Sabtu, 26 April 2014

Hukum Orang Meninggal yang Masih Mempunyai Hutang Puasa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Bagaimanakah hukum orang meninggal dunia yang masih mempunyai kewajiban (hutang) puasa ? 
Jika seseorang meninggal dunia, sedang kewajiban shalat ada yang luput atau ketinggalan olehnya, maka menurut ijma’ ulama, baik walinya atau orang lain, tidak boleh melakukan shalat sebagai gantinya. Demikian pula orang yang tak sanggup berpuasa, tidaklah digantikan berpuasa oleh seorangpun waktu ia masih hidup. Akan tetapi jika ia meninggal dan masih  meninggalkan utang puasa, sedang ia ada kesempatan untuk melakukannya sebelum meninggal itu, maka fukaha (para ahli fikih) berselisih paham tentang hukumnya:
  •  Tidak digantikan. Jumhur ulama, diantaranya Abu Hanifah, Malik dan juga Syafi’I – menurut pendapatnya yang lebih terkenal – berpendapat bahwa wali tidak boleh menggantikan berpuasa, hanya hendaklah ia memberikan segantang makanan untuk setiap hari ia berutang itu. [1].
  • Digantikan. Golongan Syafi’i: disunatkan bagi wali menggantikan orang yang telah meninggal itu berpuasa yang akan membebaskannya dari kewajiban, dan tidak perlu membayar fidyah. Dan yang dimaksud dengan wali ialah: kerabat, baik kedudukannya sebagai ‘ashabah, ahli waris biasa dan lain-lain. Dan seandainya yang menggantikan berpuasa itu orang lain, maka puasa itu sah jika dengan izin dari wali. Jika tidak, maka puasa itu tidak sah. Mereka berpedoman pada hadits yang diceritakan oleh ‘Aisyah r.a (lihat hadits berikut nomor 2.).

1. Hadits Membayarkan Hutang Orang Telah Meninggal

    1. Wali Menggantikan Puasa
    Diceritakan oleh ‘Aisyah r.a bahwa Nabi saw. Bersabda: 
    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
    “Siapa yang meninggal dunia sedang ia masih mempunyai kewajiban berpuasa, hendaklah digantikan oleh walinya.!”[2].(Pada riwayat Bazzar yang sanadnya hasan ada tambahan: “jika dikehendakinya.”).
    2. Membayarkan Hutang Puasa Ramadhan Ibu
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلىَ النَّبِىِ صلى الله عليه وسلم يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صِيَامٌ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيْهِ عَنْهَا؟ قَالَ نَعَمْ. لَوْكَانَ عَلىَ اُمِكَ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَهُ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ اَنْ يُقْضَى. رواه مسلم
    Dari IbnuAbbas: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. Lalu bertanya: “Ya rasulullah,ibu saya meninggal, padahal ia masih mempunyai utang puasa sebulan, apakah akan saya gantikan mengkadhanya?” Maka sabda beliau: Artinya: “Seandainya ibumu mempunyai utang, apakah akan kaubayar utangnya itu?” Ujarnya: “Benar!” Maka sabda Nabi pula: “Maka utang kepada Allah, lebih patut untuk dibayar.”[3].
    Menurut Nawawi:“Pendapat ini adalah pendapat yang benar serta pilihan yang juga menjadi keyakinan kita!” Dia juga berpendapat yang telah disahkan oleh teman-teman sejawat kita. Peneliti hadits-hadits sah dan nyata ini,yang terdiri dari ahli-ahli fikih maupun ahli-ahli hadits.
    3. Membayarkan hutang Puasa Nadzar.
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ امْرَاَةً قَالَتْ: يَارَسُولَ اللهِ اَنَّ اُمِّي مَاتَتْ وَ عَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ اَفَاَصُوْمُ عَنْهَا ؟ قَالَ: اَرَاَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتُهُ اَكَانَ يُؤَدِّى ذَلِكَ عَنْهَا ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ فَصُوْمِى عَنْ اُمِّكِ 
    Dari Ibnu Abbas r.a: sesungguhnya ada seorang perempuan telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “ya Rasulullah s.a.w, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia meninggalkan kewajiban puasa nadzar yang belum sempat ia tunaikan, apakah aku boleh berpuasa untuk menggantikannya?” rasulullah s.a.w, menjawab;”apakah pendapatmu, kalau seandainya ibumu mempunya hutang, dan kamu membayarnya. Apakah hutangnya terbayarkan?”. Perempuan tadi, menjawab: “ia”. Dan Nabi s.a.w, bersabda: “berpuasalah untuk ibumu”. [4]. 
    Jadi jelas bahwa disyariatkan membayarkan hutang puasa orang yang meninggal dunia, terlebih kalau itu adalah orang tua sendiri. Hal tersebut berlaku bagi mereka yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang puasa, sementara ia memiliki kesempatan untuk membayarnya namun sebelum membayar sudah meninggal.
    Namun bagi orang yang memiliki hutang puasa karena sakit, menyusui, atau hamil. Lalu sebelum sembuh dari sakit atau selama masa menyusui dan hamil ia meninggal tanpa memiliki kesempatan untuk membayar hutang puasanya, maka ia tidak memiliki kewajiban untuk menggantinya. Demikian pula ahli warisnya tidak wajib membayar atau menggantinya. Adapun jika ia sembuh dan memiliki kesempatan untuk membayar hutangnya tapi tidak dibayar sampai meninggal, ketika itulah keluarganya membayarkan hutang puasanya.


    2. Besaran Fidyah Dan Yang Lebih Utama Menggantikan Puasa

    Abu Syuja’ rahimahullah berkata, “Barangsiapa memiliki utang puasa ketika meninggal dunia, hendaklah dilunasi dengan cara memberi makan (kepada orang miskin), satu hari tidak puasa dibayar dengan satu mud.”
    Satu mud yang disebutkan di atas adalah 1/4 sho’. Di mana satu sho’ adalah ukuran yang biasa dipakai untuk membayar zakat fithri. Satu sho’ sekitar 2,5-3,0 kg seperti yang kita setorkan saat bayar zakat fithri.
    Yang lebih utama dari fidyah (memberi makan kepada orang miskin) adalah dengan membayar utang puasa dengan berpuasa yang dilakukan oleh kerabat dekat atau orang yang diizinkan atau ahli waris si mayit. Dalil yang mendukung hal ini hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
    Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, maka keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang mempuasakan dirinya.(HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147).
    Dalil bolehnya melunasi utang puasa orang yang telah meninggal dunia dengan menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) adalah beberapa riwayat berikut,
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِى رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ.
    Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika seseorang sakit di bulan Ramadhan, lalu ia meninggal dunia dan belum lunasi utang puasanya, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin dan ia tidak memiliki qodho’. Adapun jika ia memiliki utang nazar, maka hendaklah kerabatnya melunasinya.(HR. Abu Daud no. 2401, shahih kata Syaikh Al Albani).
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
    “Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia lantas ia masih memiliki utang puasa sebulan, maka hendaklah memberi makan (menunaikan fidyah) atas nama dirinya bagi setiap hari tidak puasa” (HR. Tirmidzi no. 718. Abu ‘Isa berkata, “Kami tidak mengetahui hadits Ibnu ‘Umar marfu’ sebagai perkataan Nabi kecuali dari jalur ini. Namun yang tepat hadits ini mauquf, hanya perkataan Ibnu ‘Umar.” Hadits ini dho’if kata Syaikh Al Albani).
    Pendapat Imam Syafi'i
    Imam Syafi’i dalam pendapat lamanya (qodim) mewajibkan bagi yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, tidak diharuskan dilunasi dengan memberi makan (fidyah), namun boleh bagi kerabatnya melunasi utangnya dengan berpuasa atas nama dirinya. Bahkan pendapat terakhir inilah yang disunnahkan sebagaimana dinukil dari Imam Nawawi dari Syarah Muslim. Kata Imam Nawawi, pendapat qodim dari Imam Syafi’i itulah yang lebih tepat karena haditsnya yang begitu kuat. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i yang jadid (terbaru), tidak bisa dijadikan hujjah (dukungan) karena hadits yang membicarakan memberi makan bagi orang yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa adalah hadits dho’if, wallahu a’lam. Demikian nukilan kami dari Kifayatul Akhyar.
    Intinya, orang yang punya utang puasa dan terlanjur meninggal dunia sebelum utangnya dilunasi, maka bisa ditempuh dua cara:
       1. Membayar utang puasa dengan kerabatnya melakukan puasa,
       2. Menunaikan fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin.
    Adapun bentuk memberikan fidyah, bisa dengan makanan siap saji dengan memberi satu bungkus makanan bagi satu hari tidak puasa, bisa pula dengan ketentuan satu mud yang disebutkan oleh Abu Syuja’ di atas.
    Namun ukuran mud ini bukanlah ukuran standar dalam menunaikan fidyah. Syaikh Musthofa Al Bugho berkata, “Ukuran mud dalam fidyah di sini sebaiknya dirujuk pada ukuran zaman ini, yaitu ukuran pertengahan yang biasa di tengah-tengah kita menyantapnya, yaitu biasa yang dimakan seseorang dalam sehari berupa makanan, minuman dan buah-buahan. Karena saat ini makanan kita bukanlah lagi gandum, kurma, anggur atau sejenisnya. Fakir miskin saat ini biasa menyantap khubz (roti) atau nasi dan kadang mereka tidak menggunakan lauk daging atau ikan. Sehingga tidaklah tepat jika kita mesti menggunakan ukuran yang ditetapkan oleh ahli fikih (fuqoha) di masa silam. Karena apa yang mereka tetapkan adalah makanan yang umum di tengah-tengah mereka.” (At Tadzhib, hal. 115).
    Allaahu a’lam.
    Sebarakan !!! insyaallah bermanfaat.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                  “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sumber: 
    FikihSunnah jilid 3, hal 283-284, Sayyid Sabiq, Penerbit: P.T. al-Ma’arif- Bandung.
    http://muslim.or.id/ramadhan/fikih-puasa-8-masih-memiliki-utang-puasa-ketika-meninggal-dunia.html
    ***
    [1]. Menurut golongan Hanafi, fidyahnya ialah sebanyak setengah sukat gandum, atau satu sukat bahan makanan lain.
    [2].H.R. Ahmad, Bukhari dan Muslim (no.1935)
    [3]. H,R. Ahmad dan Ashabus-Sunan
    [4]. (Hadits Shahih, riwayat Muslim).

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar