Rabu, 17 Desember 2014

Hukum Non-Muslim Masuk Negeri Islam dan Masjidnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sungguh keadaan Umat Muslim saat ini sudah seperti yang digambarkan Nabi saw."Ibarat buih di lautan" besar jumlahnya tapi mudah diombang-ambingkan. Negara Arab Saudi yang seharusnya menjadi pusat Islam dan tonggak tauhid kini telah dikontaminasi oleh kebobrokan sistem hukum buatan dan keberadaan tentara Amerika. Pada awalnya pihak kerajaan Arab Saudi meminta bantuan terhadap kaum kuffar dalam hal kekuatan militer untuk melindungi diri dari invasi Irak. Setelah perkara tersebut selesai, kependudukan Amerika masih saja bercokol di Negara tersebut, ini hanya sebuah contoh saja, di luar Arab Saudi juga banyak negara-negara berpenduduk mayoritas muslim bekerja sama dan tunduk di bawah kedigdayaan negara-negara kafir.
Bagaimanakah pandangan Islam, mengenai masuknya orang kafir ke negeri-negeri Muslim dan memasuki masjidnya ?
Para ahli Fikih ikhtilaf (berbeda pendapat) tentang masalah ini. 


1. Bukti Orang Islam Terlalu Toleran

Berikut adalah berita yang saya kutip dari Tempo.co tentang kunjungan Obama dan Isterinya ke Arab Saudi saat Pemakaman Raja Abdullah.
TEMPO.CO, Washington DC - Foto Ibu Negara Amerika Serikat Michelle Obama yang tidak mengenakan kerudung saat bertemu raja baru Arab Saudi, Raja Salman di Riyadh, Selasa lalu, menuai pro-kontra sekaligus tudingan miring dan rumor.
Michelle ikut mendampingi Presiden Barack Obama dalam kunjungan ke Arab Saudi untuk memberikan penghormatan bagi almarhum Raja Abdullah, yang baru mangkat sekaligus memberi selamat kepada Raja Salman, Selasa, 27 Januari 2015. 
Beberapa laporan menyebutkan blogger Arab Saudi marah lantaran wanita nomor satu Amerika itu tidak mau menghormati tradisi Saudi, yang mengharuskan wanita mengenakan kerudung. Lewat akun Twitter, warga Saudi menggunakan hashtag yang artinya #Michelle_Obama_Immodest” atau “#Michelle_Obama_NotVeiled”.
“Warga Saudi di Twitter juga membuat perbandingan dengan kunjungan Michelle ke Indonesia, dimana dia menggunakan kerudung saat mengunjungi Mesjid Istiqlal. Mereka berpendapat, di saat Ibu Negara itu memberikan penghormatan bagi almarhum Raja Abdullah, dia seharusnya mengenakan kerudung juga sebagai rasa hormat,” tulis media Mesir, Ahram online, Selasa.
Sebaliknya banyak kalangan di Amerika Serikat memuji Michelle yang dianggap tegas bersikap. Bahkan dari senator yang kerap mengkritik tajam kebijakan Presiden Obama, Senator Ted Cruz, Republikan asal Texas seperti dilansir New York Times, Kamis, 29 Januari 2015. 
Meski demikian, sejumlah kalangan mengatakan protokol di Kerajaan Arab tersebut tidak mengharuskan para perempuan tamu negara mengenakan kerudung. Bahkan di akun Twitter resmi Raja Arab Saudi juga tampak sejumlah foto yang memperlihatkannya bersama pemimpin dunia lain tanpa kerudung, seperti Kanselir Jerman Angela Merkel.
Ada pula foto mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Nancy Reagan, mantan Menteri Luar Negeri Condolezza Rice, politisi asal California sekaligus Ketua DPR AS, Nancy Pelocy bersanding dengan Raja Arab Saudi bersama delegasi bangsawan kerajaan itu tanpa kerudung.
Ahmed Al Omran, wartawan Arab Saudi yang juga blogger, seperti dilansir New York Times, memperingatkan bahwa dari jutaan pengguna Twitter di Arab Saudi, sebanyak 1.500 kritikan atas pakaian yang dikenakan Michelle tidak dapat digunakan sebagai bukti kemarahan warga Saudi.
Memang begitulah tabi'at sebagian umat Islam, terlalu toleran dan membela orang kafir, Allah Yang Maha Mengetahui telah mengingatkan dan mengecam tindakan semacam ini dalam firman-Nya:
هَـٰٓأَنتُمۡ أُوْلَآءِ تُحِبُّونَہُمۡ وَلَا يُحِبُّونَكُمۡ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلۡكِتَـٰبِ كُلِّهِۦ وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِ‌ۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah [kepada mereka]: "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Q.S. Ali-Imran: 119)


2. Pengelompokan Negara Muslim

1. Al-Haram (Tanah Suci).
Orang non-muslim dengan alasan apapun tidak diperbolehkan (haram) masuk ke kawasan ini, baik dia orang dzimmi atau musta'man, berdalil kepada firman Allah Ta'ala: 
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٌ۬ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَـٰذَا‌ۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَيۡلَةً۬ فَسَوۡفَ يُغۡنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۤ إِن شَآءَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَڪِيمٌ۬ 
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S.At-Taubah: 28).
Adapun mengenai utusan/duta orang kafir, pendapat ulama adalah sbb.:
  • Utusan kafir dilarang masukAsh-Syafi'i, Ahmad dan Malik berpegang. Kalau datang seseorang utusan dari negara kafir sedang imam berada di Tanah Haram, maka tidak boleh diperkenankan baginya masuk ke Tanah Haram, tetapi hendaknya dia (imam) keluar dari situ atau mengutus seseorang kepada utusan (negara kafir, pen.) itu untuk mendengarkan risalah yang dibawanya. 
  • Boleh masuk tapi tidak menetap. Abu Hanifah dan Ahli Kufah membolehkan Mu'abad memasuki Tanah Haram dan tinggal di situ sebagai musafir dan tidak boleh menetap. Abu Hanifah juga membolehkan masuknya seseorang diantara mereka ke Ka'bah.
2. Sebagian negara Islam (Jazirah Arab). 

Batasnya antara Yamamah, Yaman, Najd dan madinah Asy-Syarifah. Adapula yang berpendapat sebagiannya Tihamah dan sebagiannya kawasan Hijaz. Dan pendapat lain mengatakan semua kawasan Hijaz.

Yang menjadi dalil jumhur (banyak ahli fikih) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar, bahwasanya dia telah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
لأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيـرَةِ الْعَرَبِ حَتَّـى لاَ أَدَعَ إِلاَّ مُسْلِمًا
"Aku akan keluarkan Yahudi dan Nasrani dari jazirah Arab. Tidak akan kubiarkan tinggal di situ kecuali orang Islam." 
Pada riwayat lain selain dari Muslim ditambahkan: " ... dan mewasiatkan." maka sabdanya: 
أَخْرِجُوا اْلمُشْرِكِيْنَ مِنْ جَزِيْرَةِ اْلعَرَب.
"Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab."
Abu bakar tidak merasa lega dengan keadaan mereka. Umar pun pada masa pemerintahannya mengusir mereka, dan mengusir mereka yang datang untuk berdagang.
Dari Ibnu syihab, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: 
لا يجتمع دينان في جزيرة العرب
"Tidak akan bertemu (ada) dua agama di jazirah Arab." (Dikeluarkan oleh Imam Malik di dalam Al-Muwaththa, kedudukannya mursal).
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: 
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
"Sesungguhnya setan telah putus asa karena (tidak ada lagi) yang menyembahnya di jazirah Arab, tetapi ia senang menghasut (mengadu domba) mereka."
Pendapat Para Ulama tengan batas jazirah Arab:
  • Al-Harbi berpendapat; Termasuk Hijaz, maka non muslim masuk ke Tanah Hijaz dengan ijin, tetapi mereka tak boleh tinggal lebih dari kebiasaan tinggalnya musafir, yaitu tiga hari.
  • Abu Hanifah berkata: mereka tidak dicegah tinggal di situ dan menetap.
  • Sai'id bin Abdul Azizi berkata: Jazirah Arab adalah antara Wadi dan Ujung Yaman, sampai kepada Takhum dan sampai kepada Laut."
  • Yang lainnya berkata: Batas jazirah Arab dari ujung (Adn Ibiyan) sampai ke perkampungan Irak, panjangnya dari Jeddah dan sekitarnya sampai dengan tepi laut sampai ke ujung Syam, lebarnya.
3. Seluruh negara Islam (Selain poin 1 dan 2). 
Boleh bagi orang kafir tinggal di situ dengan perjanjian atau sebagi dzimmah atau aman. Adapun mengenai boleh tidaknya mereka masuk ke dalam masjid, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut 
  • Boleh Dengan izin. Mereka tidak diperbolehkan masuk ke masjid kecuali dengan izin orang muslim (Pendapat Syafi'i).
  • Boleh tanpa izinMereka boleh masuk ke masjid tanpa izin (Abu Hanifah).
  • HaramMereka tidak boleh masuk dengan alasan apapun. (Malik dan Ahmad). Rinciannya silakan lihat di bawah.

3. Hukum Orang Kafir Masuk Ke Dalam Masjid


Para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang kafir memasuki masjid. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidak dilarang, asalkan orang kafir tersebut berniat baik dan bersedia memenuhi ketentuan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat sebaliknya, bahwa meski niatnya baik dan bersedia memenuhi syarat-syarat tertentu, namun kekafiran mereka menjadi penghalang atas kebolehan mereka masuk ke dalam masjid.

1. Dilarang. Al-Buhuti – ulama madzhab hambali – mengatakan,

لا يجوز لكافر دخول مسجد الحل ولو بإذن مسلم؛ لقوله تعالى: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ  سورة التوبة, ويجوز دخولها -أي مساجد الحل- للذمي, ومثله المعاهد والمستأمن إذا استؤجر لعمارتها؛ لأنه لمصلحته
Tidak boleh bagi orang kafir untuk masuk masjid meskipun di selain tanah haram, sekalipun dengan izin orang muslim. Berdasarkan firman Allah, yang artinya, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir..” (QS. At-Taubah: 18). Yang boleh masuk masjid  adalah orang kafir dzimmi, termasuk mu’ahid dan musta’min, ketika mereka dipekerjakan untuk memperbaiki masjid, karena ini untuk kemaslahatan masjid (Kasyful Qana’, 6:265).
Di antara dalil mereka yang mengambil pendapat ini adalah riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah melihat ada orang majusi di dalam masjid ketika beliau sedang berkhutbah di atas mimbar. Kemudian Ali turun, dan memukulnya serta menyuruhnya keluar. Pendapat ini juga yang menjadi pendapat Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Karena jika orang muslim yang junub tidak boleh masuk masjid maka orang musyrik lebih layak dilarang masuk masjid (Mathalib Uli an-Nuha, 2/617).
2. Boleh masuk dengan izin. orang kafir boleh masuk masjid, jika diharapkan dia bisa masuk Islam dengan melihat aktivitas kaum muslimin di masjid atau mendengar ceramah. Ini pendapat al-Qodhi Abu Ya’la – ulama hambali –. Dengan syarat, mendapat izin dari salah satu orang muslim. Keterangan beliau dinukil dalam Mathalib Ilin Nuha,
يجوز لكافر دخول المسجد بإذن مسلم إن رجي منه إسلام لأنه -صلى الله عليه وسلم- قدم عليه وفد أهل الطائف، فأنزلهم في المسجد قبل إسلامهم
Boleh bagi orang kafir untuk masuk masjid dengan izin dari seorang muslim, jika diharapkan dia masuk Islam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan tamu dari Thaif, dan beliau menyuruh mereka untuk singgah di dalam masjid, dan mereka belum masuk islam (Mathalib Uli an-Nuha, 2:617).
3. Hanya dilarang di Masjidil Haram. larangan masuk masjid untuk orang kafir, hanya berlaku untuk Masjidil Haram dan bukan masjid lainnya.  Ini adalah pendapat Imam asy-Syafii, Ibnu Hazm, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan beberapa ulama lainnya.
Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini,
1. Firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (tahun 9 H).(QS. At-Taubah: 28).
Al-Qurthubi menukil keterangan Imam asy-Syafii yang mengatakan,
الآية عامة في سائر المشركين خاصة في المسجد الحرام, ولا يمنعون من دخول غيره فأباح دخول اليهود والنصارى في سائر المساجد
Ayat ini mencakup umum seluruh orang musyrik, terutama ketika masuk Masjidil Haram. Dan mereka tidak dilarang untuk masuk masjid lainnya. Karena itu, Dia membolehkan orang yahudi atau nasrani masuk ke masjid-masjid lainnya (Tafsir al-Qurthubi, 8:105).
Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Hazm, dalam al-Muhalla beliau mengatakan,
فخص الله المسجد الحرام، فلا يجوز تعديه إلى غيره بغير نص
Allah mengkhususkan hukum untuk Masjidil Haram, karena itu tidak boleh diberlakukan untuk masjid yang lain tanpa dalil (al-Muhalla, 3:162).
2. Praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Diantaranya, keterangan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ: ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، سَيِّدُ أَهْلِ اليَمَامَةِ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ»، فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ المَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ المَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus beberapa penunggang kuda ke arah Nejd, tiba-tiba utusan itu kembali dengan membawa tawanan yang bernama Tsumamah bin Utsal, pemimpin suku daerah Yamamah. Mereka pun mengikatnya di salah satu tembok Masjid Nabawi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekati Tsumamah, lalu beliau memerintahkan, “Lepaskan Tsumamah.” Kemudian Tsumamah menuju kebun kurma dekat masjid, beliau mandi lalu masuk masjid, dan menyatakan masuk Islam dengan bersyahadat. Laa ilaaha illallaah muhammadur Rasulullah. (HR. Bukhari 2422 dan Muslim 1764) .
Insya Allah inilah pendapat yang lebih kuat, berdasarkan praktek makna teks ayat dan praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Khatib asy-Syarbini mengatakan,
وثبت أنه – صلى الله عليه وسلم – أدخل الكفار مسجده، وكان ذلك بعد نزول ” براءة “، فإنها نزلت سنة تسع، وقدم الوفد عليه سنة عشر وفيهم وفد نصارى نجران، وهم أول من ضرب عليهم الجزية فأنزلهم مسجده وناظرهم في أمر المسيح وغيره
Terdapat riwayat yang shahih, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan orang kafir ke dalam masjid beliau, dan itu terjadi setelah turun surat At-Taubah, surat ini turun di tahun 9 hijriyah. Sementara beliau menerima banyak tamu pada tahun 10 hijriyah, dan diantara mereka ada orang nasrani Najran. Dan mereka suku pertama yang terkena kewajiban jizyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka singgah di dalam masjid, dan beliau juga berdebat dengan mereka tentang Al-Masih dan yang lainnya. (Mughni al-Muhtaj, 6:68).
Allahu a’lam
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ      
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah 11 hal. 145-148, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
http://www.tempo.co/read/news/2015/01/29/115638620/Michelle-Obama-Tak-Berkerudung-Warga-Saudi-Marah
http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-orang-kafir-masuk-masjid/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar