Rabu, 27 Agustus 2014

Makna Amin dan Hukum Mengucapkannya Setelah Bacaan Al-Fatihah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Kata "Aaminn" dalam al-Fatihah
Apabila kita membaca atau mendengar bacaan Surah al-Fatihah hingga akhir ayat, maka disunnahkan agar mengakhiri bacaan atau menyahutnya dengan ucapan "aamiin." walaupun kata ini bukan bagian dari surah al-Fatihah. Apakah sebenarnya maksud kata "amin" ini ?
Terdapat beberapa pendapat tentang makna amin ini, diantaranya:
1. Ya Allah perkenankanlah ! (ini pendapat mayoritas ulama).
2. Allah ! lakukanlah !
3. Demikian itu, ya Allah ! Maka semoga Engkau mengabulkannya.
4. Jangan kecewakan kami, ya Allah !
5. Aamiin adalah salah satu nama Allah swt. 
**********************************************************************
آمين
(Aamiin)
**********************************************************************

1. Pengertian Amin

  1. Jika pengertian amin dikaitkan langsung dengan ayat-ayat surah al-Fatihah, maka permohonan yang kita ajukan adalah kandungan ayat yang ke-7, maka kita berharap kiranya Allah memperkenankan permohonan kita tersebut.
  2. Tetapi jika amin dikaitkan dengan bunyi salah satu hadits, maka permohonan ini mencakup seluruh ayat-ayat surah al-Fatihah.

Bahwa Rasulullah saw. bersabda,: Allah ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah)(1A) antara diri-Ku dengan hamba-Ku dua bagian [maksud dari pembagian menjadi dua bagian adalah: bagian setengah pertama surat al-Fatihah sampai ayat kelima adalah pujian hamba untuk Allah, sedangkan bagian setengah kedua yaitu dari ayat keenam sampai akhir adalah permohonan seorang hamba untuk dirinya sendiri.(1B) , dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya. Tatkala insan mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,’ Allah ta’ala berkata, ‘Hambaku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’, Allah ta’ala berkata, ‘Hamba-Ku telah memuliakan diri-Ku.’Saat ia mengucapkan, ‘Penguasa hari pembalasan’, Allah ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan diri-Ku.’ Di lain kesempatan Allah berkata, ‘Hamba-Ku telah berserah diri pada-Ku.’Manakala ia mengucapkan, ‘Hanya kepada-Mu-lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu-lah aku memohon pertolongan’, Allah ta’ala berkata, ‘Ini (merupakan urusan) antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’Dan ketika ia mengucapkan, ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’, Allah ta’ala menjawab, ‘Inilah (hak) milik hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’(1C). [1].

2. Hadits-Hadits Sunnahnya Mengucapkan Amin Setelah Al-Fatihah

1. Disunahkan bagi seseorang untuk mengucapkan 'aamiin' setelah membaca surah al-Fatihah seperti halnya 'Yaasiin' (dalam hal panjang-pendeknya bacaan-pen). Boleh juga mencucapakn 'amin' dengan alif dibaca pendek, yang artinya "Ya Allah kabulkanlah." berdasarkan   Beberapa riwayat hadits, diantaranya: 
  • Dari Wail bin Hujr, ia berkata:"Aku pernah mendengar Rasulullah saw. membaca: غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ lalu beliau mengucapkan 'amin', dengan memanjangkan suaranya (2A).
  • Sedangkan dalam riwayat Abu Daud disebutkan: "Dan beliau mengangkat (mengeraskan) suaranya."(2B).
  • Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: "Apabila Rasulullah saw. membaca غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ maka beliau mengucapkan 'aamiin', sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di belakang beliau pada shaf pertama."(2C)Ibnu Majah menambahkan pada hadits ini dengan kalimat "Sehingga masjid bergetar karenanya." (2D).
2. Disunnahkan juga mengucapkan 'amin' bagi orang yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika shalat sendirian, maupun sebagai imam ataupun makmum, serta dalam keadaan bagaimanapun, berdasarkan beberapa hadits sebagi berikut:
  • Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Jika seorang imam mengucapkan 'aaminn", maka ucapkanlah 'aamiin', sesungguhnya barangsiapa yang ucapan 'aamiin'nya bertepatan dengan ucapan 'aamiin' Malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (2E).
  • Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda: "Jika salah seorang dari kalian mengucapkan 'aamiin' dalam shalat, sementara Malaikat di langit juga mengucapkan 'aamiin' lalu ucapan aamiin keduanya bertepatan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (2F). Ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah waktu ucpan 'aamiin'nya bersamaan dengan 'aamiin' yang diucapkan oleh Malaikat, dan ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah bersamaan dalam pengabulannya, dan ada juga yang berpendapat bahwa kesamaan itu dalam hal keikhlasannya. wallaahu a'lam.
  • Dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Apabila imam telah membaca غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ , maka ucapkanlah 'aamiin', niscaya Allah akan mengabulkan permohonan kalian."(2G).
At-Tirmidzi mengatakan bahwa makna 'aamiin' adalah: "Jangan sia-siakan harapan kami." Dan kebanyakan ulama mengatakan bahwa maknanya: "Ya Allah perkenankanlah untuk kami." [2].
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
             ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Referensi:
Al-Qur'an Online
(1A) [Lihat: Tafsîral-Qurthubi (I/146)]
(1B) Lihat: Tafsîr Sûrah al-Fâtihah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (hal. 33-34)]
(1C). Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) dari hadits Abu Hurairah.
[2]. Tafsir Ibnu Katsir jilid I hal. 98-100, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
(2A). H.R.Ahmad (IV/315), Abu Daud (I/574)Shahih Abu Daud (no.932), at-Tirmidzi (no,248).
(2B). Tuhfadul Ahwadzi (II/67), shahih Abu Daud (no.932), at-Tirmidzi (no.248) yang semisal diriwayatkan oleh an-Nasa'i (n0,789) dan Ibnu Majah (no,855)
(2C). Abu Daud (I/573).[Dhaif: Abu Daud (no.934) didha'ifkan oleh Syaikh al-Bani dalam Dha'if Abi Dawud (no.197).
(2D). Ad-Daruquthni (I/335)
(2E). Fathul Baari (XI/203) dan Muslim (I/307), Bukhari (n0.780) Muslim (no.410(70))
(2F). Muslim (I/307). [Msulim (no.410(74, 75)].
(2G).Muslim (I/303).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar