Senin, 30 Maret 2015

Pengertian Thariqat, Hakekat, Ma'rifat, Syari'at Dan Memaknainya Menurut Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pembagian istilah Thariqatsyari'at, hakekat dan ma'rifat adalah istilah yang baru (muhdats) yang diada-adakan oleh kaum Shufi. Yang dimaksud hakekat menurut mereka adalah kedudukan seseorang yang telah mencapai maqam (kedudukan) tertentu, sehingga dengan (maqam) itu dapat menggugurkan kewajiban syari'at Islam. Sedangkan syari'at adalah istilah untuk (kedudukan) orang awam yang masih melaksanakan kewajiban syari'at Islam. Istilah Ma'rifat berasal dari kata "Al-Ma'rifah" yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma'rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf. 
Istilah ini pada hakekatnya dapat membatalkan dan menggugurkan ajaran Islam sehingga bisa mengeluarkan orang dari Islam dan keyakinanya. Hal ini berarti telah meninggalkan ajaran-ajaran islam yang haq. 
Rasulullah saw. bersabda: 
 من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
"Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari kami, maka amalan tersebut tertolak,"[1].
Tidak ada thariqat (jalan) selain jalan yang dilalui Rasul, tidak ada hakekat selain hakekat yang dibawa beliau dan tidak ada syari'at selain syari'at beliau. Begitu juga tidak ada keyakinan, melainkan keyakinan yang beliau yakini. Tidak ada seorang pun yang dapat menemui Allah swt., mencapai keridhaanNya, surga dan kemuliaan dari-Nya, melainkan hanya dengan mengikuti Nabi saw. secara lahir maupun batin. Barangsiapa yang belum membenarkan apa yang beliau kabarkan dan tidak konsekuen dalam mentaati apa yang beliau perintahkan, baik itu berkaitan dengan amalan batin yang terdampak di hati, maupun amalan lahir yang dilakukan oleh tubuh, maka ia belum dapat menjadi mukmin sejati, apalagi menjadi wali Allah, meskipun ia memiliki kemampuan luar biasa bagaimana pun wujudnya.


1. Penjelasan

  1. Menyeluruh (Komprehenship). Inilah gambaran dari jalan menuju akhirat, yakni melalui syari'at, thariqat dan haqiqat. Melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu. Tiga jalan ini secara bersama-sama menjadi sarana bagi orang-orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga jalan ini. 
  2. Definisi. Haqiqat tanpa syari'at menjadi batal, dan syari'at tanpa haqiqat menjadi kosong. Sedangkan syari'at tanpa haqiqat, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga. Ini adalah syari'at yang kosong, walaupun ia yakin. Bagi orang ini ada atau tidak ada syari'at sama saja keadaannya, karena masuk surga itu adalah semata-mata anugerah Allah. Syari'at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan. Thariqat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syari'at). Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari'at, sebagai tugas menjalankan firman Allah.
  3. Rahmat dan keadilan Allah. Pada dasarnya kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dengan tidak memikirkan bahwa amal perbuatannya itulah yang akan menyelamatkannya dari siksaan neraka, atau menjadikannya masuk surga. Atau ia beranggapan tanpa amal ia akan masuk neraka, atau beranggapan hanya dengan amal ia akan masuk surga.Sebenarnya ia harus berpikir dan meyakini bahwa semua amalannya hanya semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Seperti firman Allah: "Fa'budillâh Mukhlishan Lahuddîn". Apabila Allah Ta'ala menganugerahkan pahala atas amal perbuatannya hanyalah merupakan karunia Allah belaka. Demikian juga apabila menyiksanya, maka itu semua merupakan keadilan Allah jua, yang tidak perlu dipertanyakan pertanggungjawabannya.
  4. Pendapat. Hasan Basri mengatakan bahwasannya ilmu haqiqat tidak memikirkan adanya pahala atau tidak dari suatu amal perbuatan. Akan tetapi tidak berarti meninggalkan amal perbuatan atau tidak beramal. Sayyidina Ali RA, mengatakan: Barangsiapa beranggapan, tanpa adanya perbuatan yang sungguh-sungguh, ia akan masuk surga, maka itu adalah hayalan, sedangkan orang yang beranggapan bahwa dengan amal yang sungguh-sungguh dan bersusah payah ia akan masuk surga, maka hal itu sangat sia-sia. Orang pertama adalah mutamanni dan orang yang kedua adalah muta' anni.

2. Wajib Bersyari'at


Thariqat dan haqiqat bergantung kepada syari'at. Dua tahapan itu tidak akan berhasil ditempuh oleh para penuntut, kecuali melalui syari'at. Dasar pokok ilmu syari'at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebab ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah serta ibadah muamalah tercantum dengan jelas dalam ilmu syari'at. 
Siapa pun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari'at, walaupun ia ulama sufi yang besar dan piawai, atau wali sekalipun. Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari'at untuk mencapai thariqat sangat tersesat dan menyesatkan.
Karena syari'at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat. Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibannya walaupun seseorang telah mencapai tingkat wali. Bahkan ibadah syari'atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa. Umpamanya mutu ibadah seorang waliyullah melebihi mutu ibadah orang-orang awam. Sebagaimana Rasulullah SAW, ketika mendirikan shalat dengan penuh kekhusyuan dan begitu lama berdiri, ruku' dan sujudnya, sehingga dua kakinya menjadi membengkak, karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.


3. Ittiba' (Mengikuti dan Mencontoh Rasulullah saw.)

Barangsiapa yang beranggapan bahwa orang yang berbuat hal-hal aneh dan berlebh-lebihan dalam beribadah itu wali Allah, padahal mereka tidak berittiba' kepada Rasul saw. baik dalam ucapannya maupun perbuatannya, bahkan menganggap mereka mempunyai kelebihan dibanding dengan orang-orang yang ittiba' (mengikuti) Rasulullah saw., maka ia (orang yang berkeyakinan seperti ini) adalah ahli bid'ah yang sesat dan menyimpang dalam dalam keyakinannya. Sesungguhnya orang tadi, kalau bukan syaithan (berujud manusia), boleh jadi seorang gila yang tidak mukallaf.
Adapun mereka yang beribadah dengan metode meditasi dan menyepi, bahkan sampai meninggalkan shalat Jum'at dan shalat berjama'ah, mereka termasuk golongan orang-orang yang tersesat dalam upayanya itu di dunia, namun mereka beranggapan bahwa mereka telah berbuat baik.
Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-kahfi: 
قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَـٰلاً (١٠٣) ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُہُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّہُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا (١٠٤)
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (103) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (104).
Keyakinan itu sudah terpatri dalam hati mereka.
Nabi saw. bersabda:
 مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ (رواه الترمذي
"Barangsiapa yang meninggalkan shalat jum'at (berjama'ah) sebanyak tiga kali, karena malas dan bukan karena udzur, maka Allah akan menutup pintu hatinya."[2].
Maka setiap orang yang menyeleweng dari ittiba' kepada Rasulullah saw. kalau dia seorang berilmu, maka ia orang yang akan dimurkai Allah. Dan kalau ia tidak berilmu, maka ia termasuk orang yang sesat.


4. Memaknai Kisah Musa dan Khidir

Adapun orang yang bertumpu kepada kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir, mengenai dibolehkannya seseorang meninggalkan petunjuk wahyu dengan mengikuti ilmu Laduni yang diyakini adanya oleh orang yang kehilangan taufiq ilahi, maka sesungguhnya Nabi Musa tidaklah diutus kepada Nabi Khidir, sehingga Nabi Khidir tidaklah diperintahkan untuk ber-ittiba' kepadanya. Oleh sebab itu, beliau bertanya kepada Nabi Musa: "Apakah engkau Musanya Bani Israil?" Nabi Musa menjawab: "Benar." Sedangkan Nabi Muhammad saw. diutus kepada segenap jin manusia. Bahkan kalau Nabi Isa a.s. turun ke bumi kelak, beliau juga hanya berhukum dengan syari'atnya Rasulullah Muhammad saw.
Maka barangsiapa yang berkeyakinan bahwa dirinya bersama Rasulullah saw. dapat disejajarkan dengan posisi Nabi Khidir dengan Nabi Musa, atau ia berpendapat bahwasanya hal tersebut mungkin berlaku bagi salah seorang diantara manusia, maka orang itu harus memperbaharui Islamnya kembali dan mengucapkan syahadat kembali dengan benar. Karena ia telah keluar dari dienul Islam secara mutlak. Dan tidak mungkin digolongkan menjadi wali-wali Allah, tetapi justru ia tergolong wali-wali syaithan. Konteks ini akan membedakan antara siapa yang zindiq dan siapa yang lurus.
Wallaahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
        ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Sumber:
Syarah Aqidah ASWJ hal.423-427, Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/tasawuf/allsub/243/syariat-thariqat-haqiqat.html
***
[1]. H.R.Muslim (no. 1718(18), Abu Daud (n0.4606) dan Ibnu Majah (no.14) dari 'Aisyah.
[2]. H.R. Abu Daud (no.1052), Timidzi (no.300), Ibnu Majah (no.1123), dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar