Rabu, 04 Februari 2015

Pengertian Tafsir, Ta'wil, Adab Dan Syarat Seorang Penafsir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir artinya penjelasan pengungkapan. Ta'wil berasal dari aul yakni kembali; seolah-olah memalingkan  ayat kepada makna yang dikandungnya. Abu Thalib al-Tsa'laby berkata: Tafsir ialah menjelaskan status lafadz, apakah ia hakikat atau majaz (kiasan), seperti menafsirkan ash-shiraath dengan ath-thariq (jalan), Sh-shaiyyih dengan al-mathar (hujan). Ta'wil ialah menafsirkan bathin lafadz, yaitu mengungkapkan tentang hakekat maksudnya, seperti firman Allah (artinya): "Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi" (Q.S.Al-Fajr: 27). Ta'wilnya ialah peringatan bagi orang yang mengabaikan perintah Allah dan melalaikan persiapan untuk pemeriksaan akibat di hadapan Allah. Para ulama sepakat bahwa tafsir termasuk fardhu kifayah dan ilmu syari'at yang mulia.

1. Syarat Dan Adab Mufasir

  • Merujuk kepada al-Qur'an, hadits, dan pendapat para shahabat. Barangsiapa hendak menafsirkan al-Qur'an hendaknya ia mencarinya dari al-Qur'an. Sebab apa yang disebutkan secara global di dalam suatu ayat mungkin telah ditafsirkan dalam ayat lain, atau apa yang disebutkan secara ringkas di dalam suatu ayat, mungkin telah dirinci di tempat lain. Jika tidak didapatkannya maka hendaklah ia mencarinya dari sunnah, sebab ia merupakan penjelas bagi al-Qur'an. Jika tidak didapatkan dari sunnah, maka hendaklah ia kembali kepada pendapat para shahabat, sebab merekalah yang lebih mengetahuinya dan yang langsung menyaksikan bukti-bukti dan situasinya pada waktu diturunkan, disamping memiliki pemahaman yang sempurna.
  • Memilih yang terkuat argumennya. Apabila  terjadi pertentangan antara pendapat para shahabat itu sendiri, maka diambil pendapat yang lebih kuat dari segi argumentasinya, misalnya perbedaan mereka tentang makna huruf-huruf hija' (potongan ) di awal surat, dikeluarkan pendapat yang mengatakan bahwa ia adalah sumpah.
  • Di dalam al-Burhan, al-Zarkasyi menyebutkan empat pengambilan bagi seorang mufassir. Pertama, riwayat dari Rasululllah saw. Kedua, pendapat para sahabat. Ketiga keumuman bahasa, sebab al-quran dituruankan dengan bahasa Arab. Keempat, penafsiran dengan apa yang menjadi tuntutan (konsekuensi) makna kalimat dan tujuan syari'at" dan inilah yang pernah didoakan Nabi saw. kepada Ibnu Abbas r.a.: "Ya Allah, faqihkanlah dia mengenai masalah agama dan ajarkan lah dia ta'wil." Dan, yang dimaksudkan Ali r.a. dengan perkataannya: "Kecuali pemahaman tentang al-Qur'an yang diberikan (Allah) kepada seseorang."

2. Metode Penafsiran Yang Dilarang

  • Penafsiran dengan akal. Tidak boleh menafsirkan al-Qur'an dengan ra'yu (pemikiran) dan hawa nafsu tanpa dalil syar'i, Sabda Nabi saw.:"Barangsiapa berbicara tentang al-Qur'an dengan pemikirannya semata kemudian benar maka itu pun tetap dinilai salah." (H.R. Abu Daud, Turmudzi dan Nasa'i). Dalam sabdanya yang lain: "Barangsiapa berkata tentang al-Qur'an tanpa pengetahuan maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka." (H.R. Abu Daud). Tetapi dibolehkan menafsirkan dengan cara membawa ayat kepada makna yang sesuai dengan apa yang sebelum dan sesudahnya dikandung oleh ayat, tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan hadits, dari jalan istinbath, seperti firman Allah swt. ٱنفِرُواْ خِفَافً۬ا وَثِقَالاً۬:"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat." (Q.S. At-Taubah: 41). Dalam penafsirannya dikatakan: "Baik muda maupun tua, baik kaya aataupun miskin, baik bujangan ataupun sudah menikah, baik gesit ataupun tidak, baik sehat ataupun sakit." Kesemua penafsiran ini dibolehkan karena masih dalam kandungan makna ayat.
  • Penafsiran yang bertentangan dengan ayat dan syari'at. Adapun menta'wilkan yang bertentangan dengan ayat dan syari'at maka tidak diperbolehkan karena merupakan penta'wilan orang-orang yang bodoh, sepert penta'wilan firman Allah: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu." (Q.S.Ar-Rahman: 19) Yakni Ali dan Fathimah. "Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."(Q.S. Ar-Rahman: 22). Yakni Hasan dan Husain. Pena'wilan seperti ini jelas keliru dan menyesatkan.

3. Penafsiran Ahli Bid'ah dan Orang Fasik

Hendaklah diketahui bahwa tidak akan tercapai pemahaman yang benar tentang makna wahyu dan tidak akan nampak rahasia-rahasianya bagi orang yang di hatinya masih ada bid'ah, kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia, tidak konsekwen dengan keimanan atau berpegang teguh kepada pendapat seorang mufassir yang tidak berilmu atau kembali hanya kepada pendapatnya sendiri. Kesemuanya itu merupakan pendiding dan penghalan kebenaran dan cahaya Allah.
Allah Ta'ala telah berfirman: 
سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَـٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ 
"Aku akan memalingkan orang-orang yang meyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku." (Q.S. Al-A'raf: 146).
Berkata Sofyan bin 'Uyainah: "Ia berfirman: Aku akan cabut pemahaman al-Qur'an dari mereka."

4. Rahasia Ilmu-Ilmu Al-Qur'an

  1. Hanya diketahui Allah. Ilmu yang tidak diberikan Allah kepada siapapun dari makhluk-Nya. Ilmu ini hanya Allah yang mengetahuinya, seperti rahasia-rahasia kitab-Nya, hakikat dan Dzat-Nya dan keghaiban-keghaiban-Nya yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah. Mengenai hal ini kita tidak boleh membicarakannya.
  2. Diberitahukan kepada Nabi. Ilmu yang telah Allah berikan hanya kepada Nabi-Nya, seperti rahasia-rahasia Al-Qur'an. Menyangkut ini tidak ada yang boleh membicarakannya kecuali Nabi saw. atau orang yang diizinkannya. Dikatakan bahwa huruf-huruf potongan di awal surat termasuk ke dalam bagian ini. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia termasuk ke dalam bagian yang pertama.
  3. Diberitahukan lewat Kitab. Ilmu-ilmu yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya dan dituangkan ke dalam kitab-Nya dalam bentuk makna-makna yang jelas dan kurang jelas serta diperintahkan-Nya untuk mempelajarinya. Ilmu jenis ini terbagi atas 2 macam: 1. Kita tidak boleh membahasnya kecuali dari jalan "mendengar" (riwayat) yaitu menyangkut asbab nuzul, nasakh dan mansukh, qira'at,, bahasa Arab, Kisah-kisah umat terdahulu, khabar tentang hari Kiamat dan kebangkitan. 2. Ilmu yang dapat kita peroleh melalui istinbath, membaca dalil-dalilnya dan menyimpulkan dari lafadz-lafadznya. Pada bagian ini juga terbagi kepada dua bagian yang diperselisihkan kebolehannya, yaitu mena'wilkan ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Allah. Dan bagian yang disepakati kebolehannya, yaitu mengistinbath hukum-hukum pokok dan cabang dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang telah disepakati oleh para ulama.


5. Beberapa Contoh Penafsiran Sesat

Perkataan-perkataan kaum sufi (yang sesat) tentang al-Qur'an, tidak dapat dikatakan sebagai tafsir, sebab mereka mengatakan, misalnya: Sesungguhnya nash-nash itu tidak bersifat zhahir tetapi mempunyai makna-makna bathin yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang diajarkan (kaum sufi).
Firman Allah Ta'ala:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا لَا يَخۡفَوۡنَ عَلَيۡنَآ‌ۗ
"Sesunggunya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami."(Q.S.Fushshilat: 40).
Ibu Abbas r.a. berkata: Yakni meletakkan ayat tidak pada tempatnya. 
Diantara penafsiran yang sesat ialah orang yang menafsirkan (حم) dan (عسق) ;
ح dengan =perang antara Ali dengan Mua'wiyah, م=wilayat al-Mirwaniyah, ع=wilayat Abbasiyah, س،= wilayah Sofyaniyah, ق=Qudwah Mahdi.
Contoh lain tentang penafsiran yang tidak ada faedahnya sama sekali ialah perselisihan mereka tentang  warna dan nama anjing ashhabul kahfi, ukuran prahu nabi Nuh dan jumlah kaumnya, nama anak yang dibunuh Khidir dan lain-lain.
Semoga bermanfaat.
  ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ  
Sumber:
Apa Itu Al-Qur'an hal.94-99, Imam As-Suyuthi, Penerbit: Gema Insani Pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar