Jumat, 07 November 2014

Jenis Pemberian Yang Tidak Boleh Ditolak dan Adab Membalas Hadiah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Hadiah atau hibah atau kado adalah pemberian uang, barang, jasa dll yang dilakukan tanpa ada kompensasi balik seperti yang terjadi dalam perdagangan, walaupun dimungkinkan pemberi hadiah mengharapkan adanya imbal balik, ataupun dalam bentuk nama baik (prestise) atau kekuasaan. Dalam hubungan manusia, tindakan pertukaran hadiah berperan dalam meningkatkan kedekatan sosial. Istilah hadiah dapat juga dikembangkan untuk menjelaskan apa saja yang membuat orang lain merasa lebih bahagia atau berkurang kesedihannya, terutama sebagai kebaikan, termasuk memaafkan (walaupun orang lain yang diberi tidak baik). Perbedaan antara sedekah, hibah dan hadiah menurut Ibnu Utsaimin adalah: "Sedekah adalah pemberian yang orientasinya adalah akhirat alias pahala dan ganjaran di akhirat. Adapun hibah adalah pemberian yang tujuannya adalah memberi manfaat kepada pihak yang diberi dengan “menutup mata” apakah akan mendapatkan pahala di akhirat ataukah tidak dan apakah akan mendapatkan simpati dari pihak yang diberi ataukah tidak, Sedangkan hadiah adalah pemberian yang tujuannya adalah meraih simpati dan rasa suka pihak yang diberi kepada pihak yang memberi. " 


1. Anjuran Memberi Hadiah dan Menerimanya

  1. Adalah Nabi saw. menerima hadiah dan membalasnya, Beliau menyerukan untuk menerima hadiah dan menyukainya. Dalam hadits Ahmad dari Khalid bin 'Adi, bahwa Nabi saw. bersabda: مَنْ بَلَغَهُ مَعْرُوفٌ عَنْ أَخِيهِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ، وَلَا إِشْرَافِ نَفْسٍ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلَا يَرُدَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ  "Barangsiapa mendapatkan kebaikan dari saudaranya yang bukan karena mengharap-harap dan meminta-minta , maka hendaklah dia menerimanya dan tidak menolaknya, karena itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.[1].
  2. Rasulullah saw. telah menganjurkan untuk menerima hadiah, sekalipun hadiah itu sesuatu yang kurang berharga. Oleh karena itu para ulama berpendapat makruh hukumnya menolak hadiah apabila tidak ada halangan yang bersifat syara'. Dari Anas, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:قَالَ رَسُو لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ } لَوْ أُهْدِيَتْ لِي ذِرَ اعٌ لَقَبِلْتُ وَ لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَ اعٍ َلأَجَبْتُ "Seandainya aku diberi hadiah sepotong kaki kambing, tentu aku akan menerimanya. Dan seandainya aku diundang untuk makan sepotong kaki, tentu aku akan mengabulkan undangan tersebut."[2].

2. Jenis Hadiah dan Hibah Yang Tidak Boleh Ditolak

  1. Dari Umar, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw. ثلاث لا تردّ: الوسائد، والدّهن، واللّبن "Tiga pemberian tidak ditolak: bantal, minyak wangi dan susu."[3].
  2. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:من عرض عليه طيب فلا يرد ه فإ نه خفيف المحمل و طيب الرائحة "Barangsiapa diberi wewangian, maka janganlah dia menolak; karena wewangian itu enteng dibawa dan harum baunya."[4].
  3. كان أنس بن ملك إنّ النّبيّ كان لا يردّ الطّيب Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. tidak pernah menolak hadiah yang berupa wewangian.[5].

3. Pujian dan Do'a Untuk Pemberi Hadiah

  1. Dari Abu Hurairah, dia berkata: "Telah bersabda Rasulullah saw.: مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti dia pun tidak bersyukur pula kepada Allah."[6].
  2. Dari Jabir dari Nabi saw., beliau bersabda: مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ "Barangsiapa diberi suatu pemberian, maka hendaklah dia membalasnya; bila tidak ada hendaklah dia memuji pemberinya; karena orang yang memuji itu telah bersyukur, dan barang siapa menyembunyikannya maka berarti dia mengkufurinya. Dan barangsiapa yang berpura-pura zuhud, padahal dia bukan orang yang zuhud, maka dia itu bagaikan orang yang berdusta yang mengatakan apa yang tidak ada." [7].
  3. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:  مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ "Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, lalu dia mengatakan kepada orang yang membuaat kebajikan itu 'Jazaakallaahu khairan' (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka cukup besarlah pujiannya itu." [8].


4. Alasan-Alasan Dibenarkannya Menolak Hadiah

Kewajiban untuk menerima hadiah bukan berarti mutlak harus dilakukan, namun dibolehkan untuk tidak menerimanya apabila ia memiliki alasan yang sesuai dengan syariat. Rasulullah ` pun pernah pula menolak hadiah dengan alasan tertentu. Di antara alasan bolehnya menolak hadiah:
  1. Karena adanya larangan untuk menerimanya dengan sebab syari'atDari As-Sha’ab bin Jatsamah  bahwa beliau suatu saat memberi hadiah kepada Nabi ` berupa daging kuda zebra, tetapi Rasulullah ` menolak hadiah tersebut. Maka berubahlah rona muka shahabat tersebut, melihat hal ini Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Saya tidak menerima hadiah tersebut kecuali sebabnya saya sedang dalam keadaan Ihram” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Dalam riwayat ini beliau tidak menerima hadiah tersebut dikarenakan beliau dalam keadaan haji, sedangkan orang yang haji tidak diperbolehkan untuk makan dari hewan buruan, dan kuda zebra dalam hadits ini adalah hewan buruan.
  2. Karena udzur (alasan tertentu). Dari Abdullah bin Abbas r.a. bahwa suatu saat bibinya yaitu Ummu Hafid memberi hadiah kepada Nabi ` berupa: susu kering, minyak samin serta adhab (hewan sejenis biawak yang hidup di padang pasir, dan makanan pokoknya adalah tumbuhan), maka beliau memakan susu kering, minyak samin dan menolak adhab.”  [H.R. Al Bukhari dan Muslim]. Dalam hadits ini Rasulullah ` menolak untuk memakan adhab. Adhab adalah makanan yang biasa dimakan oleh kaum Anshar namun tidak biasa dimakan oleh penduduk Mekah, sehingga beliau merasa risih untuk memakannya walaupun tidak diharamkan.
  3. Menolaknya karena khawatir mudharat yang akan menimpanya. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Demi Allah, setelah tahun ini aku tidak akan menerima hadiah kecuali dari orang-orang yang berhijrah, orang Quraisy, orang Anshar, orang Daus, atau orang Tsaqafy.”  [H.R. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]. Penolakan beliau atas hadiah selain dari orang-orang yang tersebut ini disebabkan karena sebelumnya ada seorang Arab Badui yang memberikan hadiah kepada Nabi `. Merupakan kebiasaan mereka adalah memberikan hadiah dalam rangka untuk mendapatkan balasan yang lebih baik. Maka Rasulullah ` memberikan hadiah kepada orang ini dengan sesuatu yang dimampui Nabi `. Namun orang ini marah dan tidak terima, sampai akhirnya Nabi ` memberi dengan kadar yang diinginkan orang tersebut. Maka, di sini dapat diambil pelajaran bahwa kita boleh menolak hadiah atau pemberian jika hal tersebut akan memberikan kemudharatan kepada kita atau akan menjadikan rendah orang yang menerima hadiah tersebut.

5. Anjuran Membalas Hadiah

Disunnahkan membalas hadiah, sekalipun hadiah itu dari orang yang lebih tinggi kepada orang yang lebih rendah.
Telah diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Abu Daud dan At-Tirmidzi, dari 'Aisyah r.a., dia berkata: "Rasulullah saw. menerima hadiah dan membalasnya." [9]. Dan lafadz Ibnu Abu Syaibah: "Dan membalas dengan apa yang lebih baik darinya."
Beliau berbuat yang demikian itu adalah untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang semisal, sehingga tidak ada seorangpun yang menghutangkan kebajikan kepada beliau.
Ada beberapa ulama yang menjadikan urusan manusia dan hadiah ini dalam 3 tingkatan, yaitu:
  1. Pemberian kepada yang lebih rendah dari dirinya, misal kepada pembantu, karena menghormati dan mengasihinya. Pemberian yang demikian tidak menghendaki balasan.
  2. Pemberian kepada yang lebih tinggi dari dirinya untuk mendapatkan kebutuhan dan manfaat, maka pemberian demikian wajib dibalas.
  3. Pemberian kepada orang yang setingkat dengannya dengan maksud kecintaan dan pendekatan, pemberian yang demikian ini wajib dibalas.
Adapun apabila seseorang diberi hadiah dan disyaratkan untuk membalasnya, maka dia wajib membalasnya.


6. Pengertian Gratifikasi

Dewasa ini kita mengenal istilah baru dalam dunia "pemberian" yang populer dengan sebutan gratifikasi, apakah artinya dan bagaimana hukumnya?
Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian biaya tambahan (fee), uang, barang, rabat (diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Walaupun batas minimum belum ada, namun ada usulan pemerintah melalui Menkominfo pada tahun 2005 bahwa pemberian dibawah Rp. 250.000,- supaya tidak dimasukkan ke dalam kelompok gratifikasi. Namun hal ini belum diputuskan dan masih dalam wacana diskusi. Dilain pihak masyarakat sebagai pelapor dan melaporkan gratifikasi di atas Rp. 250.000,- wajib dilindungi sesuai PP71/2000.
Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU 31/1999 dan UU 20/2001 Pasal 12 dimana ancamannya adalah dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah.
Pada UU 20/2001 setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap, namun ketentuan yang sama tidak berlaku apabila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.
Contoh kasus yang dapat digolongkan sebagai gratifikasi
  • Pembiayaan kunjungan kerja lembaga legislatif, karena hal ini dapat memengaruhi legislasi dan implementasinya oleh eksekutif.
  • Cinderamata bagi guru (PNS) setelah pembagian rapor/kelulusan.
  • Pungutan liar di jalan raya dan tidak disertai tanda bukti dengan tujuan sumbangan tidak jelas, oknum yang terlibat bisa jadi dari petugas kepolisian (polisi lalu lintas), retribusi (dinas pendapatan daerah), LLAJR dan masyarakat (preman). Apabila kasus ini terjadi KPK menyarankan agar laporan dipublikasikan oleh media massa dan dilakukan penindakan tegas terhadap pelaku.
  • Penyediaan biaya tambahan (fee) 10-20 persen dari nilai proyek.
  • Uang retribusi untuk masuk pelabuhan tanpa tiket yang dilakukan oleh Instansi Pelabuhan, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pendapatan Daerah.
  • Parsel ponsel canggih keluaran terbaru dari pengusaha ke pejabat.
  • Perjalanan wisata bagi bupati menjelang akhir jabatan.
  • Pembangunan tempat ibadah di kantor pemerintah (karena biasanya sudah tersedia anggaran untuk pembangunan tempat ibadah dimana anggaran tersebut harus dipergunakan sesuai dengan pos anggaran dan keperluan tambahan dana dapat menggunakan kotak amal).
  • Hadiah pernikahan untuk keluarga PNS yang melewati batas kewajaran (baik nilai ataupun harganya).Pengurusan KTP/SIM/Paspor yang "dipercepat" dengan uang tambahan.Mensponsori konferensi internasional tanpa menyebutkan biaya perjalanan yang transparan dan kegunaannya, adanya penerimaan ganda, dengan jumlah tidak masuk akal.
  • Pengurusan izin yang sangat dipersulit.
Dari definisi dan penjabaran gratifikasi di atas, dapat disimpulkan bahwa gratifikasi adalah "suap cara halus" yang diberikan kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.
pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima bayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri;
Sanksinya: Pasal 12B ayat (2) UU no. 31/1999 jo UU No. 20/2001
Pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.
Maka disimpulkan bahwa gratifikasi adalah pemberian yang seharusnya ditolak !!! karena hal semacam ini pernah terjadi di jaman Nabi saw., seorang pegawai zakat yang menerima pemberian di luar yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, dan Nabi saw. mengecam keras.
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَسْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ قَالَ عَمْرٌو وَابْنُ أَبِي عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا لِي أُهْدِيَ لِي قَالَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِي بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ مَرَّتَيْنِ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنَ اللُّتْبِيَّةِ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَجَاءَ بِالْمَالِ فَدَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذِهِ هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا قَعَدْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ فَتَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْكَ أَمْ لَا ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ سُفْيَانَ
Ada seorang petugas yg aku tugaskan memungut zakat, dia berkata, 'Zakat ini yg kuberikan (setorkan) kepada anda, & ini pemberian orang kepadaku.' Mengapa dia tak duduk saja di rumah ibu bapaknya menunggu orang mengantarkan hadiah kepadanya? 
Demi Allah yg jiwa Muhammad berada di tangannya, tak ada seorangpun di antara kalian yg menggelapkan zakat ketika ia ditugaskan untuk memungutnya, melainkan pada hari kiamat kelak dia akan memikul unta yg digelapkannya itu melenguh-lenguh di lehernya, atau sapi (lembu) yg melenguh, atau kambing yg mengembek-embek. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya, kemudian beliau bersabda:
'Ya Allah, telah aku sampaikan.' Beliau mengatakannya dua kali. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim & Abd bin Humaid keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari Abu Humaid As Sa'idi dia berkata, Nabi pernah mengangkat Ibnu Lutbiyah, yaitu seorang laki-laki dari Asd (menjadi seorang pegawai), untuk memungut zakat, kemudian dia datang kepada Nabi & menyerahkan zakat yg di pungutnya, lalu dia berkata, Ini adalah zakat yg aku setorkan kepada anda, & ini adalah pemberian orang kepadaku. Kemudian beliau bersabda:
Mengapa dia tak duduk saja di rumah ibu bapaknya sambil menunggu apakah ada orang yg hendak mengantarkan hadiah kepadanya ataukah tidak. Setelah itu Nabi berdiri berkhutbah. Kemudian dia menyebutkan hadits seperti Sufyan. [HR. Muslim No.3413].
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Sebarkan !!!  insyaallah bermanfaat,
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ          
      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 14, hal.176, 193-196, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
http://id.wikipedia.org/wiki/Gratifikasi
http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/mn-ketentuan-gratifikasi
http://www.mutiarahadits.com/07/65/76/haramnya-petugas-menerima-hadiah.htm
***
[1]. H.R. Bukhari di dalm Al-Adabul Mufrad, dan Al-Baihaqi berkata sanad hadits ini hasan.
[2]. H.R.Ahmad dan At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya pula.
[3]. H.R. At-Tirmidzi, katanya hadits ini gharib.
[4]. H.R.Muslim.
[5]. H.R.Tirmidzi, Bukhari, Nasa'i, dan Ahmad
[6]. H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih.
[7]. H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi.
[8]. HR. At-Tirmidzi dengan isnad yang jayyid.
[9]. Maksudnya membelikan balasan kepada orang yang memberi hadiah. Dan sedikitnya adalah yang bernilai sama dengan hadits ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar