Selasa, 29 April 2014

Tatacara dan Waktu Mengkadha Puasa Ramadhan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Mengkadha puasa Ramadhan tidaklah wajib menyegerakannya, wajibnya ialah dengan diberi keleluasaan waktu, dimana ada kesempatan, demikian pula dengan kafarat. Telah diperoleh berita yang sah dari Aisyah, bahwa ia mengkadha ketinggalan puasa Ramadhannya di bulan Sya’ban. [1] dan tidak dikadhanya dengan segera padahal ia sanggup melakukannya. Mengkadha sama saja halnya dengan ada’ atau melakukan puasa biasa, artinya siapa saja yang meninggalkannya beberapa hari, hendaklah membayarnya sebanyak hari itu tanpa tambahan. Hanya perbedaannya ialah bahwa mengkadha tidak perlu terus menerus. Dalam mengqadha puasa, harinya bebas, karena Allah berfirman,
 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ 
Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Q.S. Al-Baqarah:184). Kalimat “pada hari-hari yang lain” menunjukkan bahwa qadha puasa itu harinya bebas, selama tidak di hari terlarang, seperti: Idul Fitri, Idul Adha, dan hari tasyrik. 
  • Diperbolehkan berpuasa tanpa sahur, baik karena disengaja atau karena ketiduran, karena sahur bukan syarat sah berpuasa. Yang lebih penting adalah berniat sebelum subuh karena ini termasuk syarat sah puasa.
  • Sejak malam harinya, setiap orang yang hendak berpuasa wajib untuk sudah bersengaja bahwa paginya mau berpuasa. Dalilnya adalah hadis dari Hafshah r.a.; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له  Siapa saja yang belum berniat puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.” [2] 
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. Berpesan mengenai mengkadha puasa Ramadhan: “Jika ia suka dilakukannya secara terputus-putus, dan jika tidak, maka secara terus menerus.[3].

Belum Mengkadha Ketika Datang Ramadhan Berikutnya

  • Jika seseorang menangguhkan kadha hingga datang bulan Ramadhan lagi, hendaklah ia mempuasakan bulan Ramadhan yang baru, dan setelah itu hendaklah ia mengkadha hutangnya yang lalu. Ia tidaklah wajib membayar fidyah, baik penangguhan kadha itu karena adanya halangan atau tidak. (MadzhabHasan Basri dan golongan Hanafi).
  • Malik, Syafi’I, Ahmad dan Ishak, sependapat dengan golongan Hanafi bahwa tidak wajib membayar fidyah jika penangguhan disebabkan adanya halangan. Tetapi mereka berlainan pendapat jika penangguhan itu bukan karena suatu halangan. Kata mereka hendaklah ia berpuasa pada bulan Ramadhan ini, kemudian mengkadha utangnya sambil membayar fidyah dengan memberikan makanan sebanyak satu gantang untuk tiap-tiap hari yang ditinggalkannya. Dalam hal ini mereka tidaklah mengemukakan dalil yang dapat dipakai sebagai hujjah atau alasan. Maka yang kuat ialah madzhab golongan Hanafi, karena tanpa keterangan yang sah, sesuatu syari’at tak dapat diterima. Allaahu a’lam.
  • Bila seseorang mati dengan menyisakan puasa Ramadhan, maka walinya tidak wajib membayar fidyah. Bila si mati bernadzar maka si walinya harus melaksanakan nadzar si mati.  Ulama yang mengharuskan bagi wali untuk membayar fidyah bagi si mati berpegang kepada hadits-hadits berikut ini: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa meninggal dan atasnya ada puasa Ramadhan yang telah ditinggalkan, maka hendaklah diberi makan atas namanya sehari seorang miskin.” (HR. Titmidzi). Dari Ibn ‘Abbas ia berkata, “Apabila seseorang sakit dalam bulan Ramadhan kemudian mati, padahal ia tidak berpuasa, maka walinya harus memberikan fidyah atas nama si mati. Tidak ada qadha’ atasnya, akan tetapi jika si mati bernadzar maka walinya harus mengqadha’ puasanya.” (HR. Abu Dawud)
  • Oleh karena itu, para pentahqiq berkesimpulan bahwa dua hadits ini tidak bisa digunakan argumentasi untuk membangun pendapat mereka, sebab hadits di atas adalah hadits dha’if, sementara riwayat dari Ibn ‘Abbas adalah hadits mauquf. Berpegang dengan kaidah “al-barât al-ashliyyah”, maka hadits dha’if dan hadits mauquf tidak bisa digunakan hujjah. Oleh karena itu, pendapat ulama Hanafiyyah lebih utama untuk diikuti. (Imam asy-Syaukani, Nailul Authar, Kitab ash-Shiyâm)
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 3, hal.281 – 283, Sayyid Sabiq, Penerbit: PT.al-Ma’arif- Bandung.
www.konsultasisyariah.com
***
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim
[2]..(H.R. Abu Daud dan Nasa’i; dinilai sahih oleh Al-Albani)
[3]. H.R.Daruquthni

2 komentar:

  1. Alhamdulillah, ilmu jadi bertambah. syukron Ust ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'Afwan, semoga bermanfaat, mohon bantu sebarkan sebagai upaya da'wah dan syi'ar.

      Hapus