Selasa, 23 September 2014

Definisi / Makna Taqwa, Muttaqin dan Iman Menurut Tafsir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Al-Qur'an Surah al-Baqarah ayat 2 dan 3

1. Pengertian Taqwa

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa yang bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan.
Taqwa pada dasarnya berarti menjaga diri dari hal-hal yang dibenci, karena kata taqwa berasal dari kata "الوقاية "al-wiqaayah (penjagaan).  Dikatakan bahwa Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka'ab mengenai taqwa. Lalu Ubay bertanya kepadanya: "Apakah engkau pernah melewati jalan berduri?" Umar menjawab: "Ya" Ubay bertanya lagi: "Lalu apa yang engkau lakukan?" Umar menjawab: "Aku akan berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk menghindarinya." Lalu Ubay mengatakan: "Itulah taqwa." [1].
**********************************************************************
هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢) ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ .........
 petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (2) [yaitu] mereka yang beriman 
**********************************************************************
Taqwa adalah menghindar. Orang bertaqwa adalah orang yang menghindar. Yang dimaksud oleh ayat ini mencakup 3 tingkat penghindaran, yakni:
1.Menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah.
2.Berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya.
3.Dan yang tertinggi, menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah swt.[2].

2. Pengertian Muttaqiin

  • Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas r.a., ia berkata: "Al-Muttaqiin adalah orang-orang mukmin yang sangat takut berbuat syirik kepada Allah dan senantiasa taat kepada-Nya.
  • Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: "Al-Muttaqiin adalah orang-orang yang senantiasa menghindari siksaan Allah Ta'ala dengan tidak meninggalkan petunjuk yang diketahuinya dan mengharapkan rahmatNya dalam mempercayai apa yang terkandung dalam petunjuk tersebut."
  • Qatadah berkata: 'Al-Muttaqiin adalah mereka yang disifati oleh Allah dalam firmanNya  ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ  [yaitu] mereka yang beriman kepada yang ghaib  yang mendirikan shalat  dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (3) dan ayat selanjutnya. Dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir bahwa ayat ini mencakup semua itu, dan pendapat inilah yang benar.
  • Dari 'Athiyyah as-Sa'di, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah seorang hamba meraih derajat muttaqiin hingga ia meninggalkan apa yang boleh ia lakukan untuk menghindari apa yang tidak boleh ia lakukan." [3].


    3. Pengertian Iman

    Iman (الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'. Kata iman diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yu'minu' (يؤمن) yang berarti 'percaya' atau membenarkan'.
    • Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari al-'Ala bin al-Musayyah bin Rafi' dari Abu Ishaq dari Abul Ahwash, dari Abdullah, ia berkata: "Iman itu adalah pembenaran."[4].
    • Ali bin Abi Thalib dan juga yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas , ia mengatakan " يُؤۡمِنُونَ (mereka beriman)  maknanya adalah mereka membenarkan."[5].
    • Sedangkan Ma'mar mengatakan dari az-Zuhri bahwa iman adalah amal [6].
    • Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi bin Anas " يُؤۡمِنُونَ (mereka beriman) maknanya mereka takut."[7].
    • Ibnu Jarir mengatakan: "Yang lebih baik dan tepat adalah mereka harus menyifati diri dengan iman kepada yang ghaib, baik melalui ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Kata iman itu mencakup keimanan kepada Allah, Kitab-kitabNya, dan Rasul-RasulNya sekaligus membuktikan pernyataan itu melalui amal perbuatan."
    • Ibnu Katsir berkata: Adapun secara bahasa, iman berarti pembenaran semata. Al-Qur'an terkadang menggunakan kata ini untuk pengertian tersebut. (lihat Q.S. At-Taubah: 61, Q.S. Yusuf: 17 dan Q.S. al-Ashr: 3). Adapun jika kata itu digunakan secara mutlak, maka iman menurut syari'at tidak mungkin terwujud kecuali melalui keyakinan, ucapan dan amal perbuatan. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Dalam hal ini telah banyak hadits maupun atsar yang membahasnya. Hanya milik Allah-lah pujian dan sanjungan.


      4. Darimana Asal Istilah Rukun Iman ?

      Jika anda mencari istilah rukun iman di al-Qur'an dan hadits, niscaya anda tidak akan menemuinya, karena istilah itu berasal dari ulama Fikih, untuk mempermudah ummat dalam memahami permasalahan agama. Tetapi memang dasarnya ada berasal dari keduanya. Al-Qur'an memuat substansinya, as-Sunnah mengurutkannya, dan para ahli fikih memberikan nama untuk identifikasi. Begitulah kiranya, jalan mempelajari agama sudah dimudahkan agar tidak adal alasan mengingkarinya.
      A. Substansi dari al-Qur'an:
      يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَـٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡڪِتَـٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُ‌ۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا 
      Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Q.S. An-Nisa: 136).
      B.Tata Urutan dari Hadits
      و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعًا عَنْ ابْنِ عُلَيَّةَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
      كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ
      Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya dari Ibnu Ulayyah, Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Abu Zur’ah bin Amru bin Jarir dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah saw, pada suatu hari berada di hadapan manusia, lalu seorang laki-laki mendatanginya seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan yang akhir’. ....................(H.R.Muslim).
      C. Dari Ulama Fikih
      Dari kedua dasar di atas (A dan B) maka ulama menggunakan istilah "Rukun Iman" yang meliputi:
      1. Iman (percaya) kepada Allah.
      2. Iman (percaya) kepada para Malaikat Allah.
      3. Iman (percaya) kepada kitab-kitab Allah (Taurat, Injil, Zabur dan Qur’an).
      4. Iman (percaya) kepada para utusan Allah (para Nabi dan para Rosul).
      5. Iman (percaya) kepada hari akhir (hari kiamat).
      6. Iman (percaya) kepada Takfir (Qadha dan Qadhar).
        Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                       ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ              
        “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
        Sumber:
        Tafsir Ibnu Katsir jilid I hal.116-120, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
        ***
        [1]. Tafsir al-Baghawi (I/59), Jaami'al 'Uluum wal Hikam (I/160).
        [3]. (H.R. At-Tirmidai dan Ibnu Majah) At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.
        [4]. Tafsir Ath-Thabari (I/235)
        [5]. Ibid
        [6]. Ibid.
        [7]. Ibid.

        Tidak ada komentar:

        Posting Komentar