Minggu, 30 November 2014

Pengertian Wasiat; Hukum, Rukun dan Syarat Sahnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kata wasiat terambil dari kata washshaitu, asy-syaia, uushiihi, artinya aushaituhu (aku menyampaikan sesuatu). Secara istilah wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain (berupa barang, piutang atau manfaat) untuk dimiliki oleh si penerima sesudah orang yang berwasiat mati. Sebagian ahli fikih mendefinisikan wasiat itu adalah pemberian hak milik secara sukarela yang dilaksanakan setelah pemberinya mati. Perbedaannya dengan hibah adalah, pada hibah, pemilikan diperoleh pada saat itu juga, sedang pemilikan pada wasiat diperoleh setelah si pemberi wasiat mati. Perbedaan yang lain; hibah itu berupa barang; sementara wasiat bisa berupa barang, piutang maupun manfaa


1. Dasar Hukum Wasiat

Mengenai dasar hukumnya, sebaiknya melaksanakan atau meninggalkan, para ulama berbeda pendapat. Berikut saya sajikan ringkasannya:
  1. Wajib. Memandang bahwa wasiat itu wajib bagi seriap orang yang meninggalkan harta, baik harta itu banyak maupun sedikit, mereka berdalih dengan firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 180. (Pendapat Az-Zuhri dan Abu Miljan).
  2. Wajib kepada orang tua dan kerabat. Memandang bahwa wasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat yang tidak mewarisi dari si mati wajib hukumnya (Pendapat Mazhab Masruq, Iyas, Qatadah, Ibnu Jarir dan Az-Zuhri).
  3. Terkadang wajib, sunat, haram, makruh, dan terkadang jaiz (boleh).(Pendapat Imam yang empat dan aliran Zaidiyah). Rinciannya, sebagai berikut:
  • Wajibnya Wasiat. Bila manusia mempunyai kewajiban syara' yang dikhawatirkan akan disia-siakan bila dia tidak berwasiat, misalnya: adanya titipan, hutang kepada Allah dan manusia, hutang zakat atau haji, atau mempunyai amanat yang harus disampaikan, atau mempunyai hutang yang tidak diketahui selain oleh dirinya, atau dia mempunyai titipan yang tidak dipersaksikan.
  • Sunatnya wasiat. Bila ia diperuntukkan bagi kebajikan, karib kerabat, orang-orang fakir, dan orang-orang shaleh.
  • Haramnya wasiat. Bila ia merugikan ahli waris. Diriwayatkan dari Sa'id bin Manshur dengan isnad yang shahih, berkata Ibnu 'Abbas r.a.:"Merugikan ahli waris di dalam wasiat itu termasuk dosa besar." Wasiat jenis ini termasuk katergori batil, sekalipun jumlahnya tidak mencapai sepertiga harta. Diharamkan pula mewasiatkan khamar, membangun gereja atau tempat hiburan.
  • Makruhnya wasiat. Bila yang berwasiat sedikit hartanya, sementara ia mempunyai ahli waris (sedikit/banyak) yang membutuhkan hartanya. Demikian juga wasiat untuk orang fasik yang dikhawatirkan akan digunakan untuk melakukan kefasikan atau kerusakan. Tapi jika si pemberi wasiat tahu atau yakin bahwa si penerima akan menggunakan harta untuk ketaatan, maka hukumnya menjadi sunah.
  • Jaiznya wasiat. Bila ia ditujukan kepada orang yang kaya, baik dia kerabat ataupun bukan. 

2. Rukun Wasiat

Rukun wasiat adalah ijab dari orang yang mewasiatkan. 
  • Ijab dengan ucapan. Ijab itu dengan segala lafadz yang menunjukkan kepemilikan yang dilaksanakan sesudah dia matai dan tanpa adanya imbalan. Seperti: "Aku wasiatkan kepada si A begini setelah aku mati", atau "Aku berikan itu " atau "Aku serahkan pemilikannya kepada si B sepeninggalku." dll.
  • Ijab dengan isyarat dan tulisan. Selain terjadi dengan melalui pernyataan, wasiat bisa terjadi pula melalui isyarat yang dapat dipahami, bila pemberi wasiat tidak sanggup berbicara; juga sah pula akad wasiat melalui tulisan.
  • Wasiat untuk umum. Apabila penerima wasiat tidak tertentu, seperti untuk masjid, tempat pengungsian, sekolah atau rumah sakit, maka ia tidak memerlukan kabul; cukup dengan ijab saja, sebab dalam keadaan yang demikian wasiat itu menjadi shadaqah
  • Wasiat untuk orang tertentu. Apabila wasiat diberikan kepada orang tertentu, maka ia memerlukan kabul dari si penerima wasiat setelah si pemberi mati, atau kabul dari walinya jika si penerima wasiat belum memiliki kecerdasan. Jika wasiat diterima, maka terjadilah wasiat itu, tetapi jika ditolak, maka batallah wasiat itu, dan ia tetap menjadi milik para ahli waris si pemberi.
  • Hak mengubah dan membatalkan. Di dalam wasiat, si pemberi punya hak untuk mengubah atau menarik kembali wasiatnya. Penarikan kembali (Ruju') itu harus dinyatakan dengan ucapan, misalnya: "Aku tarik kembali wasiat itu." boleh juga penarikan kembali itu dengan perbuatan, misalnya tindakan si pembari wasiat menjual objek wasiat.

3. Waktu Wasiat Sah Menjadi Milik Penerimanya

Wasiat itu tidak menjadi hak dari si penerima kecuali setelah pemberinya mati dan hutang-hutangnya dibereskan. Apabila hutang-hutangnya menghabisi semua peninggalan, maka orang yang diberi wasiat itu tidak mendapatkan sesuatu. Yang demikian itu karena firman Allah:                
مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصِى بِہَآ أَوۡ دَيۡنٍ‌ۗ
[Pembagian-pembagian tersebut di atas] sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya....(Q.S. An-Nisa: 11).

4. Wasiat Bersyarat

Wasiat yang disandarkan atau diikat dengan disertai syarat itu sah, bila syaratnya itu syarat yang dibenarkan, yakni yang mengandung maslahat bagi si pemberi, si penerima, atau bagi orang lain, sepanjang syarat itu tidak dilarang atau bertentangan dengan maksud-maksud syari'ah. Apabila syaratknya itu benar, maka syarat itu wajib dipelihara selama masalahnya masih ada. Apabila maslahat yang dimaksud telah hilang, atau tidak benar, maka syarat itu tidak wajib dipelihara.

5. Syarat Pemberi, Penerima dan Objek Wasiat

  1. Pemberi wasiat. Disyaratkan agar orang yang memberi wasiat itu adalah oarang yang mempunyai kompetensi (kecakapan) yang sah, yang meliputi akal, kedewasaan, kemerdekaan, ikhtiar dan tidak dibatasi karena kedunguan atau kelalaian.  Maka wasiat dari anak-anak, orang gila, hamba sahaya, dipaksa atau dibatasi, maka wasiatnya tidak sah. Akan tetapi Imam Malik menetang pendapat ini dan membolehkan orang yang lemah akal dan anak kecil berwasiat selama memahami makna mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. (Pendapat ini diadopsi juga oleh  Undang-Undang Mesir).
  2. Penerima wasiat. 1.Dia bukan ahli waris dari si pemberi wasiat. إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada pemiliknya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” [1]. 2. Tidak menjadi pembunuh si pemberi wasiat, dengan pembunuhan yang diharamkan secara langsung.
  3. Objek wasiat. Disyaratkan agar yang diwasiatkan itu bisa dimiliki dengan salah satu cara pemilikan setelah pemberi wasiat mati. Dengan demikian, maka sahlah wasiat mengenai semua harta yang bernilai, baik berupa barang maupun manfaat. Juga buah dari tanaman dan apa yang ada di perut sapi betina, sebab yang demikian dapat dimiliki melalui warisan. Maka selama yang diwasiatkan itu ada wujudnya di waktu yang mewasiatkan mati, orang yang diberi wasiat berhak atasnya. Ini jelas berbeda dengan wasiat mengenai barang yang tidak ada. Sah pula mewasiatkan piutang dan manfaat seperti tempat tinggal serta kesenangan. Dan tidak sah mewasiatkan yang bukan harta, seperti bangkai; dan yang tidak bernilai bagi orang yang mengadakan akad wasiat, seperti khamar bag kaum Muslimin.

6. Contoh Permasalahan Wasiat

1. APAKAH PESAN ORANG TUA ITU WASIAT ?
Assalamu'alaikum wr.wb. Pak Ustaz....
Kami bersaudara kandung 7 orang, 3 laki dan 4 perempuan dan tidak ada saudara dari lain ayah atau lain ibu), kedua org tua kami sudah meninggal. Warisanorang tua kami: satu rumah dan 3 kavling tanah (2 ha, 1, ha, dan 1 ha). Lebaran tahun depan kami akan musyawarah membagi warisan yakni tanah. Selama org tua kami masih hidup, ayah saya berpesan agar rumah tidak boleh dimiliki oleh siapapun dari kami (jadi milik bersama). Semasa hidup ortu kami, dua saudara kami telah mendapat kaviling untuk membangun rumah. Pertanyaan: (1) Bagaimana cara membagi warisan tersebut?; (2) apakah pesan org tua untuk tidak ada yg memiliki rumah merupakan wasiat? dan apakah rumah tersebut tidak boleh dipindahtangankan (dijual?); (3) apakah kavling tanah yg telah dibagikan kepada 2 saudara kami merupakan bagian yg diperhitungkan dalam pembagian warisan atau tidak termasuk bukan warisan tetapi hadiah / pemberian)? Mohon penjelasan....Wassalam
Jawab:
'Alaikum salam Wr. Wb.
Saran saya, segeralah inventarisir semua peninggalan orang tua, berapa taksiran harganya kalau dirupiahkan, dan bagilah mumpung ahli waris masih pada hidup, untuk menghindari sengketa di kemudaian hari/kemudian generasi.
1. 3 Anak laki-laki, masing-msing mendapat 2/10 (20%); sementara 4 anak perempuan masing-masing mendapat 1/10 (10%).
2. Wasiat berbentuk harta boleh dilaksanakan manakala tidak bertentangan dengan kaidah agama dan tidak mempersulit ahli waris. Jika bisa dijamin tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari, silakan dimiliki bersama setelah dibagi waris masing-masing, sehingga tahu berapa saham A, B, C dst atas rumah itu. Tapi bisa juga salah satu ahli waris membayari rumah tersebut (menambahi kalau kurang), bukankah cara begitu rumah peninggalan masih di tangan keluarga sendiri ?
3. Sesuatu yang telah diberikan saat almarhum hidup itu dinamakan hibah (pemberian) yang TIDAK MENGURANGI hak waris manakala si pemberi meninggal. Maka jika hendak memberi hibah hendaklah adil diantara anak-anaknya, atau minimal ada keikhlasan para ahli waris.
Semoga bermanfaat.. Salam untuk keluarga.

2. BAYAR HUTANG DAN WASIATNYA SEBELUM WARISAN DIBAGIKAN
Asalamualaikum..mohon bantuannya
Seorg meninggalkan ahli waris ayah,ibu,dan suami berapa bagian masing2 yg diterima ahli waris..jika pewaris memiliki hutang bisnis 75 juta,memiliki wasiat kepada x 25 juta...jelaskan cara penghitungannya dong agar saya bisa menjelaskannya kembali.terimkh
Jawab:
'Alaikum salam wr. wb.
Sebelum dibagikan warisnya, bayarkan hutang alm. dan wasiatnya. Untuk wasiat ada 2 syarat sahnya, yakni: 1. tidak untuk ahli waris, 2. maksimal hany 1/3 harta peninggalan.
Ahli waris dan bagianya adalah:
1. Ayah: 2/6
2. Ibu: 1/6
3. Suami: 3/6
Gampang kan ?

3. MEMBAGI WARISAN KELUARGA
pak ustad,,, tolong saya nyelesain tugas ini .
Seorang meninggal dunia dengan warisan senilai 200 juta ahli warisnya adalah :
1) Seorang istri
2) Ibu
3) 2 orang anak perempuan
4) Seorang anak lelaki
5) Seorang nenek
6) Seorang saudara perempuan sekandung
7) Seorang paman
Harta tersebut belum dizakati ,biaya urus jenazah Rp.600.000 ,hutang Rp.400.000 ,wasiatnya 2 juta .hitunglah bagian masing-masing
Jawab:
Mana salamnya mbak Lhia Aulia ?
A. Sebelum harta dibagi, ambillah dulu untuk biaya perngurusan jenasah+bayar hutang+wasiat. Sisanya barulah merupakan harta yang siap dibagikan.
B. Ahli waris dan bagian dari pertanyaan ini adalah, sbb.:
[1]. Isteri..................................................: 12/96 (12,5 %)
[2]. Ibu...................................................: 16/96 (16,66 %)
[3]. 2 Anak perempuan, masing-masing..: 17/96 (17,70 %)
[4]. 1 Anak laki-laki..............................: 34/96 (35,41 %)
Adapun:
- Nenek : 0 (terhalang ibu)
- Sdr Perempuan dan paman: 0 (terhalang anak laki-laki)
Semoga bermanfaat.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ   
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah 14, hal. 230, 240-246, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
***
[1]. Abu Daud, 2870. Timizi, 2120. An-Nasa’i, 4641. Ibnu Majah, 2713 dari Abu Umamah Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar