Selasa, 30 Desember 2014

Makna Percaya Kepada Yang Ghaib Bagi Orang Beriman

Serial Tafsir Istilah Kata
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Pengertian "Ghaib"

Banyak hal yang dianggap ghaib bagi manusia dan beragam pula tingkat keghaibannya. Hal gaib yang dimaksud oleh ayat ini adalah yang diinformasikan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. Dari kedua sumber itu diketahui ada yang gaib mutlak (yang tidak dapat terungkap sama sekali) dan juga ada yang relatif. Jika sesuatu telah dapat anda lihat, raba, atau ketahui hakikatnya, maka sesuatu itu bukan lagi gaib, sebaliknya jika anda tidak tahu hakikatnya, tidak dapat melihat atau merabanya, dan ia diinformasikan oleh al-Qur'an  dan atau sunnah, maka ia ghaib dan menjadi objek iman. Jika demikian, apa yang diimani pastilah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak terlihat atau terjangkau. Puncaknya adalah percaya kepada wujud dan keesaan Allah, serta informasi dari-Nya. Itu pula sebabnya ada yang memahami kata (بِٱلۡغَيۡبِ) bilghaib pada ayat di atas adalah Allah swt. Kalau seseorang percaya kepada puncak itu dengan akal dan kalbu tanpa paksaan, maka apa yang diinformasikan oleh-Nya itu - terlepas apakah dia tahu hakikatnya atau tidak- dia pasti tetap akan percaya.
*****************************************************************
ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ 
[yaitu] mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Q.S. al-Baqarah: 3).
*****************************************************************

2. Maksud Beriman Kepada Yang Ghaib

Dalam menafsirkan ayat "beriman kepada yang ghaib", terdapat berbagai ungkapan ulama Salaf yang beragam dan semua benar serta sesuai dengan apa yang dimaksud, diantaranya:
  • Objek GaibAbu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas dari Abul 'Aliyah, ia mengatakan "Mereka beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, Surga dan Neraka serta pertemuan dengan Allah. Mereka pun mengimani adanya kehidupan setelah kematian serta adanya hari kebangkitan. Dan semua itu adalah perkara gaib."  Hal senada juga dikatakan oleh Qatadah bin Di'amah.[1].
  • Keimanan yang agung. Sa'id bin Manshur meriwayatkan dari 'Abdurrahman bin Yazid, ia mengatakan: "Kami duduk-duduk bersama 'Abdullah bin Mas'ud, maka kami pun mengenang para sahabat Nabi saw. dan apa yang telah mereka lakukan. Maka 'Abdullah bin Mas'ud berkata: 'Sesungguhnya kenabian Muhammad saw. telah jelas bagi orang yang melihatnya. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, tidaklah seseorang itu beriman dengan keimanan yang lebih agung daripada keimanan kepada yang ghaib.' Kemudian ia membacakan surat al-Baqarah ayat 1 -5. [2]. (klik Al-Qur'an Online).
Hal senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih.
Al-Hakim mengatakan: "Hadits ini shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya."

3. Hadits Tentang Beriman Kepada Yang Ghaib

  • Mengenai makna hadits di atas, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan: "Aku pernah berkata kepada Abu Jam'ah:'Beritahukanlah kepada kami sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw!' Ia pun berkata: 'Baiklah, akan aku sampaikan sebuah hadits kepadamu.Kami pernah makan siang bersama Rasulullah saw. Diantara kami ada Abu 'Ubaidah al-Jarrah, lalu ia bertanya: 'Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami, sedangkan kami telah masuk Islam dan berjihad bersamamu?' Maka beliau menjawab: نَعَمْ قَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي  'Ya, ada. Yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku, padahal mereka tidak melihatku. [3].
  • Dari Ibnu Abbas r.a., diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa Rasulullah saw. duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya, “Wahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”. “Malaikat, ya Rasul,” jawab sahabat. “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?” Tukas Rasulullah. “Kalau begitu, para Nabi ya Rasulullah” para sahabat kembali menjawab “Bagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” kembali ujar Rasul. “Kalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rasul”. “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku.” Ujar Rasulullah. Lalu Nabi saw. terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda, “Yang paling menakjubkan imannya,” ujar Rasul “adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatkuMereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.” Kemudian, Nabi saw. meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3,   “Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Berbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku” Nabi saw. mengucapkan itu satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi saw. mengucapkan kalimat kedua itu hingga tujuh kali.
  • Dalam riwayat Ahmad dari Anas r.a, katanya : Rasulullah saw. bersabda , “Aku sangat suka untuk bertemu dengan saudara-saudaraku yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku”.
  • Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita”. Para Sahabat bertanya, “Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? “ Beliau menjawab dengan bersabda: “Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud”. Sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? “ Beliau menjawab dengan bersabda: “Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?”’ Para Sahabat menjawab, “Sudah tentu wahai Rasulullah.’Beliau bersabda lagi: ‘Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat‘. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah kamu semua‘. Maka dikatakan, ‘Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat‘. Maka aku bersabda: Pergilah jauh-jauh dari sini. [4].
Semoga bermanfaat.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ  
Sumber:
Shahih Tafsir Ibnu Katsir I hal. 120-122, SyaikhShafiyyurahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
http://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/mereka-tidak-melihat-rasulullah/
***
[1]. Tafsir ath-Thabari (I/236).
[2]. Sa'id bin Manshur (II/544).
[3]. H.R. Ahmad (IV/106), Dishahihkan oleh Syaikh al-Arna'uth dalam al-Musnad (XXVIII/184, no.16977) cet. ar-Risalah.
[4].(HR Muslim 367)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar