Minggu, 24 Agustus 2014

Pengertian Orang-Orang yang Diberi Nikmat, Dimurkai dan Sesat Menurut Tafsir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Istialah dalam al-Qur'an
 صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
[yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka; bukan [jalan] mereka yang dimurkai [orang-orang yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya], dan bukan [pula jalan] mereka yang sesat [orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuan dan kejahilan]. (Q.S. Al-Fatihah: 7).
Sebelumnya telah diterangkan dalam surah ini ayat ke-6 bahwa kita diperintahkan selalu meminta bimbingan ke shirathal mustaqim (agama Islam).  Maka berikut akan dijelaskan jenis jalan yang bagaimanakah yang kiranya di sebut shirathal mustaqim tersebut, yakni jalan orang-orang yang diberi nikmat; bukan yang dimurkai, juga bukan yang sesat. Golongan manakah yang dimaksud dalam 3 kategori di atas ?

1. Pengertian Nikmat dan Golongan yang Memperolehnya

  • Nikmat adalah kesenangan hidup dan kenyamanan yang sesuai dengan diri manusia. Menurut sebagian ulama, bahwa nikmat pengertian awalnya berasal dari suatu kata yang berarti "kelebihan" atau "pertambahan" Nikmat adalah sesuatu yang baik dan berlebih dari apa yang telah dimiliki sebelumnya. 
  • Nikmat beraneka ragam jenis dan tingkatannya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, banyak atau sedikit, bernilai atau kurang bernilai. Kata nikmat yang terkandung dalam ayat ke-7 ini adalah jenis " nikmat memperoleh hidayah Allah, serta ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, yaitu nikmat Islam dan penyerahan diri."
  • Golongan yang akan memperolehnya adalah mereka yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, itulah jalan shirathal mustaqim. Mereka terdiri dari 4 kelompok, yakni: Para Nabi, Para Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shaleh
  •  وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ‌ۚ وَحَسُنَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ رَفِيقً۬ا Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul [Nya], mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S.an-Nisa: 69).[1].

2. Pengertian Kata "Maghdhuub/ dimurkai"

  • Kata ( ٱلۡمَغۡضُوبِ) al-maghdhuub, berasal dari kata (غضب) ghadhab yang dalam berbagi bentuknya memiliki keragaman makna, namun semuanya memberi kesan: keras, kokoh dan tegas. Singa, banteng, batu gunung, sesuatu yang merah padam, semuanya digambrkan melalui kata-kata ghadhab.
  • Yang dimaksud dengan golongan yang dimurkai adalah: kaum Yahudi ! ini berdasarkan keterangan dari al-Qur'an misalnya  مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ( yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka-Q.S. al-Maidah: 60) dan hadits Nabi saw. Kemudian ulama tafsir memperluas pengertian ini untuk siapa saja yang telah mengenal kebenaran tapi enggan mengikutinya.[1].

3. Pengertian Kata "Dhalla / Sesat"

  • Kata (ضَّآلِّين) dhaalliin berasal dari kata (ضل) dhalla. Kata ini pada mulanya berarti "Kehilangan jalan, bingung atau tidak mengetahui arah." Kata ini berkembang sehingga kata tersebut juga bisa dipahami dalam arti "binasa, terkubur." dan dalam arti immaterial ia berarti "sesat dari jalan kebenaran." atau lawan dari petunjuk. 
  • Yang dimaksud dengan kaum yang sesat adalah golongan Nasrani berdasarkan ayat al-Qur'an misalnya: مٍ۬ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّواْ ڪَثِيرً۬ا وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ (orang-orang yang telah sesat dahulunya [sebelum kedatangan Muhammad] dan mereka telah menyesatkan kebanyakan [manusia], dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." [Q.S. al-Maidah:77]) dan hadits Nabi saw.
  • Kata adh-dhaalliin ditemukan dalam al-Qur'an sebanyak 8 kali dan kata adhaalluun sebanyak 5 kali. Paling tidak, ada 3 ayat yang dapat membantu memahami makna dhalla menurut al-Qur'an, misalnya Surah Ali-Imran: [3]:90, Surah al-An-am[6]:77 dan surah al-Hijjr[15]:56, atau silakan klik Al-Qur'an Online.[1].

4. Penjelasan dari Hadits Nabi saw.

Dalam suatu hadits yang panjang (ketika Adi bin Hatim menghadap Rasulullah saw. dan mengucapkan syahadat - akan saya singkat ) Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Adi bin Hatim r.a.......
'Adi berkata: "Barulah aku tahu bahwa beliau bukanlah seperti raja Kisra atau kaisar. Nabi berkata: 'Hai 'Adi, apa yang menyebabkanmu lari ketika dikatakan 'Laa ilaaha illaallaah' Bukankah tiada Tuhan selain Allah ? Apa yang membuatmu lari ketika dikatakan 'Allaahu Akbar' Adakah sesuatu yang lebih besar selain Allah ?." 'Adi melanjutkan: "Maka aku pun masuk Islam dan aku lihat wajah beliau gembira. Beliau berkata:  إن المغضوب عليهم هم اليهود ، وإن الضالين النصارى  Sesungguhnya (المغضوب) adalah Yahudi dan (الضالين) adalah Nasrani (2A).[2].


5. Kesimpulan

  1. Yang dimaksud "Golongan yang telah dianugerahi nikmat" adalah : para nabi, shiddiqiin, syuhada dan orang-orang shaleh.
  2. Yang dimaksud "mereka yang dimurkai" adalah orang-orang Yahudi, dan yang dimaksud "mereka yang sesat" adalah orang-orang Nasrani.
  3. Pengertiannya adalah bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Nasrani.[3].
  4. Disebut "Dimurkai" karena berilmu tapi tidak beramal; dan disebut "sesat" karena beramal tapi dengan dasar ilmu yang salah.
  5. Jika ayat ke-7 al-Fatihah ini diterjemahkan secara tafsiriyah, maka akan berbunyi:"Agama yang diikuti oleh orang-orang yang telah Engkau karuniai hidayah islam sampai mati. Bukan agama yang diikuti oleh kaum Yahudi yang dihinakan oleh Allah, dan bukan pula agama sesat yang diikuti oleh kaum Nasrani yang menolak kenabian Muhammad."[4].
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Referensi:
Al-Qur'an Online
[2]. Tafsir Ibnu Katsir jilid I hal. 93-95, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsi.
(2A). (H.R Ahmad, Tirmidzi, dan yang lainnya. Dihasankan oleh Imam Tirmidzi) (Lihat Fathul Qadir).
[3]. Tafsir jalalain jilid I hal.3, Imam al-Mahalli dan Jalaluddin aas-Suyuti, Penerbit: Sinar Baru Algensindo.
[4]. Tarjamah Tafsiriyah al-Qur'anul Karim, Ust. Muhammad Thalib, Penerbit: Yayasan Islam Ahlus-Sufah dan Pusat Studi Islam an-Nabawi.

1 komentar:

  1. The crux of your writing while appearing agreeable in the beginning,
    did not settle properly with me personally after some time.

    Somewhere throughout the paragraphs you actually managed to make me
    a believer unfortunately only for a short while. I however have got a problem with
    your jumps in assumptions and one would do well to help fill in those
    gaps. In the event that you can accomplish that, I will surely be amazed.


    My blog ... hca extract [musica.togyu.com]

    BalasHapus