Senin, 02 Februari 2015

Pengertian Ayat Muhkam dan Mutasyabbih Dalam Al-Qur'an

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Mengenai masalah ayat-ayat muhkam dan mutasyabih ini terdapat tiga pendapat:
Pertama: Bahwa al-Qur'an seluruhnya adalah muhkam, mengingat firman Allah: كِتَـٰبٌ أُحۡكِمَتۡ ءَايَـٰتُهُ "Inilah kitab yang dijelaskan (uhkimat) ayat-ayatnya" (Q.S. Hud: 1).
Kedua: Bahwa al-Qur'an seluruhnya adalah mutasyabih, mengingat firman Allah:كِتَـٰبً۬ا مُّتَشَـٰبِهً۬ا مَّثَانِىَ "(yaitu) al-Qur'an yang mutasyabih dan berulang-ulang..." (Q.S. Az-Zumar: 23).
Ketiga dan yang paling kuat: Ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih, dengan beralasan kepada kedua ayat tersebut di atas. Sebab, maksud uhkimat ayatuhu dalam ayat di bawah menjelaskan tentang kesempurnaan al-Qur'an dan tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnya. Sedangkan maksud mutasyabih dalam kebenaran, kebaikan dan kemu'jizatan.
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِنۡهُ ءَايَـٰتٌ۬ مُّحۡكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌ۬‌ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ‌ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab [Al Qur’an] kepada kamu. Di antara [isi]nya ada ayat-ayat yang muhkamaat. itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain [ayat-ayat] mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal. (7).(Q.S. Ali-Imran: 7).

1. Definisinya

Para ulama, masih belum satu kalimat dalam mendefinisikan muhkam dan mutasyabih ini. Diantara beberapa pendapatnya adalah sebagai berikut:
  1. Muhkam ialah ayat yang maksudnya dapat diketahui, baik secara nyata maupun melalui ta'wil. Sedang Mutasyabih ialah ayat yang hanya diketahui oleh Allah seperti masalah Kiamat, munculnya Dajjal dan potongan huruf-huruf hija' di awal surat.
  2. Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya, dan mutasyabih ialah ayat yang tidak jelas maknanya.
  3. Muhkam ialah ayat yang hanya mengandung satu pena'wilan dan mutasyabih ialah ayat yang mengandung beberapa kemungkinan penakwilan.
  4. Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan mutasyabih ialah ayat yang tidak sempurna pemahamannya kecuali dengan merujuk kepada ayat lainnya.
  5. Muhkam ialah ayat yang tidak dihapuskan dan mutasyabih ialah ayat yang sudah dihapuskan.

2. Contah-Contoh Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Para ulama memberiikan contoh ayat-ayat Muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal, haram, hudud (hukuman), kewajiban, janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayat-ayat mansukh dan ayat-ayat tentang Asma Allah dan sifat-sifat-Nya, antara lain: 
1. Contoh ayat muhkam
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “ hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. (Al-Hujarat: 13).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
Artinya: “hai manusia, sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 21).
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah: 275).

2. Contoh ayat Mutasyabih
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya: “ yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy”(Thaha: 5).
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Artinya: “ tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah”. (Al-qashash: 88)
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Artinya: “tangan-tangan Allah diatas tangan mereka”. (Al-Fath: 10).

3. Jenis-Jenis Mutasyabih 

1. Mutasyabih dari segi Lafadz
a. Yang dikembalikan kepada lafadz yang tunggal yang sulit pemaknaannya 
b. Lafadz yang dikembalikan kepada bilangan susunan kalimatnya, yang seperti ini ada tiga macam :
1. Mutasyabih karena ringkasan kalimat,
2. Mutasyabih karena luasnya kalimat,
3. Mutasyabih karena susunan kalimat
2. Mutasyabih dari segi maknanya
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya.semua sifat yang demikian tidak dapat di gambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dipahami oleh siapapunn.
3. Mutasyabih dari segi lafadz dan makna
Mutasyabih da;lam segi ini menurut As-suyuthi, ada lima macam
-Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafaz umum dan khhusus
-Mutasyabih dari segi caranya, seperti perintah wajib dan sunnah
-Mutasyabih dari segi waktu
-Mutasyabih dari segi tempat dan suasana ayat itu diturunkan
-Mutasyabih dari segi syarat-syarat sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan, misalnya ibadah shalat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya.
-Pembagian ayat-ayat Mutasyabihat dalam Al-Qur’an.

4. Bisakah Ayat Mutasayabih Diketahui Maknanya ?

Al-Zarqani membagi ayat-ayat mutasyabihat menjadi tiga macam :
  1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya. Allah berfirman Q.S. al-An’am [6]: 59:  وَعِنْدَه مَفَـاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُـهُا اِلاَّ هُوَ.... Artinya : Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri....
  2. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamanya. Allah berfirman Q.S. an-Nisa’[4]: 3:  وَاِنْ خِفْـتُمْ اَلاَّ تُقْسِطُوْا فِى الْيَتمى فَانْكِحُوْا مَاطَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ.... Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi....      Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidak jelasanya timbul karena lafalnya yang ringkas. Kalimat asal berbunyi : وَاِنْ خَفْـتُمْ اَنْ لاَ تُقْسِطُوْا فِى اليَتمى اِذَا تَـزَوَّجْـتُمْ بِهِنَّ فَانْكِحُوْا مَاطَابَ  لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ.... Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim sekiranya kamu kawini mereka, maka kawinilah wanita-wanita selain mereka. 
  3. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulama. Inilah yang diisyaratkan Nabi dengan doanya bagi Ibnu Abbas: اَللَّهُمَّ فَقِّهْـهُ فِى الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam Agama, dan ajarkanlah kepadanya takwil."


    5. Ayat-Ayat Mutasyabbih dan keterangan Tasyabuhnya

    Pada bagian ini, dapat kami berikan beberapa contoh ayat-ayat mutasyabih beserta sedikit keterangan terhadap tasyabuh (kesamarannya). 
    الرحمن على العرش استوى 
    “(Allah) Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS Thaha [20]: 5). 
    • Kaum Salaf menanggapi ayat di atas dengan mengemukakan sebuah riwayat. Pada suatu hari Imam Malik ditanya tentang makna istawa (bersemayam). la menjawab: “Lafadh istawa dapat dimengerti, tentang bagaimananya tidak dapat diketahui. Pertanyaan mengenai itu adalah bid’ah. Aku kira ia (orang yang bertanya itu) berniat buruk.” Kemudian ia memerintahkan sahabatnya, “Singkirkan dia dariku.” 
    • Ad-Darimi mengemukakan sebuah riwayat, berasal dari Sulaiman ibn Yassar. Bahwa seorang terkenal dengan nama Ibn Shubaigh datang ke Madinah untuk menanyakan ayat-ayat Alquran yang mutasyabihat. Khalifah Umar ibn Khaththab kemudian memanggilnya dan sambil menunggu kedatangannya ia menyiapkan sebatang tangkai mayang kurma. Setelah tiba, Khalifah Umar bertanya, “Engkau siapa?”. Orang itu menjawab, “Aku Abdullah ibn Shubaigh.” tanpa berkata lebih jauh, Khalifah Umar memukul Abdullah dengan tangkai mayang yang sudah disiapkan hingga kepala Abdullah berdarah. Menurut versi lain, setelah itu Khalifah Umar menulis surat kepada Abu Musa al-’Asy’ary (yang ketika itu menjabat selaku kepala daerah Basrah) memerintahkan agar kaum muslimin jangan boleh bergaul dengan Abdullah ibn Shubaigh
    Dari kedua riwayat di atas, tampak jelas bahwa kaum Salaf tidak menghendaki adanya pemberian makna yang dikira-kira terhadap ayat mutasyabih. Sementara kaum Khalaf sendiri memberikan interpretasi terhadap istawaa (bersemayam) dengan maha berkuasa menciptakan segala sesuatu tanpa susah payah. 
    Mereka kaum Khalaf mengartikan kedatangan Allah dengan kedatangan perintahNya. 
    وجاء ربك والملك صفا صفا 
    Artinya: ”dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris”. (QS Al-Fajr [89]: 22). 
    Kata fauqa (di atas) mereka artikan ketinggian yang bukan arah dan jurusan. 
     وهو القاهر فوق عباده ويرسل عليكم حفظة حتى إذا جاء أحدكم الموت توفته رسلنا وهم لا يفرطون 
    Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS Al-An’am [6]: 61). 
    Kata di sisiNya mereka artikan kewajiban terhadapNya.
    أن تقول نفس يا حسرتى على ما فرطت في جنب الله وإن كنت لمن الساخرين 
    Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah) (az-Zumar (39): 56. 
    Wajah Allah diartikan Dzat Allah 
     ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام 
    Artinya:”dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS Ar-Rahman [55]: 27). 
    MataKu diartiakan inayahKu (pertolonganKu).
    أن اقذفيه في التابوت فاقذفيه في اليم فليلقه اليم بالساحل يأخذه عدو لي وعدو له وألقيت عليك محبة مني ولتصنع على عيني Yaitu: ‘Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya’. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di atas mataku (QS Thaha [20]: 39). 
    Tangan Allah diartikan kekuatan.
    إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيہِمۡ‌ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَـٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمً۬ا
    Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (QS Al-Fath [48]: 10).  
    Diri-Nya diartikan hukumanNya.
    لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَٮٰةً۬‌ۗ وَيُحَذِّرُڪُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُ ۥ‌ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ
    Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). Artinya:”dan Allah memperingatkan kamu terhadap diriNya.” (QS Ali Imran: 28). 

      6. Hikmah Diturunkannya Ayat-Ayat Mutasyabih

      1. Merangsang Penelitian. Mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya; sehingga dengan demikian akan manambah pahalanya. 
      2. Tidak kaku satu penafsiran. Seandaianya al-Qur'an seluruhnya muhkam niscaya hanya ada satu madzhab, sebab kejelasannya itu akan membatalkan semua madzhab yang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan para penganut madzhab tidak mau menerima dan memanfaatkannya.
      3. Melahirkan aneka disiplin ilmu untuk dapat memahaminya, seperti ilmu bahasa, gramatika, ma'any, bayan, ushul fiqih dll.
      4. Merangsang kreatifitas Mubaligh. Al-Qur'an berisi da'wah kepada orang-orang tertentu dan umum. Orang awam biasanya tidak menyukai hal-hal yang abstrak. Karena itu jika mereka mendengar sesuatu yang ada tetapi tidak berwujud fisik dan berbentuk, maka ia akan menyangka hal itu tidak benar. Ini menjadi tantangan bagi para penda'wah untuk berfikir lebih dalam mencari cara untuk dapat meyakinkannya.
      Semoga bermanfaat.
      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ  
      Sumber:
      Apa Itu Al-Qur'an hal. 85-90, Imam As-Suyuthi, Penerbit: Gema Insani Pers.
      http://ruzirahmawati.blogspot.com/2011/12/ayat-muhkam-dan-mutasyabih.html
      http://meutia-s.blogspot.com/2012/04/muhkam-dan-mutasyabih.html
      https://id-id.facebook.com/gnerasi.robbaniyyun/posts/734729903211169
      Al-Qur'an Online

      1 komentar:

      1. TERIMAKSIH ATAS TULISANNYA....
        TELAH LAMA SAYA MENCARI PENJELASAN INI

        BalasHapus