Jumat, 28 November 2014

Larangan Wakaf Yang Merugikan Ahli Waris

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian wakaf adalah: menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah. Kata wakaf berasal dari kata kerja waqafa (fiil madi)-yaqifu (fiil mudari)-waqfan (isim masdar), yang berarti "berhenti" atau "berdiri", sedangkan pengertian wakaf menurut istilah syara' adalah menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya, untuk kebaikan. Wakaf adalah perbuatan hukum yang suci dan mulia, sebagai shadaqah jariah yang pahalanya terus-menerus mengalir walaupun yang memberi wakaf telah meninggal dunia. Orang yang mewakafkan hartanya disebut Wakif, sedangkan orang yang menerima harta wakaf disebut Nazhir. Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif. Harta yang sering diwakafkan misalnya tanah atau bangunan.
Wakaf apabila dilakukan berdasarkan tuntutan syari'at maka wakaf tersebut hukumnya mustahab, sebab ia merupakan salah satu bentuk sedekah. Tapi sekiranya orang bernadzar mewakafkan sesuatu, maka wakaf tersebut menjadi sebuah kewajiban, lantaran nadzar tersebut. Namun, seandainya terdapat unsur kezhaliman pada akad wakaf tersebut atau mewakafkan sesuatu yang diharamkan, maka wakaf tersebut adalah haram. Hukum wakaf juga dapat menjadi makruh apabila wakaf tersebut menyulitkan ahli waris. Jadi, pada wakaf berlaku lima jenis hukum (mubah, wajib, sunnah, haram, atau makruh). 


1. Wakaf Yang Dilarang

Seseorang diharamkan untuk memberikan wakaf yang merugikan ahli waris, karena hadits Rasulullah saw.:
لاَ ضَرَارَ وَلاَ ضِرَارَ فِى الإِسْلاَمِ
"Tidak ada yang dirugikan dan tidak ada pula yang merugikan di dalam Islam."
Maka bila seseorang mewakafkan hartanya dengan merugikan ahli waris, maka wakafnya itu batal. Dikatakan di dalam kitab Ar-Raudhah An-Nadiyyah:
Walhasil, wakaf yang dimaksudkan untuk memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, dan bertentangan dengan ketentuan Allah itu batil dari segi asalnya dan tidak sah sama sekali. Contohnya seperti orang yang mewakafkan kepada anak-anaknya yang lelaki dan tidak mewakafkan kepada anak-anaknya yang perempuan, dan yang serupa dengan itu. Orang ini tentu tidak ingin mendekat kepada Allah Ta'ala, bahkan dia ingin menentang hukum-hukum Allah dan memusuhi apa yang disyaria'atkan Allah kepada hamba-Nya. Dan wakaf Thaghut (setan) ini dia gunakan sebagai alat untuk mencapai maksud setan. Yang demikian ini perlu Anda perhatikan, karena hal ini sering terjadi di zaman kita ini. Demikianlah, telah berwakaf orang yang tidak terdorong untuk berwakaf kecuali oleh keinginan untuk melanggengkan harta diantara keluarganya dan agar wakaf tidak keluar dari milik mereka, lalu dia berwakaf kepada keluarganya. Orang yang demikian ini sebenarnya hendak menentang hukum Allah, yaitu perpindahan milik dari pewarisan dan penyerahan milik itu kepada ahli waris untuk diperlakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Masalah kaya atau miskinnya ahli waris itu bukanlah masalah orang yang berwakaf, akan tetapi ia adalah masalah Allah Ta'ala. memang terkadang, sekalipun itu jarang terjadi, wakaf kepada keluarga ini ada pula kebaikannya sesuai dengan keaneakaragaman pribadi mereka. Maka hendaklah diperhatikan baik-baik oleh pengawas perwakafan sebab-sebab yang menyampaikan pada maksud itu.
Dan diantara apa yang jarang terjadi itu adalah bila orang berwakaf kepada siapa yang shaleh diantara keluarganya, atau yang sibuk menuntut ilmu. Wakaf yang demikian mungkin maksudnya ikhlas, pendekatannya kepada Allah terwujud, dan amalnya disertai dengan niat baik. Akan tetapi menyerahkan perkara ini kepada hukum Allah dan diantara hamba-hamba-Nya dengan mengharap keridhaan-Nya, itu lebih utama dan lebih layak.


2. Syarat dan Rukun Wakaf

a.Syarat-syarat harta yang diwakafkan sebagai berikut:
1) Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (disebut takbid).
2) Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan datang. Misalnya, “Saya wakafkan bila dapat keuntungan yang lebih besar dari usaha yang akan datang”. Hal ini disebut tanjiz
3) Jelas mauquf alaih nya (orang yang diberi wakaf) dan bisa dimiliki barang yang diwakafkan (mauquf) itu
b. Rukun Wakaf
1) Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya;
a. kehendak sendiri
b. berhak berbuat baik walaupun non Islam
2) sesuatu (harta) yang diwakafkan (mauquf), syartanya;
a. barang yang dimilki dapat dipindahkan dan tetap zaknya, berfaedah saat diberikan maupun dikemudian hari
b. milki sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakafkan atau musya (bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian yang lain
3) Tempat berwakaf (yang berhak menerima hasil wakaf itu), yakni orang yang memilki sesuatu, anak dalam kandungan tidak syah.
4) Akad, misalnya: “Saya wakafkan ini kepada masjid, sekolah orang yang tidak mampu dan sebagainya” tidak perlu qabul (jawab) kecuali yang bersifat pribadi (bukan bersifat umum)
5. Harta yang Diwakafkan
Wakaf meskipun tergolong pemberian sunah, namun tidak bisa dikatakan sebagai sedekah biasa. Sebab harta yang diserahkan haruslah harta yang tidak habis dipakai, tapi bermanfaat secara terus menerus dan tidak boleh pula dimiliki secara perseorangan sebagai hak milik penuh. Oleh karena itu, harta yang diwakafkan harus berwujud barang yang tahan lama dan bermanfaat untuk orang banyak, misalnya:
a. sebidang tanah
b. pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya
c. bangunan masjid, madrasah, atau jembatan


3. Perbedaan Hibah, Wasiat, Waris dan Wakaf

  • HibahMenurut bahasa berarti suatu pemberian terhadap orang lain, yang sebelumnya orang lain itu tak punya hak terhadap hak tersebut. Para fuqaha mendefinisikan sebagai akad yang mengandung penyerahan hak milik kepada orang lain semasa hidupnya tanpa ganti rugi. 
  • Wasiat. Adapun makna wasiat adalah pernyataan atau perkataan seseorang kepada orang lain, bahwa ia memberikan hartanya kepada orang lain, membebaskan hutang orang itu atau memberikan manfaat suatu barang kepunyaannya setelah ia meninggal dunia. 
  • WarisKetetuan-ketentuan tentang pembagian harta pusaka atau peninggalan yang meliputi ketentuan tentang siapa yang berhak dan tidak berhak menerima warisan dan berapa jumlah masing-masing harta yang diterima. Istilah yang sama artinya dengan waris ialah fara’id yang menurut bahasa berarti kadar atau bagian. Dengan demikian hukum waris sama dengan hukum fara’id. 
  • Wakaf. Wakaf asal katanya adalah waqf, berarti menahan, mengekang, menghentikan. Dalam hal ini menghentikan perpindahan hak milik atas suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola, baik perorangan, keluarga maupun lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah Swt.
Jadi, perbedaan Wakaf dengan hibah (hadiah), jika hibah adalah pemberian harta milik seseorang pada saat masih hidup kepada orang lain. Hibah tejadi pada benda-benda yang mubah apapun, mulai dari makanan, minuman, uang, baju, rumah, tanah dan sebagainya.
Sedangkan harta yang diwakafkan disyarat harus tetap utuh atau awet ketika dimanfaatkan. Tidak boleh mewakafkan harta yang mudah rusak, habis atau lenyap saat dimanfaatkan. Syarat seperti ini tidak berlaku pada harta yang hendak dihibahkan,
Harta yang dhibahkan maupun manfaatnya berhak dimiliki oleh penerimaan hibah. Adapun pada wakaf, penerimaan wakaf hanya berhak atas manfaat dan gunanya saja.


4. Wakaf dan Wasiat

Dari sisi kerugian para ahli waris, wakaf bisa disamakan dengan wasiat. Maka dimana wasiat ada pagar pembatasnya, wakaf pun demikian adanya, dengan maksud membentengi para ahli waris dari kondisi kekurangan karena adanya wakaf sebagai pengurang bagian para ahli waris.
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً۬ ضِعَـٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلاً۬ سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap [kesejahteraan] mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S.An-Nisa:9)
  • Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Ayat ini mengenai seorang laki-laki yang meninggal kemudian seseorang mendengar bahwa ia memberikan wasiat yang membahayakan ahli warisnya. Maka Allah memerintahkan orang yang mendengar hal itu untuk bertaqwa kepada Allah dengan membimbing dan mengarahkan yang bersangkutan pada kebenaran. Maka hendaklah ia berusaha memperhatikan ahli waris orang tersebut, sebagaimana ia senang melakukannya kepada ahli warisnya sendiri tatkala ia takut mereka sia-siakan [1]. Demikian pendapat Mujahid dan yang lainnya [2].
  • Dalam Ash-Shahihain ditegaskan bahwa ketika Rasulullah saw. menjenguk Sa'd bin Abi Waqqash, ia bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki banyak harta dan tidak memiliki ahli waris kecuali seorang puteri. Bolehkah aku menshadaqahkan dua pertiga hartaku?" Beliau menjawab:"Tidak." Ia bertanya "Setengah?" Beliau menjawab, "Tidak." Dia bertanya lagi, "(Bagaimana) kalau sepertiga?" Beliaupun menjawab, "Ya, spertiga boleh. Dan sepertiga itu banyak." Kemudian Rasulullah saw. bersabda: إِنَّكَ إِنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌُ مِنْ أَنْ تَذَرَ هُمْ عَالَةًَ، يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ "Sesungguhnya kamu tinggalkan keturunanmu dalam keadaan cukup adalah lebih baik daripada engkau biarkan mereka miskin meninta-minta kepada orang lain." [3].
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 14, hal. 172-173, Sayyid Saabiq, penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
Tasir Ibnu Katsir jilid 2 hal. 434-435, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
http://badanwakafsirojulmunir.org/pengertian-wakaf/
http://www.pengertianahli.com/2014/05/pengertian-wakaf-dan-hukum-wakaf.html
***
[1]. Ath-Thabari (VIII/19).
[2]. Ath-Thabaru (VIII/21).
[3]. Fathul Baari (V/427) dan Muslim (IV/1253). Bukhari (no.3936), Muslim (no.1628).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar