Minggu, 20 April 2014

Perbuatan atau Amalan yang Dapat Membatalkan Puasa.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang merupakan salah satu rukun Islam yang rutin dilakukan sebulan dalam setahun, sementara puasa sunnah memiliki pahala dan keutamaan, yang waktunya tersebar sepanjang tahun. Ada beberapa perbuatan atau hal yang membatalkan puasa dan merusak pahala puasa baik ramadhan maupun puasa sunnah. Perbedaan antara puasa wajib seperti di bulan Ramadhan maupun sunnah sebenarnya tidak ada perbedaan dalam pelaksanaannya, termasuk hal yang bisa membatalkan maupun yang bisa merusak pahala puasa. 
Seperti sudah diketahui dari definisi puasa bahwa puasa adalah Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar sampai terbenam mataharidengan berniat. Oleh karena itu mulai dari terbit fajar shadiq sebagai pertanda masuknya waktu shalat Subuh, seorang yang berpuasa sudah harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari terbenam di penghujung siang. Jikalau tidak, berarti puasanya batal. Ini berdasarkan firman Allah Swt.:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 
… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 
Maknanya diizinkan untuk mengkonsumsi makan dan minum sampai terbit fajar dan tidak lagi diizinkan untuk makan dan minum setelah itu sampai terbenam matahari.
Dan sunnah Rasul Saw.:
 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
Rasul Saw. Bersabda; apabila malam sudah datang dari arah sini (timur) dan malam beranjak dari arah sini, mataharipun tenggelam, maka sudah masuk waktu untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa.
Karena puasa itu amalan ibadah utama, maka ummat Islam mutlak mengetahui apa saja yang dapat membuat puasa kita tidak sah, agar kita tidak mengerjakan suatu amalan yang sia-sia.

1. Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

1-2 Makan dan Minum dengan Sengaja
Tetapi jika  seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, tersalah atau terpaksa, maka tidak wajib kadha dan kafarat. Daari Abu Hurairahr.a. bahwa Nabi saw. Bersabda:
        قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – - مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ  Barangsiapa yang lupa – padahal ia berpuasa – lalu ia makan atau minum, maka hendaklah dilanjutkannya puasanya . Karena bahwasanya ia diberi makan, diberi minum oleh Allah. [1].
Dari Abu Hurairah r.a. : Bahwa Nabi saw. Bersabda:
مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْر رَمَضَان نَاسِيًا فَلَا قَضَاء عَلَيْهِ وَلا كَفَّارَ 
“Barang siapa yang berbuka pada bulan Ramadhan – dalam keadaan lupa – maka ia tidak wajib mengkadha atau membayar kafsarat.[2].

3. Muntah dengan Sengaja
Ketika seseorang terpaksa muntah,ia tidak wajib mengkadha atau membayar kafarat. Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Bersabda:
مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ 
Barang siapa didesak oleh muntah, ia tidak wajib mengkadha,tetapi siapa yang menyengaja muntah, hendaklah ia mengkadha!”.
Karena muntahan kalau sudah naik dari lambung, maka ia akan turun naik di dalam rongga, atau ada bagian dari muntahan yang kembali ke dalam lambung. Itu artinya ada benda yang masuk ke dalam rongga melalui lobang yang terbuka. Jikalau pun muntahan keluar semuanya tidak ada lagi yang masuk kembali, maka puasanya tetap batal sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits. 

4 – 5. Haidh dan Nifas
Walau hanya sebentar pada saat terakhir sebelum matahari terbenam. Dalam hal ini ulama telah ijma’ tentang batalnya, karena Ia tidak lagi menjadi mukallaf untuk berpuasa, ia justru berdosa jikalau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa jikalau berniat berpuasa. Karena diantara syarat sahnya puasa adalah bersih dari haid dan nifas. 
Puasa yang dibatalkannya tadi wajib diqadha` (diganti) di luar bulan Ramadhan, sedangkan shalatnya selama masa haid dan naifas tidak wajib di qadha`.

6. Sengaja Mengeluarkan Mani atau Sperma (Istimna).
Yang dimaksud dengan istimna` adalah perbuatan yang sengaja mengeluarkan sperma tanpa melakukan hubungan badan.
Biar sebabnya laki-laki mencium atau memeluk isterinya,atau dengan onani. Maka ini membatalkan puasa dan wajib mengkadha.Tetapi seandainya sebabnya hanya semata-mata melihat atau mengangan-angankan, maka keadaannya tidak ubah seperti mimpi di siang hari waktu berpuasa, jadi tidaklah membatalkan puasa dan tidak wajib suatu apa pun. Begitu pula halnya madzi, tidak mempengaruhi puasa, biar sedikit atau banyak.
Adapun jikalau sekedar berciuman suami istri di saat berpuasa, tidak menyebabkan batalnya puasa. Hanya saja makruh hukumnya berciuman jikalau berciuman itu dapat membangkitkan syahwat, karena akan dapat menyebabkan seseorang sulit mengendalikan diri dan bisa membatalkan puasanya. Sebaiknya tidak melakukannya sama sekali di saat berpuasa.
كَانَ النَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم - ‏‏يُقَبِّلُ ‏ ‏وَيُبَاشِرُ ‏‏وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ ‏ ‏لِإِرْبِهِ 
“Nabi Saw mencium dan bermesraan (bukan pada kemaluan) dengan istri beliau di saat beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling kuat mengendalikan syahwat

7. Memasukkan bahan yang bukan makanan ke dalam perut melaui jalan biasa
seperti banyak makan garam, menurut ulama ini membatalkan puasa.
Benda yang dimaksud adalah setiap benda yang bisa ditangkap oleh indra manusia normal, besar ataupun kecil, meskipun sesuatu yang biasanya tidak dimakan, seperti benang dan jarum.
Rongga yang dimaksud adalah: bagian otak dan semua bagian organ tubuh yang berada setelah kerongkongan sampai kepada lambung dan usus-usus. Beda halnya dengan sesuatu yang masuk ke dalam rongga tidak melalui lobang yang terbuka, seperti melalui pori-pori, dll.
Lobang yang terbuka adalah: mulut, kedua lobang hidung, kedua lobang telinga, qubul (kemaluan), dubur (anus), dll. 
Syarat sesuatu yang dimasukkan itu bisa membatalkan puasa adalah, apabila dimasukkan dengan sengaja, bukan karena terpaksa/tidak bisa dihindari, seperti halnya debu atau lalat yang masuk tanpa disadari.
Berdasarkan keterangan diatas, maka;
A. Puasa Batal manakala:
1.Memasukkan sesuatu dari lubang-lubang yang terbuka dengan sengaja dan tanpa paksaan dari orang lain. Ia wajib mengganti (qadha`) puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan.
2.Mengkonsumsi sesuatu melalui perantara lubang hidung.
3.Meneteskan sesuatu melalui telinga atau mengorek telinga.
4.Menyuntikkan sesuatu melalui dubur (anus), baik kadarnya sedikit atau pun banyak, karena ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lubang yang terbuka dengan sengaja, meskipun zat yang dimasukkan tidak sampai ke usus dan lambung. 
5.Jikalau ada perempuan yang meneteskan sesuatu ke dalam lubang air seni atau kemaluannya meskipun tidak sampai ke kantong kemih, maka puasanya batal, karena Ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lubang yang terbuka dengan sengaja.Termasuk (maaf) meskipun ia cuma memasukkan jari tangan ke dalam lubang kemaluannya.
B. Puasa tidak batal, manakala:
1.Memakai obat tetes mata, meskipun ia merasakan adanya rasa pahit dan semisalnya di dalam rongga. Karena tempat masuknya adalah mata, bukan lubang yang terbuka.
2.Iinjeksi (suntik) saat berpuasa, puasanya tidak batal, karena suntik tidak dimasukkan pada lubang terbuka, tapi di tempat yang memang tidak ada lubang yang menyalurkan ke dalam rongga, yaitu kulit.
3.Air ludah selama masih berada di dalam mulut meskipun tertelan kembali, tidak menyebabkan batal puasa. Karena hal tersebut sulit untuk menghindarinya bagi setiap orang yang masih hidup. Tetapi Jikalau air ludah sudah dikeluarkan dari mulut, kemudian ditelan kembali, maka puasanya batal. Begitu juga ketika air ludah yang masih ada di dalam mulut tetapi sudah bercampur dengan najis dan tertelan, seperti ada orang yang gusinya berdarah dan ia tidak mencucinya atau meludahkannya, maka puasanya batal.
4.Seseorang yang berwudhu` boleh untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya di siang hari, akan tetapi tidak boleh sampai ke pangkal hidung, apalagi masuk ke dalam. Jikalau Ia memasukkan air sampai ke pangkal hidung dan air masuk ke dalam atau berkumur-kumur sehingga air masuk ke dalam kerongkongan, puasanya batal.

8. Niat Berbuka (Niat Membatalkan Puasanya)
Siapa yang berniat berbuka padahal ia berpuasa, batallah puasanya walau ia tidak melakukan sesuatu yang membatalkan. Sebabnya ialah karena niat itu adalah salah satu rukun puasa, Maka jika disalahinya – yakni dengan meniatkan dan menyengaja berbuka – batallah puasanya tidak pelak lagi.

9.Makan atau Minum  dan Bersenggama
Dari Asma binti Abu Bakar r.a. katanya: Artinya: ‘Di masa Rasulullah saw. Berbuka pada suatu hari yang mendung dari bulan Ramadhan. Kemudian terbitlah matahari.
Berkata Ibnu Taimiyah Ini memberi petunjuk atas 2 hal:
1.Di waktu hari mendung,tidaklah disunatkan mengundurkan waktu berbuka sampai betul-betul yakin terbenamnya matahari, karena para sahabat tidaklah berbuat demikian dan tidak pula diperintahkan oleh Nabi, padahal mereka disertai oleh Nabi sendiri.
2.Menjadi bukti tidak wajibnya kadha, karena seandainya disuruh mengkadha oleh Nabi,tentulah hal itu akan tersiar sebagai peristiwa mereka berbuka itu, dan karena ada terdengar kabar beritanya, itu menunjukkan bahwa Nabi tidaklah memerintahkannya.
Mengenai hal yang membatalkan puasa dan karenanya wajib kadha berikut kafarat, maka menurut jumhur (mayoritas ulama), hanyalah bersenggama dan tidak ada yang lain.

Berhubungan badan suami istri pada siang hari membatalkan puasa, meskipun pergaulan itu tidak menyebabkan keluarnya sperma. Kepada pasangan suami-istri dibolehkan melakukannya di malam hari, tanpa berpengaruh terhadap puasa mereka selama dilakukan sampai sebelum terbit fajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari berpuasa untuk bergaul dengan istri-istri kalian”.
Para ahli tafsir mengartikan kalimat rafats di dalam ayat dengan jima` (pergaulan suami istri)
Di dalam ayat yang sama dijelaskan:
 فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ
Maka sekarang gaulilah mereka (istri-istri kalian)”
Di dalam ayat yang sama juga dijelaskan:
 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai malam dan jangan kalian gauli mereka di saat kalian sedang beri`tikaf di  masjid-masjid
Mubasyarah bermakna: bergaul suami-istri.
Berdasarkan penjelasan ayat maka dipahami bahwa bergaul suami-istri secara hubungan badan (seksual) membatalkan puasa. Jikalau bermesraan dengan istri tidak pada kemaluan (hubungan seks) atau sekedar mencumbui istri tapi menyebabkan keluar sperma, maka puasanya batal. Tetapi jikalau tidak menyebabkan keluar sperma, maka puasa mereka tidak batal.
… يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي …
(orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku.” (Shahih HR. Muslim).
Dan juga beliau saw. bersabda:
دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يُرِيْبُكَ
Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala di Al-Irwa).
Ada pun orang-orang-orang yang masih dalam keadaan junub sampai masuknya waktu fajar; karena malam hari melakukan hubungan suami-istri atau malamnya mimpi basah, maka puasa mereka tidak batal. Mereka bisa mandi junub setelah fajar terbit dan menyempurnakan shaum mereka.

KETERANGAN:
Mengenai  orang yang makan atau minum atau bersenggama karena menduga bahwa matahari telah terbenam padahal kemudian ternyata bahwa dugaannya salah, maka hukum puasanya terdapat perbedan pendapat:
1. Ia Wajib Mengkadha (Menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di dalamnya Imam yang berempat).
2. Puasanya sah dan tidak wajib mengkadha (pendapat Ishak, Abu Daud, Ibnu Hazmin, ‘Atha’, Urwah, Hasan Basri, Mujahid). Berdasarkan firman Allah Ta’ala :
                                    وَلَيۡسَ عَلَيۡڪُمۡ جُنَاحٌ۬ فِيمَآ أَخۡطَأۡتُم بِهِۦ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوبُكُمۡ‌ۚ وَڪَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمًا
Artinya:"... Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi [yang ada dosanya] apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ."(Q.S.Al-Ahzab: 5). Dan karena sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah tidak membebani umatku mengenai hal-hal yang tersalah....” sampai akhir hadits.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah jilid 3, hal.272-283, Sayyid Sabiq, Penerbit: P.T. al-Ma'arif- Bandung.
https://www.facebook.com/notes/laki-laki-muslim-sejati-adalah-yang-menegakkan-sholat-5-waktu-di-masjid/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/10150253876239499
***
[1]. H.R. Jama’ah
[2]. H.R. Daruquthni, Baihaqi; oleh Hakim dinyatakan sah menurut syarat Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar