan berlebihan. Mereka menganggap sihir dari pengamalnnya - yang sebenarnya bid'ah - itu sesuatu yang luar biasa bagi kehidupan manusia.
    • Para ulama menjadikan ayat di atas sebagai dalil untuk mengkafirkan orang yang mempelajari sihir, dan diperkuat lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh ABu Bakar al-Bazzar dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: مَنْ أَتَى عَرَّافاً أَوْ كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ "Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, lalu ia mempercayai ucapannya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad."[3]. karena mempercayai pengakuannya terhadap ilmu gaib, dan mempercayai manusia dalam pengakuan mengetahui yang gaib termasuk mendustakan firman Allah: “Katakanlah:"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", (QS. an-Naml:65).
    • {وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا} Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan(QS al-Jin:6).
    Demikianlah artikel ini dipublikasikan, dengan harapan dapat memberi pengetahuan dan pemahaman agar umat Islam lebih berhati-hati dan tidak terjerumus ke dalam amalan yang terlihat Islami, padahal sebaliknya !!!
    Sebarkan !!1 semoga bermanfaat.
                             ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sumber: 
    Bid'ah-bid'ah di Indonesia, hal.121-123, Drs. KH.Badruddin HSubky, Penerbit: Gema Insani Pers.
    ***
    [1]. Tafsir Ibnu Katsir jiilid 1, hal. 362, Syeh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
    [2]. Ahmad Shawwy al-Maliky, Tafsir Shawy, juz 1, hal. 46, dan Fawaidul Makiyyah, hal. 18.
    [3]. Kasyful Astaar (II//443) Shahih: hadits yang serupa dengan ini diriwayatkan secara marfu' dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Hakim (I/49) dan Ahmad (II/429) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami. (no.5939).

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar