Jumat, 14 Maret 2014

Amalan dan Keutamaan dalam Berjihad Fi Sabilillah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Jihad secara bahasa mempunyai arti lebih dari 20 makna: semua berkisar pada makna : kemampuan, kesulitan, keluasan (kemampuan dan kesempatan), perang dan sungguh-sungguh. Para ahli menafsirkan jihad secara bahasa dengan ungkapan:“mencurahkan segenap kemampuan atau bersungguh-sungguh dalam menundukkan kesulitan”.
Pengertian jihad secara syar'i bermakna bersungguh-sungguh (mencurahkan kemampuan) dalam memerangi musuhApabila disebutkan maka maknanya adalah berperang melawan orang-orang kafir untuk menegakkan kalimat Allah dan bahu membahu dalam mengerjakannya (Syaikh Musthafa as–Syuyuti).


1. Pengertian Jihad Menurut Imam Madzhab

  1. MENURUT MAZHAB SYAFI’I. Amam Al-Bajuri berkata: “ Jihad artinya berperang dijalan Allah”,(Hasyiyatu Al-Bajuri‘ala ibni al-Qasim 2/261). Imam Ibnu Hajar berkata: “ Dan secara Syar’I Jihad adalah mengerahkan tenaga dalam memerangi orang-orang kafir”, (Fathul Bari6/3). Al-Qastholani berkata:” Memerangi orang-orang kafir untuk membela Islam danmeninggikan kalimatillah”
  2. MENURUT MAZHAB MALIKI.  Imam Abu Arafah berkata : Perangnya orang Islam melawan orang kafir yang tidak terikat perjanjian untuk meninggikan kalimatillah atau karena ia mendatanginya, atau karena ia memasuki daerahnya”, (Al-Lajnah As-Syar’iyyah hal.46).. Ibnu Rusyd berkata: Setiap orang yang berpayah-payah karena Allah berarti telah berjihad dijalan Allah. Namun sesungguhnya Jihad fie sabilillah kalau berdiri sendiri maka tidak ada maksud yang lain yaitu memerangi orang kafir dengan pedang sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyar dalam keadaan hina”, ( Fie Jihadi Adabunwa Ahkamun, DR, Abdullah Azam hal.6).
  3. MENURUT MAZHAB HANAFI. Imam Ibnu Humam berkata: “Jihad adalah mendakwahi orang kafir kepada Islam yang benar dan memerangi mereka jika tidak mau menerima”, (Hisyam Ibnu ‘Abidin 4/121). Imam al-Kasani berkata: “Mengerahkan segala kemampuan dengan berperang di jalan Allah dengan nyawa, harta dan lisan atau lainnya, atau melebihkan (mencurahkan segenap kemampuan) dalam hal itu”, (Al-Jihadufi Sabilillah Haqiqatuhu waGhayatuhu, DR, Abdullah Ahmad al-Qadiri1/49). 
  4. MENURUT MAZHAB HAMBALI. Imam al-Ba’iy berkata: “ Jihad secara syar’I adalah ungkapan khusus untuk memerangi orang-orang kafir”, (Min wasa’ ili Daf’ilGhurba, Syaikh Salman Audahhal.41).
Kesimpulan makna jihad menurut istilah syara' adalah Memerangi orang-orang kafir untuk meninggikan kalimatillah, dengan senjata dan mengerahkan segenap kemampuan serta saling bahu membahu dalam hal itu”.
Jihad memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam. Nabi saw. menjadikan jihad sebagai amal tertinggi dalam Islam. Telah pula disebutkan tentang Keutamaan, dorongan (motivasi), serta perintah untuk melaksanakan jihad dalam nash-nash yang sangat banyak. 


2. Adab-Adab Dalam Berjihad Fi Sabilillah

1. Niat yang Tulus dan Ikhlas

Suatu amalan akan rusak dan tidak diterima apabila tidak dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala. Allah berfirman: 
وَجَـٰهِدُواْ بِأَمۡوَٲلِڪُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ......
...... dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S.at-Taubah:41).
 وَجَـٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ ......
...... dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah:35) 
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda: “Allah menjamin orang yang berjihad fisabilillah, tidak ada yang mendorongnya keluar dari rumahnya kecuali jihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimatNya. Yakni, dengan memasukkannya ke dalam surge atau mengembalikannya ke tempat tinggal yang ia keluar darinya dengan membawa pahala atau ghanimah (rampasan perang). [1].
2. Meminta Izin kepada Kedua Orang Tua Sebelum Berangkat
Izin kepada kedua orang tua berlaku untuk selain jihad fardhu ‘ain. Seseorang tidak boleh berangkat berjihad tanpa meminta izin kepada kedua orang tuanya. Adapun untuk jihad fardhu ‘ain, seperti jihad untuk mempertahankan negeri Muslim dari serangan tentara kafir, maka tidak perlu meminta izin kepada kedua orang tua atau yang selainnya untuk berjihad.
3. Bertaubat dari Segala Dosa Sebelum Berangkat
Hendaknya menyegerakan bertaubat agar tidak berperperang dalam keadaan membawa dosa yang ia belum bertaubat darinya yang mengakibatkan pertolongan Allah menjauh. Para mujahidin adalah orang yang paling membutuhkan untuk bertaubat dan memohon ampunan untuk meraih pertolongan Allah Ta’ala karena mereka berada di ujung kematian.
4. Mengerjakan Amal Shalih Sebelum berangkat
Diantara amal shalih tersebut misalnya: taubat, sedekah, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain sebagainya.
5. Mempersiapkan Segala Sesuatu yang Diperlukan
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ۬ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّڪُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡ‌ۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan itu] kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya [dirugikan].(Q.S.Al-Anfal: 60)
Rasulullah saw. Bersabda:
 أَلآ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي
“Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”[2].
6. Mempersiapkan Bekal untuk Pasukan dan Mengurus Keluarga Mereka dengan Baik
Rasulullah saw. Bersabda:
 مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa mempersiapkan bekal untuk orang yang berperang di jalan Allah, maka ia telah berperang dan barangsiapa yang mengurus keluarga orang yang berperang di jalan Allah, maka ia telah berperang. [3].
7. Memilih Orang-Orang yang Paling Kuat dan Tangguh dalam Menghadapi Musuhi
Hendaknya waliyyul ‘amri (pemimpin) memilih orang-orang yang pemberani, kuat, dan tangguh dalam peperangan menghadapi musuh, disamping mereka adalah orang yang bertakwa dan shalih. Demikian juga hendaknya memilih orang-orang yang berpengalaman dan ahli dalam menggunakan senjata-senjata baru, mengerti tentang seluk-beluk perang, memahami kondisi musuh, dan lain-lain.
8. Meneladani Nabi saw. dalam Berjihad
Salah satu cara Rasul dalam berjihad adalah dengan menggunakan tipu muslihat jika khawatir musuh mengetahui tujuan mereka. Sebab Nabi saw. Apabila hendak pergi berperang, beliau saw. Berpura-pura berjalan ke arah lain. Misalnya juga memperdaya musuh dengan cara apapun yang disyari’atkan. Sebab Nabi saw. Bersabda:
 الْحَرْبُ خَدْعَةٌ
 “Perang adalah tipu muslihat.” [4].
9. Amir (Pemimpin) Beserta Kaum Muslimin Melepas Keberangkatan Pasukan 
Nabi saw. Apabila hendak melepas keberangkatan pasukan, beliau bersabda:
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Aku titipkan agama, amanah, dan penutup amal kalian kepada Allah.[5].
10. Memberikan Nasihat, Menyuruh Berbuat Taat, Meninggalkan Maksiat dan Menjelaskan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Jihad
Apabila melepas keberangkatan para sahabat ke medan perang, Nabi saw. Bersabda kepada mereka:
أُغْزُوْا بِاسْمِ اللهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوْا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ أُغْزُوْا وَلاَ تَغُلُّوْا وَلاَ تَغْدِرُوْا وَلاَ تُمَثِّلُوْا وَلاَ تَقْتُلُوْا وَلِيْدًا وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ
Berperanglah dengan nama Allah, di jalan Allah, dan perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah dan jangan menyembunyikan harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang musuh, dan jangan membunuh anak-anak. Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kaum musyrikindakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka” [6].
11. Tidak Takjub dengan Banyaknya Jumlah Pasukan
Allah Ta’ala berfirman kepada kaum Mukminin
 وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ‌ۙ إِذۡ أَعۡجَبَتۡڪُمۡ كَثۡرَتُڪُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنڪُمۡ شَيۡـًٔ۬ا وَضَاقَتۡ عَلَيۡڪُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ (٢٥) ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُ ۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 
... (dan [ingatlah] peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (25) Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman,.... (Q.S. at-Taubah: 25-26).
12.Pasukan  Menjaga Adab-Adab Safar
Diantara adab safar adalah: berkumpul ketika hendak tutun ke jalan, tolong-menolong, saling menyayangi, dll.
13. Mentaati Amir Selama Bukan dalam Maksiat
Mentaati amir(pemimpin) termasuk perkara yang sangat penting  yang wajib dilaksanakan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin membangkang perintah Nabi saw. Pada perang Uhud, hal itu pun menyebabkan malapetaka.
14. Mengharapkan Mati Syahid dengan Sungguh-Sungguh
Nabi saw. Bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku berangan-angan dapat terbunuh di jalan Allah, lalu aku dihidupkan, lalu terbunuh, lalu dihidupkan, lalu terbunuh, lalu dihidupkan, lalu terbunuh.” [7].
15. Pemimpin Bermusyawarah dengan Pasukan
Allah Ta’ala berfriman: 
فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(Q.S.Ali-Imran: 159).
16. Pemimpin Mengirim Mata-Mata dan Spionase
Hal ini akan membantu pemimpin pasukan untuk memilih strategi perang yang tepat. Rasulullah saw. Juga melakukan hal itu. Beliau mengirim Busaisah untuk memata-matai kafilah Abu Sufyan. [8].
17. Tidak Mengharap Bertemu Musuh
Rasulullah saw. Melarang kita berharap bertemu dengan musuh dengan sabdanya:
 لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ تَعَالَى الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ
 “Janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh. Namun, jika kalian bertemu dengan mereka, maka bersabarlah., & ketahuilah bahwa Surga di bawah naungan pedang. Kemudian beliau berdoa: Ya Allah, Yang menurunkan Al Qur'an, Yang menjalankan awan, & Yang mengalahkan kelompok-kelompok musuh, kalahkan mereka & menangkan kami atas mereka!” [9].
18. Menampakkan Kekuatan di Depan Musuh
19. Berdo’a Sebelum Berperang
Sesungguhnya apabila berperang Nabi saw. Berdoa:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ عَضَدِيْ وَأَنْتَ نَصِيْرِيْ بِكَ أَحُوْلُ وَبِكَ أَصُوْلُ وَبِكَ أُقَاتِلُ
“Ya Allah, Engkau adalah pelindungku dan penolongku. Dengan-Mu aku bergerak, menyerang dan berperang.”[10].
20. Memulai Perang pada Pagi Hari atau Ketika Matahari Tergelincir
21. Sambil Berdzikir ketika Berperang
Allah Ta’ala berfirman: 
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةً۬ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ ڪَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan [musuh], maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah [nama] Allah sebanyak-banyaknya [8] agar kamu beruntung.(Q.S. al-Anfal: 45).
22. Teguh Menghadapi Musuh dan Tidak Melarikan Diri
23. Diam dan Tidak Berbicara ketika Berhadapan dengan Musuh
24. Berusaha Mengumpulkan Jumlah yang Disebutkan dalam hadits Nabi saw.
25. Bertawakkal, Yakin  serta mengharapkan Pertolongan-Nya.
26. Mencari Pertolongan dengan Berniat Menolong Agama Allah
27. Tidak Melakukan Tamsil (Merusak Jasad Musuh yang Tewas)
28. Tidak Membunuh Kaum Wanita, Anak-Anak, dan Orang yang Lemah
29. Berlaku Baik kepada Tawanan
30. Membagi Tugas dai Antara Anggota Pasukan
31. Mujahid Memiliki Akhlak lebih Mengutamakan Orang Lain.
32. Tidak Merusak Negeri yang Berhasil Ditaklukkan
33. Tidak Melakukan Ghulul
34. Tidak Melakukan Nuhbah
35. Tidak Melanggar Perlindungan yang Diberikan Seorang Muslim.
36. Menepati Perjanjian dan Tidak Berkhianat
37. Jika Pasukan Berdamai dengan Musuh
38. Tidak Berpaling dan melarikan Diri dari Pertempuran
39. Menyeru Musuh kepada Salah Satu dari Tiga Perkara
40. Tinggal di Negeri Musuh setelah Mendapatkan Kemenangan
41. Tidak Memisahkan Ibu dan Anaknya yang Tertawan
42. Mengikuti Karunia Allah ketika Mendapatkan Kemenanagan
43. SujudSyukur Ketika Mendapat Kemenangan
44. Pemimpin Mengirim Utusan Menyampaikan Kabar Kemenangan Kepada Kaum Muslimin.
45. Kaum Muslimin Keluar untuk Menyambut para Mujahidin yang Kembali.
Semoga bermanfaat.
                   ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
     “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. 
Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: Ensiklopedia Adab islam Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah hal. 361-385, ‘Abdul ‘Azis bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i. Telah diringkas dari buku aslinya.
http://www.slideshare.net/andriromico/pengertian-jihad
***
[1]. H.R.Bukhari (123, 2810) dan Muslim (1904) dari Abu Musa r.a.
[2]. H.R.Muslim (1917) dari ‘Uqbah bin ‘Amir.
[3].H.R.Bukhari (2843) dan Muslim (1890) dari Zaid bin Khalid.
[4]. H.R.Bukhari (3030) dan Muslim (1739) dari Jabir r.a., ini adalah hadits mutawatir.
[5]. H.R.Abu Daud (2601), al-Hakim (II98), dari ‘Abdullah bin Yazid.
[6]. H.R.Muslim (1730) dari Buraidah
[7]. H.R. Bukhari (2797) dan Muslim (1876) dari Abu Hurairah r.a.
[8]. H.R.Muslim (1901) dari Anas r.a., ada yang mengatakan namanya Basbas, Allahu a’lam.
[9]. H.R.Bukhari (3026) dan Muslim (1741) dari Abu Hurairah r.a.
[10]. H.R.Ahmad (III/184), Abu Daud (2632) at-Tirmidzi (3584), Ibnu Hibban (4741) dari Anas r.a.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar