Selasa, 02 Desember 2014

Jumlah Maksimal Bolehnya Berwasiat dan Sebab Batalnya Wasiat

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

kata wasiat (Wasiyyah) menurut bahasa diambil dari kata Washshaitu Asy-syaia, sedangkan menurut istilah syara, wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain baik berupa barang, piutang ataupun manfaat atau pun manfaat untuk dimiliki oleh orang yang dibri wasiat sesudah orang yang berwasiat itu meninggal. Ada pula yang mendefinisikan bahwa Al Washa-ya itu adalah bentuk jamak dari “Wasiyyah”. Wasiat itu menurut hukum syara (istilah) ialah suatu perjanjian khusus yang disandarkan sesuatu sesudah meninggal.
Dasar hukum dari wasiat adalah firman Allah swt :
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 180).


1. Batasan Maksimal Berwasiat

Maksimal 1/3. Diperbolehkan wasiat dengan sepertiga harta, dan tidak diperbolehkan wasiat yang melebihi sepertiga. Yang utama adalah wasiat yang kurang dari sepertiga, sebab telah terjadi ijma' atas hal ini. 
وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَا ذُو مَالٍ ، وَلَا يَرِثُنِي إلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي ؟ قَالَ : لَا قُلْت : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ؟ قَالَ : لَا قُلْت : أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ : الثُّلُثُ ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ ، إنَّك إنْ تَذَرْ وَرَثَتَك أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ  (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya:
Dan dari Sa’d Bin Abi Waqqash r.a. beliau berkata: Saya berkata:,” Ya Rasulullah saya orang yang mempunyai harta yang banyak (kaya) dan tidak ada orang yang mewarisi saya kecuali seorang anak perempuan. Apakah saya sedekahkan dua pertiga hartaku? Nabi menjawab: jangan! lalu saya bertanya lagi: Apakah saya sedekahkan separuhnya?, Beliau menjawab, jangan! Saya bertanya lagi: Apakah saya sedekahkan sepertiganya? Beliau bersabda: "Ya, sepertiga, Sepertiga itu banyak. Sesungguhnya kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan mereka melarat yang akan meminta-minta kepada orang. (H.R.Bukhari, Muslim).
1. 1/3 dari total peninggalan. Jumhur ulama berpendapat bahwa sepertiga itu dihitung dari semua harta yang ditinggalkan oleh pemberi wasiat.
2. 1/3 dari pengetahuan pemberi wasiat. Malik berpendapat bahwa sepertiga itu dihitung dari harta yang diketahui oleh pemberi wasiat, bukan yang tidak diketahuinya atau yang berkembang tetapi dia tidak tahu.
Sepertiga itu dihitung saat dia mewasiatkan atau sesudah dia mati ?
1. 1/3 saat berwasiat. Sepertiga peninggalan di waktu berwasiat (Pendapat An-Nakha'i dan Umar bin Abdul 'Aziz). 
2. 1/3 setelah pemberi mati. Sepertiga itu di waktu pemberi wasiat mati (pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan pendapat yang lebih shahih dari kedua pendapat Asy-Syafi'i) dan inilah pendapat 'Ali dan sebagian Thabi'in.


2. Wasiat Yang Melebihi Sepertiga

Orang yang berwasiat adakalanya mempunyai ahli waris, adakalanya tidak. Bila dia mempunyai ahli waris, maka dia tidak boleh mewasiatkan lebih dari 1/3. Jika dia mewasiatkan lebih dari 1/3, maka wasiatnya tidak dilaksanakan kecuali atas izin dari ahli waris; dan untuk pelaksanaannya, diperlukan 2 syarat:
  1. Waktu permintaan izin dari ahli waris. Dilaksanakan sesudah si pemberi wasiat mati, sebab sebelum mati, orang yang memberi izin itu belum mempunyai hak. Jika ahli waris memberikan izin di waktu yang berwasiat masih hidup, maka mungkin saja wasiat bisa di tarik kembali kalau ingin. Dan bila ahli waris memberikan izin sesudah pemberi wasiat mati, maka wasiat itu dilaksanakan.
  2. Pemberi izin adalah ahli waris yang kompeten. Yakni tidak dibatasi karena kedunguan atau kelalaian, di waktu memberi izin. Bila orang yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris, maka dia pun tidak boleh mewasiatkan lebih dari 1/3 pula. Ini adalah menurut jumhur ulama. Tetapi orang-orang Hanafi, Ishak, Syarik, dan Ahmad dalam satu riwayatnya - yaitu ucapan 'Ali dan Ibnu Mas'ud - memperbolehkan berwasiat lebih dari 1/3 jika tidak mempunyai ahli waris.). Sebab dalalm keadaan ini tidak ada kekhawatiran kemiskinan buat ahli waris, karena wasiat yang ada di dalam ayat adalah wasiat mutlak sehingga dibatasi oleh sunnah dengan "mempunyai ahli waris". Maka wasiat mutlak itu tetap terjadi bagi orang yang tidak mempunyai ahli waris.

3. Batalnya Wasiat

Wasiat itu batal dengan hilangnya salah satu syarat dari syarat-syarat yang telah disebutkan, misalnya sebagai berikut:
  • Pemberi wasiat gila. Bila orang yang berwasiat itu menderita penyakit gila yang parah yang mengantarkannya kepada kematian.
  • Penerima mati lebih dulu. Bila orang yang diberi wasiat mati sebelum orang yang memberinya.
  • Barang rusak. Bila yang diwasiatkan itu barang tertentu yang rusak sebelum diterima oleh orang yang diberi wasiat.

4. Ayat-Ayat Al-Qur'an Yang Berhubungan Dengan Wasiat

1. Surat al-Baqarah: 132
وَوَصَّىٰ بِہَآ إِبۡرَٲهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. [Ibrahim berkata]: "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

2. Surah al-Baqarah: 180
كُتِبَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ إِن تَرَكَ خَيۡرًا ٱلۡوَصِيَّةُ لِلۡوَٲلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ‌ۖ حَقًّا عَلَى ٱلۡمُتَّقِينَ
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan [tanda-tanda] maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf [2], [ini adalah] kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

3. Surah al-Baqarah :182
فَمَنۡ خَافَ مِن مُّوصٍ۬ جَنَفًا أَوۡ إِثۡمً۬ا فَأَصۡلَحَ بَيۡنَہُمۡ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬
[Akan tetapi] barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan [1] antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

4. Surah al-Baqarah: 240
وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوۡنَ مِنڪُمۡ وَيَذَرُونَ أَزۡوَٲجً۬ا وَصِيَّةً۬ لِّأَزۡوَٲجِهِم مَّتَـٰعًا إِلَى ٱلۡحَوۡلِ غَيۡرَ إِخۡرَاجٍ۬‌ۚ فَإِنۡ خَرَجۡنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡڪُمۡ فِى مَا فَعَلۡنَ فِىٓ أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعۡرُوفٍ۬‌ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَڪِيمٌ۬
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, [yaitu] diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah [dari rumahnya]. Akan tetapi jika mereka pindah [sendiri], maka tidak ada dosa bagimu [wali atau waris dari yang meninggal] membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

5. Surah an-Nisa 11-12
يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ فَإِن كُنَّ نِسَآءً۬ فَوۡقَ ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ‌ۖ وَإِن كَانَتۡ وَٲحِدَةً۬ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُ‌ۚ وَلِأَبَوَيۡهِ لِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡہُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ ۥ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن لَّمۡ يَكُن لَّهُ ۥ وَلَدٌ۬ وَوَرِثَهُ ۥۤ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُ‌ۚ فَإِن كَانَ لَهُ ۥۤ إِخۡوَةٌ۬ فَلِأُمِّهِ ٱلسُّدُسُ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصِى بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ‌ۗ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعً۬ا‌ۚ فَرِيضَةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمً۬ا (١١) ۞ وَلَڪُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَكَ أَزۡوَٲجُڪُمۡ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن ڪَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ۬ فَلَڪُمُ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَڪۡنَ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصِينَ بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍ۬‌ۚ وَلَهُنَّ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَكۡتُمۡ إِن لَّمۡ يَڪُن لَّكُمۡ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن ڪَانَ لَڪُمۡ وَلَدٌ۬ فَلَهُنَّ ٱلثُّمُنُ مِمَّا تَرَڪۡتُم‌ۚ مِّنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ تُوصُونَ بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍ۬‌ۗ وَإِن كَانَ رَجُلٌ۬ يُورَثُ ڪَلَـٰلَةً أَوِ ٱمۡرَأَةٌ۬ وَلَهُ ۥۤ أَخٌ أَوۡ أُخۡتٌ۬ فَلِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُ‌ۚ فَإِن ڪَانُوٓاْ أَڪۡثَرَ مِن ذَٲلِكَ فَهُمۡ شُرَڪَآءُ فِى ٱلثُّلُثِ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصَىٰ بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ غَيۡرَ مُضَآرٍّ۬‌ۚ وَصِيَّةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ۬
Allah mensyari’atkan bagimu tentang [pembagian pusaka untuk] anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; [3] dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua [4], maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya [saja], maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. [Pembagian-pembagian tersebut di atas] sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya. [Tentang] orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat [banyak] manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (11) Dan bagimu [suami-suami] seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau [dan] sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki [seibu saja] atau seorang saudara perempuan [seibu saja], maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat [kepada ahli waris] [1]. [Allah menetapkan yang demikian itu sebagai] syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (12)

6. Surah an-Nisa :131
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلِڪُمۡ وَإِيَّاكُمۡ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ وَإِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدً۬ا 
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan [juga] kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka [ketahuilah], sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah [4] dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji

7. Surah al-Maidah: 106
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ شَہَـٰدَةُ بَيۡنِكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ حِينَ ٱلۡوَصِيَّةِ ٱثۡنَانِ ذَوَا عَدۡلٍ۬ مِّنكُمۡ أَوۡ ءَاخَرَانِ مِنۡ غَيۡرِكُمۡ إِنۡ أَنتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَأَصَـٰبَتۡكُم مُّصِيبَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۚ تَحۡبِسُونَهُمَا مِنۢ بَعۡدِ ٱلصَّلَوٰةِ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ لَا نَشۡتَرِى بِهِۦ ثَمَنً۬ا وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰ‌ۙ وَلَا نَكۡتُمُ شَہَـٰدَةَ ٱللَّهِ إِنَّآ إِذً۬ا لَّمِنَ ٱلۡأَثِمِينَ 
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah [wasiat itu] disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu [2], jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang [untuk bersumpah], lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: "[Demi Allah] kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit [untuk kepentingan seseorang], walaupun dia karib kerabat, dan tidak [pula] kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa". 

8. Surah al-An'am: 144
وَمِنَ ٱلۡإِبِلِ ٱثۡنَيۡنِ وَمِنَ ٱلۡبَقَرِ ٱثۡنَيۡنِ‌ۗ قُلۡ ءَآلذَّڪَرَيۡنِ حَرَّمَ أَمِ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ أَمَّا ٱشۡتَمَلَتۡ عَلَيۡهِ أَرۡحَامُ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۖ أَمۡ ڪُنتُمۡ شُہَدَآءَ إِذۡ وَصَّٮٰڪُمُ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا‌ۚ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ڪَذِبً۬ا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. 

9. Surah an-An'am: 144

10. Surah Maryam: 31

11. Surah Al-Ankabut: 8

12. Surah Lukman: 14

13. Surah Yasin: 50

14. Surah Asy-Syura: 13

15. Surah: Al-Ahqaf: 15
16. Surah Adz-Dzariyat: 53
17. Surah Al-Balad 17
18. Surah Al-'Ashr: 3

5. Contoh Permaslahan Wasiat dan Jawabannya

1. Membagi Berdasarkan Wasiat Atau Syari'at 

Assalamu'alaikum wr wb 

pa ustat mau tanya dong bapak saya sudah meninggal 10 tahun lalu,klo ibu saya baru 1 tahun,sebelum meninggal ibu berpesan klo rumah kejual warisannya harus di bagi rata,sedang kan saya anak perempuan dari ke 3 saudara laki2 saya,trus apa yg saya lakukan harus ikuti amanat orang tua apa ikutin sariat islam
Jawab:
'Alaikum salam wr. wb.

1. Wasiat, nasihat orang tua, suami, ulama atau siapapun hendaklah dijalankan manakala tidak bertentangan dengan hukum Allah dan rasul-Nya. Wasiat alm. ibu anda tidak sejalan dengan ketentuan Allah dalam pembagian waris.
ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعً۬ا‌ۚ فَرِيضَةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمً۬ا 
[Tentang] orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat [banyak] manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S.An-Nisa:11).
2. Saran saya: bagilah terlebih dulu sesuai ketentuan agama, yakni: 3 anak laki-laki masing-masing 2/7 bagian, dan anda yang perempuan 1/7 bagian.
3.Jika setelah pembagian di atas, ada saudara yang hendak berbagi sebagian perolehannya, maka itu adalah shadaqah yang berpahala ganda.
Insyaallah, cara demikian menyelamatkan orang tua dan memberi keberkahan pada ahli warisya.
Semoga bermanfaat.


2. Batalnya Wasiat Untuk Ahli Waris
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Pak ustadz maaf saya mau tanya ,paman saya sudah bercerai dari istri yang pertama dan mempunyai org anak satu wanita dan satu pria lalu paman saya menikah lagi,dari hasil pernikahannya mempunyai seorang anak wanita.
Akan tetapi dalam surat warisnya paman saya tidak memberikan hak warisnya kepada anak yang dari istri pertama dengan alasan selama hidup dengan istri pertama hidup susah ,sedangkan istri yg sekarang istri kedua selalu bilang tidak dinafkahi selama setahun padahal sekarang rumah saja sudah di hak oleh istri yang kedua.
Apakah betul menurut islam aturan yg diberlakukan paman saya? 
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ

Jawab:

عليكم السلام ورحمة الله وبركاته 

Sdr GI SLty, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membagi warisnya, yakni:

1. Yang dimaksud harta warisan paman adalah semua harta milik paman (saja).

2. Surat wasiat dinyatakan batal jika untuk ahli waris, sementara jika menyangkut pembagian harta, ketentuannya sudah diatur oleh syari'at agama Islam.

3. Harta warisan paman dibagikan jika paman sudah meninggal dunia.
Berdasarkan krononologi dan data di atas, maka ahli waris dan pembagiannya adalah sbb.:
1. Isteri (ke-2): 4/32 (12,5%).
2. 1 Anak laki-laki: 14/32 (43,75%)
3. 2 Anak perempuan, masing-masing: 7/32 (21,87%).
Semoga bermanfaat.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ       
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Sebarkan !!! insyallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah 14 hal.246-251, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'rif-Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar