Senin, 08 Desember 2014

Pengertian Nadzar (Kaul), Hukum, Jenis dan Kafaratnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Nadzar atau kaul secara etimologis (lughawi) adalah berjanji akan melakukan sesuatu yang baik atau buruk. Dalam terminologi syariah nadzar adalah menetapkan atau mewajibkan melakukan sesuatu yang secara syariah asalnya tidak wajib.
Nadzar adalah iltizam (mengkonsekuenkan diri) bertaqarrib pada hal-hal yang tidak semestinya ada, menurut syari'at dengan suatu ungkapan kata yang terasa. Seperti orang berkata: "Karena Allah, aku wajib bersedekah sebesar....." atau "Jika Allah menyembuhkan penyakitku, aku akan berpuasa selama ..... " dan lain-lain yang semestinya. Nadzar seseorang tidak dinyatakan sah kecuali dari orang yang baligh, berakal, dan mampu memilih sekalipun kafir.

1. Sejarah Nadzar

Allah swt. mengisahkan ibu dari Maryam yang menadzarkan isi kandungannya kepada Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:
فَلَمَّا وَضَعَتۡہَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّى وَضَعۡتُہَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰ‌ۖ وَإِنِّى سَمَّيۡتُہَا مَرۡيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ 
Maka tatkala isteri ’Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada [pemeliharaan] Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (Q.S. Ali-Imran:36).
Dan Allah telah memerintahkan Maryam dengan firman-Nya:
 فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدً۬ا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَـٰنِ صَوۡمً۬ا فَلَنۡ أُڪَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيًّ۬ا 
...  Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ’Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusiapun pada hari ini.’" (Q.S. Maryam:26).

2. Keutamaan Menghindari Nadzar

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah r.a.: Sikap Islam, sekalipun telah disyari'atkan nadzar, akan tetapi tidak mensunnahkan. 
Menurut Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. mencegah nadzar dan bersabda:
 إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ 
"Sesungguhnya nadzar itu tidak akan mendatangkan kebaikan karena sesungguhnya nadzar itu hanyalah dilaksanakan oleh orang yang sifatnya bakhil." [1].
Berlakunya Nadzar. Nadzar dikatakan sah dan mengikat belaku jika dimaksudkan untuk bertaqarrub kepada Allah swt. dan wajib dipenuhi. Adapun nadzar dengan maksud untuk bermaksiat kepada Allah swt., dinyatakan tidak sah. Misalnya bernadzar pada kuburan-kuburan, hendak mengunjungi ahli maksiat, hendak meminum khamar, hendak membunuh, dll. Nadzaar yang demikian tidak wajib memenuhinya dan tidak ada kafarat (denda) atasnya, karena nadzarnya tidak sah. Rasulullah saw. bersabda:  
لا نذر في معصية 
Artinya: Tidak ada nadzar dalam maksiat ...[2]
Ada juga yang berpendapat bahwa dalam hal ini ia wajib membayar kafarat supaya jera alias kapok.[3].
Nadzar yang Mubah (Dibolehkan). Misalnya: "Karena Allah, aku wajib menumpang kereta ini, atau aku memakai pakaian ini". Menurut jumhur ulama, hal seperti ini tidak seperti kategori nadzar dan tak ada konsekuensinya sedikitpun. Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Nabi saw. pada waktu beliau berpidato menatap seorang Baduwi yang berdiri di tengah terik matahari, beliau bertanya: "Apa ikhwalmu ini?" (Orang tersebut) menjawab: "Aku berdazar, bahwa aku tidak meninggalkan terik matahari sebelum Rasulullah selesai berpidato." Lalu Rasulullah saw. bersabda: "Ini sih bukan nadzar. Sesungguhnya nadzar itu dalam urusan yang ada kaitannya dengan mengharap ridha Allah."
Nadzar Bersyarat. Adalah nadzar bertaqarrub ketika datangnya nikmat atau menolak bahaya (kesusahan), seperti perkataan: "Jika Allah menyembuhkan penyakitku, maka aku akan memberi makan 30 orang fakir miskin," atau "Jika cita-citaku dikabulkan Allah, aku akan melakukan...." Nadzar jenis ini wajib dipenuhi jika tuntutan telah tercapai.
Nadzar Tidak Bersyarat. Atau nadzar mutlak, yaitu nadzar karena Allah, tanpa ada kaitan apa pun. Seperti: "Aku akan mengerjakan shalat 2 rakaat." Untuk nadzar jenis ini wajib dipenuhi,karena termasuk dalam sabda Rasulullah saw. yang berbunyi:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ 
Artinya: Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut. ...[4].
Nadzar Yang Haram. Misalnya nadzar yang ditujukan kepada orang-orang yang telah mati, seperti seseorang berkat:"Wahai si A, jika barang hilangku ketemu,atau jika sakitku disembuhkan, maka aku akan memberikan sejumlah makanan atau lilin atau minyak wangi." 
Nadzar yang ditujukan kepada orang yang telah mati adalah nadzar yang tidak benar, karena:
1. Nadzar untuk makhluk tidak dibolehkan, nadzar ibadah hanya boleh ditujukan untuk Allah semata.
2. Orang yang sudah mati tidak bisa memiliki itu semua.
3. Jika seseorang mengira bahwa orang mati bisa berbuat berbagai masalah (selain Allah), maka itikad semacam itu suatu kekafiran.
Kecuali perkataan: "Ya Allah, aku bernadzar untuk-Mu, jika Engkau telah mengembalikan barangku yang hilang, aku akan memberikan sedekah untuk orang-orang miskin, atau aku akan membelikan karpet untuk masjid." dll.


3. Membatalkan Nadzar, Bolehkah ?

Membatalkan, mempunyai 2 pengertian sebagai berikut:
  1. Menarik kembali kalimat nadzar yang telah diucapkanSemacam ini tidak dibolehkan, karena para ulama menegaskan bahwa kalimat nadzar yang diucapkan pelaku, sifatnya mengikat dan tidak bisa ditarik kembali. Umar bin Khatab mengatakan, أَرْبَعٌ جَائِزَةٌ فِي كُلِّ حَالٍ الْعِتْقُ، وَالطَّلَاقُ، وَالنِّكَاحُ، وَالنَّذْرُ Artinya: “Empat hal dianggap sah, apapun keadaannya: membebaskan budak, talak, nikah, dan nadzar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 18403). Yang dimaksud menarik kembali ucapan nadzar adalah si pelaku mencabut nadzar yang dia ucapkan, kemudian dia beranggapan seolah belum mengucapkan kalimat nadzar tersebut. Hanya saja, para ulama memberikan pengecualian satu nadzar yang wajib ditarik kembali, yaitu nadzar kesyirikan. Misalnya orang bernadzar untuk makhluk yang dia agungkan, seperti Husein atau bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nadzar semacam ini wajib ditarik kembali, dan pelaku wajib bertaubat karena telah melakukan kesyirikan. (Simak, Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abdullah bin Salam, Hal. 83). Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِه Artinya; Siapa yang bernadzar untuk menaati Allah, maka dia wajib mentaati-Nya. Dan siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya. (HR. Bukhari no. 6696).
  2. Tidak melaksanakan isi nadzar. Al-Mardawi memberikan rincian yang bagus untuk orang yang tidak melaksanakan isi nadzarnya. Beliau membedakan berdasarkan ada dan tidaknya udzur untuk tidak melaksanakan nadzar tersebut. Beliau mengatakan وإن نذر صوم شهر معين فلم يصمه لغير عذر ، فعليه القضاء وكفارة يمين ـ بلا نزاع ـ وإن لم يصمه لعذر ، فعليه القضاء ـ بلا نزاع ـ وفي الكفارة روايتان ( يعني عن الإمام أحمد ) والمذهب : أن عليه الكفارة أيضاً ، وصححه ابن قدامه وغيره Jika ada orang yang nadzar puasa di bulan tertentu, kemudian dia tidak berpuasa tanpa Ada udzur, maka dia wajib qadha dan membayar kaffarah sumpah –tanpa ada perselisihan–. Namun jika dia tidak melaksanakan puasa nadzarnya di bulan itu karena udzur, maka dia wajib qadha –tanpa ada perbedaan pendapat–. Sementara, apakah dia wajib membayar kaffarah? Ada dua keterangan dari Imam Ahmad. Pendapat yang dikuatkan para ulama Madzhab Hanbali, dia juga wajib kaffarah, dan pendapat ini dikuuatkan oleh Ibnu Qudamah dan yang lainnya (al-Inshaf, 16:439)
Kaffarah nadzar sama dengan kaffarah sumpah

4. Kafarat (denda) Nadzar

Jika nadzar yang diucapkan mampu ditunaikan, maka wajib ditunaikan. Namun jika nadzar yang diucapkan tidak mampu ditunaikan atau mustahil ditunaikan, maka tidak wajib ditunaikan. Seperti mungkin ada yang bernadzar mewajibkan dirinya ketika pergi haji harus berjalan kaki dari negerinya ke Makkah, padahal dia sendiri tidak mampu. Jika nadzar seperti ini tidak ditunaikan lantas apa gantinya?
Barangsiapa yang bernadzar taat, lalu ia tidak mampu menunaikannya, maka nadzar tersebut tidak wajib ditunaikan dan sebagai gantinya adalah menunaikan kafarah sumpah. yakni:
1. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau
2. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau
3. Memerdekakan satu orang budak atau
4. Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari. 
لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِىٓ أَيۡمَـٰنِكُمۡ وَلَـٰكِن يُؤَاخِذُڪُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَـٰنَ‌ۖ فَكَفَّـٰرَتُهُ ۥۤ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَـٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٍ۬‌ۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَـٰثَةِ أَيَّامٍ۬‌ۚ ذَٲلِكَ كَفَّـٰرَةُ أَيۡمَـٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡ‌ۚ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَـٰنَكُمۡ‌ۚ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud [untuk bersumpah], tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat [melanggar] sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah [dan kamu langgar]. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur [kepada-Nya]. (Q.S. Al-Ma'idah: 89).
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah 12, hal. 21-41, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-ma'arif-Bandung
https://www.facebook.com/BelajarHukumIslam/posts/529062040468782
http://www.konsultasisyariah.com/membatalkan-nadzar/
***
[1]. H.R.Bukhari dan Muslim.
[2]. HR Muslim.
[3]. Jumhur ahli fikih, diantaranya madzhab Maliki dan madzhab Syafi'i.
[4].(HR. Bukhari no. 6696).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar