Minggu, 23 Maret 2014

Hal-Hal yang Diperbolehkan Sewaktu Berpuasa/ Tidak Membatalkan Puasa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Puasa sebagai salah satu amal ibadah penting dalam agama Islam memiliki beberapa larangan yang apabila dilanggar maka puasanya dinyatakan tidak sah atau batal. Hal-hal yang dilarang dilakukan itu adalah sesuatu yang telah jelas dalilnya; baik dari al-Qur'an maupun sunnah Rasul. Nah, ada beberapa amalan atau perbuatan yang dianggap oleh sebagian orang bahwa sesuatu itu bisa membatalkan,  misalnya keramas, berendam, menyelam, meneteskan obaat mata, mencium isteri (sendiri), berbekam, suntik, berkumur dan mencicipi makanan; padahal secara syar'i hal-hal itu tidak terlarang. Baik karena tidak adanya dalil larangan ataupun malah adanya dalil yang membolehkan perbuatan tersebut. Artikel kali ini bermaksud mengajak pembaca, bahwa segala sesuatu dalam masalah agama (melarang atau membolehkan) itu harus berdasarkan landasan yang kuat, bukan berdasarkan persangkaan, perkiraan atau logika semata.

Beberapa Amalan yang Dibolehkan Saat Berpuasa (Tidak Membatalkan).

1. Keluar Sperma dan Menyelam dalam Air/Keramas
Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari beberapa orang sahabat dari Nabi saw. Artinya:‘Sungguh saya telah melihat Nabi saw. Menimpakan air ke atas kepalanya sewaktu berpuasa, disebabkan haus atau kepanasan.” [1].
Keramas untuk mendinginkan badan.
كان صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصب الماء على رأسه وهو صائم من العطش أو من الحر
Nabi saw. pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang puasa, karena kehausan atau terlalu panas. [2].
وكان ابْنُ عُمَرَ -رضى الله عنهما- بَلَّ ثَوْبًا ، فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ، وَهُوَ صَائِمٌ
Ibn Umar r.a. pernah membasahi pakaiannya dan beliau letakkan di atas kepalanya ketika sedang puasa.[3]. 
Semakna dengan hadis ini adalah orang yang berenang atau berendam di air ketika puasa
Dari ‘Aisyah r.a.: “Bahwa Nabi saw, jika di waktu subuh berada dalam keadaan junub, sedang beliau berpuasa, kemudian beliau mandi.
Jika kebetulan air ini masuk ke dalam rongga perut orang yang berpuasa tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah.

2. Meneteskan celak dan meneteskan obat atau lain-lain ke dalam mata
Biar terasa dalam kerongkongan atau tidak, karena mata bukanlah jalur masuk ke rongga perut. Diterima berita dari Anas, bahwa ia sendiri memakai celak waktu berpuasa. Al Bukhari menyatakan dalam shahihnya:
ولم ير أنس والحسن وإبراهيم بالكحل للصائم بأساً
Anas bin Malik, Hasan Al Bashri, dan Ibrahim berpendapat bolehnya menggunakan celak. [4].

3. Mencium; bagi orang yang sanggup menahan  dan menguasai syahwatnya.
Diterima dari ‘Aisyah r.a.:
 كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وهُو صَائِمٌ وَيُباشِر وَهُو صَائِمٌ ولَكِنَّه كَان أَملَكَكُم لأَرَبِه
Nabi saw. Biasa mencium di waktu sedang berpuasa, dan bersentuhan dikala berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai nafsunya.”[5].
Dari ‘Umar r.a.:
هَشَشتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ
Pada suatu hari bangkitlah birahi saya maka saya cium isteri saya, sedang saya sedang berpuasa. Lalu saya temui Nabi saw. Kata saya kepadanya; ‘Hari ini saya telah melakukan hal berat, saya mencium padahal saya berpuasa’. Maka ujar  Rasulullah saw.
 أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتُ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ 
“’Bagaimana pendapat anda, jika anda berkumur-kumur sedang ketika itu anda sedang berpuasa ‘? Ujar saya: ‘Itu tidak apa-apa’! Sabda Nabi pUla: ‘Maka kenapa anda tanyakan lagi?
  • Ibnu Mundzir; ‘Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, ‘Aisyah, ‘Atha’, Sya’bi, Hasan, Ahmad dan Ishakmemberi keringanan (rukhsah) dalam hal mencium ini.”
  • Menurut golongan Hanafi dan Syafi’I, hukumnya makruh jika merangsang syahwat atau nafsu seks seseorang, dan jika tidak merangsang maka tidaklah makruh, tetapi lebih utama meninggalkannya.

4. Injeksi atau Suntikan
Biar untuk memasukkan makanan atau lainnya, dan sama saja halnya apakah de dalam urat atau ke bawah kulit. Walaupun akhirnya yang disuntikkan itu sampai juga ke dalam perut, tetapi masuknya bukanlah dari jalan yang biasa.

5. Berbekam
Yakni mengeluarkan darah dari bagian kepala. 
أَنَّ النَبِـيّ صلى الله عليه وسلم احتَجَمَ وَهُو صَائِم
Nabi saw. Sendiri pernah berbekam padahal beliau sedang berpuasa. [7]. Kecuali bila hal itu akan melemahkan orang yang berpuasa, maka hukumnya makruh.  Tsabit al-Banani bertanya kepada Anas r.a.: “Apakah di masa Rasulullah saw. Berbekam itu Tuan-Tuan anggap makruh?” Ujar Anas: “Tidak, kecuali bila melemahkan.”[8].

6. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke rongga hidung, asal tidak berlebihan
Diriwayatkan dari Laqith bin Shabrah bahwa Nabi saw. Bersabda: 
وبَالِغ فِي الاِستِنشَاق إلا أَن تكُون صائماً
Jika istinsyaq-membersihkan rongga hidung- maka sampaikanlah sedalam-dalamnya, kecuali jika engkau berpuasa.” [9].
  • Mengenai menaruh obat ke dalam hidung orang yang sedang berpuasa, tidak dsetujui oleh para ahli, mereka berpendapat bahwa itu membatalkan. Dan maksud hadits di atas menguatkan pendapat itu.
  • Qudamah: “Jika seseorang berkumur-kumur atau beristinsyaq waktu bersuci, lalu msuk air ke dalam kerongkongannya tanpa disengaja atau berlebih-lebihan, maka tidak menjadi apa .”(Pendapat ini juga menjadi pendirian Auza’I, Ishak dan Syafi’I dalam salah satu diantara dua pendapatnya, juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas).
  • Malik dan Abu Hanifah: “Puasanya batal.” Karena ia menyampaikan air ke rongga perutnya dalam keadaan sadar terhadap puasanya, sama halnya jika ia sengaja meminumnya. Allaahu a'lam.
7. Hal-hal yang tak mungkin menghindarinya
Misalnya menelan air ludah, debu jalanan, sisa-sisa tepung, salesma, dll.
Berkata Ibnu Abbas r.a.: “Tidak menjadi apa bila ia merasai makanan asam atau sesuatu yang hendak dibelinya.” Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma mengatakan:
لَا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم
Orang yang puasa boleh mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongannya.[10]. Dan Hasan biasa memamahkan kelapa untuk cucunya, dan Ibrahim menganggap rukhsah atau suatu keringanan.

Kesimpulan:

  1. Masih diperselisihkan. Ada beberapa hal yang menjadi perselisihan pendapat tentang boleh tidaknya dilakukan saat berpuasa, yakni: memamah karet susu, bercelak, mencium bau-bau harum, bersuntik, meneteskan obat dalam saluran kencing, mengobati luka pada ubun-ubun dan rongga perut.
  2. Tidak membatalkan. Yang lebih kuat ialah: tidak satupun diantara semua itu yang membatalkan, karena tidak termasuk kategori memasukkan sesuatu ke anggota lubang yang terbuka. Seandainya hal-hal itu termasuk barang yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam berpuasa hingga merusak puasa, tentulah akan dijelaskan oleh Rasul, karena berpuasa itu termasuk pokok agama Islam yang perlu diketahui oleh semua orang.
  3. Puasa membentengi dari setan. Nabi saw. Berpesan: “Puasa itu merupakan benteng.” Artinya sesunguhnya setan mengalir pada tubuh manusia melalui pembuluh-pembuluh darah, maka sempitkanlah tempat-tempat lalunya dengan jalan lapar dan berpuasa’! Maka orang berpuasa dilarang makan-minum, karena itulah yang akan membawa kepada takwa. Dan meninggalkan makan-minum  - yang memperbanyak darah dimana setan-setan biasa mengalir memasuki tubuh - hanya dapat terlaksana dengan menjauhi makanan, bukan dengan meninggalkan bercelak, bersuntik, meneteskan obat pada kemaluan, dan lain-lain.
Allaahu a’lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah jilid 3-hal. 264-272, Sayyid Sabiq, Penerbit PT.al-ma’arif -  Bandung.
www.konsultasisyariah.com
***
[1]. H.R. Ahmad, Malik dan Abu Daud dengan isnad yang sah.
[2]. (HR. Ahmad, Abu Daud dengan sanad bersambung dan shahih)
[3]. (Riwayat Al Bukhari secara muallaq)
[4].(Shahih Bukhari, bab Bolehnya orang yang berpuasa mandi) Ini merupakan pendapat madzhab Syafi’I, ‘Atha’, Hasan, Nakh’I, Auza’I, Abu Hanifah dan Abu Tsur,
[5]. H.R. Bukhari dan  Muslim
[6]. HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib Al Arnauth
[7]. H.R.Bukhari dan Abu Daud
[8]. H.R.Bukhari dll.
[9]. H.R.Ashabus Sunan dan menurut turmudzi hadits ini hasan lagi shahih
[10]. (HR. Al Bukhari secara muallaq)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar