Rabu, 24 September 2014

Pengertian Harta Gono-Gini dan Pembagiannya Saat Perceraian Atau Membagi Warisan Menurut Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Arti dan Sejarah Awal Harta Gono-Gini

Harta Gono-Gini Adalah harta milik bersama suami-isteri yang didapatkan oleh mereka berdua selama di dalam masa perkawinan.
Di beberapa tempat di Indonesia, terutama di Jawa, ada berlaku adat bahwa apabila suami meninggal dunia, maka sebelum dibagi warisan, diambil dulu 1/3 untuk isteri, lalu sisanya yang 2/3 dibagi menurut syari'at Islam dan di dalam yang 2/3 itu isteri mendapat lagi sesuai syari'at. Ada juga yang mengambil 50 % dulu untuk isteri, baru sisanya dibagikan sesuai syari'at, dan si isteri pun masih mendapat bagian dari sisa yang 50 % tadi; bagian isteri yang spesial Inilah yang di masyarakat di Jawa disebut harta gono-gini, di Sunda disebut "Raja Kaya" dan di Sumatera di sebut "Seguna-Sekaya."
Awal mulanya dilakukan adat ini, karena si isteri turut bekerja buat mendapat kekayaan itu, tetapi lama kelamaan walaupun si isteri itu tidak turut bekerja, isteri pun mengambil terlebih dahulu (1/3 atau 50%) sebagai kebiasaan adat yang disangkanya berasal dari kaidah hukum waris Islam. Dan hingga saat ini kebiasaan gono-gini sudah menjadi layaknya kewajiban yang sulit untuk diluruskan, walau dengan dalil syar'i sekalipun. Benarkah cara pembagian seperti ini ? Apakah harta gono-gini dikenal dalam istilah waris secara Islam ? Bagaimana pembagian harta bersama jika terjadi perceraian ?


2. Tata Kelola Harta Dalam Rumah Tangga Islam

1. Harta merupakan tonggak kehidupan rumah tangga, sebagaimana firman Allah swt.:
 وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan[1].
2. Kewajiban Suami yang berkenaan dengan harta adalah sebagai berikut :

  • Memberikan mahar kepada istri, sebagaimana firman Allah swt. :وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً  . Berikanlah mas kawin kepada wanita yang kamu nikahi sebagai bentuk kewajiban (yang harus dilaksanakan dengan ikhlas)” [2]
  • Memberikan nafkah kepada istri dan anak, sebagaimana firman Allah swt: وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Dan kepada ayah berkewajiban memberi nafkah dan pakaian yang layak kepada istrinya[3].
  • Suami tidak boleh mengambil harta istri, kecuali dengan izin dan ridhanya, sebagaimana firman Allah swt. : فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا  Jika mereka (istri-istri kamu) menyerahkan dengan penuh kerelaan sebagian mas kawin mereka kepadamu, maka terimalah pemberian tersebut sebagai harta yang sedap dan baik akibatnya [4].
  • Jika terjadi perceraian antara suami istri, suami harus memenuhi maharnya dan tidak mengambil sesuatu yang sudah diberikan kepada isterinya. Ketentuannya sebagai berikut :Istri mendapat seluruh mahar jika ia telah melakukan hubungan badan dengan suaminya, atau salah satu diantara kedua suami istri tersebut meninggal dunia dan mahar telah ditentukan, dalam hal ini Allah swt. berfirman :وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri.[5].

3. Konsep Kepemilikan Harta Menurut Islam

1. Harta Milk suami saja; Yaitu harta yang dimiliki oleh suami tanpa ada sedikit pun kepemilikan istri pada harta itu, jenisnya: 
- Harta bawaan; harta suami sebelum menikah.
- Harta perolehan:harta yang diperoleh dari hasil kerja/usaha suami (selain yang diberikan sebagai nafkah untuk keluarganya).
- Harta Hibah (pemberian dari orang/pihak lain untuk suami)
- Harta Warisan: Perolehan karena statusnya sebagai ahli waris keluarganya.
2. Harta milik istri saja. Yaitu harta yang dimiliki oleh istri saja tanpa ada sedikit pun kepemilikan suami pada harta itu, jenisnya:
- Harta bawaan: harta milik istri sebelum menikah.
- Harta Perolehan: harta hasil kerja / usaha yang diperoleh dari istri. 
- Harta hibah: harta pemberian dari suami atau orang/pihak lain untuk dirinya. 
Harta warisan: perolehan harta karena statusnya sebagai ahli waris keluarganya.
3. Harta milik bersama. Misalnya harta yang dihibahkan seseorang kepada suami istri, atau harta benda semisal rumah, tanah, atau lainnya yang dibeli dari uang mereka berdua, atau harta yang mereka peroleh setelah menikah dan suami serta istri sama-sama kerja yang menghasilkan pendapatan dan sebagainya. Yang ketiga inilah yang kemudian diistilahkan dengan harta gono-gini.

4. Kaidah Pembagian Harta Bersama (Gono-Gini) Menurut Hukum Islam

Syariat tidak membagi harta gono-gini ini dengan bagian masing-masing secara pasti dan pukul rata, misalnya istri 50% dan suami 50%. Sebab, tidak ada nash atau dalil yang mewajibkan demikian –setahu kami- baik dari Alquran maupun sunah. Namun pembagiannya bisa ditinjau dari beberapa kemungkinan:
  1. Jika diketahui secara pasti prosentase saham milik harta suami dan istri. Maka perhitungan harta gono-gininya sangat jelas, yaitu sesuai dengan besaran prosentase saham masing-masing.
  2. Jka tidak diketahui secara pasti prosentase saham antara harta suami dan istri. Misalnya: suami istri sama-sama kerja atau saling bekerja sama dalam membangun ekonomi keluarga. Dan kebutuhan keluarga pun ditanggung berdua dari hasil kerja mereka. sehingga sisanya berapa bagian dari harta suami dan berapa bagian dari harta istri tidak jelas. Dan inilah gambaran kebanyakan keluarga di negeri Indonesia. Dalam kondisi demikian, harta gono-gini tersebut  dibagi dengan jalan sulh, ‘urf atau qadha (putusan).

5. Penjelasan:

1. Shulh adalah kesepakatan antara suami istri berdasarkan musyawarah atas dasar saling ridha. Dalilnya adalah:
Allah swt. berfirman:
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya untuk mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) [6].
Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw :
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
Dari Amru’ bin Auf al Muzani dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda: “Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram “[7]
Begitu juga dalam pembagian harta gono-gini, salah satu dari kedua belah pihak atau kedua-duanya kadang harus merelakan sebagian hak-nya demi untuk mencapai suatu kesepakatan. Umpamanya : suami istri yang sama-sama bekerja dan membeli barang-barang rumah tangga dengan uang mereka berdua, maka ketika mereka berdua melakukan perceraian, mereka sepakat bahwa istri mendapatkan 40 % dari barang yang ada, sedang suami mendapatkan 60 %, atau istri 55 % dan suami 45 %, atau dengan pembagian lainnya, semuanya diserahkan kepada kesepakatan mereka berdua.
2. ‘Urf, adalah  adat kebiasaan yang berlaku di sebuah masyarakat, sehingga itu menjadi hukum di masyarakat tersebut. Para ulama sepakat ‘urf  bisa dijadikan salah satu acuan hukum. Dalam salah satu kaidah fikih disebutkan,
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ  “Sebuah adat kebiasaan itu bisa dijadikan sandaran hukum.”
Dengan syarat:
- ‘Urf itu berlaku umum.
- Tidak bertentangan dengan nash syar’i.
- ‘Urf itu sudah berlaku sejak lama, bukan sebuah kebiasaan yang baru saja terjadi.
- Tidak berbenturan dengan tashrih.
Jadi, jika dalam masalah harta gono-gini tidak ada kesepakatan antara suami istri, maka dilihat apakah dalam masyarakat tersebut ada ‘urf yang berlaku tentang permasalahan harta gono-gini atau tidak. Jika ada, itulah yang diberlakukan.
Memang kita temukan di dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) dalam Peradilan Agama, pasal 97, yang menyebutkan bahwa :
“ Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
Keharusan untuk membagi sama rata, yaitu masing-masing mendapatkan 50%, seperti dalam KHI di atas, ternyata tidak mempunyai dalil yang bisa dipertanggung jawabkan, dan bukanlah suatu putusan hukum yang paten,   sehingga pendapat yang benar dalam pembagian harta gono gini adalah dikembalikan kepada kesepakatan antara suami istri.
Kesimpulan:
Perhitungan harta bersama menurut syari'at Islam, bukanlah dibagi sama rata: 50:50, tetapi berdasarkan besarnya saham kepemilikan harta masing-masing dari suami dan istri.


6. Contoh Permasalahan Gono-Gini dan Penyelesaiannya

1. Permasalahan Harta Bersama
Assalaamualaikum Wr,Wb, 
Mohon penjelasannya apakah yang disebut harta bersama? Karena pada saat menikah dulu saya dan isteri saya (alm) sama- sama tidak membawa apa-apa. Bolehkah harta tersebut dibagi dua dulu sebelum dibagikan sebagai harta warisan seperti yang tercantum dalam Undang-undang Perkawinan? Mohon penjelasan bagaimana cara pembagiannya karena isteri saya sudah meninggal dunia 3 thn yang lalu, anak saya semuanya 3 orang perempuan. Pada saat isteri saya meninggal masih ada kakak / adiknya laki-laki 3 orang, 2 orang lagi sudah meninggal dunia sebelum isteri saya, orang tua kami semuanya sudah meninggal, saya sendiri masih punya kakak/adik laki-laki 4 orang dan perempuan 1 orang.. Sebagai tambahan saya sekarang sudah nikah lagi, oleh sebab itu saya khawatir kalau ada harta isteri (alm) yang terpakai oleh isteri sekarang.. Terimakasih atas penjelasannya Dzazakumullohukhoiron katsiro. Wassaalumualaikum wr.wb.
Jawab:
'Alaikum salam wr. wb.
[1].Harta bersama atau harta yang diperoleh selama masa perkawinan, dalam hukum waris negara dibagi antara suami dan isteri dengan kadar tertentu; dalam hukum adat juga dikenal istilah "gono-gini" dimana isteri mengambil 1/3 bagian atau 1/2 sebelum dibagikannya warisan.
[2]. Hukum waris Islam mengakui adanya harta bersama ini, namun besaran pembagiannya berdasarkan PROPORSI SAHAM masing-masing dalam harta bersama itu. Saran saya, dari total aset anda bersama isteri pertama, berapakah saham milik istri anda dan berapa proporsi saham anda. Saham isteri bisa diperoleh dari : harta bawaan, harta pendapatan isteri, harta simpanan, harta pemberian dll. yang telah sah menjadi milik isteri. Harta milik isteri inilah yang mesti dibagikan ketika dia telah meninggal dunia.
[3]. Ahli waris isteri dan bagiannya adalah sbb.:
- Suami....................... : 3/12 (25 %)
- 3 Anak perempuan.....: 8/12 (masing-masing 22,22 %)
- Saudara laki-laki.......: 1/12 (jika lebih dari 1 orang, dibagi rata)/ wa iyyaakum
Semoga bermanfaat.

2. Apa Saja yang Termasuk Harta Isteri ?
Assalamu'alaikum wrwb.
Istri saya minunggal 1 bulan lalu, selama menikah 32 tahun kami mempunyai rumah, beberapa bidang tanah dan kendaraan dan 3 orang anak, 1 orang anak laki-laki dan 2 perempuan. Yang menjadi hak istri saya untuk diwariskan kepada anak-anak adalah harta yang mana? Apakah setengah dari bagian dari harta berdua (gono-gini)? dan bagaimana pembagiannya. Apakah harus segera dibagikan?
Jawab:
'Alaikum salam wr. wb.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'un, saya turut bela sungkawa atas meninggalnya isteri anda.
- Karena isteri yang meninggal, maka yang diwariskan adalah harta milik isteri (saja), bukan dipukul rata 50% layaknya gono-gini, karena kaidah tersebut tidak dikenal dalam hukum waris Islam.
- Harta milik isteri adalah semua yang meliputi 4 pintu (perolehan, pembelian, pemberian dan harta bawaan) yang telah sah sebagai miliknya.
-Pembagian harta isteri tersebut adalah:
1. Suami: 4/16 (25%).
2. 2 anak perempuan, masing-masing: 3/16 (18,75%).
3. 1 Anak laki-laki:6/16 (37,5%).
- Menyegerakan pembagian lebih diutamakan dan lebih baik.
Semoga bermanfaat dan membawa barakah untuk keluarga anda, amin.

3. Tidak ada Istilah Gono-Gini Dalam islam
Assalamualaikim wr wb.
Pa Ustad saya ingin penjelasan mengenai pembagian waris & harta gono gini.
ibu saya mempunyai 2 orang anak perempuan (saya & kakak) dari suami pertama, dan bercerai. Kemudian ibu saya menikah lagi (bapa tiri saya) dan tidak dikaruniai. Tahun 2010 ibu saya meninggal dan memiliki harta atas nama alm ibu saya rumah yang ditempati oleh bapa tiri saya dan sebidang sawah. Kemudian bapa tiri saya menikah lagi, sekarang rumah atas nama ibu saya hendak dijual. Bagaimana pembagian warisnya? karena menurut notaris ini merupakan harta gono-gini, berdasarkan penjelasan dari bapa tiri saya kalau rumah itu yang beli bapa tiri saya setelah menikah dengan ibu. Kemudian bagaimana dengan sawah atas nama alm ibu saya? Apakah semua harta tersebut merupakan harta gono gini?
Mohon bantuan penjelasa Pak Ustad, agar kami tidak ada kesalahan dalam pembagian waris tersebut.
Terima Kasih Pak Ustad
Wassalamu'alaikum wr wb
Jawab:
"Alaikum salam Wr. Wb.
Itulah perbedaan hukum waris islam dengan hukum adat/negara/barat yang menganut prinsip gono-gini. Dalam Hukum waris yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, Harta warisan besarnya ditentukan oleh PEMILIKAN RIIL si mati, maka dari itu semua yang secara sah menjadi milik ibu (dari pembelian, pemberian, warisan dan perolehan) dihukumi HARTA IBU yang dibagikan kepada ahli warisnya. jika di dalam kepemilikan ibu ada bercampur saham bapak (tiri) silakan dipisahkan berapa sahamnya, lalu ambillah saham ibu untuk dibagikan kepda ahli warisnya (2 anak perempuan+suami + orang tua alm. [jika ada]).
Semoga bermanfaat.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Wallahu a‘lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
     “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Al-Faraidh, hal.123-124, A.Hassan, Penerbit: Pustaka Progressif.
http://www.konsultasisyariah.com/teka-teki-harta-gono-gini/
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/232/harta-gono-gini-dalam-islam/
***
[1]. Q.S. An-Nisa: 5
[2]. Q.S. An-Nisa: 4
[3]. Q.S. Al-Baqarah: 233
[4]. Q.S. An-Nisa: 4
[5]. Q.S. An-nisa: 20
[6]. Q.S. An-Nisa: 128
[7]. HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Tirmidzi

2 komentar:

  1. Bpak...gimana kalau harta tersebut adalah isteri yang menggumpulkannya atau istri yang berkerja sedangkan suami hanyalah seorang pengangguran.... Bagi mana cara membagikannya..™™

    BalasHapus
  2. Harta yang diperoleh dan dikumpulkan isteri diperhitungkan sebagai milik Istri, baik ketika terjadi pembagian waris maupun ketika terjadi perceraian.

    BalasHapus