Sabtu, 01 November 2014

Pengertian Hibah; Hukum, Rukun dan Syarat-Syarat Sahnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kata ini diambil dari kata-kata "hubuubur riih" artinya "muruuruhaa" (perjalanan angin). Kemudian dipakailah kata hibah dengan maksud memberikan kepada orang lain, baik berupa harta maupun bukan. Di dalam syara', hibah ini berarti akad yang pokok persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain di waktu dia hidup, tanpa adanya imbalan. Apabila seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk dimanfaatkan tetapi tidak diberikan kepadanya hak pemilikan, maka hal itu disebut i'aarah (pinjaman).
Demikian pula apabila seseorang memberikan apa yanng bukan harta, seperti khamar atau bangkai, hal seperti ini tidak layak untuk dijadikan sebagai hadiah, dan pemberian ini bukanlah hadiah. Apabila hak pemilikan itu belum terselenggara di waktu pemberinya hidup, akan tetapi diberikan sesudah dia mati, maka itu adalah wasiat. Apabila pemberian itu disertai dengan imbalan, maka itu adalah penjualan, dan padanya berlaku jual-beli. Yakni bahwa hibah itu dimiliki semata-mata hanya setelah terjadinya akad, sesudah itu tidak dilaksanakan tasharruf penghibah kecuali atas izin dari orang yang diberi hibah. Di dalam hibah bisa terjadi khiyar dan syuf'ah. Dan disyaratkan agar imbalan itu diketahui. Bila tidak, maka hibah itu batal.

1. Hibah dengan Makna Umum dan Khusus

Hibah mutlak tidak menghendaki imbalan, baik yang semisal, atau yang lebih rendah, atau yang lebih tinggi darinya. Inilah hibah dengan maknanya yang khusus. Adapun hibah dengan maknanya yang umum, maka ia meliputi hal-hal berikut:
1. Ibraa: menghibahkan hutang kepada orang yang berhutang.
2. Sedekah: yang menghibahkan sesuatu dengan harapan pahala di akhirat.
3. Hadiah: yang menuntut orang yang diberi hibah untuk memberi imbalan.

2. Syari'at Hibah (Legalitas)

  1. Allah telah mensyari'atkan hibah, karena hibah itu menjinakkan hati dan meneguhkan kecintaan diantara manusia. Dari Abu Hurairah r.a.: bahwa Rasulullah saw. bersabda:  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " تَهَادُوا، تَحَابُّو "Saling memberi hadiahlah, maka kamu akan saling mencintai.[1]."
  2. Adalah Nabi saw. menerima hadiah dan membalasnya, Beliau menyerukan untuk menerima hadiah dan menyukainya. Dari Khalid bin 'Adi, bahwa Nabi saw. bersabda; مَنْ بَلَغَهُ مَعْرُوفٌ عَنْ أَخِيهِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ، وَلَا إِشْرَافِ نَفْسٍ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلَا يَرُدَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ  "Barangsiapa mendapatkan kebaikan dari saudaranya yang bukan karena mengharap-harap dan meminta-minta , maka hendaklah dia menerimanya dan tidak menolaknya, karena itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.
  3. Rasulullah saw. telah menganjurkan untuk menerima hadiah, sekalipun hadiah itu sesuatu yang kurang berharga. Dari Anas, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:قَالَ رَسُو لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ } لَوْ أُهْدِيَتْ لِي ذِرَ اعٌ لَقَبِلْتُ وَ لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَ اعٍ َلأَجَبْتُ "Seandainya aku diberi hadiah sepotong kaki kambing, tentu aku akan menerimanya. Dan seandainya aku diundang untuk makan sepotong kaki, tentu aku akan mengabulkan undangan tersebut."[2].
  4. Memprioritaskan pemberian kepada tetangga terdekat pintunya. Dari 'Aisyah r.a., dia berkata: Aku berkata kepada Rasulullah saw.  عن عائشة قالت : قلت } يَا رَ سُو لَ اللهِ اِنَّ لِي جَارَ يْنِ فَاِ لَي أَ يّـِهِمَا أُهْدِي قَالَ اِلَي أَ قْرَ بِـهِمَا مِنْكِ بَا بًا "Sesungguhnya aku mempunyai dua orang tetangga, maka kepada siapakah aku memberi hadiah?" Beliau menjawab: 'Kepada yang lebih dekat pintunya kepadamu.'
  5. Rasulullah juga menerima hadiah dari orang-orang kafir. Beliau menerima hadiah dari Kisra, dari Kaisar, dan hadiah dari Mukaukis. Demikian pula beliau memberikan hadiah dan hibah kepada orang-orang kafir.

3. Rukun Hibah

  • Hibah itu sah melalui ijab dan kabul, bagaimana pun bentuk ijab kabul yang ditunjukkan oleh pemberian harta tanpa imbalan. Misalnya penghibah berkata: "Aku hibahkan kepadamu; Aku hadiahkan kepadamu; Aku berikan kepadamu" atau yang serupa dengan itu, sedangkan pihak yang lain menjawab (kabul) dengan berkata: "Ya, aku terima."(Pendapat Malik dan Asy-Syafi'i).
  • Bahwa ijab itu saja sudah cukup, dan itulah yang paling shahih.(Orang-orang Hanafi)
  • Hibah itu sah dengan pemberian yang menunjukkan kepadanya, karena Nabi saw. diberi dan memberikan hadiah. Begitu pula dilakukan oleh para sahabat. Serta tidak dinukil dari mereka bahwa mereka mensyaratkan ijab kabul, dan yang serupa itu.(Pendapat orang-orang Hambali).

4. Syarat-Syarat Hibah

Hibah itu menghendaki adanya penghibah, orang yang diberi hibah, dan sesuatu yang dihibahkan.
Syarat-Syarat Penghibah:
1. Memiliki apa yang dihibahkan.
2. Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan.
3. Penghibah orang dewasa, sebab anak-anak kurang kemampuannya.
4. Penghibah tidak dipaksa, sebab hibah itu akad yang mempersyaratkan keridhaan dalam keabsahannya.
Syarat-Syarat Penerima Hibah:
1. Benar-benar ada di waktu diberi hibah. Bila tidak benar-benar ada, atau diiperkirakan adanya, misalnya dalam bentuk janin, maka hibah tidak sah.
2. Apabila penerima hibah itu ada di waktu pemberian hibah, akan tetapi dia masih kecil atau gila, maka hibah itu diambil oleh walinya, pemeliharanya, atau orang yang mendidiknya, sekalipun dia orang asing.
Syarat-Syarat Objek Hibah:
1. Benar-benar ada.
2. Harta yang bernilai.
3. Dapat dimiliki zatnya, yakni bahwa yang dihibahkan itu adalah apa yang biasanya dimiliki, diterima peredarannya, dan pemilikannya dapat berpindah tangan; maka tidak sah menghibahkan air di sungai, ikan di laut, burung di udaara, masjid-masjid atau pesantren.
4. Tidak berhubungan dengan tempat milik si pemberi, seperti menghibahkan tanaman, pohon atau bangunan tanpa tanahnya. Akan tetapi yang dihibahkan itu wajib dipisahkan dan diserahkan kepada si penerima, sehingga menjadi milik baginya.
5. Dikhususkan; Yakni tidak untuk umum, sebab pemegangan dengan tangan itu tidak sah kecuali bila ditentukan (untuk siapa) seperti halnya jaminan. (Malik, Asy-Syafi'i Ahmad dan Abu Tsur berpendapat tidak disyaratkannya sarat ini, kata  mereka hibah untuk umum yang tidak dibagi-bagi itu tetap sah.)
Allahu a'lam.


5. Contoh Permasalahan Hibah

1. Sah atau Tidaknya Hibah.
Assalamu'alaikum....
mhn bantuannya...semasa mertua masih hidup telah menghibahkan sebidang tanah seluas 75 m2..dan di SPPT atas nama saya, ketika beliau wafat...anak laki2 menuntut supaya tanah saya tersebut dibagi sebagai harta warisan dan dihitung dengan harta lainnya sesuai hukum islam. pertanyaannya...bagaimana tanah saya tersebut..apakah harus di bagi sebagai harta warisan...terima kasih....wassalamu'alaikum...
Jawab:
'Alaikum salam wr. wb.
Bapak Mulyadi, jika hibah kepada anda dapat dibuktikan dengan misalnya kesaksian dan bukti pencatatan, maka pemberian kepada anda dinyatakan sah dan sudah menjadi milik anda, Dan barang yang sudah berpindah kepemilikannya dari almarhum, maka ia tidak lagi dihitung sebagai harta pusaka (warisan).
Semoga bermanfaat.

2. Sahkah Hibah Ibu Saya
Assalamu'alaikum wr.wb
Ustad, pernikahan ayah dan ibu saya dikaruniai 4 orang anak dengan rincian 2 laki-laki dan 2 perempuan. tahun 2011 ibu saya meninggal dunia lalu tahun 2012 ayah saya menikah lagi tanpa dikaruniai anak. Sepeninggalan ibu kandung saya, sesuai amanat ibu kandung saya bahwa rumah yang ditempati oleh ayah, ibu tiri dan saya, diberikan kepada saya sebagai anak bungsu. karena itu ayah saya berniat menghibahkan rumah tersebut kepada saya. Permasalahannya tidak semua saudara2 saya setuju dengan hibah tersebut. 2 orang saudara laki-laki saya sepakat untuk menghibahkan rumah tersebut kepada saya namun saudara perempuan saya tidak sepakat. Lalu saudara laki2 saya menyarankan untuk membagi waris rumah tersebut. ayah dan saudara laki2 saya sepakat untuk waris mereka dihibahkan kepada saya sedangkan untuk saudara perempuan saya bila dia tidak setuju dengan hibah maka hak waris saudara perempuan saya tersebut akan dikeluarkan sesuai perhitungan waris. Benarkah rincian waris tersebut untuk bagian ayah saya itu adalah 1/2, saudara laki2 saya 2/3 (2 org) dan 1/3 untuk bagian perempuan? mohon bantuannya ustad, terima kasih, Wassalamu'alaikum wr.wb
Jawab:
'Alaikum salam Wr. Wb.
Pertanyaannya: Milik siapakah rumah tersebut ?
A. Jika itu milik ibu (100%); maka tidak dikatakan itu hibah, tetapi harta warisan, karena niat ibu memberikannya kalau beliau sudah meninggal.
B. Jika itu milik ayah (100%).hibahnya sah; hanya saja hibah yang curang, karena tidak memberikan merata pada semua anaknya, atau minimal ada keikhlasan dari semua ahli warisnya.
* Jika hendak membagi waris menggunakan HUKUM ISLAM, maka bagiannya adalah sbb.:
- Ayah: 6/24 (25%)
- 2 Anak laki-laki masing-masing: 6/24 (25%)
- 2 Anak perempuan masing-masing: 3/24 (12,5%)
Semoga bermanfaat.

3. Hibah itu Menjadi Milik Penerimanya
- Kami sekeluarga beragama Islam . Kedua orang tua masih hidup baik ayah dan ibu , memiliki 3 anak (1 laki laki dan 2 perempuan) Sewaktu kami masih muda .... ibu kami telah membagi2kan waris / hibah / apalah namanya kepada kami bertiga sbb :
- Saya ( anak ke 2 ) laki laki dibelikan rumah SHM dengan waris/hibah/apalah namanya ....dan atas nama saya sendiri di sidoarjo berasal dari harta gono-gini atau harta bersama. 
- Kakak perempuan ( anak ke 1 ) diberi waris /hibah / apalah namanya , di surabaya / SHM dan atas nama kakak berasal dari harta asal ayah.
- Adik perempuan ( anak ke 3 ) di beri waris/hibah / apalah namanya , di surabaya / SHM dan atas nama adik berasal dari harta asal ayah. 
( mereka ber2 menempati 2 rumah yang bersebelahan rumah tersebu berasal dari harta asal dari ayah , berupa 2 buah rumah dan ditempati bersama kedua orang tua kami menempati ke 2 rumah tersebut.
- Ke dua rumah di Surabaya tersebut dijual / terjual dengan harga mahal sekali ( dg persetujuan orang tua ) dan nilainya nominalnya berbeda dengan harga jual rumah saya di Sidoarjo perbedaan nilai jual sekitar 20 x lipat lebih besar daripada rumah saya. 
- Kedua orangtua saya yang sudah tua ( 75 th bapak dan 70 th ibu ) yang menghadapi dilemma ini krn orang tua merasa telah memberikan hak waris dan atas nama shm ke dua anak perempuannya
- Ke dua saudara saya ingin memiliki / menikmati semua hasil penjualan tersebut dengan asumsi sebagai harta waris telah dibagi padahal ke dua orang tua masih hidup sedangkan Saya adalah anak laki2 dari 3 bersaudara .
Permasalahannya :
1. Bagaimanakah pengaturannya hukum waris tersebut bila kedua orangtua masih hidup ? 
2. Bagaimanakah orang tua harus menyikapi serta berbuat bijaksana dan adil dalam masalah ini ?
3. Bila kondisi kedua orang dianggap tidak cakap/ tidak mampu krn sudah tua bolehkah saya mewakili sbg wakil / wali dari ke2 orang tua saya krn saya laki2 dan lebih mengetahui hukum waris drpd kedua saudara saya ?
4. Bila kedua saudara perempuan saya menolak bila telah dilakukan musyawarah dan mufakat mengingat hukum waris belum terjadi karena orang tua masih hidup. Apakah yang harus saya lakukan ?
5. Landasan dan Dasar Hukum apakah yang kami gunakan dan bersifat mengikat dalam masalah ini , Hukum Adat , Kompilasi Hukum Islam atau Hukum Perdata ?
Bila dikatakan hibah , apabila mempunyai nilai jual yang berbeda pada akhirnya dan sudah bersetifikat SHM , bisakah ditangguhkan atau dibatalkan ( musyawarah mufakat dg keluarga ) 
dan dengan dasar hukum apa ?
Mohon penjelasan dan pencerahannya
Terimakasih atas perhatiannya …. Wassalam
HM
Jawab:
'Alaikum salam Wr. Wb.
Pemberian dari orang tua kepada anaknya di saat ortu masih hidup, disebut HIBAH, kalau orangtua sudah meninggal, disebut WARISAN.
- Objek yang sudah diberikan sebagai hibah, itu sudah menjadi hak si penerima, termasuk harga jual objek tsb.
- Warisan sudah bisa dibagi jika salah satu dari orang tua anda meninggal dunia, yang dibagikan adalah harta milik yang meniggal saja. setelah dikurangi bagian salah satu (bapak/ibu anda) maka sisanya dibagikan kepada anak-anaknya, dengan komposisi anak laki-laki mendapat 2x bagian anak perempuan.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
      Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 14 hal.174-180, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
***
[1]. H.R. Bukhari di dalm Al-Adabul Mufrad, dan Al-Baihaqi berkata sanad hadits ini hasan.
[2]. H.R.Ahmad dan At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar