Kamis, 22 Mei 2014

Shalat Istikharah Adalah Solusi Untuk Memutuskan Suatu Pilihan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Hari-hari ini panggung perpolitikan Indonesia dipenuhi berita tentang kiprah dan langkah-langkah para pasangan capres dan cawapres yang akan bertarung pada pilpres 9 Juli Mendatang. Sebagaimana diketahui, bahwa untuk Pemilu 2014 mendatang akan ada dua pasangan, yakni Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo - Jusuf Kalla. Pasangan pemenang pilpres inilah yang akan memimpin Indonesia hingga 2019, maka wajarlah apabila rakyat berkepentingan untuk mengetahui dan memeriksa  latar belakang, kiprah, kemampuan dan kekuatan masing-masing calon.
Secara garis besar, tanggapan masyarakat menyikapi hal ini bisa dibagi menjadi 4 golongan, yakni:
1. Golongan yang saling dukung-mendukung.
2. Aksi saling menjelekkan lawan piliihan.
3. Bingung mau pilih yang mana.
4. Tidak peduli atau berniat tidak memilih keduanya.
Untuk golongan yang saling mendukung dan menjelekkan, boleh jadi karena dipengaruhi oleh alasan yang subyektif seperti alasan kesamaan golongan, partai, tempat asal, kepentingan, melihat figur, terpengaruh iklan, propaganda/kampanye, ikut-ikutan, dll. Untuk golongan ketiga yang bingung, mereka adalah masyarakat yang kurang cukup memilki informasi atau tidak memiliki dasar untuk menjatuhkan pilihannya pada siapa. Sementara golongan keempat boleh jadi karena sudah tidak yakin akan adanya perubahan menjadi lebih baik, atau yang menganggap sistem demokrasi tidak bakal membawa manfaat. Pilihan subyektif hasilnya bisa benar bisa salah, manfaatnya bisa didapat tapi bisa juga malah jadi mudharat.
Nah, terus bagaimana menyikapinya yang benar dan sesuai syar'i ? 
Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita mengambil jalan yang sudah digariskan oleh Sunnah dalam menghadapi sebuah pilihan, yakni shalat Istikharah.


1. Pengertian Shalat Istikharah.

Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan, misalnya memilih jodoh, memilih bekerja di perusahaan mana, memilih pemimpin, dll. Istikharah dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan satu hal tertentu, bukan sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan kepada Allah. Sebelum datangnya Islam, masyarakat jahiliyah melakukan istikharah (menentukan pilihan) dengan azlam (undian). Setelah Islam datang, Allah melarang cara semacam ini dan diganti dengan shalat istikharah.
Dari Jabir bin Abdillah r.a., beliau berkata,
“Rasulullah saw. mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya."[1].
Teks doa istikharah ada dua:
Pertama:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
Kedua:
sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu: Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]

2. Tata cara shalat istikharah:

1.Bersuci, baik wudhu atau tayammum.
2.Melaksanakan shalat dua rakaat. 
  Shalat sunnah dua raka,at ini bebas, tidak harus shalat khusus. Bisa juga       berupa shalat rawatib, shalat tahiyatul masjid, shalat dhuha, dll, 
3.Cukup membaca Al-Fatihah ( wajib) dan surat atau ayat yang dihafal.
4.Berdoa setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. 
  Caranya: membaca salah satu diantara dua pilihan doa di atas. 
5.Selesai doa kita langsung menyebutkan keinginannya dengan bahasa bebas.   Misalnya: bekerja di perushaan A atau menikah dengan B atau berangkat ke    kota C, dst.
6.Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi pada anda. Apapun hasil akhir setelah istikharah, itulah yang terbaik bagi kita. Meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, kita harus berusaha ridha dan lapang dada dengan pilihan Allah untuk kita. Nabi saw.mengajarkan dalam doa di atas, dengan menyatakan, [ ثُمَّ أَرْضِنِى] “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya” maksudnya adalah ridha dengan pilihan-Mu ya Allah, meskipun tidak sesuai keinginanku.

Penjelasan:

1. Waktu Shalat IstikharahSyaikh Muhammad bin Umar Bazmul berkata, “Waktu doa istikharah adalah setelah salam, berdasarkan sabda beliau saw.:
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ
“Jika salah seorang di antara kalian berkehendak atas suatu urusan, hendaklah ia shalat dua rakaat yang bukan wajib, kemudian ia berdoa…..”
Teks hadis menunjukkan setelah melaksanakan dua rakaat, artinya setelah salam.[2]. 
2. Bacaan Khusus (?). Tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya bacaan surat atau ayat khusus ketika shalat istikharah. Jadi, orang yang melakukan shalat istikharah bisa membaca surat atau ayat apapun, yang dia hafal. Al-Allamah Zainuddin Al-Iraqi mengatakan, Aku tidak menemukan satu pun dalil dari berbagai hadis istikharah yang menganjurkan bacaan surat tertentu ketika istikharah.”
3. Shalat Khusus (?). Berdasarkan hadits pada poin 1 di atas,  sebagian ulama menyimpulkan bahwa melakukan istikharah tidak harus dengan shalat khusus, tapi bisa dengan semua shalat sunah. Artinya, seseorang bisa melakukan shalat rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, atau shalat sunah lainnya, kemudian setelah shalat dia membaca doa istikharah. 
4.Mimpi Sebagai Jawaban (?). Banyak orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam mimpi. Ini adalah anggapan yang yang sama sekali tidak berdalil. Karena tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah mengatakan, :"Mimpi tidak bisa dijadikan acuan hukum fiqih. Karena dalam mimpi setan memiliki peluang besar untuk memainkan perannya, sehingga bisa jadi setan menggunakan mimpi untuk mempermainkan manusia." Beliau juga menjelaskan bahwa mimpi tidak bisa untuk menetapkan hukum, namun hanya sebatas diketahui. Dan tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi. Karena itu, tidak disyaratkan, bahwa setiap istikharah pasti diikuti dengan mimpi. Hanya saja, jika ada orang yang istikharah kemudian dia tidur dan bermimpi yang baik, bisa jadi ini merupakan tanda baik baginya dan melapangkan jiwa. Tetapi, tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. 
5. Tindakan setelah Istikharah. Para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Imam An-Nawawi mengatakan, إذا استخار مضى لما شرح له صدره Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya.”
Allahu a’lam.
Semoga bermanfaat.
                            ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ       
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Konsultasi Syariah)- www.KonsultasiSyariah.com
Fikih Sunnah jilid 2, hal. 85-87, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT. Al-Ma'arif - Bandung.
***
[1]. (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).
[2]. (Bughyatul Mutathawi‘, Hal. 46).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar