Selasa, 04 November 2014

Hukum Menghibahkan Semua Harta dan Melebihkan Untuk Anak Tertentu

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sering terjadi di dalam sebuah keluarga, orang tua memberikan hibah kepada anak-anaknya tanpa mengindahkan kaidah yang disyari'atkan. Ada yang membagi semua harta, dengan pertimbangan agar nanti tidak berebutan sepeninggalnya si pemberi, atau diniatkan untuk membuat  seseorang ahli waris tertentu mendapat bagian jangan terlalu banyak. Ada juga yang memberikan hibah kepada anaknya yang tertentu saja, tidak merata, biasanya dengan pertimbangan subjektif. Misalnya si anak adalah anak kesayangan, si anak belum punya rumah dibanding yang lain, dan sebagianya. Berikut adalah permasalahan yang sering terjadi dalam pemberian (hibah), yang perlu diketahui keputusan hukumnya, sebagai lanjutan dari postingan sebelumnya: Pengertian Hibah, Syarat dan Rukun.

1. Hibah dari Orang Sakit yang Membawa Pada Kematian

  • Hibahnya dianggap wasiat. Bila seseorang menderita sakit yang menyebabkan kematian, sedang dia menghibahkan kepada orang lain, maka hukum hibahnya ini seperti wasiatnya. 
  • Harus disertai bukti si penghibah dalam keadaan sehat. Apabila dia menghibakan kepada seseorang diantara ahli waris, kemudian dia menghibahkan kepadanya dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematian, dan si penerima hibah mendakwa bahwa hibah itu diberikan kepadanya di waktu si penghibah sehat, maka si penerima wajib memperkuat kata-katanya. Bila dia tidak memperkuat kata-katanya, maka dianggap hibahnya terjadi pada waktu sakit. Dan hukum yang berlaku untuk itu adalah bahwa hibah itu tidak sah kecuali bila diperbolehkan oleh semua ahli waris.

    2. Hibah itu Dipegang Di Tangan

    Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat:
    • Sah hanya dengan akad. Hibah menjadi hak penerima hanya dengan semata-mata akad tanpa syarat harus dipengang di tangan sama sekali; sebab yang pokok dalam masalah ini ini adalah bahwa perjanjian itu sah tanpa syarat harus dipegang di tangan, seprti halnya jual-beli. Maka jika si penghibah atau si penerima hibah mati sebelum penyerahan, hibah itu tidaklah batal; karena hanya dengan akad semata hibah telah menjadi milik si penerima. (Pendapat Ahmad, Malik, Abu Tsur dan Ahli Dhahir).
    • Dipegang di tangan menjadi syarat sahnya hibah. Selagi belum di pegang di tangan, maka penghibah belum menetapkan hibah. Apabila penghibah atau penerima mati sebelum penyerahan, maka hibah itu batal (Pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi'i dan Ats-Tsauri).


      3. Hukum Menghibahkan Semua Harta

      Dalam perkara ini, juga ada perbedaan pendapat para ulama.
      • Sah. Orang  boleh menghibahkan semua apa yang dimilikinya kepada orang lain. (Pendapat  madzhab jumhur ulama).
      • Tidak sah. Tidak diperbolehkan menghibahkan semua harta meskipun di dalam kebaikan. Mereka menganggap orang yang berbuat demikian itu sebagai orang dungu yang wajib dibatasi haknya. (Pendapat Muhammad Ibnul Hasan dan sebagian Pentahqiq madzab Hanafi).
      • Relatif. Barang siapa yang sanggup bersabar atas kemiskinan dan kekurangan harta, maka tidak ada halangan untuk menyedekahkan sebagian besar atau semua hartanya. Akan tetapi barang siapa yang menjaga dirinya dari meminta-minta kepada manusia, maka tidak halal baginya menyedekahkan semua atau sebagian besar dari hartanya. (Pendapat Pengarang Kitab Ar-Raudhah AN-Nadiyyah yang mentahqiq masalah ini).

        4. Melebihkan Pemberian Kepada Sebagian Anak Saja.

        • Tidak dihalalkan, karena akan menanamkan permusuhan dan memutuskan hubungan silaturahim yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya (Pendapat Imam Ahmad)[1].
        • Perbuatan batil dan curang. Orang yang melakukan perbuatan itu hendaklah membatalkannya, karena Al-Bukhari pun telah menjelaskan hal ini. Untuk itu mereka  berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:سَوُّوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ ِفى الْعَطِيَّةِ وَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلاُ أَحَدٌا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ "Persamakanlah di antara anak-anakmu di dalam pemberian. Seandainya aku hendak melebihkan seseorang, tentu aku lebihkan anak-anak perempuan."[2]. (Ini pendapat Ishak, Ats-Tsauri dan sebagian orang Maliki).
        Perhatikanlah sebuah hadits yang cukup populer sebagai penguat larangan di atas: أَعْطَانِي أبي عَطِيَّةً فقالت عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لَا أَرْضَى حتى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال إني أَعْطَيْتُ ابْنِي من عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يا رَسُولَ اللَّهِ قال أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هذا قال لَا قال فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بين أَوْلَادِكُمْ قال فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ
        Dari Asy-Sya'bi, dari An-Nu'man bin Basyir, dia berkata: "Ayahku (Basyiir) memberikan suatu pemberian kepadaku, maka Ibuku 'Amroh binti Rowaahah berkata, "Aku tidak ridho sampai engkau menjadikan Rasulullah sebagai saksi (atas pemberian ini)". Maka ayahkupun mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Aku telah memberikan kepada anakku -dari istriku 'Amroh binti Rowaahah- sebuah pemberian, lantas istriku memintaku untuk meminta persaksian darimu wahai Rasulullah". Nabi berkata, "Apakah engkau juga memberikan kepada seluruh anak-anakmu sebagaimana yang kau berikan kepada An-Nu'maan?". Ayahku berkata, "Tidak". Nabi berkata, "Bertakwalah engkau kepada Allah, dan bersikaplah adil terhadap anak-anakmu!". Maka ayahkupun balik dan mengambil kembali pemberian yang telah ia berikan" (HR Al-Bukhari no 2447). Adapun pemberian yang diberikan kepada An-Nu'man dari ayahnya adalah seorang budak milik ayahnya (lihat HR Abu Dawud no 3542).
        * Dalam lafal yang lain Rasulullah mengulang-ngulang perkataannya,
        اعْدِلُوا بين أَوْلَادِكُمْ اعْدِلُوا بين أَبْنَائِكُمْ
        Bersikalah adil terhadap anak-anakmu, bersikaplah adil terhadap anak-anakmu (HR Abu Dawud no 3544).
        * Nabi juga bersabda سَوِّ بَيْنَهُمْ "Sama ratakan diantara anak-anakmu" (HR An-Nasaai dalam sunannya no 3686).
        * Dalam lafal yang lain Rasulullah berkata (dalam konteks pengkabaran) فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ على جَوْرٍ "Sesungguhnya aku tidak bersaksi atas kedzaliman" (HR Muslim no 1623).
        * Dalam lafal yang lain Rasulullah berkata (dalam konteks larangan)
        لَا تُشْهِدْنِي على جَوْرٍ "Janganlah engkau menjadikan aku saksi atas suatu kedzaliman" (HR Al-Bukhari no 2507 dan Muslim no 1623).
        * Dalam lafal yang lain Rasulullah bersabda
        فَأَشْهِدْ على هذا غَيْرِي ثُمَّ قال أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ في الْبِرِّ سَوَاءً قال بَلَى قال فلا إِذًا
        "Carilah orang selainku untuk menjadi saksi atas hal ini !, Apakah senang jika seluruh anak-anakmu sama berbakti kepadamu?, ayahku berkata, "Tentu saja", Nabi berkata, "Kalau bagitu jangan (kau berikan pemberian terhadap An-Nu'maan)" (HR Muslim no 1623).
        * Nabi juga berkata kepada Basyiir ayah An-Nu'maan فَارْدُدْهُ "Kembalikanlah pemberian tersebut !" (HR Muslim no 1623).
        * Demikian juga dengan lafal yang lain yang semakna, Nabi berkata فَارْجِعْهُ "Kembalikanlah" (HR Al-Bukhori no 2446 dan Muslim no 1623).

        5. Rujuk (Menarik Kembali) Di Dalam Hibah

        Haram. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, sekalipun hibah itu terjadi di antara saudara atau suami-isteri, kecuali bila hibah itu hibah dari orang tua kepada anaknya, maka rujuknya diperbolehkan karena apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. dari Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. bersabda:
         لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِيَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبُ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيْهَا إِلَّا الْوَالِدُ فِيْمَا يُعْطِيْ وَلَدَهُ 
        "Tidak halal bagi seseorang untuk memberi sesuatu atau menghibahkan sesuatu, lalu mengambilnya kembali. Kecuali seorang ayah terhadap apa yang telah diberikan kepada anaknya." (HR. Abu Dawud no. 3539). 
        Rasulullah juga bersabda: أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ 
        "Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu." (HR. Abu Dawud no. 3530).


        Contoh-Contoh Permasalahan Hibah dan Warisan

        1. Hibah diperebutkan
        Assalaamu'alaikum Wr. Wb. 
        Tanya : Ust.bolehkan waris di bagikan ketika yang yang mewaris masih ada/hidup? (dengan tujuan agar tidak terjadi rebutan)
        orang tua saya punya 10 orang anak, 5 anak laki-laki dan5 anak perempuan. 1 orang kakak laki-laki saya pernah terlilit utang tapi telah selesai di bayar sama orang tua saya (dengan menjual sebagian harta-nyha), kemudian satu kakak laki-laki lagi juga terlilit utang dengan jaminan rumah orang tua saya dimana disana berkumpul anak-anaknya yang lain, dan sekarang terancam di lelang/jual.
        orang tua saya pernah berkata bahwa masing-masing anak hanya dapat 10% dari waris, terus terang saya gak setuju. karena :
        1. tidak sesuai aturan Islam
        2. 2 orang kakak saya pernah menikmati/menghabiskan sebagian harta orang tua saya, terlebih kakak yang telah menjaminkan rumah orang tua, yang sekarnag pembayarannya telah macet, dan terancam lelang.
        yang jadi pertanyaan, bolehkah bagian kakak saya (sebagaimana no.2) di kurangin hak warisnya?
        Jawab:
        'Alaikum salam wr. wb.
        Ini masalah yang pelik dan sering terjadi pada keluarga besar, dimana anak paling tua merasa berkuasa. Dengan mengucap bismillaahirrohmanirrohim saya jawab pertnyaan anda:
        [1]. Definisi waris itu pembagian harta kalau si pemilik SUDAH MENINGGAL. pemberian di kala hidup itu dinamakan HIBAH/HADIAH, itupun harus adil atau seizin ahli waris yang lain.
        [2]. Orang tua tidak boleh membagikan hartanya dikala masih hidup laksana waris; dikecualikan mengatur besaran bagiannya kelak, seperti si A nanti sekian persen, si B nanti sekian persen (menurut hukum waris Islam)- Proses membagikannya setelah ortu meninggal.
        [3]. 10 Anak berhak mendapatkan bagian warisan harta pusaka, laki-laki masing-masing 13,33 % dan perempuan masing-masing 6,66 %. Rumah yang akan dibagikan adalah hak 10 anak, bukan 1 atau 2 anak saja. Kalau dilelang/disita berarti yang yang menjaminkan rumah harus mengganti bagian waris saudaranya yang lain; kecuali kalau saudaranya pada ikhlas.
        [4]. Bukan dikurangkan bagian kakak anda itu, tapi dia bayar hutangnya agar status rumah kembali menjadi milik ahli waris 10 anak.
        Semoga bermanfaat.

         2. WARISAN, HIBAH DAN NIKAH
        Assalamualaikum Ustadz.
        Saya mau bertanya, saya anak bungsu dari 7 bersaudara. Anak 1 (kakak laki2) merupakan anak bawaan dari ibu sebelum menikah dgn ayah saya. sedangkan anak ke 6 (kakak prmpuan) di adopsi oleh adik kandung ibu saya shingga akta lahir dan KK ikut tante saya. Semua anak pd saat setelah menikah diberi hibah rumah oleh ayah saya. sebelum ayah saya meninggal, karena saya belum menikah, ayah saya memberikan amanah/wasiat/pesan bahwa rumah yang ditempati beliau akan dihibahkan sebagian u/ saya dan sebagian u/ ibu saya. pd saat itu ibu memutuskan bagian saya adalah 1 milyar dari penjualan rumah dan ayah saya menyetujui. kemudian pd feb 2013 lalu ayah saya telah meninggal, dan di tahun yg sama saya berencana u/ menikah. tetapi ibu saya kurang setuju dgn calon suami saya. bahkan ibu saya yg mudah terpengaruh mulai dipengaruhi oleh kakak2 saya sehingga 2 mggu sbelum saya menikah, saya dipaksa oleh kakak2 saya untuk melakukan perjanjian pranikah dgn calon suami (karena takut suami saya merebut harta saya kelak). berhubung saya tidak mau akhir nya ibu saya memutuskan tidak jadi memberi bagian saya yg 1 milyar, tetapi saya dibelikan rumah yg kondisi, harga ato letaknya ditentukan oleh ibu. tetapi ibu tidak menyebutkan nominal nya. dan disetujui oleh semua, akhirnya karena saya tidak mau membantah ibu, saya menyetujui jg, mengingat ibu saya pasti akan membelikan saya rumah yang pantas, paling tidak hampir setara dgn rumah kakak2 saya. tetapi selang 11 hari setelah saya menikah (nov 2013) ibu saya meninggal dan belum menjual rumah yg ditempati oleh ayah dan ibu. akhirnya kakak2 saya berkumpul dan menyepakati u/ rumah dijual, bagian saya adalah 350 jt, karena kata kakak2 saya ibu pernah mau membelikan saya rumah seharga itu (tp saya tidak pernah dengar sendiri). sisa nya akan dibagi 2, yg satu dibagi menjadi 8 (anak kandung ayah ibu, 4 prmpuan dan 2 laki) sedangkan yg satu lg dibagi mjd 10 (anak bawaan dan kandung, 4 prmpuan dan 3 laki). saya sebetul nya merasa tidak terima dgn bagian saya yg 350 jt, karena rumah kakak2 saya yg lain jika dijual skitar 600 jt lebih, sedangkan saya hanya diberi kurang dr mereka. itupun proses menjual nya berkesan terlalu lama, karena harga jual nya ada yg minta tinggi, ato pngurusan surat2 (surat ket. waris, surat balik nama waris, dll masih belum di urus). apakah pembagian tersebut sudah benar pak ustadz? jika memang yg saya terima menurut islam sudah wajar, bagaimana agar kakak2 saya bisa segera memberikan bagian saya, karena hanya saya saja yg belum punya rumah, tetapi mereka seolah tidak peduli... mohon tanggapan nya pak Ustadz. terima kasih. Assalamualaikum Wr. Wb.
        Jawab:
        'Alaikum salam wr. wb.
        Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam pembagian harta waris sbb.:
        1.Hibah adalah pemberian dikala pemberi masih hidup; maka hibah ayah kepada kakak-kakak anda dipandang sah secara hukum.
        2.Wasiat adalah pembagian harta dikala pemberi sudah meninggal. Jika ayah anda memberikan sebagian nilai rumah sebagai hibah yang bisa dimiliki anda dan ibu saat itu, maka hibahnya sah, tetapi jika akad ayah akan memberikannya setelah beliau meninggal, maka itu dihitung wasiat. dan anda serta ibu tidak berhak untuk wasiat itu karena anda berdua termasuk ahli waris.
        3. Anak pertama hanya mendapat bagian waris jikalau ibu anda yang meninggal dunia (karena keturunan ibu), tetapi pada harta ayah anda, dia tidak ada hak sama sekali.
        4. Kakak perempuan nomor 6 dia anak angkat, menurut hukum waris islam, dia tidak mendapat bagian waris dari ayah atau ibu, karena hakekatnya adalah orang lain (bukan ahli waris).
        5.Mintalah bantuan kepada ustadz setempat yang mengerti kaidah waris dan tokoh berpengaruh lokal untuk menyelesaikan persoalan waris keluarga anda yang "melenceng" dan jauh dari berkah.
        Semoga bermanfaat.

        3. HIBAH KEPADA ANAK TERTENTU SAJA.
        Assalamualaikum warahmatulahhiwabarakatuh..
        pak ustad..Saya mau tanya , bapak saya meninggal tahun 1990 , meninggalkan seorang istri , 1 anak laki - laki dan 6 orang anak perempuan...bapak dan ibu saya berdagang..dan mereka membeli sebuah rumah ..dan hanya rumah itulah peninggalan bapak...yang di tempati oleh ibu saya sampai sekarang.. Abang saya sudah meninggal 1 tahun yang lalu 
        Beberapa waktu yang lalu ibu saya ingin menjual rumah tersebut dan sudah ditawar orang seharga 350 jt, dan uang hasil penjualan rumah tersebut akan diserahkan kepada adik saya yang paling kecil ( Kami semua sudah berkeluarga , dan Alhamdulillah kehidupan kami cukup baik walau tidak terlalu berada )
        Bagaimana menurut bapak Ustad terhadap hak anak - anak ibu yang lain..??? Apakah secara hukum Islam hal yang dilakukan ibu saya itu diperbolehkan ? Karena ada juga diantara kami yang tidak rela kalau uang tersebut hanya untuk adik saya saja..
        Terima kasih banyak atas jawaban Ustad..
        Wassalamu'alakum wr wr
        Jawab:
        'Alaikum salam wr. wb.
        -Harta perolehan bersama, adalah menjadi milik masing-masing bapak-ibu berdua.
        -Pisahkanlah semampunya atau dengan kespakatan, berapa yang milik bapak, dan berapa yang milik ibu.
        -Yang milik bapak dibagikan kepada ahli warisnya dengan rincian:
        1.Isteri :8/64 atau 12,5%.
        2.1 Anak laki-laki: 14/64 atau 21,87%.
        3. 6 Anak perempuan masing-masing: 7/64 atau 10,93%.
        - Adapun harta yang masih milik ibu tidak diwariskan, karena ibu masih hidup; ibu boleh menghibahkan hartanya kepada siapapun, tetapi menghibahkan kepada anak tertentu saja, hukumnya DILARANG ! karena akan menimbulkan permusuhan antar saudara (Silakan anda baca artikel kami: http://www.jadipintar.com/2014/11/hukum-menghibahkan-semua-harta-dan-Melebihkan-Untuk-Anak-Tertentu.html)
        Semoga bermanfaat.

        4. Hukum Hibah Pilih Kasih. 
        assalamualaikum...
        ijinkan saya bertanya pak,suami ibu saya yg pertama sdh meninggal.dan dr suami pertama pnya 4 orang anak. setlh suami pertama meninggal,ibu membeli sebidang tanah.dan setelh beli tanh ibu nikah lagi.dr suami kedua ibu punya 3 orang anak.dan ibu memberikan tanah itu kepada 3 anak dr suami kedua dg alasan anak dr suami pertama tdk mengurus ibu.pertanyaanya bisakah anak dari suami pertama menuntut warisan tanah itu kepada ibu ?sekian pertanyanyaan saya dan terimakasih sebelumnya ats jawaban yg diberikan. wassalamualaikum... 
        Jawab:
        Alaikum salam wr. wb.
        Ingatkan ibu anda, bahwa hibahnya dianggap hibah yang tidak dihalalkan dan curang, minta kepada ibu untuk menarik kembali hibahnya, dan membaginya untuk semua anak secara proporsional. Untuk lebih jelasnya, silakan anda baca artikel blog ini : http://www.jadipintar.com/2014/11/hukum-menghibahkan-semua-harta-dan-Melebihkan-Untuk-Anak-Tertentu.html


        5. Hibah Melebihi Ketentuan
        Assalamu'alaikum wr wb,
        Pak ustadz.... ibu saya meninggal dunia tahun 1982, dengan meninggalkan sebuah rumah dengan pekarangan kira2 1500m2, 2 buah sawah. Kira-kira tahun 1985/ 1986...ayah sy membaginya menjadi beberapa bagian u ke 12 anaknya (7 anak laki-laki dan 5 anak perempuan), 2 buah sawah u 2 orang anak laki-laki, tanah pekarangan rumah u 5 anak laki2 dan rumah beserta tanah di belakangnya u anak2 perempuan....Dan pada tahun 1994 ayah sy meninggal. Alhamdulillah pak ustad pembagian tanah tidak bermasalah, yg sekarang jd pertanyaan bagaimana caranya anak2 perempuan membagi rumah beserta halaman belakang ? Salah seorang dr kami ingin mendirikan bangunan di area tempat kosong tsb. Terima kasih ustadz semoga Allah senantiasa merahmati kita semua aamiin
        Jawab:
        'Alaikum salam wr. wb.
        Ini paling sering terjadi pada masyarkat kita dimana orang tua menghibahkan sebagian besar hartanya dikala masih hidup, dan pada saat orang tua mati sudah tidak ada lagi yang bisa dibagikan.Ibnu Abbas r.a. telah mengingatkan: agar hibah tidak melebihi 1/3, karena hakekatnya hibah = wasiat jika ditinjau dalam hal kerugian untuk ahli waris. Coba telusuri harta lain milik ayah yang bisa dibagi jika ada, jika tidak, hendaknya diantara saudara saling bermusyawarah dan saling mengikhlaskan,
        Amiin.....
        Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
        Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                              ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
              “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
        Sumber:
        Fikih Sunnah jilid 14, hal. 180-193, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung
        https://id-id.facebook.com/notes/majalah-qiblati-menyatukan-hati-dalam-sunnah-nabi/hukum-hadiah-seorang-ayah-yang-diberikan-kepada-anak-anaknya-dengan-tidak-adil/225503720800430.
        *
        [1]. Kecuali ada hal-hal yang mendorong untuk melebihkan; misalnya: anak itu sangat membutuhkan, karena cacat, buta, banyak keluarga, sibuk dengan ilmu atau kelebihan-kelebihan lain yang serupa; atau menjauhkan sebagian anak dari pemberian karena  adnya kefasikan, bid'ah, penggunaan untuk maksiat.
        [2]. H.R.Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Sa'd bin Manshur, dan sanadnya dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath.

        3 komentar:

        1. Assalamualaikum Ustadz... Sy mau tanya : Ayah saya sdh meninggal 5 th yang lalu, Ibu masih hidup dan tinggal di rumah anak-2nya scara bergantian, anaknya ada 8 ( 4 laki-2 dan 4 wanita ) Ibu mempunyai satu buah Rumah warisan dari Ibunya (nenek kami), pada saat Ayah kami masih hidup Rumah tersebut direnovasi dgn biaya bersama (ayah dan ibu).
          Sekarang ibu berniat menjual rumah tersebut dan akan menghibahkan hasil penjualannya kpd anak-2nya (dibagi rata)
          Pertanyaannya, dlm syariat islam apakah dibenarkan rencana ibu tsb ?
          Apakah rumah tsb tetap hak milik ibu atau sebagiannya dikategorikan peninggalan ayah krn pernah direnovasi dgn biaya bersama ?

          BalasHapus
          Balasan
          1. 'Alaikum salam wr. wb.
            Hasil penjualan rumah itu dibagi 2, yakni milik ibu (pemilik+biaya renovasi) dan ayah (biaya renovasi) berdasarkan besaran saham masing-masing.
            1. Bagian ayah. Merupakan harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli warisnya dengan komposisi:
            - Isteri (ibu anda): 12/96 (12,5%)
            - 4 Anak perempuan, masing-masing: 7/96 (7,29%).
            - 4 Anak laki-laki masing-masing: 14/96 (14,58%)
            (Pembagian di atas dengan syarat bapak alm. sudah tidak memiliki orang tua lagi).
            2. Milik Ibu. Itu terserah ibu, apakah mau dipakai sendiri, mau dibiarkan sebagai warisan sepeninggalnya atau akan dihibahkan boleh saja, hanya jikalau hibah terhadap anak-anaknya, mesti adil, atau ada keikhlasan dari anaknya yang lain, demi menjaga silaturahim keluarga.
            Semoga bermanfaat.

            Hapus
        2. Alaikum salam wr. wb.
          Maaf, masalah anda kompleks, sebaiknya gunakan Konsultasi Waris Pribadi, karena perlu penggalian info lebih lanjut.

          BalasHapus