Senin, 10 November 2014

Pengertian Wakaf, Macam dan Syarat Sahnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sejatinya masih banyak orang awam yang belum dapat memahami arti atau bahkan perbedaan antara wakaf dengan hibah, infaq, shadaqah, wasiat dan yang sejenisnya. Pengertian tentang istilah di atas sering salah pasang bin salah paham. Maka artikel kali ini akan dibedah hal-hal yang berkaitan dengan wakaf, insyaallah.
Wakaf (waqf) di dalam bahasa Arab berarti habs (menahan). Dikatakan waqafa - yaqifu - waqfan artinya habasa - yahbisu -habsan.. Menurut istilah syara' wakaf berarti menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah.

1. Macam-Macamnya:

  1. Wakaf Ahli (Wakaf Dzurri / Keluarga): Waqaf  untuk anak cucu atau kaum kerabat dan kemudian sesudah mereka itu untuk orang-orang fakir.
  2. Wakaf Khaira (Kebaikan): Wakaf yang diperuntukkan bagi kebaikan semata-mata.

2. Legalitasnya

Allah telah mensyari'atkan wakaf, menganjurkanya dan menjadikannya sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Orang-orang jahiliyyah tidak mengenal wakaf; akan tetapi wakaf itu diciptakan dan diserukan oleh Rasulullah saw. karena kecintaan beliau kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan.
عَنْ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ  إِذَ ا مَاتَ اْلإِ نْسَانُ اِ نْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَ ثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَ لَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Bila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo'akan kepadanya." [1].
Hadits di atas bermakna, bahwa amal orang yang telah mati itu terputus pembaruan pahalanya, kecuali di dalam ketiga perkara ini, karena ketiganya itu berasal dari kasabnya, anaknya, ilmu yang ditinggalkannya dan sedekah jariyah itu semua berasal dari usahanya.
 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْ مِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْ تِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَ نَشَرَ هُ وَ وَ لَدً ا صَالِحًا تَرَكَهُ وَ مُصْحَفًا وَ رَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا ِلا بْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرً ا أَجْرَ اهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَ حَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْ تِهِ 
Telah dikeluarkan dari Sunan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah r.a.: bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya di antara apa yang dijumpai oleh seorang mukmin dari amalnya dan kebaikannya setelah dia mati itu adalah ilmu yang disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, mesjid yang didirikannya, rumah yang didirikannya untuk ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan), sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya di waktu sehatnya dan hidupnya, semua dia jumpai pahalanya sesudah dia mati."

3. Hadits Tentang Beberapa Waqaf di Jaman Rasulullah saw.

Rasulullah saw. dan para sahabat beliau telah mewakafka masjid, tanah, sumur, kebun dan kuda. Dan orang-orang Islam pun terus mewakafkan harta benda mereka hingga sekarang ini.
Inilah beberapa contoh wakaf dimasa Nabi saw.
  1.  عَنْ أَ نَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُو نِي بِحَائِطِكُمْ هَذَ ا قَالُوا لاَ وَ اللَّهِ لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللَّه Dari Anas r.a. dia berkata: Ketika Rasulullah saw.datang ke ke Madinah dan memerintahkan untuk membangun masjid, beliau berkata: "Wahai bani Najar, apakah kamu hendak menjual kebunmu ini?" Mereka menjawab: "Demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah Ta'ala." Maksunya agar Rasulullah saw. mengambilnya dan menjadikannya masjid.
  2. Dari Utsman bin Affan , dia berkata bahwa sesungguhnya dia mendengar Rasulullah saw. berkata : "Barang siapa menggali sumur Raumah maka baginya Syurga". Utsman bin Affan berkata : "Maka sumurpun aku gali".Diriwayatkan oleh Al Baghawi : Bahwa seorang lelaki dari Bani Ghifar mempunyai sebuah mata air yang dinamakan Raumah, sedangkan dia menjual satu kaleng dari airnya dengan harga satu mud. Maka Rasulullah saw. berkata kepadanya : "Maukah engkau menjualnya kepadaku dengan satu mata air di dalam surga?". Orang itu menjawab : "Wahai Rasulullah, aku dan keluargaku tidak mempunyai apa-apa selain itu". Berita itu sampai kepada Utsman . Lalu Utsman  membelinya dengan harga tiga puluh lima ribu dirham. Kemudian datanglah Utsman  kepada Nabi saw., lalu dia bertanya : "Sudilah kiranya engkau memberikan jaminan kepadaku seperti yang dijaminkan kepada pemilik semula sumur ini?. Beliau saw. menjawab :"Ya". Utsman pun berkata : "Aku wakafkan sumur itu bagi kaum muslimin".
  3. عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَ نَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمَّ سَعْدٍ مَاتَتْ فَأَيُّ الصَّدَ قَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْمَاءُ قَالَ فَحَفَرَ بِئْرً ا وَ قَالَ هَذِه ِ لأُمِّ سَعْدٍ ;Dari Sa'id bin Ubadah, bahwa dia telah bertanya kepada Rasulullah saw. : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sa'din telah mati ; maka apakah sedekah yang paling banyak pahalanya?". Beliau saw. menjawab : "Air". Kemudian Sa'din menggali sumur, dan katanya : "Sumur ini adalah bagi Ummu Sa'din".
(Keterangan : sebagai bentuk kecintaan anak kepada ibunya yang kekal, maka harta warisan dari ibunya ada yang diwakafkan untuk masyarakat), dll.

4. Terjadinya Wakaf

Wakaf itu sah dan terjadi melalui salah satu dari 2 perkara:
  1. Perbuatan yang menunjukkan padanya; Seperti bila seseorang membangun masjid, dan dikumandangkan adzan untuk shalat di dalamnya, dan tidak memerlukan keputusan seorang hakim.
  2. Ucapan; Ucapan itu ada 2, yang sharih (tegas) misalnya ucapan: "Aku wakafkan." "Aku hentikan pemanfaatannya." "Aku jadikan untuk sabilillah." "Aku abadikan."  dan yang kinayah (tersembunyi); misalnya ucapan: "Aku sedekahkan," akan tetapi dia berniat mewakafkannya.
Adapun wakaf yang dihubungkan dengan kematian, seperti kata seseorang: "Rumahku atau kudaku menjadi wakaf sesudah aku mati." maka hal itu diperbolehkan menurut dzahirnya madzhab Ahmad. Seperti disebutkan oleh Al-Khiraqi dll. Sebab ini semuanya termasuk ke dalam wasiat' maka oleh karena itulah ta'liq kemaatian untuk wakaf diperbolehkan sebab wakaf adalah wasiat.

5. Tetapnya Wakaf

  • Sahnya wakaf. Bila seseorang yang berwakaf berbuat sesuatu yang menunjukkan kepada wakaf atau mengucapkan kata-kata wakaf, maka tetaplah wakaf itu, dengan syarat orang yang berwakaf adalah orang yang sah tindakannya, misalnya cukup sempurna umurnya, akalnya, merdeka dan tidak dipaksa. Untuk terjadinya wakaf ini tidak diperlukan penerimaan dari yang diwakafi.
  • Tidak boleh dijual. Apabila wakaf telah terjadi, maka tidak boleh dijual, dihibahkan dan diperlakukan dengan sesuatu yang menghilangkan kewakafannya.
  • Tidak diwariskan. Bila orang yang berwakaf mati, maka wakaf tidak diwariskan, sebab yang demikian inilah yand dikehendaki oleh wakaf. Sebagaimana sabda Nabi saw. "Tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan."

6. Jenis Yang Sah Diwakafkan

  1. Yang sah ialah: tanah, perabot yang bisa dipindahkan, mushaf, kitab, senjata dan binatang. Juga apa-apa yang boleh diperjual-belikan dan boleh dimanfaatkan dan tetap utuhnya barang.
  2. Yang tidak sah ialah: Apa yang rusak dengan dimanfaatkannya, seperti uang, lilin, makanan, minuman, dan apa yang cepat rusak seperti bau-bauan dan tumbuh-tumbuhan aromatik, sebab ia cepat rusak. Juga sesuatu yang tidak boleh diperjual-belikan seperti barang tanggungan (borg), anjing, babi, dan biantang -binatang buas lainnya yang tidak dijadikan sebagi hewan pelacak buruan.

7. Legalitas Wakaf Dari Sisi Penerima

  • Sah; wakaf kepada orang yang dikenal, seperti anak, kerabat dan orang tertentu, atau untuk kebaikan seperti membangun masjid, jembatan, kitab-kitab, dan mushaf.
  • Tidak sah; wakaf kepada orang yang tidak tertentu (bersifat umum), seperti kepada seorang lelaki dan seorang perempuan, atau untuk maksiat, gereja, biara, dsb.
  • Diperbolehkan wakaf terhadap ahli dzimmah, seperti orang-orang Nasrani, sebagaimana diperbolehkannya sedekah kepada mereka. Syafiyyah binti Huyyai, isteri Nabi saw., telah mewakafkan kepada saudaranya yang Yahudi.
  • Mengenai wakaf untuk umum, ada 2 pendapat: 1. diperbolehkan, sebab 'Umar r.a. telah mewakafkah seratu anak panah di Khaibar, sedang anak panah itu tidak dibagi-bagi.[2]. Sebagian lagi berpendapat tidak sah, karena diantara syarat wakaf itu adalah tertentu. (Pendapat Muhammad ibnul Hasan.)
  • Wakaf Mutlak. Adalah wakaf yang tidak ditentukan bagi siapa wakaf itu, seperti dia mengatakan: "Rumah untuk wakaf." yang demikian sah (menurut Malik); tapi pendapat yang kuat adalah tidak sah (madzhab Syafi'i) karena tidak adanya penjelasan siapa yang diwakafi.
  • Wakaf waktu sakit yang mematikan. Bila orang sakit mematikan berwakaf kepada seseorang, maka wakafnya itu dianggap 1/3 hartanya seperti halnya wasiat, dan tidak tergantung kepada kerelaan ahli waris, kecuali bila lebih dari 1/3 wakafnya. Yang melebihi 1/3 itu tidak sah kecuali atas izin ahli waris.
  • Wakaf untuk sebagian ahli waris dikala sakit. Mayoritas Ulama membolehkan wakaf 1/3  harta terhadap ahli waris di kala pewakaf dalam keadaan sakit seperti diperbolehkannya wakaf terhadap orang lain. Tetapi Asy-Syafi'i dan Ahmad berpendapat tidak boleh. Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad: Tidakkah engkau berpendapat bahwa tidak ada wasiat terhadap ahli waris? Maka Ahmad menjawab: "Ya. sedang wakaf itu bukan wasiat, sebab wakaf tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan dan bukan menjadi milik ahli waris yang memanfaatkannya."
  • Wakaf terhadap orang kaya. Apabila pewakaf mensyaratkan bahwa wakafnya tidak akan diberikan kecuali kepada orang kaya. Dalam masalah ini ada 2 pendapat juga. Yang berpendapat bolehnya, mengatakan bahwa yang demikian itu karena bukan perbuatan maksiat. Sementara pihak yang melarang berdalih bahwa syarat yang batil karena diberikan kepada yang tidak bermanfaat bagi pewakaf baik dalam urusan dunianya maupun agamanya. Dan pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Taimiyah.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Allaahu a'alam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 14, hal.153-168, Sayyid Saabiq, penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
*
[1].H.r. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i.
[2]. Diriwayatkan di dalam kitab Al-Bahr dari Al-Hadi, Al-Qasim, An-Nashir, Asy-Syafi'i, Abu Yusuf dan Malik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar