Minggu, 05 Oktober 2014

Hukum, Tata Cara, Sebab dan Alasan Mengqashar Shalat Saat Bepergian

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Shalat dalam perjalanan itu mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri, diantaranya:
Shalat Qashar: Qashar artinya memendekkan shalat yang 4 (empat) raka'at menjadi 2 (dua) rakaat) sebagai keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang dalam perjalanan (musafir). Waktu shalat yang bisa dipendekkan (diqashar) yakni pada shalat Dhuhur, Ashar dan Isya. Dalilnya kebolehannya adalah fimran Allah swt.:
وَإِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَقۡصُرُواْ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓ
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang[mu], jika kamu takut diserang orang-orang kafir. ..(Q.S. An-Nisa: 101).
Alasan karena khawatir gangguan, tidaklah dijadikan penyebab utama, berdasarkan keterangan dari Ya'la bin Umaiyah, katanya: "Saya bertanya kepada 'Umar bin Khattab: 'Bagaimana pendapat Anda tentang menqashar shalat berhubung firman Allah "Kalau kamu khawatir akan diganggu oleh orang-orang kafir'? Jawab Umar: "Hal yang Anda kemukakan itu, juga menjadi pertanyaan bagi saya, hingga saya sampaikan kepada Rasulullah saw. maka sabda beliau: Itu merupakan sedekah yang dikaruniakan Allah kepadamu semua; maka terimalah sedekahnya itu'!"
Menurut Ibnul Qayyim: "Jikalau berpergian, Rasulullah saw. selalu mengqashar shalat yang empat raka'at dan mengerjakannya hanya dua-dua raka'at, sampai beliau kembali ke Madinah. Tidak ditemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap melakukannya 4 raka'at (normal). Hal ini tidak menjadi perselisihan lagi bagi imam-imam, walau mereka berlainan pendapat tentang hukum mengqashar."

1. Hukum Mengqashar Shalat' Pendapat Para Ulama:

1. Hukumnya Wajib; 'Umar, 'Ali, Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar dan Jabir, juga dianut oleh Madzhab Hanafiah.
2. Hukumnya Sunnah mu'akad; dan lebih ta'kid lagi dari shalat berjama'ah, sehingga andai kata seorang musafir tidak mendapatkan kawan sesama musafir untuk berjama'ah, hendaknya ia bershalat secara perseorangan dengan mengqasar, dan makruh baginya mencukupkan 4 raka'at dan bermakmum kepda orang yang mukim. Ini pendapat Maliki.
3. Hukumnya ja'iz (boleh) saja. lebih baik daripada menyempurnakan. Ini Pendapat golongan Hambali. Demikian juga pendapat golongan Syafi'i, kalau memang sudah mencapai jarak boleh mengqashar.

2. Jarak Bolehnya Mengqashar

Menurut ayat di atas, dapat disimpulkan keterangan bahwa pada setiap bepergian, pendeknya apa yang menurut istilah bahasa bepergian, biar jauh ataupun dekat, boleh dilakukan mengqashar itu. Selain itu boleh pula dilakukan jama' serta berbuka puasa-yakni tidak melakukan puasa wajib- Tidak sebuah hadits pun yang menyebutkan batas jauh atau dekatnya bepergian itu. Ada sekitar 20 pendapat tentang masalah ini, kita cantumkan beberapa yang lebih kuat, yaitu:
  • Dari Yahya bin Yazid: "Saya bertanya kepada Anas bin Malik, perihal mengqashar shalat. Ujarnya:'Rasulullah saw. bershalat dua raka'at kalau sudah keluar sejauh tiga mil atau tiga farsakh." [1].
  • Keragu-raguan mengenai soal mil atau farsakh di atas dapat diberi penjelasan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, katanya:"Apabila Rasulullah saw. bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau mengqashar shalat."[2]Hadits Abu Sa'id ini cukup menghilangkan keragu-raguan yang terdapat dalam hadits Anas, dan menyatakan bahwa Rasulullah saw. telah melakukan qashar jika beliau bepergian dalam jarak minimal 3 mil. (1 farsakh= 5531 meter; 1 mil= 1.748 meter).
  • Adapula yang berpendapat bahwa minimal jarak mengqashar itu ialah 1 mil, dan ada juga yang berpendapat bahwa boleh mengqashar itu hanyalah pada perjalanan jauh dengan jarak minimal 2 atau 3 marhalah. Allaahu a'lam.

3. Tempat Dibolehkannya Mengqashar.

  • Setelah keluar dari kota. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa mengqashar shalat itu dapat dimulai setelah meninggalkan kota dan keluar dari daerah lingkungan. Ini merupakan syarat, dan seorang musafir diharuskan lagi mencukupkan shalatnya (normal), baru kalau ia sudah memasuki rumah pertama di daerahnya itu. Menurut Ibnul Mundzir: "Saya tidak menemukan sebuah keterangan pun bahwa Nabi saw. mengqashar dalam berpergian kecuali setelah keluar dari Madinah."
  • Berkata Anas: "Saya bershalat Dhuhur bersama Rasulullah saw. di Maadinah 4 raka'at dan di Dzul Hulaifah 2 raka'at." [3].
  • Boleh dari tempat berangkat. Sebagian ulama Salaf berpendapat bahwa seorang yang telah berniat hendak bepergian, sudah boleh mengqashar shalatnya, walaupun ia masih berada di rumahnya.

4. Kapan Musafir Kembali Shalat Normal ?

Seorang musafir boleh terus mengqashar shalatnya selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim di suatu tempat karena suatu keperluan yang hendak diselesaikannya, maka ia tetap boleh mengqashar, sebab masih terhitung dalam bepergian walaupun bermukimnya di sana sampai bertahun-tahun lamanya, selama ia tidak berniat hendak menjadi penduduk tetap (mukim) di sana. Berikut kami nukilkan beberapa pendapat dan riwayat mengenai hal tersebut. Diantaranya:
  • Miswar bin Makhramah berkata: "Kami bermukim dengan Sa'ad di salah satu desa di wilayah Syam selama 40 hari. Selama itu Sa'ad tetap mengqashar tapi kami mencukupkan."
  • Berkata Nafi':"Abdullah bin 'Umar bermukim di Azerbaijan selama 6 bulan dan tetap bershalat 2 raka'at ketika tertahan oleh salju waktu memasukinya."
  • Hafash bin Ubaidullah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam 2 tahun dan terus bershalat sebagai seorang musafir.
  • Menurut Anas, para sahabat Nabi saw. bermukim di Ramhurmuz selama lebih 7 bulan dan tetap mengqashar shalat.
  • Sedangkan menurut Hasan, ia bermukim dengan Abdurrahman bin Samurah di Kabul selama 2 tahun, dan Abdurrahman terus mengqashar shalat tapi tidak menjama'. 
  • Ibrahim mengatakanpula bahwa para sahabat pernah bermukim di Rai selama 1 tahun atau lebih dan di Sajistan selama 2 tahun. 
  • Nah inilah dia petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah saw. dan dicontohkan oleh para sahabatnya, dan memang itulah yang benar. 
  • Adapun pendapat Imam Ahmad bahwa jika seorang berniat hendak bermukim selama 4 hari, maka harus mencukupkan shalatnya, dan kalau kurang masih boleh mengqashar; karena hadits Nabi saw. dan perbuatan para sahabat mereka tafsirkan bahwa Nabi saw. maupun para sahabat, tidak bermaksud akan bermukim, tapi mereka selalu mengatakan: "Hari ini atau besok kita akan pergi." Allahu a'alam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 2 hal.264-272, Sayyid Sabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
***
[1]. (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Baihaqi). Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab al-Fath, bahwa inilah hadits yang paling sah dan paling tegas menjelaaskan jarak bepergian yang dibolehkan mengqashar itu.
[2]. Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dan disebutkan oleh Hafizh dalam at-Talhish, dan ia mendiamkan hadits ini sebagai tanda pengakuannya.
[3]. H.R. Jama'ah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar