Selasa, 14 Oktober 2014

Makna "Mendirikan Shalat" Menurut Tafsir Al-Qur'an

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Serial Tafsir Istilah kata
Sifat kedua dari orang bertaqwa dan memperoleh manfaat kehadiran kitab suci al-Qur'an adalah mereka yang melaksanakan shalat secara benar dan berkesinambungan.
Secara bahasa shalat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, shalat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.
*************************************************************************************************************
ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ 
[yaitu] mereka yang beriman  kepada yang ghaib  yang mendirikan shalat  dan menafkahkan sebahagian rezki  yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Q.S. Al-Baqarah: 3).
*****************************************************************


1. Pengertian "Yuqiimun" Menurut Beberapa Kitab Tafsir

  1. Salah satu kesalahan populer menyangkut terjemahan ayat ni dan semacamnya adalah memahaminya dalam arti mendirikan shalat. Ini karena penerjemah itu menduga bahwa kata (يقيمون -yuqiimuun) terambil dari kata (قام - qaama) yang berarti "berdiri", padahal tidak demikian. Berbeda-beda pendapat ulama tentang kata asalnya Ada yang berpendapat bahwa dia terambil dari kata yang menggambarkan tertancapnya tiang sehingga ia tegak lurus dan mantap, ada juga yang menyatakan bahwa ia terambil dari kata yang melukiskan pelaksanaan suatu pekerjaan dengan giat dan benar. Tetapi memang tidak ditemukan seorang ulama pun yang memahaminya dalam arti "berdiri" atau "mendirikan", bahkan kitab tafsir yang paling singkat dan sederhana, "Al-Jalalain" menjelaskan kata ini dengan "Melaksanakannya berdasarkan hak-haknya", yakni dengan khusu' sesuai syarat, rukun dan sunnahnya sebagaimana diajarkan dan dicontohkan Rasulullah saw. [1].
  2. Ibnu 'Abbas r.a. mengatakan (وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ)"mendirikan shalat, berarti mendirikan shalat dengan seluruh kewajibannya. [2a].
  3. Adh-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas r.a., ia mengatakan: "Mendirikan shalat berarti mengerjakan dengan menyempurnakan ruku', sujud, dan bacaannya denan penuh kekhusyu'an dan menghadapkan hati kepada Allah di dalamnya."[2b].
  4. Qatadah berkata: "(Mendirikan shalat) berarti berusaha mengerjakannya tepat waktu, serta menjaga wudhu', ruku' dan sujudnya." [2c].
  5. Sedangkan Muqtil bin Hayyan mengatakan: "(Mendirikan shalat) berarti menjaga untuk selalu mengerjakannya tepat waktu, menyempurnakan wudhu', ruku' sujud, bacaan al-Qur'an, tasyahud, serta membaca shalawat kepada Rasulullah saw.. Demikianlah makna mendirikan shalat." [2d].
Oleh karena itu, tercantum dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dari Ibnu 'Umar, bahwa  Rasulullah saw. bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ
"Islam didirikan atas lima dasar: Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji.[3].
Abul Abbas al-Qurthubi mengatakan, "Maksudnya bahwa kelima perkara ini adalah asas agama Islam dan kaidah-kaidahnya di mana Islam dibangun dan berdiri di atasnya. Beliau hanya menye-but lima perkara ini dan tidak menyebutkan jihad bersamanya, padahal jihad membantu Islam dan menundukkan penentangan kaum kafir. Karena lima perkara ini adalah kewajiban yang bersifat terus menerus, sedangkan jihad termasuk fardhu kifayah, yang kadangkala gugur di suatu waktu." 
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ     
                     “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Rujukan:
[2a-2d]. Tafsir Ibnu Katsir jilid I hal. 122-125, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
[2a]. Tafsir ath-Thabari (I/241).
[2b]. idem
[2c]. Ibnu Abi Hatim (I/37).
[2d]. Idem.
[3]. Fathul-Baari (I/64) dan Muslim (I/45), Bukhari (no.8), Muslim (no.16, 22).

3 komentar: