Rabu, 19 November 2014

Pengertian Ta'awudh, Hukum Serta Keutamaan Membacanya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Tafsir Istilah ayat al-Qur'an 

Yang dimaksud dengan Isti'adzah atau ta'awudz adalah bacaan memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan, redaksi lafadznya berbunyi: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ {auudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim) yang artinya "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Membaca ta'awudz sebelum memulai membaca ayat-ayat Al-Qur'an, disyari'atkan sebagaimana diperintahkan Allah di dalam surah An-Nahl ayat 98:
 فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ 
"Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. " Bahkan seandainya ia melewati sekelompok orang kemudian ia memberi salam kepada mereka dan hendak kembali membaca lagi, maka sebaiknya ia mengulangi ta'awudz. Para imam qira'at mengutamakan bacaan ta'awudz secara jahar, satu ta'awudz dalam suatu bacaan bersama atau berkelompok, belum mencukupi bagi yang lainnya.

1. Hukum Membaca Isti'aadzah

Terdapat dua perbedaan pendapat mengenai hukum membacanya, yakni:
  1. Wajib. Ar-Razi menceritakan dari Atha' bin Abi Rabah tentang wajibnya isti'adzah di dalam shalat maupin di luar shalat ketika hendak membaca al-Qur'an. Ar-Razi berhujjah dengan riwayat Atha yaitu dengan zhahir ayat ' فَٱسۡتَعِذۡ" (maka hendaklah kamu meminta perlindungan). Ini adalah perintah yang zhahirnya wajib. Juga karena Nabi saw. melakukannya. Dan isti'adzah dapat menolak keburukan setan. Sedangkan suatu perkara yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka perkara itu pun wajib.
  2. Sunnah. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa istiadzah itu hukumnya sunnah dan bukan suatu kewajiban yang jika seseorang meninggalkannya, maka ia berdosa.

2. Kiat Menghadapi Setan

Dalam kaitannya dengan perlindungan dari syaitan dari jenis manusia dan jin, maka kaidahnya adalah sebagai berikut:
  • Untuk setan dari golongan manusia, Ber-ramah tamah dengan  berbuat baik kepadanya, sehingga dapat mengembalikannya kepada tabiat aslinya, yakni sebagai teman dan sahabat.
  • Sebaliknya untuk setan dari jenis jin, Allah memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya karena setan (dari golongan jin) tidak menerima ramah-tamah maupun kebaikan. Ia tidak menghendaki sesuatu apapun, kecuali kebinasaan anak Adam.
Hal ini sesuai dengan sekian banyak ayat Al-Qur'an, diantaranya adalah:
ةُ‌ۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ ۥ عَدَٲوَةٌ۬ كَأَنَّهُ ۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ۬ (٣٤) وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ۬ (٣٥) وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ نَزۡغٌ۬ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
"... Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (34) Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (35) Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Fushshilat: 34-36).

3. Contoh Amalan Yang Dibacakan Ta'awudz Sebelum Memulainya

Jika dirunut satu persatu, tentu akan sangat banyak sekali, atau hampir semua amalan kita disyari'atkan untuk membaca ta'awudz sebelum memulainya, namun di sini cukuplah saya sertakan dua contoh saja disertai dasarnya, sebagai penguat dan pembanding.
1. Saat hendak shalat malam.  Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Sa'id al Khudri ra., ia berkata, "Apabila Rasulullah saw hendak mengerjakan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dengan bertakbir seraya mengucapkan: (yang artinya) 'Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Mahaagung Nama-Mu dan Mahatinggi kemuliaanMu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.'
Kemudian beliau membaca "Laa ilaaha illaallaah " sebanyak tiga kali. setelah itu beliau mengucapأَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ  "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk, dari godaan tiupan dan hembusannya.."[1].
2. Ketika marah. Dari Ubay bin Ka'ab r.a, ia berkata:"Dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Nabi saw., hidung salah seorang dari keduanya mengembang dan mengempis karena marah. Maka beliau bersabda:'Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang ia rasakan. Yaitu ucapan:  أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk." [2].

4. Manfaat Membaca Isti'adzah

  1. Untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang buruk dan tidak berfaidah.
  2. Memohon pertolongan kepada Allah sekaligus menyatakan pengakuan atas kekuasanNya, kelemahan dirinya sebagai seorang hamba yang tidak berdaya melawan musuh yang sejati (setan).

Kesimpulan:

  1. Bahwa membaca isti'adzah itu disyariatkan, tanpa mempertentangkan wajib ataukah sunnah hukumnya, sebaiknya membiasakan mengucapkannya sebagai tindakan berjaga-jaga dan berhati-hati.
  2. Biasakan pula membacanya ketika hendak memabaca al-Qur'an, baik di awal surat, di tengah, atau hanya satu ayat. Adapun memulai dengan basmalah adalah manakala di awal surat, karena memang ada tertulis di sana (kecuali surat at-Taubah).Allaahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Buku "Apa Itu al-Qur'an" Imam Suyuthi (terjemahan), hal.30, penerbit: Gema Insani Pers.
Tafsir Ibnu Katsir jilid I, hL. 48-55, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
***
[1]. H.R. Ahmad (III/69), Abu Daud (I/490), dan Tuhfatul Ahadzi (II/47), an-Nasa'i. Hadits ini juga diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan yang empat. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling mashur dalam masalah ini.
[2]. Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam "Amalul Yaum wal Lailah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar